Banjir Menggenangi Tiga Kecamatan di Padang, Ratusan Warga Mengungsi

Evakuasi Lebih dari 50 Warga Saat Banjir Melanda Dua Wilayah di Padang

Padang | Banjir masih berlangsung di Kota Padang, Sumatera Barat, hingga Minggu, 11 Oktober 2026. Genangan tersebut berdampak pada tiga kecamatan dan enam kelurahan. Situasi ini membuat aktivitas warga serta penanganan di sejumlah lokasi terdampak masih menghadapi kendala. Kondisi banjir yang belum surut menyebabkan wilayah-wilayah yang terdampak tetap memerlukan pemantauan dan penanganan.

Salah satu kendala terjadi di sekitar PDAM Daerah Guo, Kecamatan Kuranji. Akses jalan di kawasan tersebut terputus akibat genangan banjir. Terputusnya jalur itu menghambat pergerakan menuju lokasi terdampak, termasuk bagi petugas yang hendak menjangkau sejumlah wilayah di sekitarnya.

Dengan akses yang tidak dapat dilalui, petugas belum leluasa mencapai seluruh wilayah yang terdampak banjir. Hambatan ini menjadi bagian dari situasi yang masih berlangsung di Kota Padang pada Minggu tersebut. Penanganan di lapangan harus berlangsung dalam kondisi akses yang terbatas, terutama menuju kawasan sekitar PDAM Daerah Guo.

Banjir yang menggenangi tiga kecamatan dan enam kelurahan itu belum menunjukkan kondisi surut hingga laporan ini disampaikan. Sementara itu, terputusnya akses di Kecamatan Kuranji membuat jangkauan petugas ke sejumlah wilayah terdampak menjadi terbatas. Perkembangan kondisi banjir dan akses menuju lokasi-lokasi tersebut masih menjadi perhatian dalam penanganan di Kota Padang.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa banjir yang menggenangi tiga kecamatan di Padang dipicu hujan berintensitas tinggi pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Hujan tersebut meningkatkan volume aliran permukaan dan menyebabkan air menggenangi sejumlah wilayah yang berada di kawasan terdampak. Pernyataan itu menjadi keterangan utama mengenai faktor pemicu bencana, tanpa menyebutkan berapa lama hujan berlangsung.

Informasi mengenai dampak banjir bersumber dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana BPBD Sumatera Barat. Laporan tersebut diterima pada Minggu pukul 03.34 WIB, ketika genangan masih berlangsung pada hari berikutnya setelah hujan berintensitas tinggi terjadi. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak banjir belum sepenuhnya berakhir hingga Minggu dini hari, sehingga penanganan dan pemantauan terhadap wilayah terdampak masih diperlukan.

Laporan BPBD Sumatera Barat menjadi dasar pembaruan situasi di lapangan, termasuk informasi mengenai warga yang terdampak dan mengungsi. Banjir yang masih berlangsung membuat petugas perlu memantau perkembangan ketinggian air serta kondisi masyarakat di tiga kecamatan tersebut. Pemantauan juga penting untuk memastikan kebutuhan warga dapat diidentifikasi dan penanganan berlangsung sesuai perkembangan keadaan.

Keterangan BNPB dan laporan BPBD Sumatera Barat memperlihatkan rangkaian peristiwa yang saling berkaitan: hujan berintensitas tinggi pada Sabtu menjadi pemicu banjir, sementara pada Minggu pukul 03.34 WIB dampaknya masih tercatat di lapangan. Dengan demikian, situasi banjir belum dapat dinyatakan selesai pada waktu laporan tersebut disampaikan. Informasi itu menggambarkan kondisi kebencanaan yang masih memerlukan perhatian, khususnya bagi warga yang berada di wilayah genangan dan lokasi pengungsian.

Jumlah warga yang mengungsi akibat banjir tercatat mencapai 672 jiwa. Para pengungsi tersebut tersebar di tiga lokasi, dengan pembagian berdasarkan pendataan yang dilakukan di masing-masing tempat. Data ini menggambarkan jumlah warga yang telah teridentifikasi hingga saat pendataan berlangsung dan masih diperbarui sesuai perkembangan di lapangan.

