Jakarta | Bank of America mengingatkan nasabah agar tidak membagikan nama pengguna dan kata sandi perbankan kepada pihak ketiga. Peringatan ini juga mencakup alat maupun agen kecerdasan buatan (AI) yang menawarkan diri untuk melakukan tugas atau bertindak atas nama pengguna. Pesan utamanya sederhana: informasi untuk mengakses rekening harus tetap berada di tangan pemiliknya, bukan diberikan kepada layanan lain demi kemudahan.
Imbauan tersebut disampaikan melalui surel massal berjudul “Protecting Your Finances in the AI World”. Judul itu menempatkan keamanan finansial dalam konteks meningkatnya penggunaan AI, termasuk layanan yang dapat membantu menyelesaikan aktivitas digital. Namun, kemampuan sebuah alat untuk menjalankan tugas tidak berarti pengguna perlu menyerahkan kredensial bank. Nama pengguna dan kata sandi dapat membuka akses langsung ke rekening serta informasi keuangan yang sensitif.
Bank tersebut meminta nasabah berhati-hati terhadap pihak yang meminta data akses, sekalipun permintaan dikemas sebagai cara praktis untuk mengelola urusan keuangan. Memberikan kredensial kepada layanan pihak ketiga dapat mengurangi kendali pengguna atas siapa yang dapat masuk ke akun dan bagaimana informasi itu diproses. Karena itu, nasabah sebaiknya tidak menganggap permintaan semacam ini aman hanya karena berasal dari alat yang memanfaatkan teknologi AI atau menawarkan otomatisasi.
Pernyataan Bank of America itu dikutip pada 28 Oktober 2026. Konteks geografisnya juga perlu diperjelas: peristiwa ini melibatkan bank asal Amerika Serikat, bukan kejadian yang berlangsung di Indonesia. Dengan demikian, imbauan tersebut merupakan pesan dari lembaga keuangan Amerika kepada nasabahnya, meskipun prinsip menjaga kerahasiaan data akses rekening relevan untuk dipahami secara luas.
Nasabah yang ingin memanfaatkan layanan digital tetap dapat mempertimbangkan fitur resmi yang disediakan bank, sambil memeriksa kebijakan dan izin yang diminta oleh setiap aplikasi. Jika sebuah alat meminta nama pengguna atau kata sandi perbankan untuk bertindak atas nama pengguna, peringatan bank ini menjadi alasan untuk berhenti dan menilai risikonya. Menjaga kredensial tetap rahasia merupakan langkah dasar untuk melindungi akses keuangan, baik ketika menggunakan layanan konvensional maupun teknologi AI.
Memberikan kata sandi, kode verifikasi, atau informasi masuk perbankan kepada asisten AI dapat membuka akses yang jauh lebih luas daripada sekadar membantu menjawab pertanyaan. Jika layanan tersebut dapat masuk ke akun, ia mungkin memiliki kemampuan untuk melihat saldo, meninjau riwayat transaksi, mengubah pengaturan, atau menjalankan instruksi yang tersedia melalui layanan perbankan digital. Karena kredensial memberi jalan masuk langsung, pemilik rekening dapat kehilangan kendali atas tindakan yang dilakukan di dalam akun. Informasi sensitif sebaiknya tidak dimasukkan ke percakapan AI, meskipun permintaan itu tampak praktis atau ditujukan untuk menghemat waktu.
Risikonya mencakup kemungkinan transaksi dilakukan tanpa persetujuan yang jelas dari pemilik rekening. Sistem AI dapat salah menafsirkan instruksi, mengambil tindakan yang tidak dimaksudkan, atau menjalankan langkah yang berdampak pada uang di akun. Selain itu, jika kredensial tersimpan atau diproses oleh layanan pihak ketiga, pemilik rekening mungkin tidak mengetahui secara pasti bagaimana informasi tersebut digunakan atau dilindungi. Ini bukan berarti setiap asisten AI akan melakukan transaksi, ataupun bahwa kasus tertentu telah terjadi. Namun, memberikan akses keuangan tetap menciptakan potensi kerugian yang sulit dikendalikan setelah kata sandi dibagikan.
Penggunaan otomatisasi untuk masuk ke akun juga dapat terlihat tidak biasa bagi sistem keamanan bank. Misalnya, pola akses, perangkat, lokasi, atau cara interaksi yang berbeda dari kebiasaan dapat memicu pemeriksaan tambahan. Bank mungkin menilai aktivitas tersebut sebagai indikasi akses tidak sah atau upaya peretasan, meskipun pemilik rekening sendiri yang memberikan kredensial kepada AI. Sebagai langkah perlindungan, sistem dapat menolak transaksi, meminta verifikasi identitas, membatasi akses sementara, atau memblokir rekening hingga aktivitas dikonfirmasi. Akibatnya, nasabah bisa kesulitan menggunakan layanan saat dibutuhkan. Untuk menghindari masalah ini, lakukan transaksi langsung melalui aplikasi atau situs resmi bank, jangan membagikan kata sandi maupun kode sekali pakai, dan hubungi bank melalui saluran resmi jika muncul aktivitas mencurigakan atau akses terhenti.
