BRIN Soroti Energi dari Limbah Sawit, Riset Vaksin Malaria, dan Prediksi Karhutla

BRIN Soroti Energi dari Limbah Sawit, Riset Vaksin Malaria, dan Prediksi Karhutla

Jakarta | Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menyatakan limbah sawit di Indonesia berpotensi menghasilkan listrik hingga sekitar 3,9 gigawatt apabila diolah dan dikonversi menjadi energi. Potensi tersebut mencakup limbah cair pabrik kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) serta tandan kosong sawit. Arif menyampaikan keterangan itu setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa sore, 27 Oktober.

Angka 3,9 gigawatt menggambarkan besarnya peluang energi yang terkandung dalam sisa proses pengolahan kelapa sawit. POME berasal dari kegiatan produksi di pabrik, sedangkan tandan kosong merupakan bagian padat yang tersisa setelah buah sawit dipisahkan. Keduanya selama ini dapat dipandang sebagai residu industri, tetapi melalui teknologi yang sesuai dapat menjadi bahan baku untuk menghasilkan energi. Dengan demikian, pengelolaan limbah berpeluang memberikan nilai tambah selain mendukung kegiatan utama perkebunan dan pabrik.

Untuk POME, kandungan bahan organik dapat dimanfaatkan melalui proses pengolahan yang menghasilkan biogas, yang selanjutnya bisa digunakan sebagai sumber energi. Tandan kosong sawit juga dapat dimanfaatkan melalui jalur konversi biomassa. Pilihan teknologi dan skala penerapan tentu bergantung pada karakteristik limbah, ketersediaan fasilitas, serta kebutuhan energi di lokasi masing-masing. Karena itu, potensi nasional tersebut tidak serta-merta berarti seluruh kapasitas listrik sudah tersedia atau dapat dibangun dalam waktu singkat.

Pernyataan BRIN menyoroti pentingnya riset dan inovasi untuk mengubah potensi itu menjadi pemanfaatan nyata. Kajian teknis diperlukan untuk menilai jumlah bahan baku yang tersedia, efisiensi proses, kebutuhan investasi, serta cara mengelola sisa pengolahan dengan baik. Pengembangan proyek juga perlu mempertimbangkan keterhubungan dengan jaringan listrik dan kebutuhan masyarakat maupun industri di sekitar sentra sawit. Jika dirancang secara tepat, pemanfaatan POME dan tandan kosong dapat membantu memperluas sumber energi berbasis sumber daya domestik sekaligus mendorong pengelolaan residu industri yang lebih produktif. Nilai 3,9 gigawatt tersebut menjadi gambaran peluang yang dapat ditelaah lebih lanjut melalui riset, uji teknologi, dan penerapan bertahap.

Skala industri kelapa sawit Indonesia memperlihatkan besarnya bahan baku yang berpotensi dimanfaatkan, sekaligus tantangan dalam mengelola residunya. Arif menyebut potensi limbah cair pabrik kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) mencapai sekitar 229,9 juta meter kubik per tahun. Pada saat yang sama, produksi tandan buah segar (TBS) di Indonesia berada di kisaran 328,43 juta ton setiap tahun. Angka-angka tersebut menggambarkan aliran bahan yang sangat besar dari kegiatan pengolahan sawit di berbagai wilayah.

POME terbentuk selama proses pengolahan buah sawit dan jumlahnya berkaitan dengan besarnya produksi. Karena tersedia dalam volume yang tinggi, limbah ini tidak semata-mata perlu dipandang sebagai beban pengelolaan. Menurut Arif, potensi limbah cair tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi alternatif. Pemanfaatan itu membuka peluang untuk mengubah residu industri menjadi sumber daya, dengan pengolahan yang dirancang sesuai karakteristik limbah dan kondisi setiap fasilitas.

Salah satu alasan pengolahan POME penting adalah potensi terbentuknya gas metana. Jika limbah cair dibiarkan tanpa penanganan yang memadai, proses penguraian bahan organik dapat melepaskan metana ke atmosfer. Gas ini berkontribusi terhadap efek rumah kaca, sehingga pengelolaan POME berkaitan bukan hanya dengan kebersihan lingkungan sekitar pabrik, tetapi juga dengan upaya mengurangi emisi. Penangkapan dan pemanfaatan gas dari limbah dapat menjadi bagian dari pendekatan untuk menekan pelepasan tersebut, sekaligus mendukung produksi energi.

Besarnya volume POME dan TBS menunjukkan bahwa peluang penerapan solusi ini tidak bersifat kecil atau terbatas pada satu lokasi. Namun, potensi tersebut perlu diterjemahkan melalui sistem pengolahan yang efektif, pemantauan emisi, dan pemanfaatan energi yang konsisten. Dengan begitu, limbah cair dapat ditangani secara lebih bertanggung jawab dan berpeluang memberi manfaat tambahan bagi operasional. Data yang disampaikan Arif menegaskan pentingnya melihat pengolahan POME sebagai bagian dari pengelolaan industri sawit yang lebih berkelanjutan, bukan sekadar tahap akhir pembuangan residu.

Arif memperkenalkan metal-organic framework (MOF) sebagai salah satu teknologi material yang berpotensi mendukung penyimpanan gas. MOF tersusun dari ion atau gugus logam yang dihubungkan oleh molekul organik, membentuk struktur berpori dengan luas permukaan internal yang besar. Pori-pori tersebut dapat mengikat molekul gas, sehingga material ini berpeluang menampung gas dalam jumlah lebih banyak pada kondisi tertentu dibandingkan sejumlah metode penyimpanan konvensional. Kapasitas dan kinerjanya tetap bergantung pada jenis MOF, gas yang disimpan, tekanan, suhu, serta rancangan wadah dan sistem keselamatan yang digunakan.

Dalam konteks energi, kemampuan menyimpan gas itu dapat dikaitkan dengan gagasan mengolah biogas menjadi bahan bakar yang lebih mudah disalurkan dan digunakan. Biogas umumnya mengandung metana, tetapi juga dapat membawa karbon dioksida, uap air, dan pengotor lain. Karena itu, pemanfaatannya sebagai gas tabung memerlukan tahapan pemurnian untuk meningkatkan kandungan metana, disertai kompresi atau penyesuaian bentuk penyimpanan. Material seperti MOF dapat diteliti untuk membantu proses pemisahan maupun penyimpanan gas, tetapi penerapannya harus dibuktikan melalui pengujian teknis, keselamatan, biaya, dan kesesuaian dengan kebutuhan pengguna.

Arif mengaitkan peluang tersebut dengan besarnya ketergantungan Indonesia pada LPG impor. Ia menyebut nilai impor LPG mencapai sekitar Rp97 triliun per tahun, sehingga pemanfaatan sumber energi domestik menjadi isu yang relevan. Limbah sawit, misalnya, dapat diolah untuk menghasilkan biogas; apabila gas itu dimurnikan dan dikonversi menjadi bahan bakar dalam tabung, ia berpotensi menjadi salah satu pilihan untuk memperluas pasokan energi. Namun, gagasan ini masih perlu dikembangkan dan dinilai kelayakannya, termasuk ketersediaan bahan baku, skala produksi, distribusi, standar mutu, dan biaya. Penjelasan tentang MOF membuka ruang riset bagi teknologi penyimpanan yang lebih efektif, bukan bukti bahwa konversi biogas menjadi gas tabung telah diterapkan secara luas atau telah menggantikan LPG. Langkah berikutnya mencakup demonstrasi, evaluasi keselamatan, dan kajian ekonomi sebelum solusi tersebut dapat dipertimbangkan untuk penggunaan lebih besar.Dalam pertemuan yang sama, Arif menyampaikan bahwa Presiden Prabowo menginstruksikannya untuk mempercepat riset vaksin malaria. Arahan tersebut menempatkan pengembangan vaksin sebagai salah satu agenda penelitian yang perlu mendapat perhatian. Arif berharap dukungan penuh Presiden terhadap produksi vaksin dapat membantu riset itu mencapai penyelesaian tiga tahun lebih cepat dibandingkan target sebelumnya. Harapan tersebut berkaitan dengan pentingnya dukungan terhadap proses riset dan produksi, tanpa mengubah target yang telah ditetapkan menjadi klaim bahwa percepatan itu sudah tercapai.

Percepatan riset vaksin malaria menjadi bagian dari upaya BRIN menanggapi arahan Presiden dalam pertemuan tersebut. Arif menekankan harapannya agar dukungan penuh terhadap produksi vaksin memungkinkan penelitian selesai lebih awal. Selisih tiga tahun yang disebutkan merujuk pada perbandingan dengan target sebelumnya, bukan pada jadwal baru yang telah dipastikan. Karena itu, percepatan tersebut masih berupa harapan yang disampaikan Arif, sementara penyelesaian riset tetap menjadi tujuan yang hendak didorong.

Selain riset vaksin, Arif juga membahas rencana penguatan penelitian untuk memprediksi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Salah satu cakupan yang disebut ialah penelitian model perambatan api. Penguatan prediksi ini diarahkan untuk membantu mengantisipasi kondisi karhutla, khususnya dengan memperkirakan situasi dalam rentang tiga hingga enam bulan ke depan. Informasi prediksi untuk jangka tersebut dipandang penting sebagai bekal langkah antisipasi, sehingga pihak terkait dapat lebih siap menghadapi potensi kondisi karhutla.

Menurut Arif kemampuan memperkirakan kondisi karhutla beberapa bulan ke depan merupakan.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla