Desy Ratnasari Soroti Integritas Buya Hamka sebagai Teladan bagi Anak Muda

Desy Ratnasari Soroti Integritas Buya Hamka sebagai Teladan bagi Anak Muda

Jakarta | Desy Ratnasari mengajak generasi muda menjadikan keteguhan prinsip dan integritas Buya Hamka sebagai teladan dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, nilai-nilai yang ditunjukkan tokoh tersebut relevan bagi anak muda saat menentukan sikap, mengambil keputusan, dan menjaga komitmen. Prinsip tidak seharusnya berhenti sebagai gagasan atau kata-kata yang dikagumi, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan sehari-hari. Desy menyampaikan pandangan itu saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta, pada Rabu.

Pesan utama dari keteladanan Buya Hamka, dalam pandangan Desy, ialah keberanian untuk tetap berpegang pada hal yang diyakini benar. Keteguhan seperti itu menuntut seseorang memahami pilihan yang diambil sekaligus bertanggung jawab atas akibatnya. Komitmen akan terasa bermakna ketika dijalankan secara konsisten, termasuk dalam keadaan yang tidak mudah atau ketika keputusan tersebut membawa konsekuensi. Dengan demikian, integritas tidak hanya terlihat saat seseorang memperoleh dukungan, melainkan juga ketika ia harus menghadapi dampak dari pendiriannya.

Bagi generasi muda, ajakan tersebut dapat menjadi pengingat agar keputusan tidak dibuat semata-mata demi kenyamanan sesaat atau penerimaan orang lain. Menentukan pegangan hidup membutuhkan pertimbangan, tetapi setelah memilih, seseorang perlu berupaya menyelaraskan tindakan dengan prinsipnya. Hal ini bukan berarti menolak evaluasi atau tidak mau mendengarkan pandangan berbeda. Sebaliknya, keteguhan dapat berjalan bersama sikap terbuka, selama seseorang tetap bertanggung jawab terhadap nilai yang dipilih dan tidak mengabaikan dampaknya bagi orang lain.

Keteladanan Buya Hamka juga menempatkan integritas sebagai sesuatu yang perlu dibangun melalui kebiasaan, bukan hanya pernyataan besar. Anak muda dapat menerapkannya dengan menepati janji, berkata jujur, serta tidak menghindar ketika harus mempertanggungjawabkan keputusan. Pesan Desy menekankan bahwa prinsip memiliki arti ketika benar-benar dijalankan, terutama pada saat ada risiko atau pengorbanan yang menyertainya. Melalui sikap tersebut, generasi muda dapat belajar bahwa menjaga komitmen merupakan bagian penting dari membentuk karakter yang dapat dipercaya.

Dalam pandangan Desy Ratnasari, integritas Buya Hamka tampak melalui konsistensi prinsip yang diyakini, perjalanan hidup, dan karya-karyanya. Buya Hamka, yang bernama asli Haji Abdul Malik Karim Amrullah, tidak hanya dikenang karena satu bidang tertentu. Ia menjalani beragam peran, dan sikapnya dalam berbagai ruang kehidupan itulah yang membuatnya relevan sebagai teladan bagi anak muda. Bagi Desy, keteladanan tersebut bukan sekadar soal reputasi atau pencapaian, melainkan juga tentang bagaimana seseorang menjaga nilai yang dianggap benar ketika menghadapi pilihan dan tanggung jawab.

Hamka disebut sebagai anak, filsuf, sastrawan, penulis, sekaligus politikus. Setiap peran menggambarkan sisi berbeda dari perjalanan dirinya: sebagai anak, ia berada dalam hubungan keluarga; sebagai filsuf, ia dikenal melalui pemikiran; sebagai sastrawan dan penulis, ia menuangkan gagasan dalam karya; sementara sebagai politikus, ia terlibat dalam kehidupan publik. Ragam peran ini memperlihatkan luasnya pengaruh Hamka, tetapi bagi Desy, yang penting bukan hanya banyaknya bidang yang dijalani. Nilai yang menghubungkan semuanya adalah kesetiaan pada prinsip. Karya dan kiprahnya dapat dibaca sebagai bagian dari perjalanan hidup yang menunjukkan bahwa keyakinan tidak harus ditinggalkan ketika seseorang berpindah peran.

Desy juga menyoroti kesediaan Hamka untuk tetap berpegang pada pendiriannya, bahkan ketika konsekuensinya adalah mundur dari jabatan yang diemban. Penilaian ini menekankan bahwa integritas kadang menuntut keputusan yang tidak mudah. Ia tidak perlu dipahami melalui rincian jabatan atau peristiwa tertentu untuk menangkap maknanya: bagi Desy, sikap tersebut menunjukkan bahwa prinsip dapat lebih utama daripada mempertahankan posisi. Pesan ini memberi bahan refleksi bagi generasi muda yang kelak menghadapi tanggung jawab dalam keluarga, pekerjaan, karya, maupun ruang publik. Teladan Hamka, sebagaimana disoroti Desy, terletak pada keselarasan pemikiran, tindakan, dan keberanian menanggung konsekuensi dari pilihan. Dengan demikian, integritas bukan sekadar nilai yang diucapkan, melainkan sikap yang tercermin dalam cara seseorang menjalani berbagai peran dan menentukan langkah ketika prinsipnya diuji.

