Asap Karhutla Menghambat Upaya Hujan Buatan, BMKG Buka Lapisan Inversi

Asap Karhutla Menghambat Upaya Hujan Buatan, BMKG Buka Lapisan Inversi

Banjarmasin | Asap kebakaran hutan dan lahan yang pekat menjadi kendala penting dalam upaya mendatangkan hujan ke wilayah terdampak. BMKG menjelaskan, asap tersebut tidak menyebar bebas ke atmosfer, melainkan tertahan di bawah lapisan inversi pada ketinggian sekitar 7.000 kaki. Lapisan inversi merupakan kondisi atmosfer ketika susunan suhu menghambat pergerakan udara ke atas. Akibatnya, asap sulit terangkat dan bertahan di sekitar kawasan yang mengalami karhutla, sehingga kondisi udara tetap dipenuhi partikel hasil pembakaran.

Keberadaan lapisan asap juga mengurangi jumlah sinar matahari yang dapat menembus hingga permukaan. Padahal, radiasi matahari berperan dalam memanaskan permukaan bumi dan mendukung penguapan air. Uap air yang tersedia kemudian menjadi salah satu unsur penting dalam proses pembentukan awan hujan. Ketika asap menghalangi masuknya sinar matahari, pemanasan dan penguapan dapat terganggu. Dengan demikian, proses atmosfer yang diharapkan membantu terbentuknya awan berpotensi tidak berjalan optimal, terutama di lokasi yang tertutup asap tebal.

Kondisi tersebut membuat operasi modifikasi cuaca untuk memicu hujan di wilayah karhutla lebih sulit dilakukan. Upaya ini bergantung pada keadaan atmosfer dan ketersediaan awan yang sesuai, sementara asap serta inversi dapat menghambat proses pendukung pembentukan hujan. Artinya, pelaksanaan operasi tidak cukup hanya dengan menaburkan bahan semai; kondisi lingkungan juga perlu mendukung agar awan dapat berkembang dan menghasilkan presipitasi. Penjelasan mengenai kendala itu disampaikan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathoni saat ditemui di kantor Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Jakarta, Kamis (15/10/2026). Pernyataan tersebut menegaskan bahwa asap bukan sekadar dampak yang mengurangi jarak pandang, tetapi juga faktor yang memengaruhi dinamika atmosfer dan efektivitas intervensi cuaca. Karena itu, penilaian terhadap lapisan inversi dan kondisi awan menjadi bagian penting dalam menentukan peluang operasi hujan buatan membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan.

BMKG menempuh pendekatan untuk mengatasi lapisan inversi yang membuat asap kebakaran hutan dan lahan tertahan di dekat permukaan. Lapisan inversi merupakan kondisi atmosfer ketika suhu pada lapisan udara tertentu meningkat seiring ketinggian, sehingga pergerakan udara ke atas terhambat. Akibatnya, asap sulit terangkat dan menyebar, sementara kondisi tersebut juga menjadi kendala bagi upaya modifikasi cuaca untuk memicu hujan.

Dalam upaya itu, BMKG menggunakan dry ice atau es kering untuk membantu membuka lapisan inversi. Bahan tersebut dimanfaatkan dalam proses yang ditujukan untuk mengubah kondisi atmosfer pada lapisan penghalang. Langkah ini diharapkan membuat hambatan terhadap gerak vertikal udara berkurang, sehingga asap yang sebelumnya tertahan dapat bergerak naik. Dengan demikian, proses penanganan tidak hanya berfokus pada penyemaian awan, tetapi juga pada kondisi atmosfer yang perlu mendukung pembentukan awan hujan.

Urutan yang diharapkan berlangsung dimulai dengan terbukanya lapisan inversi melalui penggunaan dry ice. Setelah penghalang itu melemah, asap diharapkan terangkat dan tidak lagi menutupi wilayah di bawahnya secara pekat. Sinar matahari kemudian dapat menembus permukaan dengan lebih baik. Pemanasan permukaan tersebut dapat meningkatkan penguapan, yang menyediakan uap air bagi pertumbuhan awan. Jika kondisi atmosfer mendukung, awan yang terbentuk dapat menjadi sasaran operasi modifikasi cuaca agar peluang turunnya hujan meningkat.

Langkah tersebut ditujukan untuk memungkinkan operasi modifikasi cuaca dilakukan kembali, khususnya di wilayah yang sulit ditangani. Kawasan gambut dan tanah mineral menjadi perhatian karena kebakaran di kedua jenis lahan itu dapat berlangsung dan menghasilkan asap yang mengganggu. Hujan diharapkan membantu membasahi lahan serta mengurangi kondisi kering yang mendukung kebakaran, meskipun keberhasilannya bergantung pada keadaan cuaca dan ketersediaan awan yang sesuai.

