Jakarta | BYD Atto 2 telah diperlihatkan kepada publik Indonesia, memberi gambaran awal mengenai model yang berpeluang memperluas pilihan kendaraan listrik di pasar nasional. Kehadirannya menarik perhatian karena mobil ini disebut berpotensi mengisi segmen SUV kompak, kategori yang dikenal memiliki ukuran lebih ringkas dibandingkan SUV keluarga berukuran besar. Meski demikian, pameran tersebut belum menandakan bahwa Atto 2 telah resmi diluncurkan atau mulai dijual di Indonesia. Informasi mengenai waktu pemasaran maupun nilai jual resminya juga belum dapat dipastikan dari kemunculan awal ini.
Head of Product PT BYD Motor Indonesia, Bobby Bharata, menjelaskan bahwa Atto 2 merupakan salah satu produk BYD yang disiapkan untuk segmen SUV low atau SUV compact. Model ini juga dapat menjadi produk pertama BYD di kategori tersebut. Pernyataan itu memberi petunjuk tentang arah pengembangan portofolio perusahaan, sekaligus menempatkan Atto 2 sebagai calon tambahan di kelas SUV dengan dimensi yang lebih praktis untuk penggunaan sehari-hari. Namun, posisi dan strategi produk di pasar Indonesia masih perlu menunggu penjelasan resmi lebih lanjut.
Bobby menyampaikan bahwa BYD saat ini sedang melakukan riset dan penelitian yang lebih mendalam terhadap pasar. Langkah tersebut diperlukan untuk memahami kebutuhan konsumen, karakter persaingan, serta peluang bagi sebuah SUV kompak listrik di Indonesia. Penilaian pasar menjadi bagian penting sebelum perusahaan menetapkan keputusan terkait spesifikasi, strategi pemasaran, maupun rencana penjualan. Karena itu, informasi yang beredar pada tahap perkenalan sebaiknya dipahami sebagai gambaran awal, bukan kepastian mengenai detail kendaraan yang akan dipasarkan.
Di sisi lain, BYD tengah mengupayakan agar Atto 2 dapat segera dijual di Indonesia. Pernyataan ini menunjukkan adanya upaya untuk membawa model tersebut ke pasar lokal, tetapi belum berarti jadwal peluncuran sudah ditetapkan. Konsumen yang tertarik masih perlu menantikan pengumuman resmi dari perusahaan mengenai waktu kehadiran, konfigurasi kendaraan, fitur, dan harga. Apabila benar masuk ke segmen SUV kompak, Atto 2 berpotensi memperluas pilihan bagi calon pembeli yang mempertimbangkan kendaraan listrik dengan bentuk SUV. Untuk saat ini, perkembangan riset dan kesiapan pasar menjadi hal yang perlu dicermati sambil menunggu kepastian lebih lanjut dari BYD Indonesia.
Sebelum BYD Atto 2 dipamerkan di Indonesia, dua kode kendaraan yang diduga berkaitan dengan model tersebut sempat tercantum pada laman informasi Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB) milik Badan Pendapatan Daerah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk tahun 2025. Catatan itu menarik perhatian karena memberikan petunjuk mengenai varian yang mungkin disiapkan, meskipun belum menjadi pengumuman resmi mengenai konfigurasi maupun harga kendaraan untuk pasar Indonesia.
Dalam daftar tersebut, kode SC3E-ETD-1 (4×2) AT tercatat memiliki nilai jual kendaraan bermotor sebesar Rp281 juta. Sementara itu, kode SC3E-STD-1 (4×2) AT tercantum dengan nilai Rp245 juta. Perbedaan angka pada kedua kode menunjukkan adanya dua entri yang berbeda dalam pencatatan NJKB. Namun, penyebutan kode dan nilai tersebut sebaiknya dipahami sebagai data administrasi kendaraan, bukan konfirmasi langsung bahwa keduanya merupakan nama varian ritel Atto 2.