Desy Ratnasari berharap kisah hidup Buya Hamka dapat menjadi sumber inspirasi bagi anak muda, terutama dalam memahami arti integritas. Teladan itu tidak hanya terlihat dari gagasan atau kata-kata yang disampaikan, tetapi juga dari kesesuaian prinsip dan tindakan. Dalam keseharian, integritas dapat diwujudkan melalui sikap jujur, menepati janji, bertanggung jawab atas pilihan, serta tetap berpegang pada nilai yang diyakini ketika menghadapi tekanan. Perilaku sederhana seperti menghargai orang lain, mengakui kesalahan, dan menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh turut membentuk karakter yang dapat dipercaya. Dengan mengenal perjalanan Buya Hamka, generasi muda diharapkan terdorong untuk menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai pedoman nyata, bukan sekadar kekaguman terhadap sosok sejarah.

Menurut Desy, bekal untuk menghadapi masa depan tidak cukup hanya berupa kemampuan akademis. Pengetahuan dan prestasi penting, tetapi anak muda juga perlu memiliki ketangguhan mental dan moral. Keduanya membantu seseorang menghadapi kegagalan, perbedaan pandangan, perubahan, dan berbagai tantangan tanpa kehilangan arah. Ketangguhan mental mendorong pemuda untuk bangkit dan terus belajar, sedangkan kekuatan moral membantu mereka memilih tindakan yang bertanggung jawab. Jika kecakapan berpikir disertai karakter yang kuat, generasi muda dapat menggunakan ilmunya secara bijaksana dan memberi manfaat bagi lingkungan. Karena itu, proses belajar semestinya berjalan bersama pembentukan sikap, keberanian mempertahankan kebenaran, dan kesediaan menerima konsekuensi dari keputusan sendiri.

Pesan tersebut selaras dengan makna Sumpah Pemuda yang, dalam pandangan Desy, tidak semestinya berhenti sebagai pernyataan yang dikenang dalam upacara atau peringatan. Prinsip dan komitmen akan memiliki arti ketika tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk dalam cara pemuda bekerja sama, menjaga persatuan, dan menghormati keberagaman. Komitmen juga perlu tampak melalui pilihan yang konsisten, baik di ruang belajar, keluarga, maupun masyarakat. Desy mengajak anak muda untuk menjadi inspirasi bagi sesama, menunjukkan kesungguhan dalam memperjuangkan hal yang diyakini, serta membuktikan prinsip melalui kehidupan nyata. Dengan demikian, semangat persatuan dan integritas tidak hanya menjadi warisan, tetapi juga menjadi tindakan yang terus memberi pengaruh positif bagi generasi berikutnya.

Pernyataan Desy Ratnasari tentang integritas Buya Hamka dapat ditempatkan dalam konteks keterlibatannya pada film “Hamka: Awal Mula (Vol. 3)”. Film tersebut dijadwalkan tayang di bioskop pada 19 November 2026 dan disutradarai Fajar Bustomi. Dalam film ini, Desy memerankan Ummi Shafiyah. Keterlibatan tersebut memberi konteks langsung bagi pandangannya mengenai sosok Hamka, tanpa perlu menambahkan klaim tentang proses produksi ataupun isi cerita yang belum tersedia.

Desy dikenal sebagai aktris yang pernah membintangi serial drama televisi “Sengsara Membawa Nikmat” pada 1991. Pengalaman panjangnya di dunia hiburan membuat namanya telah dikenal oleh berbagai generasi penonton. Di luar kiprahnya sebagai aktris, ia juga merupakan anggota Komisi I DPR RI untuk periode 2024–2029. Latar kegiatan di bidang seni dan tugas sebagai wakil rakyat menjadi bagian dari profil publiknya, sementara pesan mengenai integritas Hamka hadir dalam kaitan dengan film yang dibintanginya.

Dalam konteks tersebut, pembicaraan tentang integritas bukan hanya pengenalan terhadap tokoh yang diangkat di layar. Nilai itu juga dapat menjadi bahan refleksi bagi penonton, terutama anak muda, ketika memikirkan sikap yang ingin mereka pegang dalam kehidupan sehari-hari. Hamka dipandang sebagai teladan dalam pernyataan yang disoroti Desy; filmnya menyediakan ruang bagi kisah tentang tokoh tersebut untuk hadir kembali di bioskop. Namun, penilaian mengenai bagaimana nilai-nilai itu digambarkan dalam film tetap perlu menunggu penayangan dan merujuk pada karya yang benar-benar disajikan.

Dengan demikian posisi Desy.

Baca juga: Puspsi TNI Berikan Trauma Healing bagi Anak Penyintas Gempa Bumi NTT