Jakarta | Billy Syahputra menyampaikan permintaan maaf secara pribadi atas kegaduhan yang muncul setelah perselisihannya dengan penjaga toilet umum di kawasan Pantai Dreamland, Kuta Selatan, Badung, Bali. Peristiwa tersebut menjadi perhatian publik setelah rekaman videonya beredar luas di media sosial pada awal Oktober. Dalam keterangannya, Billy menyebut kejadian itu sebagai kesalahpahaman pribadi yang kemudian berkembang menjadi pembicaraan luas.
Saat ditemui di Studio Trans TV, Mampang, Jakarta Selatan, pada Selasa (13/10/2026), Billy menjelaskan bahwa dirinya tidak ingin persoalan tersebut menimbulkan keributan. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada niat untuk membuat rekaman mengenai kejadian itu menjadi viral atau dikonsumsi oleh banyak orang di media sosial.
Menurut Billy, kejadian di toilet umum itu pada awalnya merupakan persoalan dirinya dan penjaga toilet, bukan perkara yang dimaksudkan untuk diketahui publik. Namun, rekaman yang muncul di media sosial membuat peristiwa tersebut mendapatkan perhatian lebih besar. Ia menilai kesalahpahaman pribadi itu seharusnya dapat diselesaikan secara langsung tanpa berkembang menjadi kegaduhan di ruang digital.
Dengan menyampaikan permintaan maaf, Billy berusaha menunjukkan sikap bertanggung jawab terhadap dampak yang muncul setelah insiden tersebut. Ia kembali menekankan bahwa tidak memiliki maksud menjadikan video itu viral. Penjelasan tersebut disampaikan untuk memberikan konteks mengenai peristiwa di Pantai Dreamland sekaligus meredakan reaksi publik yang muncul sejak awal Oktober.
Perselisihan itu bermula ketika Billy Syahputra hendak mengurus anaknya, Stefan, setelah mereka bermain di pantai di Bali. Saat itu, Stefan dalam kondisi kedinginan dan tubuhnya dipenuhi pasir. Billy kemudian membawa anaknya ke toilet untuk membilas pasir yang menempel sekaligus membantu Stefan agar merasa lebih nyaman.
Dalam situasi tersebut, Billy berhadapan dengan penjaga toilet yang meminta pembayaran sebesar Rp10 ribu di muka. Permintaan itu disampaikan ketika Billy sedang membawa Stefan dan berusaha segera membilas tubuh anaknya. Kondisi anak yang kedinginan membuat Billy merasa perlu mendahulukan penanganan Stefan, sementara persoalan pembayaran tetap muncul pada saat yang sama.
Billy menjelaskan bahwa dirinya sedang terburu-buru karena menggendong anak. Ia menyampaikan kepada penjaga toilet bahwa pembayaran dapat diselesaikan oleh suster yang bersamanya. Dengan demikian, Billy tetap dapat fokus membawa Stefan masuk dan membilasnya, sedangkan urusan membayar penggunaan toilet akan ditangani oleh suster.
Perbedaan pendapat kemudian muncul karena permintaan pembayaran di muka berlangsung ketika Billy sedang menghadapi keadaan yang dianggap mendesak bagi anaknya. Billy tidak bermaksud mengabaikan pembayaran, tetapi meminta agar suster menyelesaikan urusan tersebut karena tangannya sedang digunakan untuk menggendong Stefan. Situasi kebutuhan segera membilas anak yang kedinginan dan pasir, serta permintaan pembayaran sebelum menggunakan toilet, menjadi awal perselisihan tersebut.
Billy Syahputra menyayangkan insiden yang terjadi di sebuah toilet di Bali tersebut. Menurut penuturannya, situasi itu membuat dirinya kecewa karena berlangsung ketika ia sedang berada dalam posisi sebagai orang tua yang berfokus mengurus anak. Perhatian Billy saat itu lebih banyak tertuju pada kebutuhan dan kenyamanan anak, sehingga persoalan di area toilet dinilai menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan.
Dalam penjelasannya, Billy menilai permasalahan tersebut berkaitan dengan nominal Rp10 ribu. Ia menganggap jumlah itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan ketegangan yang kemudian muncul. Bagi Billy, persoalan mengenai uang dengan nominal tersebut semestinya dapat dibicarakan secara baik-baik tanpa berkembang menjadi situasi yang membuat pihak-pihak terkait merasa tidak nyaman.
Meski demikian, Billy mengaku memahami aturan pembayaran di muka yang diterapkan oleh pengelola toilet. Ia memahami bahwa kebijakan itu dapat dibuat untuk mencegah pengunjung menggunakan fasilitas, kemudian pergi tanpa membayar. Dengan demikian, menurut sudut pandang Billy, keberadaan aturan tersebut pada dasarnya dapat dimengerti, terutama jika pengelola ingin memastikan setiap pengguna memenuhi kewajibannya.
Namun, Billy tetap menyayangkan cara persoalan itu berlangsung. Ia berharap aturan yang berlaku dapat disampaikan secara jelas dan diterapkan dengan komunikasi yang baik, terlebih ketika pengunjung sedang mengurus anak. Penjelasan tersebut merupakan pandangan Billy terhadap situasi yang dialaminya. Uraiannya tidak dimaksudkan sebagai kesimpulan baru mengenai insiden tersebut, melainkan sebagai penjelasan atas alasan ia merasa kecewa dan memilih menyampaikan permintaan maaf atas perkara yang menjadi perhatian publik.
Menutup penjelasannya, Billy Syahputra mengatakan bahwa dirinya memahami aturan yang diterapkan oleh pengelola toilet di Bali. Ia menyadari setiap tempat memiliki kebijakan masing-masing, termasuk ketentuan pembayaran di muka sebelum fasilitas digunakan. Menurutnya, aturan tersebut merupakan bagian dari sistem pengelolaan yang perlu dihormati oleh setiap pengunjung, sehingga tidak seharusnya dipersoalkan secara berlebihan.
Meski demikian, Billy berharap pengelola tetap dapat mempertimbangkan toleransi dalam kondisi tertentu. Ia menilai ada situasi ketika seseorang mungkin belum memahami mekanisme pembayaran, tidak membawa uang tunai, atau mengalami keadaan mendesak. Dalam keadaan seperti itu, komunikasi yang baik dinilai dapat membantu menyelesaikan persoalan tanpa menimbulkan kesalahpahaman. Harapan tersebut, menurut Billy, bukan berarti dirinya menolak aturan atau meminta pengecualian, melainkan menginginkan adanya kebijaksanaan ketika kondisi di lapangan memang berbeda.
Billy juga membantah anggapan bahwa statusnya sebagai figur publik membuat ia ingin memperoleh perlakuan khusus selama berada di Bali. Ia menegaskan tidak pernah datang dengan maksud meminta keistimewaan dari masyarakat maupun pengelola fasilitas umum. Perselisihan yang terjadi, menurutnya, tidak berkaitan dengan keinginan untuk didahulukan atau dibebaskan dari kewajiban yang berlaku bagi pengunjung lain.
Ia menjelaskan bahwa kedatangannya ke Bali semata-mata untuk berlibur dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Dalam perjalanan tersebut, ia ingin menikmati suasana dengan tenang tanpa membawa status atau “titel” yang dimilikinya dari Jakarta. Billy berharap penjelasan itu dapat meluruskan persepsi publik sekaligus menghentikan anggapan bahwa ia menggunakan popularitas untuk mendapatkan perlakuan berbeda. Ia pun menyampaikan permintaan maaf apabila peristiwa tersebut menimbulkan ketidaknyamanan bagi pihak lain.