Kode-kode serupa tidak lagi tercatat dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) tahun 2026. Perubahan atau tidak munculnya suatu kode dalam daftar berikutnya tidak dengan sendirinya menjelaskan alasan di baliknya, sehingga informasi tersebut perlu dibaca secara terbatas. Data NJKB juga bukan patokan harga jual BYD Atto 2 apabila kendaraan ini kelak dipasarkan di Indonesia. Nilai jual kendaraan bermotor digunakan dalam konteks administrasi dan perpajakan, sedangkan harga konsumen dapat dipengaruhi berbagai komponen lain, termasuk pajak, biaya distribusi, spesifikasi, perlengkapan, serta strategi penetapan harga. Karena itu, angka Rp245 juta dan Rp281 juta tidak dapat dianggap sebagai kisaran harga resmi maupun harga on-the-road. Kepastian harga baru dapat diperoleh melalui pengumuman resmi BYD untuk pasar nasional.Jika benar dipasarkan di Indonesia, BYD Atto 2 berpeluang menambah pilihan bagi konsumen yang mencari SUV listrik berukuran kompak. Kehadirannya dapat menarik perhatian karena segmen ini menawarkan kombinasi posisi duduk lebih tinggi, dimensi yang relatif praktis untuk penggunaan perkotaan, dan penggerak listrik. Namun, peluang tersebut masih bergantung pada keputusan BYD mengenai pemasaran resmi, waktu peluncuran, harga, serta spesifikasi yang akan ditawarkan untuk pasar lokal. Perkenalan model saja belum berarti kendaraan ini sudah dijual atau tersedia untuk dipesan. Informasi resmi mengenai jaringan layanan, garansi baterai, dan dukungan purnajual juga akan berpengaruh terhadap minat calon pembeli. Dengan demikian, Atto 2 saat ini lebih tepat dipandang sebagai calon pendatang di kelas SUV listrik kompak, bukan sebagai model yang telah memulai persaingan di Indonesia.
Apabila masuk ke pasar domestik, Atto 2 dapat berhadapan dengan sejumlah model yang berpotensi mengisi perhatian konsumen pada rentang kendaraan listrik kompak. Jaecoo J5 dan Geely EX2, misalnya, dapat menjadi pesaing potensial sesuai perkembangan produk dan strategi pemasaran masing-masing merek. Perbandingan nantinya tidak hanya ditentukan oleh bentuk bodi atau klaim jarak tempuh, tetapi juga oleh harga, kelengkapan fitur keselamatan, kapasitas kabin, kemudahan pengisian daya, serta layanan purnajual. Ketersediaan unit dan kepastian dukungan baterai dapat menjadi pertimbangan penting, khususnya bagi pembeli yang baru beralih dari mobil bermesin konvensional. Untuk saat ini, hubungan ketiga model tersebut masih bersifat prospektif: belum dapat disebut sebagai persaingan penjualan yang berlangsung, karena pemasaran Atto 2 di Indonesia belum dipastikan.
Besarnya peluang Atto 2 juga akan dipengaruhi oleh kondisi pasar kendaraan listrik nasional ketika model itu diperkenalkan secara resmi. Konsumen biasanya mempertimbangkan biaya kepemilikan secara menyeluruh, termasuk harga pembelian, konsumsi energi, perawatan, dan akses ke fasilitas pengisian. Jika BYD menghadirkan paket produk yang sesuai dengan kebutuhan lokal, Atto 2 berpotensi memperluas pilihan di kelas SUV listrik kompak dan mendorong perhatian terhadap segmen tersebut. Sebaliknya, harga yang kurang kompetitif atau dukungan layanan yang terbatas dapat mengurangi daya tariknya, meskipun spesifikasi kendaraan terlihat menjanjikan. Karena itu, penilaian yang lebih pasti baru dapat dilakukan setelah informasi pemasaran, harga, fitur, dan jadwal ketersediaan di Indonesia diumumkan. Sampai ada kepastian tersebut, Jaecoo J5 dan Geely EX2 layak disebut sebagai calon pembanding, bukan lawan yang telah bersaing langsung dengan Atto 2.
BYD Atto 2 dikenal sebagai Yuan Up di pasar China. Nama Yuan Up digunakan untuk model yang menjadi acuan pembahasan versi terbaru ini, sedangkan Atto 2 merupakan nama yang dikenal di sejumlah pasar ekspor. Karena itu, informasi peluncuran dan harga Yuan Up di China dapat memberi gambaran mengenai model terkait, tetapi tidak otomatis menunjukkan spesifikasi maupun harga yang akan berlaku di Indonesia.
Di China, BYD memperkenalkan Yuan Up Feichi Edition model 2027 dengan lima varian. Rentang harga resminya disebut berada di 74.800 yuan dan 104.800 yuan. Jika dikonversi secara indikatif, angka tersebut setara sekitar Rp190 juta hingga Rp270 juta. Nilai rupiah itu merupakan perkiraan berdasarkan konversi mata uang, bukan harga jual resmi Atto 2 di Indonesia. Harga lokal dapat berbeda karena faktor seperti pajak, biaya impor, konfigurasi, distribusi, serta kebijakan penetapan harga dari perusahaan.
Untuk sistem penggeraknya, Feichi Edition menggunakan satu motor listrik yang ditempatkan di bagian depan. Motor tersebut menghasilkan tenaga 70 kW, atau sekitar 94 dk, dengan torsi maksimum 180 Nm.






