Danantara Dinilai Berpotensi Mendorong Industri dan Pertumbuhan Indonesia

Danantara Dinilai Berpotensi Mendorong Industri dan Pertumbuhan Indonesia

Jakarta | Danantara dapat berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui penempatan investasi yang strategis, terarah, dan berorientasi jangka panjang. Sebagai pengelola investasi negara, lembaga ini berpotensi menghubungkan kebutuhan pembiayaan dengan agenda pembangunan yang memiliki dampak luas. Pilihan sektor, mitra, serta proyek akan menjadi faktor penentu agar modal dapat diarahkan pada kegiatan produktif, bukan sekadar mengejar keuntungan jangka pendek. Karena itu, kualitas tata kelola, transparansi, dan penilaian risiko perlu menjadi bagian penting dari setiap keputusan investasi. Jika dijalankan dengan cermat, strategi tersebut dapat memperluas kapasitas ekonomi sekaligus memperkuat fondasi bagi pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Potensi ini tetap bergantung pada pelaksanaan yang konsisten dan akuntabel.

Salah satu peluangnya adalah mendukung penguatan industri nasional, termasuk sektor yang memiliki keterkaitan dengan rantai pasok domestik. Investasi dapat membantu perusahaan meningkatkan kapasitas produksi, memperbarui peralatan, dan memperluas akses terhadap pembiayaan maupun pasar. Dukungan semacam itu berpotensi mendorong nilai tambah di dalam negeri, menciptakan kesempatan kerja, serta mengurangi kerentanan terhadap gangguan pasokan global. Selain itu, pemilihan proyek yang melibatkan pelaku usaha lokal dapat membuka ruang bagi pemasok dan usaha kecil untuk berpartisipasi dalam kegiatan industri. Namun, manfaat tersebut tidak otomatis muncul hanya karena modal tersedia. Perencanaan, kepastian regulasi, keterampilan tenaga kerja, dan pengawasan terhadap hasil investasi tetap dibutuhkan agar proyek dapat berjalan efektif dan memberi kontribusi nyata pada daya saing industri.

Investasi strategis juga dapat diarahkan untuk mempercepat pengembangan teknologi dan meningkatkan produktivitas nasional. Pembiayaan bagi riset, digitalisasi, infrastruktur, serta adopsi teknologi di sektor produksi berpotensi membantu Indonesia mengejar ketertinggalan dibandingkan negara yang lebih maju. Teknologi yang sesuai dapat memperbaiki efisiensi, mutu produk, dan kemampuan perusahaan beradaptasi terhadap perubahan pasar. Dalam jangka panjang, peningkatan produktivitas menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, terutama ketika sumber pertumbuhan yang bergantung pada ekspansi kapasitas konvensional mulai menghadapi batas. Untuk mencapai tujuan tersebut, investasi perlu disertai transfer pengetahuan, pengembangan talenta, dan evaluasi manfaat yang terukur. Dengan demikian, peran Danantara dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing Indonesia, tanpa menganggap dampaknya telah terwujud sebelum hasilnya terbukti.

Dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026), Peter Howitt, peraih Nobel Ekonomi 2025, menyoroti besarnya peluang Indonesia untuk tumbuh. Penilaiannya menempatkan potensi ekonomi nasional sebagai peluang nyata, tetapi bukan sesuatu yang otomatis terwujud. Pertumbuhan perlu didukung oleh langkah-langkah yang mampu mengubah kapasitas dan gagasan menjadi peningkatan produktivitas serta kegiatan industri.

Howitt menyampaikan bahwa “Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang besar.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa prospek Indonesia dapat menjadi landasan bagi kemajuan jangka panjang. Namun, potensi saja tidak cukup: diperlukan ekosistem yang mendorong inovasi, investasi, dan penerapan teknologi, sekaligus membuka ruang bagi industri untuk berkembang. Dengan dukungan yang tepat, peluang yang ada dapat diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi yang lebih produktif.

Dalam konteks itu, Danantara dinilai memiliki peran penting untuk membantu mewujudkan potensi tersebut. Sebagai institusi yang dapat mengarahkan investasi, Danantara berpeluang mendukung proyek dan sektor yang mendorong pembaruan teknologi serta penguatan industri. Peran ini menuntut pertimbangan jangka panjang, pemilihan prioritas yang cermat, dan perhatian pada dampak investasi terhadap produktivitas. Dengan demikian, investasi tidak hanya dipandang dari nilai modal yang ditanamkan, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan kapasitas ekonomi yang berkelanjutan.

Pandangan Howitt memberi kerangka untuk memahami hubungan investasi, inovasi, dan pertumbuhan. Ketiganya saling mendukung: investasi dapat menyediakan sumber daya bagi inovasi, sementara teknologi dan gagasan baru dapat meningkatkan kinerja perusahaan serta sektor industri. Jika proses ini berjalan efektif, manfaatnya berpotensi meluas, mulai dari penguatan daya saing hingga terciptanya kegiatan ekonomi bernilai tambah lebih tinggi.

Pernyataan tersebut sekaligus menggarisbawahi bahwa mewujudkan prospek pertumbuhan Indonesia membutuhkan kerja berkelanjutan dan keputusan yang terarah. Danantara dapat menjadi salah satu penggerak dengan membantu menghubungkan modal, teknologi, dan kebutuhan industri. Keberhasilan akhirnya bergantung pada bagaimana peluang investasi disalurkan dan diterapkan. Sorotan Howitt di forum itu menempatkan agenda tersebut sebagai bagian penting dari upaya memperkuat pertumbuhan Indonesia.

Menurut ekonom Peter Howitt, negara berkembang tidak harus menciptakan sendiri seluruh teknologi yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas. Negara dapat mempercepat pertumbuhan dengan mengadopsi, mengadaptasi, dan menyebarluaskan teknologi yang telah dikembangkan di negara maju. Proses ini membantu perusahaan menghasilkan barang dan jasa dengan lebih efisien, sekaligus membangun kemampuan untuk terus memperbaiki proses produksi. Namun, adopsi teknologi bukan sekadar membeli mesin atau lisensi. Keberhasilannya bergantung pada keterampilan tenaga kerja, investasi, infrastruktur, dan kemampuan perusahaan mengintegrasikan teknologi ke dalam kegiatan produksi.

Howitt menunjuk pengalaman Asia Timur sebagai ilustrasi strategi tersebut. Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Singapura, dan China memanfaatkan teknologi serta pengetahuan dari luar untuk memperkuat industri domestik. Perusahaan di negara-negara itu belajar dari teknologi asing, mengembangkan kapasitas produksi, lalu meningkatkan mutu dan daya saing produknya. Dengan begitu, mereka dapat memasuki pasar ekspor dan berkembang dari kegiatan bernilai tambah lebih rendah menuju produk serta proses yang semakin canggih. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keterbukaan pada teknologi asing dapat menjadi pijakan untuk membangun kemampuan sendiri, bukan pengganti inovasi domestik.

Dalam kerangka Howitt, perusahaan berskala besar memiliki peran penting karena dapat menanggung biaya penerapan teknologi, berinvestasi dalam produktivitas, dan menghasilkan volume yang cukup untuk bersaing di pasar internasional. Sejalan dengan gagasan itu, Howitt menekankan bahwa strategi pertumbuhan perlu memberi ruang bagi perusahaan besar untuk menerapkan teknologi dan mengekspor produk. Bagi Indonesia, tantangannya ialah memastikan investasi meningkatkan kemampuan industri, bukan hanya menambah modal tanpa keterkaitan dengan pemasok dan pekerja lokal. Danantara berpotensi mendukung agenda tersebut melalui investasi jangka panjang pada sektor produktif, teknologi, dan infrastruktur pendukung. Jika diarahkan secara selektif, modalnya dapat membantu perusahaan mengadopsi teknologi, memperluas kapasitas, meningkatkan standar produk, serta menembus pasar ekspor. Dampaknya akan lebih kuat apabila investasi disertai transfer pengetahuan, pengembangan keterampilan, dan tata kelola yang baik. Dengan demikian, pelajaran Asia Timur bukan menyalin kebijakan secara persis, melainkan membangun perusahaan yang mampu menyerap teknologi, tumbuh produktif, dan bersaing secara global.

Howitt mengingatkan bahwa strategi Indonesia dalam mengadopsi teknologi perlu berubah seiring meningkatnya kemampuan nasional. Pada tahap awal pembangunan, pemanfaatan teknologi dari luar negeri dapat membantu mempercepat produktivitas dan memperluas kapasitas industri. Namun, pendekatan tersebut tidak cukup jika Indonesia semakin dekat dengan jajaran terdepan teknologi dunia. Negara perlu menyeimbangkan penggunaan teknologi asing dengan kemampuan untuk menciptakan solusi dan inovasi secara mandiri.

Perubahan strategi ini penting agar kemajuan tidak hanya bergantung pada pengetahuan, produk, atau sistem yang dikembangkan di negara lain. Kemampuan berinovasi memungkinkan pelaku industri menanggapi kebutuhan domestik sekaligus membangun keunggulan yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Sejalan dengan pandangan Howitt, semakin tinggi kapasitas teknologi suatu negara, semakin besar pula alasan untuk memperkuat kegiatan penciptaan teknologi, bukan sekadar memperluas adopsinya. Pengembangan tersebut membutuhkan ekosistem yang memberi kesempatan bagi gagasan baru untuk diuji dan dikembangkan.

Dalam ekosistem itu, startup dan perusahaan kecil perlu memperoleh ruang untuk tumbuh. Perusahaan-perusahaan semacam ini berpotensi menghasilkan terobosan, termasuk melalui pendekatan yang berbeda dari praktik perusahaan mapan.