Kabupaten Merauke | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilaporkan melanda 10 distrik di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan. Informasi tersebut disampaikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, pada Minggu (11/10). Hingga laporan itu disampaikan, proses pendataan terhadap lahan yang terbakar masih berlangsung sehingga luas area terdampak belum dapat dipastikan secara menyeluruh.
Sepuluh distrik yang dilaporkan terdampak adalah Kurik, Nokenjere, Sota, Tanah Miring, Eli Kobel, Muting, Subur, Ilwayab, Ngguti, dan Kaptel. Sebaran lokasi tersebut menunjukkan bahwa kejadian kebakaran berlangsung di sejumlah wilayah Kabupaten Merauke, dengan karakter kawasan dan kondisi lahan yang dapat berbeda-beda. Pendataan secara berkelanjutan diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai lokasi, luasan, serta dampak kebakaran.
Adapun lokasi yang telah dilaporkan mengalami kebakaran meliputi Kampung Harapan Makmur, Kampung Kondo, Desa Sota, Desa Sarmayam Indah, Desa Bumun, Desa Set Agung, Kampung Wakai, Kampung Wanam, Kampung Salam Epe, dan Kampung Ihalik. Daftar tersebut mencakup kampung dan desa yang berada di wilayah distrik terdampak, sehingga verifikasi lapangan menjadi bagian penting dalam pemutakhiran informasi kebencanaan.
BNPB masih menghimpun data dari wilayah-wilayah tersebut untuk memastikan perkembangan karhutla di Merauke. Informasi mengenai luasan lahan terbakar dan kondisi terkini akan bergantung pada hasil pemantauan serta laporan lanjutan dari petugas di lapangan. Dengan demikian, data yang tersedia pada tahap awal masih dapat mengalami pembaruan seiring berlangsungnya proses pendataan dan verifikasi.
Pendataan sementara terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Merauke menunjukkan bahwa luas area terbakar yang telah dirinci dari sembilan lokasi mencapai sekitar 63 hektare. Data tersebut belum mencakup luas kebakaran di Kampung Kondo, Distrik Nokenjere, karena proses penghitungan di lokasi itu masih berlangsung. Dengan demikian, total luas lahan terdampak berpotensi berubah setelah seluruh hasil verifikasi lapangan diterima dan diperbarui.
Rincian sementara mencatat, lahan terbakar di Kampung Harapan Makmur, Distrik Kurik, diperkirakan sekitar 7 hektare. Di Desa Sota, Distrik Sota, luas area yang terbakar mencapai sekitar 5 hektare, sedangkan Desa Sarmayam Indah, Distrik Tanah Miring, juga tercatat sekitar 5 hektare.
Area terdampak paling luas dalam pendataan sementara berada di Desa Bumun, Distrik Eli Kobel, dengan perkiraan sekitar 20 hektare. Selanjutnya, Desa Set Agung di Distrik Muting memiliki luas lahan terbakar sekitar 4 hektare. Kampung Wakai, Distrik Subur, tercatat sekitar 3 hektare, sementara Kampung Wanam di Distrik Ilwayab mencapai sekitar 9 hektare.
Di wilayah lain, kebakaran di Kampung Salam Epe, Distrik Ngguti, diperkirakan meliputi sekitar 7 hektare. Adapun Kampung Ihalik, Distrik Kaptel, mencatat luas lahan terbakar sekitar 3 hektare. Jika seluruh angka dari sembilan lokasi tersebut dijumlahkan, luasnya mencapai sekitar 63 hektare.
Seluruh angka itu masih bersifat sementara dan tidak menutup kemungkinan mengalami perubahan. Pemutakhiran diperlukan untuk memastikan luasan berdasarkan pemeriksaan langsung, termasuk di Kampung Kondo yang datanya masih dihitung. Pendataan lanjutan juga menjadi dasar untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai dampak karhutla di berbagai distrik di Merauke.
