Jakarta | PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO), anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BBRI, membukukan laba bersih sebesar Rp21 miliar pada kuartal III/2026. Capaian tersebut menjadi inti kinerja perseroan pada periode tersebut. Angka laba ini menggambarkan hasil usaha Bank Raya selama tiga bulan yang berakhir pada September 2026, tanpa perlu menarik kesimpulan mengenai perubahan kinerja dari periode lain yang tidak disajikan. Dengan demikian, perhatian utama dalam laporan ini berada pada laba bersih yang berhasil dicatat, sementara perkembangan bisnis digital memberikan konteks tambahan atas kegiatan perusahaan.
Pada periode yang sama, penyaluran kredit digital Bank Raya tumbuh 20 persen. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa kanal digital menjadi bagian dari aktivitas bisnis perseroan sepanjang kuartal III/2026. Informasi ini melengkapi catatan laba Rp21 miliar dan memberi gambaran mengenai salah satu area usaha yang berkembang dalam periode pelaporan. Namun, capaian pertumbuhan kredit digital dan laba bersih merupakan dua ukuran yang berbeda: angka pertama merujuk pada perkembangan penyaluran kredit melalui kanal digital, sedangkan angka kedua menunjukkan laba yang dibukukan perusahaan. Keduanya dapat dibaca bersama sebagai informasi mengenai kinerja Bank Raya, tanpa menganggap pertumbuhan kredit sebagai satu-satunya faktor yang menentukan laba.
Sebagai bank digital yang berada dalam kelompok BBRI, Bank Raya menjalankan kegiatan usaha dengan fokus pada layanan serta penyaluran kredit berbasis digital. Laporan kuartal III/2026 menempatkan capaian laba bersih Rp21 miliar sebagai hasil keuangan utama, disertai pertumbuhan penyaluran kredit digital sebesar 20 persen. Data tersebut memberi pemangku kepentingan gambaran singkat tentang hasil usaha dan perkembangan aktivitas digital pada periode yang sama. Untuk menilai kinerja secara lebih menyeluruh, informasi ini dapat dipertimbangkan bersama indikator lain yang tersedia dalam laporan perusahaan, seperti kualitas kredit, pendapatan, biaya, dan perkembangan portofolio. Tanpa data tambahan, tidak tepat menyimpulkan penyebab khusus di balik capaian laba maupun besarnya kontribusi kredit digital terhadap hasil tersebut. Yang dapat dipastikan dari informasi yang tersedia adalah Bank Raya mencatat laba bersih Rp21 miliar dan penyaluran kredit digitalnya tumbuh 20 persen pada kuartal III/2026.
Perkembangan bisnis digital Bank Raya terlihat dari meningkatnya penyaluran kredit melalui kanal digital. Nilainya mencapai Rp24,73 triliun, tumbuh 20 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Angka tersebut menggambarkan total kredit yang disalurkan selama periode pelaporan, sehingga tidak sama dengan outstanding kredit. Penyaluran menunjukkan akumulasi pemberian pinjaman, sedangkan outstanding mencerminkan saldo kredit yang masih tercatat pada waktu tertentu. Pembedaan ini penting agar pertumbuhan aktivitas penyaluran tidak disalahartikan sebagai jumlah pinjaman yang belum dilunasi. Kenaikan penyaluran tersebut menunjukkan semakin luasnya penggunaan layanan kredit digital, seiring upaya perusahaan memperkuat akses pembiayaan melalui ekosistem dan proses layanan berbasis teknologi.
Pada saat yang sama, outstanding kredit digital Bank Raya tercatat sebesar Rp3,04 triliun, meningkat 11,3 persen yoy. Nilai ini merupakan saldo kredit yang masih berjalan, bukan total kredit yang telah disalurkan selama satu periode. Dengan demikian, angka Rp24,73 triliun dan Rp3,04 triliun memiliki cakupan pengukuran berbeda dan tidak dapat dipertukarkan. Perubahan pada outstanding dapat dipengaruhi oleh penyaluran baru serta pembayaran atau pelunasan pinjaman. Informasi mengenai kedua indikator tersebut membantu memberikan gambaran lebih utuh mengenai skala aktivitas kredit digital dan posisi portofolio yang masih dikelola. Pertumbuhan keduanya turut menunjukkan bahwa layanan digital digunakan baik untuk proses penyaluran maupun pengelolaan pinjaman yang tetap aktif.
