Kabupaten Tangerang | PB Orado mengembangkan Orado Game sebagai ruang digital yang dapat mempertemukan pemain domino dalam format pertandingan. Aplikasi ini mulai diluncurkan melalui Play Store agar dapat diakses oleh pengguna perangkat Android. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya organisasi untuk membawa permainan domino ke kanal yang lebih mudah dijangkau, sekaligus menyediakan sarana bagi masyarakat untuk mencoba bertanding. Melalui platform tersebut, aktivitas bermain tidak hanya berlangsung secara langsung di arena, tetapi juga dapat dimulai secara daring. Langkah ini membuka kesempatan bagi lebih banyak pemain untuk mengenal kompetisi dan menunjukkan kemampuan mereka.
Orado Game juga dilengkapi sistem pemeringkatan. Sistem tersebut dirancang untuk mencatat posisi dan perkembangan pemain berdasarkan partisipasi mereka dalam pertandingan. Dengan begitu, aplikasi dapat berfungsi lebih dari sekadar tempat bermain: pemeringkatan diharapkan menjadi salah satu jalur untuk mengenali pemain yang berpotensi berkembang ke tingkat lebih tinggi. PB Orado merancang mekanisme ini sebagai bagian dari pembinaan, dengan arah pengembangan menuju atlet profesional. Pemain yang aktif dapat memperoleh gambaran mengenai capaian mereka, sementara proses penjaringan calon atlet dapat menjangkau komunitas yang tumbuh di ruang digital. Penggunaan aplikasi tetap menjadi sarana pendukung dalam membangun jalur tersebut, bukan pengganti pembinaan dan kompetisi secara menyeluruh.
Penjelasan mengenai pengembangan dan fungsi Orado Game disampaikan oleh Ketua Bidang Humas PB Orado, Henry Kurnia Adhi, yang dikenal sebagai Jhon LBF. Ia menyampaikannya saat menghadiri pameran AGIEX 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Sabtu. Keterangan itu menempatkan aplikasi sebagai bagian dari strategi PB Orado untuk memperluas jangkauan pertandingan sekaligus membuka akses penjaringan pemain. Peluncuran melalui Play Store memungkinkan calon peserta mengenal platform tersebut, mengikuti pertandingan, dan tercatat dalam sistem pemeringkatan. Dari sana, organisasi memiliki sarana digital untuk mengamati perkembangan pemain dan menghubungkannya dengan upaya pengembangan atlet domino. Orado Game pun memperlihatkan bagaimana teknologi dapat mendukung proses pencarian bakat, dari partisipasi awal hingga peluang memasuki pembinaan yang lebih terarah.
Peserta yang mendaftar untuk mengikuti pertandingan domino melalui aplikasi PB Orado perlu menjalani verifikasi identitas atau know your customer (KYC). Tahap ini memastikan bahwa akun yang digunakan terhubung dengan identitas peserta yang benar, sekaligus membantu penyelenggara menjaga ketertiban dan keandalan proses pendaftaran. Verifikasi juga dapat mengurangi risiko penggunaan identitas yang tidak sesuai serta memudahkan pencatatan hasil pertandingan atas nama pemain yang tepat. Dengan demikian, data kompetisi tidak hanya berisi daftar akun, tetapi dapat menjadi rekam jejak peserta yang lebih dapat ditelusuri.
Informasi yang dihimpun saat pendaftaran dan verifikasi kemudian dapat disusun dalam basis data nasional. Di dalamnya, federasi dapat mencatat partisipasi pemain, hasil pertandingan, serta pola penampilan dari waktu ke waktu. Pengelolaan data tersebut memberi gambaran yang lebih terukur mengenai kemampuan dan konsistensi seorang pemain, bukan semata-mata berdasarkan satu kemenangan atau kesan sesaat. Jika dilakukan secara berkala, rekam jejak ini juga dapat membantu melihat perkembangan kemampuan pemain ketika mengikuti berbagai kompetisi.
Basis data tersebut dapat menjadi alat pendukung bagi PB Orado dalam memetakan potensi atlet di berbagai wilayah. Pengurus tingkat provinsi maupun kabupaten/kota dapat menggunakan informasi yang tersedia untuk mengenali pemain yang menunjukkan performa stabil, aktif berkompetisi, atau mengalami peningkatan hasil. Pemetaan ini berpotensi membantu proses penjaringan berlangsung lebih luas, termasuk terhadap pemain yang belum dikenal melalui jalur kompetisi tatap muka. Aplikasi, dengan demikian, dapat menghubungkan aktivitas pertandingan digital dengan kebutuhan pembinaan organisasi.
Meski demikian, data perlu dibaca dengan mempertimbangkan konteks, seperti jumlah pertandingan yang diikuti, tingkat persaingan, dan konsistensi hasil. Catatan digital sebaiknya menjadi bahan awal untuk pengamatan, bukan satu-satunya dasar penilaian. Pengurus dapat mengombinasikannya dengan evaluasi langsung, komunikasi dengan pemain, serta kesempatan mengikuti seleksi atau kompetisi lanjutan. Pendekatan ini memungkinkan pembinaan disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi masing-masing atlet.
Keberadaan sistem verifikasi dan basis data nasional diharapkan membuat proses pemantauan lebih tertata dan berkelanjutan. Dengan akses informasi yang relevan, pengurus PB Orado di setiap tingkat dapat menyusun langkah penjaringan, pembinaan, dan penyelenggaraan kompetisi secara lebih terarah. Pada akhirnya, pemanfaatan data dapat membuka jalur yang lebih jelas bagi pemain potensial untuk berkembang, sekaligus memperkuat hubungan platform aplikasi dan pembinaan atlet domino di daerah.
Aplikasi digital dapat menjadi sarana untuk mempermudah PB Orado menjaring calon atlet domino dari berbagai daerah. Melalui satu kanal yang mudah diakses, masyarakat berpeluang memperoleh informasi mengenai proses penjaringan, kegiatan, dan kompetisi tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pertemuan langsung. Pendekatan ini membantu organisasi menjangkau wilayah yang luas, termasuk daerah yang selama ini belum banyak terhubung dengan kegiatan olahraga domino. Dengan akses informasi yang lebih terbuka, minat warga dapat lebih mudah dikenali dan diarahkan menuju pembinaan yang terstruktur.
Selain memperluas jangkauan, pemanfaatan aplikasi juga berpotensi membuat penyelenggaraan penjaringan lebih praktis. Informasi peserta dan kegiatan dapat dihimpun secara lebih tertata, sementara komunikasi pengurus, calon atlet, dan komunitas daerah dapat berlangsung lebih mudah. Digitalisasi bukan pengganti seluruh proses tatap muka, terutama untuk kebutuhan latihan dan penilaian kemampuan di arena. Namun, teknologi dapat membantu mengawali proses tersebut: memperkenalkan jalur partisipasi, menghubungkan peminat dengan penyelenggara, serta mengurangi hambatan jarak dan akses informasi. Dengan demikian, kesempatan untuk menunjukkan kemampuan tidak hanya terpusat di wilayah tertentu.
Jhon juga menyebut kemungkinan mengembangkan kejuaraan nasional (kejurnas) secara daring pada masa mendatang. Gagasan tersebut merupakan peluang yang dapat dipertimbangkan, bukan agenda yang telah dipastikan akan terlaksana. Jika dikaji lebih lanjut, format daring tentu perlu memperhatikan aturan pertandingan, keadilan penilaian, dan kesiapan teknis peserta di berbagai daerah. Pembahasan seperti ini dapat menjadi bagian dari pengembangan ekosistem olahraga domino seiring bertambahnya jangkauan digital. Pada akhirnya, aplikasi dan kemungkinan kompetisi daring mendukung tujuan yang lebih luas: membuka akses agar masyarakat dari berbagai latar dan wilayah dapat menekuni domino sebagai olahraga prestasi. Langkah digitalisasi memberi pintu masuk yang lebih luas, sementara pembinaan dan kompetisi yang terarah dapat membantu mengembangkan potensi atlet secara berkelanjutan.
Menurut Jhon, pengembangan domino sebagai olahraga berangkat dari potensi permainan ini untuk melatih sejumlah kemampuan yang berguna, bukan semata-mata mengisi waktu luang. Pemain perlu menyusun strategi berdasarkan susunan kartu, membaca kemungkinan langkah lawan, serta menyesuaikan rencana ketika situasi permainan berubah. Proses tersebut menuntut analisis dan perhitungan matematis, termasuk mempertimbangkan peluang serta konsekuensi dari setiap keputusan. Karena itu, domino dapat menjadi ruang pembelajaran yang menggabungkan kecermatan, konsentrasi, dan kemampuan berpikir secara terstruktur. Unsur-unsur tersebut, menurutnya, layak diperkenalkan sebagai bagian dari kegiatan olahraga yang terarah dan memiliki aturan.
Jhon juga menyoroti dimensi sosial permainan. Dalam format yang mengandalkan pasangan atau tim, pemain harus berkomunikasi, memahami situasi bersama, dan membangun kerja sama tanpa selalu menyampaikan maksud secara langsung. Mereka belajar menghargai rekan, mengendalikan emosi, serta mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kepentingan tim. Nilai-nilai ini memperluas alasan domino dikembangkan sebagai olahraga masyarakat. Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk mengubah pandangan negatif yang selama ini melekat pada permainan domino. Dengan pembinaan, kompetisi, dan tata kelola yang jelas, masyarakat dapat melihatnya sebagai aktivitas yang mengasah keterampilan dan menjunjung sportivitas, bukan hanya permainan yang dinilai dari kebiasaan tertentu.
Pengakuan kelembagaan.






