Hukum  

Curahan Hati Sarwendah di Tengah Sengketa Hak Asuh dengan Ruben Onsu

Curahan Hati Sarwendah di Tengah Sengketa Hak Asuh dengan Ruben Onsu

Jakarta | Persoalan hak asuh anak yang melibatkan Ruben Onsu dan Sarwendah kembali menjadi perhatian publik. Perkara tersebut masih berproses di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, sementara kedua pihak menunjukkan sikap yang berbeda melalui pernyataan mereka di ruang publik. Perbedaan penyampaian itu membuat isu mengenai hubungan keduanya serta pengasuhan anak kembali banyak dibicarakan.

Dalam prosesnya, mediasi Ruben dan Sarwendah telah dilakukan. Namun, upaya tersebut belum menghasilkan kesepakatan yang dapat mengakhiri perkara. Dengan demikian, persoalan mengenai pengasuhan dan hubungan orang tua dengan anak masih menjadi bagian penting dari proses hukum yang berjalan. Informasi yang muncul ke publik perlu dipahami secara hati-hati karena perkara tersebut belum memiliki penyelesaian akhir.

Gugatan itu diajukan Ruben dengan alasan bahwa dirinya mengaku tidak memperoleh hak untuk bertemu dengan kedua putrinya. Kedua anak tersebut diketahui berada dalam pengasuhan Sarwendah. Pernyataan tersebut menjadi salah satu latar yang menjelaskan mengapa persoalan hak asuh kemudian dibawa ke pengadilan. Meski demikian, rincian mengenai hubungan kedua pihak sebaiknya tidak disimpulkan secara sepihak hanya berdasarkan pernyataan yang beredar.

Di tengah proses tersebut, Sarwendah juga menyampaikan curahan hati melalui ruang publik dengan sudut pandang yang berbeda. Sikap dan pernyataan masing-masing pihak menunjukkan bahwa persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan proses hukum, tetapi juga menyentuh dinamika keluarga. Karena mediasi belum mencapai titik temu, perhatian publik masih tertuju pada perkembangan perkara tanpa perlu mendahului keputusan pengadilan. Fakta utama yang saat ini dapat disampaikan adalah bahwa gugatan masih berjalan, mediasi belum menghasilkan kesepakatan, dan isu pertemuan Ruben dengan kedua putrinya menjadi bagian dari pokok persoalan yang diperdebatkan.

Sarwendah menyampaikan kegelisahannya melalui Instagram Story ketika persoalan dengan mantan suaminya, Ruben Onsu, masih belum menemukan penyelesaian. Unggahan tersebut menjadi ruang bagi Sarwendah untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya di tengah proses penyelesaian sengketa hak asuh yang masih menjadi perhatian publik. Ia tidak menjelaskan secara rinci mengenai perkembangan terbaru dari persoalan tersebut, tetapi menuliskan pertanyaan yang terus muncul dalam benaknya.

Dalam unggahan itu, Sarwendah mengaku bahwa setiap malam dirinya memikirkan kapan masalah yang sedang dihadapi dapat berakhir. Pernyataan tersebut dikutip pada Minggu, 11 Oktober 2026, sesuai dengan bahan sumber. Ia menulis, “Jujur setiap malam saya berpikir, kapan masalah ini selesai?”

Kutipan tersebut memperlihatkan sisi emosional dari pernyataan Sarwendah. Kalimatnya disampaikan secara langsung dan sederhana, tetapi menggambarkan adanya penantian terhadap penyelesaian persoalan yang belum kunjung selesai. Melalui Instagram Story, ia menyampaikan kegelisahan tersebut kepada pengikutnya tanpa memberikan penjelasan tambahan mengenai langkah hukum maupun komunikasi yang berlangsung dengan mantan suaminya.

Unggahan Sarwendah juga menunjukkan bahwa isu hak asuh tidak hanya berkaitan dengan proses formal, tetapi turut menjadi persoalan yang ia pikirkan dalam kesehariannya. Meski demikian, pernyataannya terbatas pada pengakuan mengenai apa yang ia pikirkan setiap malam. Tidak terdapat keterangan lain dalam unggahan tersebut yang menjelaskan kondisi atau perasaan Sarwendah di luar kalimat yang ia tuliskan. Karena itu, isi Instagram Story tersebut dapat dipahami sebagai penyampaian kegelisahan pribadi mengenai waktu berakhirnya masalah, tanpa menambahkan kesimpulan mengenai keadaan psikologisnya.

Sarwendah kembali menyampaikan curahan hatinya mengenai situasi yang terus menjadi perhatian masyarakat. Dalam unggahan tersebut, ia mengungkapkan perasaan yang tidak mudah dihadapi ketika persoalan pribadi berkembang menjadi pembicaraan publik. Ia bahkan menyatakan, “Saya malu sama diri sendiri,” sebagai gambaran atas kondisi yang sedang berlangsung dan dampaknya terhadap dirinya.

Pernyataan itu disampaikan Sarwendah melalui unggahan, tanpa merinci pihak-pihak yang dimaksud dalam curahan hatinya. Ia menyoroti bahwa perseteruan yang berlarut-larut tidak hanya berkaitan dengan orang-orang yang terlibat langsung, tetapi juga dapat berdampak pada banyak pihak. Situasi tersebut membuat persoalan pribadi yang semestinya diselesaikan secara terbatas justru terbuka di hadapan masyarakat.

Sarwendah juga menyayangkan keadaan ketika masing-masing pihak akhirnya membuka masalah pribadi di ruang publik. Menurut pernyataan yang ia sampaikan, kondisi tersebut “hanya menyakiti banyak pihak, membuka aib, dan memperburuk keadaan.” Ungkapan itu memperlihatkan penyesalannya terhadap perkembangan persoalan yang terus menjadi sorotan, sekaligus menunjukkan bahwa dampaknya dirasakan lebih luas daripada sekadar hubungan pihak-pihak yang bersengketa.

Rasa malu yang ia ungkapkan menjadi bagian dari respons Sarwendah terhadap perhatian publik yang tidak kunjung mereda. Ia menyampaikan perasaannya secara langsung melalui unggahan, dengan menekankan dampak konflik serta keterbukaan masalah pribadi kepada masyarakat. Tidak ada penjelasan tambahan mengenai pihak-pihak yang dimaksud maupun tafsiran lebih jauh atas isi curahan hati tersebut. Pernyataan itu menjadi penanda bahwa Sarwendah menilai situasi yang berlarut-larut telah membawa beban bagi banyak pihak dan membuat keadaan semakin rumit.

Sebelum unggahan Sarwendah ramai diperbincangkan, ia lebih dahulu hadir dalam sebuah podcast YouTube bersama tim kuasa hukum barunya, Pablo Benua. Dalam tayangan tersebut, Rey Utami juga turut terlibat dalam pembahasan. Sarwendah kembali mengungkapkan perkara gugatan hak asuh anak yang masih berjalan, termasuk pengalaman dan pandangannya selama menghadapi proses tersebut. Pernyataan itu menjadi perhatian karena menyentuh hubungan anak dengan kedua orang tuanya serta komunikasi yang berlangsung di tengah sengketa.

Dalam podcast itu, Sarwendah juga menyinggung teguran dari psikolog. Ia menyebut psikolog tersebut menilai dirinya terkesan memaksa anak untuk bertemu dengan ayahnya. Pembahasan mengenai penilaian tersebut kembali membuka percakapan publik tentang pola pengasuhan, keputusan orang tua, dan posisi anak dalam konflik keluarga. Sarwendah menyampaikan hal itu sebagai bagian dari keterangannya mengenai persoalan yang sedang dihadapi, sementara proses hukum terkait hak asuh masih berlangsung.

Setelah kemunculan Sarwendah dalam podcast tersebut, Ruben Onsu memberikan tanggapan melalui siaran langsung di akun TikTok pribadinya. Ruben menilai pembahasan yang disampaikan mantan istrinya di sejumlah podcast tidak banyak mengalami perubahan. Ia juga mempertanyakan alasan persoalan tersebut terus dibicarakan di ruang publik, sementara perkara mereka masih diproses melalui jalur pengadilan. Menurut tanggapannya, berbagai pernyataan di media dan podcast membuat isu tersebut kembali menjadi perhatian masyarakat.

Perbedaan pandangan itu menunjukkan bahwa polemik Sarwendah dan Ruben masih berlanjut melalui pernyataan publik, podcast, serta media sosial. Masing-masing pihak menyampaikan sudut pandangnya kepada masyarakat, sementara perkembangan perkara tetap mengikuti proses yang sedang berjalan. Tidak ada keputusan hukum baru yang dapat ditarik hanya dari pernyataan mereka di ruang publik, sehingga perhatian selanjutnya tertuju pada keterangan resmi dan tahapan persidangan.