Budaya  

Baremah dalam Peremajaan Sawit: PTPN IV PalmCo Libatkan Masyarakat Adat Dayak di Kalimantan Barat

Baremah dalam Peremajaan Sawit: PTPN IV PalmCo Libatkan Masyarakat Adat Dayak di Kalimantan Barat

Jakarta | PTPN IV PalmCo, sebagai subholding PTPN III (Persero), menempatkan hubungan dengan masyarakat adat sebagai bagian penting dalam pengelolaan perkebunan. Di sekitar wilayah operasional, warga setempat memiliki ikatan dengan tanah, tradisi, dan tata kehidupan yang telah berkembang dari generasi ke generasi. Karena itu, kegiatan perusahaan perlu memperhatikan kondisi sosial dan budaya di sekitarnya, bukan hanya aspek teknis produksi. Pelibatan masyarakat sejak tahapan penting membantu membuka ruang komunikasi, menyampaikan informasi, serta memahami aspirasi dan perhatian warga sebelum kegiatan dijalankan.

Komitmen tersebut relevan dalam peremajaan kebun kelapa sawit, yang mencakup rangkaian pekerjaan dan perubahan di area perkebunan. Dengan melibatkan masyarakat adat, perusahaan dapat membangun pemahaman mengenai rencana kegiatan dan mendorong dialog mengenai pelaksanaannya. Pendekatan ini juga memberi kesempatan bagi warga untuk menyampaikan pandangan berdasarkan pengetahuan lokal dan pengalaman mereka terhadap wilayah sekitar. Pelibatan tidak semestinya dipahami sebagai formalitas, melainkan sebagai proses yang mendukung hubungan saling menghormati. Melalui komunikasi yang terbuka, potensi kesalahpahaman dapat dikenali lebih awal dan koordinasi perusahaan dengan masyarakat dapat berlangsung lebih baik.

Wilayah kerja Regional V yang berada di Kalimantan menjadi konteks penting bagi pelaksanaan komitmen tersebut, termasuk di Kalimantan Barat. Keberadaan masyarakat adat Dayak di sekitar sejumlah kawasan perkebunan menuntut perhatian terhadap tradisi dan karakter setempat dalam setiap tahap kegiatan. Dengan demikian, pengelolaan perkebunan skala besar dapat berjalan seiring dengan upaya menghormati kehidupan masyarakat di sekitarnya. Pelibatan warga dalam tahapan operasional, termasuk peremajaan, mencerminkan pandangan bahwa keberlanjutan usaha tidak hanya ditentukan oleh hasil kebun, tetapi juga oleh kualitas hubungan sosial. Konsistensi dalam berdialog dan memperhatikan konteks lokal menjadi bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam menjalankan kegiatan di Kalimantan.

Bagi masyarakat adat Dayak, tanah dapat dipahami sebagai ruang hidup yang maknanya melampaui nilai ekonomi. Tanah menjadi tempat manusia menjalani kehidupan, membangun hubungan dengan lingkungan, serta mewarisi keterikatan yang terbentuk lintas generasi. Karena itu, pembicaraan mengenai lahan tidak hanya menyangkut pemanfaatan sumber daya atau hasil yang dapat diperoleh, tetapi juga menyentuh identitas, keberlanjutan hidup, dan hubungan masyarakat dengan ruang yang mereka huni.

Dimensi spiritual turut memberi kedalaman pada pemaknaan tersebut. Tanah tidak selalu dipandang sebagai objek yang dapat dialihkan atau diolah semata-mata untuk tujuan produksi. Ia dapat memiliki arti yang berkaitan dengan nilai dan pandangan hidup masyarakat adat. Pemahaman ini perlu disampaikan secara hati-hati, tanpa menyamaratakan pengalaman seluruh komunitas Dayak ataupun menambahkan rincian mengenai tradisi dan kepercayaan yang tidak tersedia. Yang penting, nilai tanah bagi masyarakat setempat mungkin berbeda dari ukuran ekonomi yang lazim digunakan dalam kegiatan usaha.

Perbedaan cara pandang itu membuat penghormatan terhadap adat istiadat penting dalam kegiatan perkebunan, termasuk peremajaan sawit. Perencanaan dan pelaksanaan kegiatan di suatu wilayah perlu memperhatikan bahwa lahan dapat memiliki arti sosial dan spiritual bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Mengakui hal tersebut membantu membuka ruang bagi komunikasi yang lebih setara, sehingga keputusan mengenai pemanfaatan lahan tidak hanya bertumpu pada kepentingan operasional perusahaan. Penghormatan juga berarti tidak mengabaikan pengetahuan, nilai, dan pertimbangan masyarakat adat dalam proses yang berpengaruh terhadap ruang hidup mereka.

Dalam konteks pelibatan masyarakat adat Dayak, penghormatan terhadap adat bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari upaya membangun hubungan yang saling menghargai. Dialog yang terbuka dapat membantu pihak-pihak terkait memahami kekhawatiran dan harapan masyarakat, sekaligus menjelaskan tujuan serta tahapan kegiatan perkebunan. Dengan menempatkan tanah sebagai ruang hidup yang memiliki beragam dimensi, peremajaan sawit dapat dibicarakan secara lebih peka terhadap konteks setempat. Pendekatan demikian mendukung proses yang mempertimbangkan aspek ekonomi sekaligus menghargai nilai sosial dan spiritual yang melekat pada tanah bagi masyarakat adat Dayak di Kalimantan Barat.

Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyudha, menegaskan bahwa keberlanjutan bisnis perusahaan tidak dapat dipisahkan dari dukungan serta keharmonisan hubungan dengan masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah operasional. Menurutnya, keberadaan perusahaan dan aktivitas perkebunan perlu berjalan beriringan dengan kehidupan komunitas setempat, termasuk dengan menghormati nilai, kebiasaan, serta kearifan lokal yang telah lama dijaga. Hubungan yang saling mendukung menjadi landasan penting agar kegiatan usaha dapat diterima dan memberi manfaat dalam jangka panjang.

Pemikiran tersebut tercermin dalam pelaksanaan ritual Baremah yang melibatkan masyarakat adat Dayak di Kalimantan Barat dalam rangka peremajaan sawit. Arya menjelaskan bahwa Baremah bukan sekadar seremoni yang dilakukan untuk menandai dimulainya suatu kegiatan. Ritual ini merupakan bentuk pendekatan yang memberi ruang bagi masyarakat adat untuk menjalankan tradisi dan menyampaikan harapan, sekaligus menunjukkan penghormatan perusahaan terhadap identitas budaya komunitas di sekitar area operasionalnya.

Dalam kerangka keberlanjutan, aspek sosial dan budaya memiliki kedudukan yang penting bersama perlindungan lingkungan dan kinerja ekonomi. Penerapan Baremah menggambarkan prinsip yang menempatkan people, planet, dan profit secara seimbang. Artinya, keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari capaian produksi atau nilai ekonomi, tetapi juga dari cara perusahaan menjaga lingkungan serta membangun hubungan yang baik dengan masyarakat. Dengan memperhatikan dimensi sosial dan budaya, perusahaan dapat mengembangkan kegiatan operasional yang lebih inklusif dan selaras dengan konteks setempat.

Pendekatan tersebut juga menegaskan bahwa masyarakat bukan sekadar pihak yang berada di sekitar kegiatan perusahaan, melainkan bagian penting dalam proses menuju keberlanjutan. Pengakuan terhadap tradisi lokal dapat membantu memperkuat kepercayaan, membuka ruang komunikasi, dan mendorong terciptanya kerja sama yang harmonis. Bagi PTPN IV PalmCo, pelibatan masyarakat adat melalui Baremah menjadi salah satu cara untuk memastikan bahwa proses peremajaan sawit berlangsung dengan memperhatikan kondisi sosial di wilayah terkait, selain tujuan usaha dan aspek lingkungan.

Pernyataan Arya Sandhiyudha mengenai keterkaitan keberlanjutan bisnis, dukungan masyarakat, dan penghormatan budaya tersebut disampaikan dalam keterangan pada Selasa, 27 Oktober 2026. Penjelasan itu menempatkan ritual Baremah sebagai bagian dari pendekatan keberlanjutan yang berupaya menyelaraskan kepentingan perusahaan dengan nilai-nilai masyarakat adat Dayak di Kalimantan Barat.

Thomas, Ketua Dewan Adat Dayak Kecamatan Kembayan, menyampaikan apresiasi atas komitmen jangka panjang PTPN IV PalmCo dalam melibatkan masyarakat adat pada kegiatan peremajaan sawit di Kalimantan Barat. Menurutnya, perhatian perusahaan terhadap adat dan budaya setempat menunjukkan bahwa pembangunan perkebunan dapat dijalankan dengan menghormati masyarakat yang telah lama hidup dan menjaga wilayah tersebut. Komitmen semacam ini dinilai penting karena hubungan perusahaan dan warga tidak hanya berlangsung selama kegiatan tertentu, tetapi juga perlu dipelihara secara berkelanjutan.

Thomas memandang pelibatan masyarakat adat serta pelaksanaan ritual tradisional Baremah sebagai bentuk penghormatan terhadap hak-hak kultural masyarakat lokal. Tradisi tersebut bukan sekadar seremoni yang menyertai pekerjaan di lapangan, melainkan bagian dari cara masyarakat menyampaikan nilai, harapan, dan doa. Dengan memberi ruang bagi ritual dan keterlibatan tokoh adat, perusahaan mengakui bahwa masyarakat memiliki tata nilai serta praktik budaya yang patut dihargai. Pendekatan ini juga membuka kesempatan bagi warga untuk berpartisipasi dan merasa menjadi bagian dari proses peremajaan.

Bagi Thomas, Baremah merupakan warisan leluhur yang mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan manusia, alam, dan Sang Pencipta. Makna tersebut menjadi pengingat agar setiap kegiatan yang menyentuh lingkungan dilakukan dengan kesadaran, tanggung jawab, serta penghormatan kepada kehidupan di sekitarnya. Ia mengapresiasi konsistensi PTPN IV PalmCo dalam melestarikan kearifan lokal di setiap langkah operasional, bukan hanya ketika ritual berlangsung.

Baca juga: Tokoh Adat Perempuan Nduga Dorong Masyarakat Wujudkan Ketahanan Pangan Mandiri | Memilih Jalan Damai, Empat Anggota OPM Puncak Jaya Serahkan Senjata kepada Pangkoops TNI Habema dan Kembali ke Masyarakat | Koops TNI Habema Amankan Kampung Balamai atas, Pangkoops: Ketegasan untuk Melindungi Masyarakat dan Menjaga Ruang Damai