Ancaman terhadap keamanan rekening dapat menjadi lebih serius ketika sistem asisten AI yang digunakan nasabah memiliki celah keamanan. Risiko ini berbeda dari sekadar kemungkinan seseorang melihat informasi yang dibagikan dalam percakapan. Jika perlindungan pada sistem tidak memadai, data sensitif yang dimasukkan pengguna berpotensi berada dalam jangkauan pihak yang tidak berwenang. Karena itu, penggunaan AI untuk membantu aktivitas sehari-hari perlu mempertimbangkan keamanan platform, bukan hanya kemudahan dan kecepatan jawabannya.
Perhatian khusus perlu diberikan pada kata sandi, nomor rekening, kode keamanan, serta informasi lain yang dapat membantu membuka akses ke layanan perbankan. Ketika data semacam itu dibagikan kepada asisten AI, pengguna tidak selalu mengetahui bagaimana informasi tersebut diproses atau dilindungi. Apabila terdapat kelemahan pada sistem, informasi yang semestinya dirahasiakan dapat menimbulkan risiko lebih besar. Hal ini menjadi alasan untuk tidak memasukkan kredensial perbankan ke dalam percakapan dengan AI.
Dalam risiko yang disebutkan, peretas yang mengejar keuntungan finansial berpotensi mencoba mengeksploitasi kelemahan sistem AI untuk memperoleh akses ke rekening. Jika berhasil mendapatkan informasi yang diperlukan, mereka dapat berupaya menguasai rekening dan menguras saldo. Kemungkinan tersebut menggambarkan dampak yang bisa muncul ketika celah keamanan bertemu dengan data keuangan yang sensitif. Namun, risiko ini tidak berarti setiap asisten AI pasti memiliki celah atau bahwa setiap informasi yang dibagikan otomatis dapat dicuri.
Nasabah sebaiknya memperlakukan setiap kata sandi dan detail autentikasi sebagai informasi rahasia yang hanya digunakan pada kanal resmi perbankan. Jangan membagikannya kepada asisten AI, sekalipun permintaan terasa praktis atau jawaban sistem tampak meyakinkan. Sikap berhati-hati ini mengurangi kemungkinan kredensial tersimpan atau terpapar melalui layanan yang tidak ditujukan untuk mengelola akses rekening. Menjaga informasi tetap terbatas pada saluran yang semestinya merupakan langkah penting untuk melindungi saldo dan mengurangi peluang penyalahgunaan apabila suatu sistem mengalami kelemahan keamanan.
Peringatan Bank of America agar nasabah tidak membagikan kata sandi kepada sistem kecerdasan buatan muncul ketika industri keuangan tengah mencari cara memanfaatkan teknologi tersebut. Bank, perusahaan kartu, dan penyedia layanan pembayaran menguji AI untuk membantu menjawab pertanyaan, mengelola transaksi, serta membuat pengalaman pelanggan lebih praktis. Namun, penggunaan AI dalam urusan keuangan membawa risiko khusus karena informasi yang dimasukkan pengguna dapat mencakup kredensial, data pribadi, atau rincian rekening. Jika informasi itu diberikan kepada layanan yang tidak berwenang atau tidak aman, nasabah dapat kehilangan kendali atas akses ke akun dan transaksi mereka.
Salah satu perkembangan yang menarik perhatian adalah agentic payments, atau pembayaran yang melibatkan agen AI dengan kewenangan bertindak atas nama pengguna. Dalam skenario ini, seseorang dapat meminta AI mencari dan membeli barang sesuai batas anggaran, lalu memberi sistem keleluasaan memilih waktu dan harga terbaik. Teknologi tersebut berpotensi mengurangi langkah manual, tetapi memerlukan batas kewenangan yang jelas, persetujuan pengguna, dan perlindungan atas data pembayaran. Tanpa pengamanan yang memadai, keputusan otomatis dapat menimbulkan transaksi yang tidak diharapkan atau menyulitkan pengguna memahami bagaimana pembelian dilakukan. Karena itu, penyedia layanan perlu menentukan tindakan apa yang boleh dilakukan agen, kapan konfirmasi tambahan diperlukan, dan bagaimana pengguna dapat meninjau aktivitasnya.
Upaya membangun sistem pembayaran berbasis AI juga berlangsung di tengah maraknya agen AI tanpa izin yakni alat yang dapat mengakses layanan atau bertindak tanpa persetujuan resmi dari penyedia.
Baca juga: DPC MADAS Probolinggo Raya Berbagi Makanan Dan Minuman Gratis Di Haul Akbar Para Masyayikh | Silaturahmi Penuh Jelang HUT TNI, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko Ingatkan tentang Profesionalisme Prajurit | Marfor Berbagi Ilmu Jungle Operation dan Fire Support Team Pada Latgabma SGS 2026