Selain kredit, penghimpunan dana melalui digital saving mencapai Rp2,4 triliun, atau tumbuh 35,6 persen yoy. Peningkatan ini mencerminkan perkembangan layanan simpanan digital dan keterlibatan nasabah dalam menggunakan kanal tersebut. Aktivitas di aplikasi Raya juga menguat: jumlah transaksi mencapai 4,9 juta, naik 44,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan transaksi memberi indikasi bahwa aplikasi semakin dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan keuangan sehari-hari. Pertumbuhan pada kredit digital, simpanan, dan penggunaan aplikasi menunjukkan perkembangan di beberapa sisi ekosistem layanan Bank Raya. Namun, setiap indikator tetap perlu dibaca sesuai definisinya: penyaluran sebagai arus kredit selama periode tertentu, outstanding sebagai saldo pinjaman berjalan, serta digital saving dan transaksi aplikasi sebagai ukuran aktivitas pada layanan masing-masing.
Rasio dana murah atau current account saving account (CASA) Bank Raya mencapai 35,83%, meningkat dari 29,78% pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan porsi dana berbasis giro dan tabungan dalam struktur pendanaan bank semakin besar. Bagi bank digital, pertumbuhan dana murah menjadi indikator penting karena dapat memperkuat sumber pendanaan sekaligus mendukung pengembangan layanan digital. Capaian tersebut juga memperlihatkan bahwa penghimpunan dana melalui kanal digital semakin berperan dalam menopang aktivitas bisnis Bank Raya. Perubahan rasio ini terjadi bersamaan dengan upaya perusahaan memperluas pemanfaatan produk simpanan digital kepada nasabah.
Direktur Utama Bank Raya, Ida Bagus Ketut Subagia, menyatakan bahwa peningkatan CASA menunjukkan kontribusi digital saving yang semakin kuat dalam struktur pendanaan. Menurutnya, perkembangan tersebut mendukung penguatan fundamental bisnis digital perusahaan. Digital saving menjadi bagian dari strategi Bank Raya untuk menghimpun dana secara lebih efisien dan memperluas keterlibatan nasabah melalui layanan yang mudah diakses. Dengan rasio CASA yang lebih tinggi, komposisi pendanaan bank juga semakin ditopang oleh dana murah. Hal ini relevan bagi keberlanjutan ekspansi bisnis digital, sebab ketersediaan sumber dana yang kuat dapat membantu bank menjaga kapasitas operasional serta mendukung penyaluran kredit.
Di sisi kualitas aset, Bank Raya mencatat perbaikan pada rasio kredit bermasalah. NPL gross berada di level 2,53%, turun 203 basis poin (bps) secara tahunan atau year-on-year (yoy). Sementara itu, NPL net tercatat sebesar 0,41%, menurun 131 bps yoy. Penurunan kedua rasio tersebut menandakan kualitas portofolio kredit yang lebih terjaga dibandingkan periode sebelumnya. Perbaikan ini menjadi perhatian penting seiring pertumbuhan penyaluran kredit digital, karena ekspansi perlu berjalan beriringan dengan pengelolaan risiko. Pada saat yang sama, net interest margin (NIM) meningkat 83 bps yoy menjadi 5,83%. Kenaikan margin tersebut mencerminkan penguatan kemampuan bank menghasilkan pendapatan bunga bersih, melengkapi capaian pada sisi pendanaan dan kualitas aset.
Pada kuartal III/2026, Bank Raya mencatat loan to deposit ratio (LDR) sebesar 78,65%. Rasio ini membandingkan jumlah kredit yang disalurkan dengan dana pihak ketiga yang dihimpun bank. Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang disampaikan untuk menggambarkan posisi penyaluran kredit terhadap sumber dana berbasis simpanan pada periode pelaporan. Dalam membaca rasio ini, LDR perlu dipahami sebagai ukuran perbandingan, bukan jumlah kredit atau simpanan secara nominal. Karena itu, angka 78,65% menunjukkan proporsi kredit terhadap dana pihak ketiga sebagaimana dilaporkan, tanpa merinci nilai masing-masing pos dalam rupiah. Data tersebut merupakan bagian dari gambaran likuiditas Bank Raya pada akhir kuartal III tahun 2026, bersama dengan rasio likuiditas lainnya yang turut dicatat perusahaan dalam laporan periode yang sama.
Indikator berikutnya adalah liquidity coverage ratio (LCR), yang tercatat sebesar 707,4%. LCR mengukur ketersediaan aset likuid berkualitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan arus kas keluar bersih dalam skenario tekanan jangka pendek sesuai ketentuan perbankan. Selain itu, net stable funding ratio (NSFR) Bank Raya mencapai 167,59%.
Baca juga: Pastikan Penyaluran Tepat Sasaran, Babinsa Dampingi Pembagian Bantuan Beras | Satgas Karhutla TNI Kawal Penyaluran Bantuan Korporasi untuk Desa Terdampak di Melawi