Sebanyak 367 jiwa berada di tenda pengungsian Lapau Munggu dan rumah warga. Jumlah tersebut mencakup warga yang tercatat berada di tenda pengungsian Lapau Munggu serta warga yang mengungsi di rumah warga. Lokasi ini menjadi tempat dengan jumlah pengungsi terbanyak berdasarkan data yang tersedia.

Selanjutnya, 250 jiwa menempati Mushalla Ar Ridwan di Kampung Tangah. Para pengungsi yang tercatat di lokasi tersebut menjadi bagian dari keseluruhan warga yang dipindahkan atau mencari tempat berlindung setelah banjir menggenangi wilayah terdampak. Pencatatan jumlah dilakukan berdasarkan lokasi pengungsian yang telah ditentukan.

Sementara itu, 55 jiwa berada di Warung Jembatan Guo. Dengan rincian 367 jiwa di tenda pengungsian Lapau Munggu dan rumah warga, 250 jiwa di Mushalla Ar Ridwan di Kampung Tangah, serta 55 jiwa di Warung Jembatan Guo, total warga yang mengungsi mencapai 672 jiwa.

Jumlah tersebut merupakan data sementara yang masih diperbarui. Perubahan angka dapat mengikuti proses pendataan warga di setiap lokasi, sehingga informasi mengenai jumlah pengungsi tetap dicatat dan disesuaikan berdasarkan pembaruan data yang diterima. Tiga lokasi yang tercantum dalam pendataan itu adalah tenda pengungsian Lapau Munggu dan rumah warga, Mushalla Ar Ridwan di Kampung Tangah, serta Warung Jembatan Guo.

Banjir yang menggenangi tiga kecamatan di Padang tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga berdampak pada sejumlah bangunan tempat tinggal. Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sekitar 120 rumah terdampak akibat naiknya permukaan air. Dari jumlah tersebut, satu rumah dilaporkan mengalami kerusakan berat, sedangkan empat rumah lainnya mengalami kerusakan sedang. Kondisi rumah yang terdampak masih terus dipantau untuk memastikan kebutuhan evakuasi, pendataan kerusakan, serta penanganan lanjutan bagi warga yang rumahnya belum dapat ditempati.

Untuk memenuhi kebutuhan dasar pengungsi, bantuan darurat telah disalurkan ke sejumlah lokasi penampungan. Bantuan tersebut mencakup makanan siap konsumsi, selimut, mi instan, makanan anak, paket kebutuhan keluarga, pakaian anak, dan kasur. Dukungan logistik ini ditujukan untuk membantu warga selama berada di tempat pengungsian, terutama keluarga yang harus meninggalkan rumah karena genangan atau kondisi bangunan yang tidak aman. Distribusi bantuan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan warga, termasuk kelompok anak-anak dan keluarga yang memerlukan perlengkapan tambahan.

Berton menjelaskan, luasnya wilayah yang terdampak menjadi salah satu kendala dalam penanganan banjir di lapangan. Selain itu, sejumlah akses jalan yang ikut terendam menyulitkan mobilitas petugas dan proses pengiriman bantuan menuju beberapa titik. Situasi tersebut membuat koordinasi antarpihak serta pemantauan kondisi warga perlu dilakukan secara berkelanjutan, khususnya di lokasi yang masih tergenang dan sulit dijangkau.

Masyarakat di wilayah terdampak maupun daerah sekitar diimbau meningkatkan kewaspadaan selama hujan berintensitas tinggi berlangsung dalam waktu lama. Selain potensi banjir susulan, kondisi tanah yang jenuh air juga dapat meningkatkan risiko tanah longsor. Warga diminta memperhatikan informasi resmi dari pemerintah, mengenali jalur evakuasi, mengamankan dokumen penting, serta segera berpindah ke tempat yang lebih aman apabila air terus meningkat atau muncul tanda-tanda pergerakan tanah.

Baca juga: TNI Intensifkan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di 11 Kecamatan Kabupaten Melawi, Kalbar | Hercules TNI AU Kembali Tiba di Lanud Sjamsudin Noor, Bawa Ratusan APD Bantuan Kemhan RI dan Masker Dari Puskes TNI AU Untuk Perkuat Penanganan Karhutla Kalsel