Berdasarkan laporan penanganan pada Sabtu (10/10), kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Merauke mulai menunjukkan perkembangan. Api yang sebelumnya terpantau di Kampung Harapan Makmur, Desa Sota, Desa Sarmayam Indah, dan Desa Bumun dilaporkan telah padam. Meski demikian, petugas masih melakukan tahap pendinginan untuk memastikan tidak ada bara atau titik panas yang kembali memicu kebakaran.
Tahap pendinginan menjadi bagian penting dalam penanganan karena sisa bara di lahan gambut, semak, maupun material kering dapat kembali menyala, terutama ketika kondisi cuaca panas dan angin bertiup. Petugas perlu memeriksa area terdampak secara menyeluruh sebelum lokasi dinyatakan benar-benar aman. Pendataan luas lahan yang terbakar juga masih berlangsung untuk memperoleh gambaran mengenai dampak karhutla di masing-masing wilayah.
Sementara itu, kebakaran di Desa Set Agung masih dalam proses penanganan. Tim di lapangan terus berupaya mengendalikan api agar tidak meluas ke area lain. Penanganan di Kampung Wanam dan Kampung Salam Epe dilakukan oleh pihak perusahaan terkait. Koordinasi perusahaan dan unsur penanganan diperlukan untuk memantau perkembangan api serta memastikan langkah pemadaman berjalan sesuai kondisi lapangan.
Beberapa titik lainnya belum dapat ditangani secara langsung karena berada di lokasi yang jauh dan sulit dijangkau. Wilayah tersebut meliputi Kampung Kondo di Distrik Nokenjere, Kampung Wakai di Distrik Subur, serta Kampung Ihalik di Distrik Kaptel. Jarak, akses menuju lokasi, dan kondisi medan menjadi kendala utama dalam pengerahan personel maupun peralatan. Situasi ini membuat pemantauan dan pengumpulan informasi tetap diperlukan sambil menunggu kemungkinan akses penanganan yang lebih efektif.
Penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjangkau sejumlah wilayah di Merauke masih dalam penyelidikan. Hingga laporan diterima, belum ada keterangan yang memastikan faktor pemicu kebakaran tersebut. Proses pendalaman masih diperlukan untuk memperoleh informasi yang lebih jelas dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai awal munculnya api serta rangkaian kejadian di lokasi terdampak.
Pengendalian api menghadapi tantangan karena akses menuju sejumlah lokasi masih terbatas. Kondisi ini dapat menyulitkan pemantauan secara langsung, sekaligus memperlambat penyampaian informasi dari lapangan. Keterbatasan akses juga membuat perkembangan situasi perlu dipantau secara berkelanjutan melalui koordinasi dengan pihak-pihak terkait yang memiliki tugas dan kewenangan di wilayah tersebut.
Pemantauan dan koordinasi menjadi bagian penting selama pendataan lahan terbakar serta penyelidikan penyebab kebakaran masih berlangsung. Informasi dari berbagai pihak perlu dihimpun secara hati-hati agar kondisi di setiap lokasi dapat diketahui dengan lebih akurat. Langkah tersebut juga diperlukan untuk mendukung pengawasan terhadap titik-titik yang sulit dijangkau dan memastikan setiap perkembangan dapat dilaporkan sesuai keadaan yang ditemukan.
Sejumlah kendala akses tidak mengubah kebutuhan untuk melanjutkan pemantauan dan komunikasi antarpihak. Aparat dan pihak terkait perlu terus berkoordinasi untuk mengikuti situasi karhutla di wilayah yang belum mudah didatangi, sambil menunggu hasil penyelidikan mengenai penyebabnya. Hingga laporan diterima, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat karhutla tersebut. Informasi mengenai penyebab kebakaran masih menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut.
Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla | Perkuat Kesadaran Warga, Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Bersama Pasis Sesko TNI Sosialisasikan Pencegahan Karhutla