Faisal menjelaskan bahwa penggunaan dry ice untuk membuka lapisan inversi masih dalam tahap percobaan. Karena prosesnya sedang diuji, belum dapat dipastikan berapa lama waktu yang diperlukan sampai lapisan tersebut terbuka dan langkah berikutnya dapat berjalan efektif. BMKG perlu memantau hasilnya sebelum memastikan dampak terhadap pergerakan asap maupun peluang hujan. Dengan demikian, pendekatan ini merupakan bagian dari upaya mengatasi hambatan atmosfer, bukan jaminan bahwa hujan akan segera turun di seluruh wilayah terdampak.

Perhatian terhadap kebakaran hutan dan lahan masih tertuju pada sejumlah wilayah, tetapi tingkat dampaknya tidak seragam. Faisal menyebut bagian selatan Kalimantan Barat dan bagian selatan Kalimantan Tengah sebagai kawasan yang masih menghadapi kebakaran serius. Di Kalimantan Barat, hujan telah mulai turun secara umum. Namun, kondisi tersebut belum merata hingga ke wilayah selatan, sehingga hujan yang terjadi di bagian lain belum dapat dianggap telah membantu seluruh kawasan terdampak. Perbedaan jangkauan hujan ini penting dalam membaca situasi lapangan, terutama ketika upaya penanganan kebakaran berlangsung di beberapa wilayah sekaligus.

Di bagian selatan Kalimantan Tengah, kebakaran disebut masih sangat parah. Keterangan ini menggambarkan bahwa wilayah tersebut tetap membutuhkan perhatian khusus, meskipun cuaca atau kondisi di daerah lain mungkin berbeda. Karena itu, perkembangan hujan di Kalimantan Barat tidak serta-merta menunjukkan bahwa risiko kebakaran telah berkurang di semua lokasi. Penanganan perlu memperhitungkan kondisi setempat dan lokasi yang belum memperoleh hujan. Dalam konteks tersebut, upaya pemadaman dan pemantauan di daerah yang paling terdampak tetap menjadi bagian penting dari respons, sementara informasi mengenai perkembangan kondisi perlu disampaikan secara spesifik menurut wilayah.

Operasi penanganan juga telah berjalan di Sumatra Selatan, dengan posko yang berada di Lampung. Sementara itu, untuk penanganan di Kalimantan Tengah, posko berada di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Lokasi posko tersebut menunjukkan pengaturan dukungan operasi lintas wilayah, bukan berarti kondisi kebakaran di seluruh area yang disebut sama. Informasi mengenai posko membantu menjelaskan dari mana koordinasi penanganan dilakukan, sedangkan tingkat keparahan dan cakupan kebakaran tetap perlu dipahami berdasarkan laporan masing-masing kawasan. Dengan demikian, perhatian terhadap selatan Kalimantan Barat, selatan Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, serta wilayah pendukung operasi dapat dijelaskan secara terpisah tanpa menggeneralisasi situasi atau menyamakan dampak yang dialami setiap daerah.

BMKG memperkirakan hujan alami di wilayah yang masih menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) baru berpeluang datang sekitar awal November. Perkiraan tersebut memberi gambaran bahwa kondisi atmosfer yang kering masih dapat bertahan, sehingga hujan belum bisa diandalkan dalam waktu dekat untuk meredakan kebakaran. Waktu kedatangan hujan tetap bergantung pada perkembangan cuaca, dan perkiraan ini bukan kepastian bahwa seluruh wilayah terdampak akan menerima hujan pada saat yang sama. Karena itu, upaya penanganan karhutla dan pengurangan dampak asap masih perlu berjalan sembari memantau perubahan kondisi atmosfer.

Sambil menunggu peluang hujan alami, upaya untuk membantu mendatangkan hujan terus dilakukan melalui penggunaan dry ice dan operasi modifikasi cuaca (OMC). Kedua langkah tersebut menjadi bagian dari usaha untuk mendukung terbentuknya awan hujan, tetapi keberhasilannya tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan pelaksanaan operasi. Kondisi atmosfer harus mendukung proses pembentukan awan dan perkembangan hujan. Lapisan inversi yang menghambat pertumbuhan awan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam menilai peluang operasi. Dengan demikian, intervensi tetap bergantung pada keadaan alamiah, termasuk ketersediaan awan dan dinamika udara di wilayah sasaran.

Sinar matahari memiliki peran penting dalam mendukung proses pembentukan awan hujan. Pemanasan oleh matahari membantu udara bergerak naik, yang dapat menunjang pertumbuhan awan apabila unsur atmosfer lainnya juga mendukung. Sebaliknya, ketika sinar matahari tidak cukup menembus lapisan atmosfer, proses tersebut dapat terhambat dan menjadi salah satu kendala bagi operasi modifikasi cuaca.

Baca juga: Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Berikan Sosialisasi Kepada Warga Dalam Upaya Pencegahan Karhutla | Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas