Jakarta | Bursa Efek Indonesia (BEI) merombak struktur dan komposisi keanggotaan komite High Shareholding Concentration (HSC) sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola pasar modal. Perubahan ini memperluas keterwakilan dalam komite, dengan melibatkan unsur industri hingga investor. Pendekatan tersebut diharapkan menghadirkan perspektif yang lebih beragam dalam pembahasan isu konsentrasi kepemilikan saham dan pengelolaan informasi terkait di pasar.
Keanggotaan yang lebih luas dapat mendukung proses kerja komite yang lebih seimbang dan responsif terhadap kebutuhan para pemangku kepentingan. Keterlibatan beragam pihak juga memberi ruang bagi masukan yang bersumber dari pengalaman langsung di industri maupun sudut pandang investor. Dengan demikian, keputusan dan rekomendasi yang dihasilkan dapat mempertimbangkan dampak kebijakan secara lebih menyeluruh, sekaligus membantu menjaga transparansi serta kredibilitas pasar.
Penguatan tata kelola menjadi tujuan penting dari perubahan komposisi tersebut. Dalam menjalankan tugasnya, komite berkaitan dengan sejumlah aspek kebijakan bursa, termasuk metodologi penentuan saham yang masuk dan keluar dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Metodologi indeks memiliki arti penting karena perubahan konstituen dapat memengaruhi acuan yang digunakan investor dalam membaca kinerja pasar. Karena itu, pembahasan mengenai kriteria dan penerapannya perlu dilakukan secara cermat, konsisten, dan dapat dipahami para pelaku pasar.
Perombakan ini tidak sekadar menyangkut penambahan unsur baru, tetapi juga merupakan langkah untuk memastikan komite memiliki komposisi yang relevan dengan tantangan pasar modal. Keterwakilan industri dan investor dapat memperkaya diskusi mengenai konsentrasi kepemilikan serta penerapan kebijakan terkait. Melalui tata kelola yang kuat dan proses yang transparan, BEI diharapkan mampu membangun kepercayaan terhadap mekanisme pasar dan menjaga agar kebijakan yang dibahas tetap berlandaskan pertimbangan yang objektif.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa keanggotaan komite HSC sebelumnya hanya mencakup unsur self-regulatory organization (SRO). Komposisi tersebut kini diperluas agar pembahasan di dalam komite dapat mempertimbangkan lebih banyak perspektif. Perubahan ini menghadirkan pihak independen yang berasal dari kalangan pelaku industri, akademisi, serta perwakilan investor. Dengan demikian, keterlibatan dalam komite tidak lagi terbatas pada organisasi yang menjalankan fungsi pengaturan mandiri di pasar modal.
Pelibatan unsur industri diharapkan membawa pemahaman mengenai kondisi dan kebutuhan pelaku pasar dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Sementara itu, akademisi dapat menyumbangkan sudut pandang berbasis kajian dan analisis, sedangkan perwakilan investor memberi ruang bagi kepentingan serta pengalaman pengguna pasar. Keberagaman latar belakang tersebut menjadi bagian dari upaya memperkaya pertukaran gagasan dalam komite HSC. Pendekatan ini juga membuka kesempatan bagi berbagai pemangku kepentingan untuk menyampaikan masukan yang relevan dengan agenda pembahasan.
Jeffrey menyampaikan bahwa BEI memiliki keleluasaan untuk menambah anggota komite apabila diperlukan. Selain itu, bursa dapat mengundang pihak independen untuk hadir dalam setiap rapat komite, sesuai dengan topik yang dibicarakan dan kebutuhan diskusi. Artinya, partisipasi pihak di luar keanggotaan tetap dapat disesuaikan dari satu pertemuan ke pertemuan lain. Pengaturan tersebut memungkinkan komite memperoleh pandangan tambahan tanpa harus membatasi masukan hanya pada susunan anggota tetap. Dalam pelaksanaannya, penambahan anggota maupun undangan dapat mendukung diskusi yang lebih menyeluruh dan memberi konteks yang beragam bagi setiap agenda. Perluasan komposisi ini menandai perubahan pendekatan BEI dalam mengelola forum tersebut, dengan membuka ruang bagi keterlibatan yang lebih luas. Keterangan mengenai susunan dan mekanisme keanggotaan itu disampaikan sebagai bagian dari penjelasan BEI tentang perluasan komite HSC. Dengan melibatkan pihak independen dan memberi ruang bagi undangan dalam rapat, komite dapat menghimpun perspektif dari berbagai kelompok yang berkaitan dengan pasar modal.
Jeffrey menyampaikan bahwa jumlah anggota Komite HSC bertambah menjadi sembilan orang. Susunan tersebut mencakup empat orang dari jajaran direksi SRO dan lima orang dari pihak eksternal independen. Perluasan komposisi ini menghadirkan lebih banyak unsur di dalam keanggotaan komite, dengan tetap membedakan anggota yang berasal dari SRO dan pihak eksternal.
Dalam penjelasan mengenai unsur eksternal, Jeffrey menyebut dua direksi bursa, masing-masing satu direksi KPEI dan satu direksi KSEI, serta perwakilan pelaku industri. Unsur-unsur itu merupakan rincian yang disebutkan dalam sumber untuk menggambarkan keterlibatan pihak eksternal. Penjelasan tersebut tidak menguraikan identitas perwakilan pelaku industri ataupun keterangan tambahan mengenai latar belakang para anggota.
Dengan demikian, susunan yang disampaikan terdiri atas sembilan anggota secara keseluruhan, dengan pembagian empat orang dari direksi SRO dan lima orang dari pihak eksternal independen. Pada uraian mengenai unsur eksternal, tercantum pula dua direksi bursa, satu direksi KPEI, satu direksi KSEI, dan perwakilan pelaku industri. Rincian tersebut disampaikan sebagaimana adanya, tanpa penjelasan lebih jauh mengenai hubungan setiap unsur dengan pembagian kelompok anggota.
Komposisi ini memperlihatkan bahwa keanggotaan Komite HSC tidak hanya melibatkan unsur SRO, tetapi juga mencakup pihak eksternal independen dan perwakilan pelaku industri. Keterlibatan sejumlah unsur tersebut menjadi bagian dari susunan baru yang disebut Jeffrey. Namun, informasi yang disampaikan tidak merinci lebih jauh mengenai tugas, mekanisme keterwakilan, ataupun tata cara penunjukan masing-masing anggota. Karena itu, rincian komposisi dapat dipahami sebatas jumlah anggota, pembagian umum unsur SRO dan eksternal independen, serta kategori pihak yang disebutkan dalam penjelasan tersebut.
Perluasan keanggotaan Komite HSC turut menghadirkan perwakilan perusahaan efek, kalangan akademisi, unsur tata kelola, serta investor asing. Keterlibatan berbagai pihak tersebut dimaksudkan untuk memperkaya perspektif dalam pembahasan komite dan memperkuat keterkaitannya dengan kebutuhan pelaku pasar. Dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Senin, 26 Oktober 2026, Jeffrey menyampaikan bahwa sejumlah tokoh dengan latar belakang berbeda kini dilibatkan dalam komposisi keanggotaan.
Dari kelompok perusahaan efek, nama yang disebut adalah Direktur Utama Mandiri Sekuritas Alex Widi Kristiono dan Direktur Utama UBS Sekuritas Joshua Tanja. Keduanya menjadi perwakilan perusahaan efek dalam komite. Kehadiran mereka membawa sudut pandang industri sekuritas, yang berhubungan langsung dengan aktivitas pasar modal dan kebutuhan perusahaan dalam menjalankan kegiatan usaha. Masukan dari unsur ini diharapkan dapat melengkapi pembahasan kebijakan maupun rekomendasi yang disusun komite.
Komite juga melibatkan Mardiasmo, Ketua Umum Dewan Pengurus Komite Nasional Kebijakan Governance sekaligus mantan Wakil Menteri Keuangan, serta Eduardus Tandelilin, Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Perwakilan investor asing yang disebut adalah Chapman Taylor dari Capital Group. Ia merupakan pengelola dana portofolio dengan pengalaman lebih dari 30 tahun. Latar belakang tersebut menghadirkan perspektif mengenai pengelolaan investasi dan pertimbangan investor internasional, sekaligus melengkapi kontribusi dari praktisi dan akademisi.
Susunan yang melibatkan unsur industri, tata kelola, pendidikan tinggi, dan pengelola investasi itu mencerminkan upaya memperluas cakupan pandangan dalam Komite HSC. Perbedaan pengalaman para anggota dapat membantu komite menelaah isu secara lebih berimbang, termasuk dari sisi penerapan di pasar dan kebutuhan pemangku kepentingan. Jeffrey berharap perluasan keanggotaan tersebut dapat meningkatkan transparansi, memperkuat tata kelola, serta meningkatkan kredibilitas keluaran komite. Harapan itu menjadi bagian dari tujuan pelibatan pemangku kepentingan yang lebih beragam dalam mendukung kerja komite dan menghasilkan masukan yang dipandang relevan oleh pasar modal.






