Palembang | Selama dua bulan terakhir, asap dari kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah Sumatera Selatan menjadi keluhan warga Palembang. Warga menyampaikan bahwa paparan asap tersebut membuat mereka kesulitan bernapas dan mata terasa perih. Keluhan ini menggambarkan gangguan yang dirasakan saat asap berada di sekitar mereka, tanpa perlu mengaitkannya dengan dampak lain yang tidak disebutkan. Bagi warga yang mengalaminya, kondisi tersebut terasa langsung dalam keseharian karena pernapasan dan kenyamanan mata sama-sama terganggu.
Kesulitan bernapas menjadi salah satu keluhan yang disampaikan warga. Asap yang menyelimuti lingkungan membuat sebagian warga merasa napas mereka tidak nyaman. Pada saat yang sama, mata terasa perih ketika terpapar asap. Kedua keluhan itu menjadi gambaran utama pengalaman warga Palembang selama periode asap yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatera Selatan. Informasi mengenai keluhan ini berpusat pada apa yang dirasakan warga, bukan pada dugaan tentang penyebab medis tertentu atau akibat lain di luar keterangan yang tersedia.
Keluhan yang muncul selama dua bulan tersebut menunjukkan bahwa asap karhutla dirasakan oleh warga Palembang sebagai gangguan terhadap pernapasan dan mata. Kesulitan bernapas serta rasa perih di mata adalah hal-hal yang secara khusus disampaikan, sehingga keduanya perlu menjadi fokus saat menggambarkan dampak asap bagi warga. Uraian ini tidak menyimpulkan bahwa seluruh warga mengalami keluhan yang sama, dan tidak menambahkan gejala atau akibat lain yang tidak tercantum. Dengan demikian, pengalaman yang dapat ditegaskan terbatas pada laporan warga Palembang mengenai napas yang terasa sulit dan mata yang perih setelah terpapar asap dari kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah Sumatera Selatan selama dua bulan terakhir.
Aji, 40 tahun, tetap menjalani rutinitas hariannya dengan bepergian menggunakan sepeda motor meski kabut asap menyelimuti Palembang. Sebagai pengendara yang harus berada di jalan untuk beraktivitas, ia tidak selalu dapat menghindari paparan asap. Ia telah mengenakan masker dan kacamata sebagai perlindungan, tetapi perlengkapan tersebut tidak serta-merta membuat udara yang dihirup terasa bersih. Ketika kabut sedang pekat, asap tetap terasa mengganggu selama perjalanan. Pengalaman itu menunjukkan bahwa perlindungan yang dikenakan belum cukup menghilangkan dampak kondisi udara buruk yang dihadapi warga di luar ruangan.
Menurut kesaksian Aji pada Jumat, 16 Oktober, keadaan paling buruk biasanya berlangsung sejak pagi hingga menjelang siang. Pada waktu tersebut, kabut asap dapat mengurangi jarak pandang di jalan. Situasi itu membuat perjalanan dengan sepeda motor menjadi lebih sulit karena pengendara perlu memperhatikan kondisi sekitar, sementara pandangan ke depan tidak leluasa. Aji mengatakan, ia kerap mengandalkan lampu kendaraan yang berada di depannya untuk membantu melihat arah jalan. Cahaya lampu tersebut menjadi penanda ketika kabut menutupi pandangan dan batas jalan tidak terlihat jelas dari kejauhan.
Meski sudah memakai masker dan kacamata, Aji masih merasakan bahwa udara yang dihirup tidak bersih saat kabut menebal. Masker menutup bagian wajah dan kacamata melindungi mata, tetapi keduanya tidak mengubah kondisi udara di sepanjang rute yang dilalui. Ia tetap harus berkendara di tengah asap dan menyesuaikan diri dengan jarak pandang yang terbatas. Pengalaman Aji menggambarkan bagaimana asap karhutla dapat mengusik aktivitas sehari-hari, termasuk perjalanan rutin warga yang menggunakan sepeda motor. Kabut pekat bukan hanya membuat udara terasa tidak nyaman, tetapi juga menuntut kewaspadaan ekstra di jalan, terutama pada pagi hingga menjelang siang ketika jarak pandang terganggu.
Setelah terus terpapar asap kebakaran hutan dan lahan, kondisi kesehatan Aji mulai menurun. Ia mengaku kesulitan bernapas dan merasakan sesak, keluhan yang membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih berat. Asap yang menyelimuti lingkungan tempat tinggalnya menjadi paparan yang ia alami berulang kali, sehingga keluhan tersebut muncul dalam situasi yang mengganggu kenyamanan dan pergerakannya. Aji juga menyampaikan bahwa napasnya terasa tidak lega ketika berada di tengah kondisi berasap.
Selain gangguan pernapasan, Aji mengalami keluhan pada kedua matanya. Ia mengatakan matanya terasa perih dan tampak memerah setelah terpapar asap. Rasa tidak nyaman itu menambah beban yang ia rasakan, karena selain harus menghadapi sesak, ia juga perlu berhadapan dengan iritasi pada mata. Keluhan mata tersebut bukan hanya berupa kemerahan yang terlihat, tetapi juga rasa perih yang dirasakan langsung oleh Aji selama kondisi asap berlangsung.
Dokter yang memeriksa Aji menilai matanya mengalami iritasi. Penilaian tersebut sejalan dengan keluhan perih dan kemerahan yang ia sampaikan, tanpa mengubah laporan Aji mengenai kondisi yang dialaminya. Sementara itu, Aji tetap menggambarkan kesulitan bernapas dan rasa sesak sebagai keluhan yang muncul setelah terus-menerus terpapar asap. Informasi mengenai kondisinya menunjukkan dampak yang dirasakan secara langsung, baik pada pernapasan maupun pada mata.
Pengalaman Aji menggambarkan bagaimana paparan asap dapat mengganggu kenyamanan warga dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Ia menghadapi keluhan yang terasa pada beberapa bagian tubuh sekaligus, yakni napas yang sulit dan sesak serta mata yang perih dan memerah. Dalam situasi tersebut, kondisi kesehatan Aji menurun seiring paparan asap yang berulang. Keluhan yang ia ceritakan dan penilaian dokter mengenai iritasi mata menjadi bagian dari dampak yang dialaminya selama asap mengganggu lingkungan sekitar.
Herman, 30 tahun, warga Sekip, Palembang, mengatakan aroma asap masih tercium tajam di sekitar dirinya. Ia mengaku rutin menggunakan masker, tetapi perlindungan tersebut belum membuat bau asap hilang dari penciumannya. Herman menduga pekatnya asap menjadi alasan aroma itu tetap terasa meski ia sudah mengenakan masker. Pengalamannya menggambarkan bahwa gangguan akibat asap tidak hanya berkaitan dengan jarak pandang atau kondisi di luar ruangan, tetapi juga menyentuh kenyamanan warga dalam menjalani keseharian. Bagi Herman, keberadaan masker belum sepenuhnya mengurangi pengalaman mencium asap, sehingga kondisi udara yang terasa di lingkungan tempat tinggal tetap menjadi perhatian.
Catatan pemantauan kualitas udara di Stasiun Talang Betutu Palembang menunjukkan kondisi yang lebih serius. Pada rentang pukul 00.00–08.00 WIB, kualitas udara tercatat berada pada level berbahaya, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 265,7–668,9 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut menggambarkan tingginya partikulat halus yang terukur selama periode pemantauan. Rentang nilai yang lebar juga menunjukkan bahwa konsentrasi yang tercatat tidak berada pada satu angka tetap sepanjang waktu tersebut. Data ini menjadi konteks penting untuk memahami mengapa asap dapat terasa pekat dan mengganggu warga, termasuk mereka yang telah berupaya menggunakan masker.
Kesaksian Herman dan hasil pengukuran di stasiun pemantauan menyajikan dua sisi dari situasi yang sama: pengalaman langsung warga dan catatan kualitas udara. Aroma tajam yang tetap ia cium merupakan keluhan personal, sementara angka PM2.5 memberi gambaran terukur mengenai kondisi udara pada waktu dan lokasi pemantauan yang disebutkan. Keduanya perlu dibaca sesuai cakupannya. Pengalaman Herman berasal dari kawasan Sekip, sedangkan data berasal dari Stasiun Talang Betutu Palembang, dengan pencatatan berlangsung pada pukul 00.00–08.00 WIB. Informasi ini menunjukkan bahwa asap menjadi persoalan nyata bagi warga dan kualitas udara saat itu tercatat pada tingkat berbahaya. Karena itu, pencatatan konsentrasi partikulat dan perhatian terhadap keluhan warga sama-sama penting dalam melihat dampak asap di Palembang.
Baca juga: Perkuat Kesadaran Warga, Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Bersama Pasis Sesko TNI Sosialisasikan Pencegahan Karhutla | Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Berikan Sosialisasi Kepada Warga Dalam Upaya Pencegahan Karhutla | Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari







