Depok | Dinas Pendidikan Kota Depok menyiapkan langkah penanganan untuk mencegah banjir kembali merendam SMPN 2 Depok. Rencana tersebut disusun setelah jajaran Disdik meninjau kondisi sekolah dan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Depok. Peninjauan dilakukan untuk melihat keadaan saluran air serta kondisi lingkungan sekolah yang berkaitan dengan kejadian banjir. Hasil pengamatan itu menjadi bahan bagi kedua perangkat daerah dalam membahas upaya yang dapat dilakukan agar air tidak kembali masuk ke area sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Wahid Suryono, menyebut luapan sungai sebagai salah satu penyebab banjir di SMPN 2 Depok. Posisi permukaan air sungai yang lebih tinggi turut menjadi perhatian dalam pembahasan penanganan. Kondisi tersebut dinilai berhubungan dengan aliran air di sekitar sekolah, sehingga diperlukan koordinasi dengan dinas yang menangani pekerjaan umum dan penataan ruang. Disdik dan dinas terkait meninjau kondisi lapangan untuk memperoleh gambaran sebelum menyusun langkah yang sesuai. Penjelasan mengenai luapan sungai itu disampaikan berdasarkan hasil peninjauan dan koordinasi yang telah dilakukan.
Selain kondisi sungai, peninjauan menemukan adanya penyempitan pada outlet saluran air yang terhubung dengan jalan raya. Bagian outlet tersebut menjadi salah satu titik yang dicermati dalam rencana penanganan karena merupakan jalur saluran air. Temuan itu dibahas bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Depok sebagai bagian dari pemeriksaan kondisi di lokasi. Dengan meninjau sekolah dan mencermati saluran yang terhubung ke jalan raya, Disdik berupaya memastikan pembahasan penanganan mengacu pada keadaan yang ditemukan. Langkah lanjutan disiapkan melalui koordinasi antardinas, dengan perhatian pada luapan sungai dan penyempitan outlet saluran air. Pemerintah kota menelaah kondisi tersebut sebagai dasar untuk merencanakan upaya pencegahan agar banjir tidak kembali merendam SMPN 2 Depok.
Sebagai langkah penanganan jangka pendek untuk mengurangi risiko banjir kembali memasuki SMPN 2 Depok, Dinas Pendidikan (Disdik) bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) membahas penerapan metode backflow. Rencana ini diarahkan pada persoalan aliran air dari saluran yang berpotensi bergerak kembali dan meluap ke area sekolah. Karena itu, metode tersebut menjadi prioritas sementara sambil upaya penanganan banjir di lokasi ditindaklanjuti. Fokus utamanya bukan sekadar mengalirkan air di dalam lingkungan sekolah, melainkan mencegah air dari saluran masuk ke kawasan sekolah. Langkah pencegahan ini diharapkan dapat memberi perlindungan langsung terhadap ruang belajar serta aktivitas warga sekolah ketika debit air meningkat.
Wahid menjelaskan bahwa mekanisme backflow akan bekerja seperti katup. Sistem tersebut dimaksudkan untuk menahan aliran balik dari saluran, sehingga air tidak meluap menuju lingkungan SMPN 2 Depok. Dengan gambaran sederhana, ketika air dari saluran bergerak ke arah sekolah, mekanisme itu menjadi penghalang agar aliran tersebut tidak melewati jalur masuk. Penjelasan ini menegaskan fungsi yang spesifik: mengurangi kemungkinan air memasuki sekolah, bukan menjanjikan bahwa seluruh persoalan banjir di kawasan sekitar akan langsung selesai. Penerapan metode itu dipandang sebagai penanganan awal yang terarah pada titik risiko. Koordinasi Disdik dan DPUPR menjadi bagian penting agar rencana tersebut dapat dikerjakan sesuai kebutuhan lokasi.
Menurut Wahid, pengerjaan metode backflow akan segera dilaksanakan. Pemerintah menargetkan pekerjaan tersebut selesai pada November atau Desember 2026. Target waktu itu menjadi bagian dari rencana penanganan yang perlu ditindaklanjuti agar perlindungan terhadap sekolah dapat segera diterapkan. Setelah mekanisme berfungsi, tujuan utamanya adalah membatasi air dari saluran agar tidak kembali melimpas ke lingkungan sekolah. Dengan demikian, langkah jangka pendek ini diharapkan membantu mencegah air masuk ke area SMPN 2 Depok saat kondisi saluran berisiko menimbulkan aliran balik. Pelaksanaannya tetap perlu memperhatikan kondisi di lapangan serta koordinasi antardinas, sehingga mekanisme yang dipasang sesuai dengan jalur aliran dan kebutuhan sekolah. Upaya ini menjadi prioritas pencegahan, sementara penanganan lebih luas dapat berjalan sebagai tindak lanjut.
Dalam rencana penanganan jangka menengah, DPUPR Kota Depok akan menormalisasi outlet saluran air yang berada di dekat Puskesmas Depok Jaya. Pekerjaan ini diarahkan untuk memperbaiki aliran keluar dari saluran, sehingga air dapat mengalir lebih lancar dan tidak mudah tertahan ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Normalisasi tersebut diharapkan menambah kapasitas saluran dalam menampung debit air, terutama saat curah hujan meningkat dan volume limpasan bertambah.
Rencana itu berkaitan dengan kondisi saluran di sekitar puskesmas yang disoroti Kepala SMPN 2 Depok, Suharno. Menurut dugaan Suharno, pendangkalan pada saluran di area tersebut dapat mengurangi ruang tampung dan menghambat kelancaran aliran. Ia juga menilai badan kali di sekitar lokasi mengalami penyempitan, sehingga kemampuan aliran untuk meneruskan air menjadi terbatas. Dugaan dan penilaian tersebut disampaikan sebagai hal yang perlu diperhatikan dalam upaya mengurangi risiko air kembali memasuki lingkungan sekolah.
Suharno turut menyebut adanya gorong-gorong yang tersumbat oleh berbagai jenis sampah. Jika sumbatan menghambat aliran, air dapat tertahan dan meluap, khususnya ketika debit meningkat dalam waktu singkat. Karena itu, normalisasi outlet di dekat Puskesmas Depok Jaya menjadi salah satu langkah yang diharapkan membantu mengatasi hambatan pada jalur pembuangan. Namun, efektivitas penanganan juga berkaitan dengan kondisi saluran dan gorong-gorong di sekitarnya, sebagaimana dipaparkan Suharno.
Melalui rencana jangka menengah tersebut, DPUPR Kota Depok diharapkan dapat meningkatkan kapasitas saluran agar lebih siap menghadapi hujan deras. Perbaikan aliran pada outlet dapat mendukung pengurangan genangan apabila air memperoleh jalur pembuangan yang memadai. Keterangan Suharno mengenai dugaan pendangkalan, penyempitan kali, dan sumbatan sampah memberi gambaran tentang sejumlah kondisi yang menurutnya perlu menjadi perhatian. Penanganan pada titik outlet menjadi bagian dari upaya mencegah banjir kembali memasuki SMPN 2 Depok, sekaligus memperbaiki fungsi saluran air di kawasan sekitar sekolah dan puskesmas.
Hujan deras yang mengguyur wilayah Depok pada Selasa, 27 Oktober 2026, kembali menyebabkan SMPN 2 Depok terendam banjir. Air mencapai ketinggian sekitar 30 sentimeter dan masuk ke sejumlah bagian sekolah. Peristiwa tersebut mengganggu kondisi lingkungan belajar, tetapi tidak menghentikan kegiatan belajar mengajar yang tetap berlangsung. Banjir itu menjadi pengingat bahwa sekolah masih menghadapi risiko genangan ketika hujan lebat turun.
Suharno menyebut kejadian banjir di sekolah tersebut telah berulang sejak sekitar satu setengah hingga dua tahun terakhir. Air tidak hanya menggenangi area luar, tetapi juga memasuki ruang kelas dan ruang kantor, termasuk ruang kerjanya. Kondisi itu membuat penanganan genangan menjadi persoalan yang perlu diperhatikan secara berkelanjutan. Berulangnya banjir menunjukkan perlunya upaya pencegahan agar air tidak kembali masuk dan mengganggu fasilitas sekolah.
Walaupun beberapa ruangan terdampak, aktivitas pembelajaran tetap dilaksanakan. Sejumlah siswa turut dilibatkan untuk membersihkan area sekolah setelah banjir. Kegiatan tersebut tidak hanya membantu menjaga lingkungan sekolah, tetapi juga dimanfaatkan sebagai pembelajaran mengenai mitigasi bencana. Melalui keterlibatan langsung, siswa dapat memahami langkah sederhana yang perlu dilakukan ketika menghadapi genangan, sekaligus mengenali pentingnya menjaga kebersihan dan kesiapsiagaan di lingkungan bersama.
Suharno berharap penyempitan kali dan saluran yang berkaitan dengan aliran air dapat diperbaiki agar kapasitasnya lebih memadai. Ia juga berharap gorong-gorong mendapat kontrol sehingga kondisinya dapat dipantau dan hambatan aliran bisa diketahui. Harapan tersebut disampaikan sebagai kebutuhan untuk mencegah banjir berulang, bukan sebagai keterangan bahwa perbaikan telah dilakukan. Penanganan saluran dan gorong-gorong diharapkan dapat mendukung upaya mengurangi risiko air masuk ke ruang sekolah saat hujan deras.
Baca juga: Memilih Jalan Damai, Empat Anggota OPM Puncak Jaya Serahkan Senjata kepada Pangkoops TNI Habema dan Kembali ke Masyarakat | Empat Anggota OPM Serahkan Senjata dan Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi | Diduga Beroperasi Tanpa Hambatan, Tambang Batu Bara Ngepon Tuban Kembali Dipertanyakan





