Kota Bandung Bulog Jabar | Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Barat menilai persediaan beras di wilayah tersebut mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir 2026. Ketersediaan stok juga dinilai memadai dalam menghadapi masa persiapan pengadaan berikutnya, sebelum panen raya 2027 diperkirakan mulai berlangsung pada Februari. Kepastian itu disampaikan Pemimpin Wilayah Bulog Kanwil Jawa Barat, Nurman Susilo, di tengah perhatian masyarakat terhadap kondisi pasokan dan harga beras.
Bulog mencatat stok beras Jawa Barat mencapai 623,9 ribu ton hingga Oktober 2026. Jumlah tersebut menjadi salah satu dasar penilaian bahwa persediaan masih cukup untuk menjaga pemenuhan kebutuhan di berbagai daerah. Bulog terus memantau perkembangan stok serta penyaluran agar pasokan dapat tersedia sesuai kebutuhan. Persiapan pengadaan juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan ketersediaan beras, khususnya menjelang periode sebelum hasil panen raya mulai masuk.
Nurman mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan. Menurutnya, kondisi persediaan yang dinilai mencukupi tidak perlu disikapi dengan kepanikan atau pembelian dalam jumlah jauh di atas kebutuhan. Belanja berlebihan dapat menimbulkan tekanan pada ketersediaan di tingkat pasar, meskipun stok secara keseluruhan dipastikan aman. Masyarakat diharapkan berbelanja secara wajar dan memenuhi kebutuhan rumah tangga sebagaimana biasa.
Dengan perkiraan panen raya dimulai pada Februari 2027, Bulog akan menyiapkan langkah pengadaan untuk mendukung pasokan setelah masa panen tiba. Pemantauan terhadap ketersediaan dan kebutuhan tetap diperlukan agar distribusi beras berjalan lancar hingga panen memberikan tambahan pasokan. Pernyataan Bulog tersebut sekaligus menegaskan bahwa stok yang tercatat hingga Oktober menjadi bagian dari kesiapan menghadapi kebutuhan menjelang akhir tahun dan masa transisi menuju panen berikutnya. Masyarakat dapat mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan stok dan penyaluran, serta tidak menjadikan kekhawatiran sebagai alasan untuk menimbun beras.
Berdasarkan data Perum Bulog wilayah Jawa Barat per 22 Oktober 2026, persediaan beras yang dikuasai mencapai sekitar 623,9 ribu ton. Angka tersebut menggambarkan ketersediaan beras yang tersebar di sejumlah gudang cabang untuk mendukung penugasan pemerintah maupun kegiatan komersial. Komposisinya didominasi beras penugasan pemerintah atau public service obligation (PSO), yakni sekitar 623,8 ribu ton. Adapun beras komersial tercatat sekitar 107 ton.
Persediaan tersebut berada di gudang delapan kantor cabang dengan jumlah yang berbeda-beda. Cabang Bandung menyimpan sekitar 19 ribu ton, sementara Cianjur memiliki kurang lebih 24,8 ribu ton. Di wilayah Cirebon, stok tercatat sekitar 176,7 ribu ton, dan di Indramayu mencapai sekitar 192,7 ribu ton. Kedua cabang itu menampung porsi terbesar dibandingkan cabang lainnya.
Di cabang Karawang, jumlah beras yang tersimpan sekitar 99,7 ribu ton. Stok di Subang tercatat 59,1 ribu ton, sedangkan Ciamis menyimpan sekitar 43,7 ribu ton. Cabang Bogor memiliki persediaan sekitar 7,9 ribu ton. Rincian ini menunjukkan bahwa sebaran stok tidak merata, dengan konsentrasi utama berada di Indramayu dan Cirebon, serta persediaan dalam jumlah lebih kecil di Bandung, Cianjur, dan Bogor.
Perbedaan jumlah persediaan antarcabang mencerminkan pencatatan stok berdasarkan lokasi gudang dan kebutuhan operasional wilayah. Beras PSO merupakan bagian utama dari persediaan yang dikelola untuk menjalankan penugasan pemerintah, sementara porsi komersial tercatat jauh lebih terbatas. Data per tanggal tersebut memberikan gambaran posisi stok di tingkat provinsi, sekaligus memperlihatkan bagaimana cadangan beras ditempatkan di berbagai kawasan Jawa Barat. Angka per cabang disajikan dalam perkiraan sesuai data yang tersedia, sehingga total rincian dapat sedikit berbeda akibat pembulatan. Keberadaan stok di beberapa wilayah ini juga menjadi bagian dari pengelolaan persediaan Bulog, dengan pencatatan yang mencakup jenis beras dan lokasi penyimpanan. Dengan demikian, informasi komposisi dan persebaran tersebut dapat membantu pembaca memahami cakupan persediaan beras yang dikelola Bulog Jawa Barat pada periode pelaporan, tanpa menyamakan besarnya stok di setiap cabang.
Bulog Jawa Barat mencatat penyerapan gabah dan beras setara beras sebanyak 694.947 ton sepanjang 2026. Capaian tersebut mencapai 100,7 persen dari target yang telah ditetapkan. Angka ini menunjukkan bahwa realisasi penyerapan telah melampaui sasaran, sekaligus menjadi bagian penting dari upaya Bulog dalam menjaga ketersediaan beras di wilayah Jawa Barat.
Penyerapan gabah dan beras dilakukan dari hasil produksi petani. Dalam pencatatan tersebut, gabah yang diserap dihitung dalam bentuk setara beras sehingga keseluruhan realisasi dapat disajikan dalam satuan ton beras. Dengan capaian 694.947 ton, Bulog Jawa Barat telah memenuhi target penyerapan 2026 dan mencatat realisasi sedikit di atas sasaran tersebut.
Namun, tercapainya target tidak berarti Bulog menghentikan pembelian hasil panen dari petani lokal. Kegiatan penyerapan tetap berlangsung, sehingga petani masih dapat menyalurkan gabah maupun beras sesuai mekanisme yang berlaku. Capaian target menjadi catatan atas realisasi yang telah diraih, bukan penanda bahwa pembelian harus dihentikan sebelum tahun berjalan berakhir.
Keberlanjutan pembelian ini penting untuk menjaga hubungan penyerapan Bulog dan petani lokal. Melalui kegiatan tersebut, hasil panen dapat masuk ke dalam pengelolaan stok beras Bulog, sementara proses pengadaan tetap berjalan sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku. Informasi mengenai capaian ini juga perlu dibaca bersama dengan perkembangan stok, karena angka penyerapan menggambarkan jumlah gabah dan beras yang telah diperoleh, sedangkan stok menunjukkan persediaan yang tercatat pada periode tertentu.
Dengan demikian, realisasi serapan sebesar 694.947 ton pada 2026 menegaskan bahwa Bulog Jawa Barat telah mencapai 100,7 persen dari targetnya. Pada saat yang sama, pembelian dari petani lokal tidak otomatis berakhir setelah angka tersebut tercapai. Bulog tetap melanjutkan penyerapan, sehingga capaian target dan keberlanjutan pembelian merupakan dua hal yang dapat berjalan bersamaan.
Bulog Jawa Barat berkomitmen melanjutkan penyerapan gabah dan beras dari petani setempat hingga akhir Desember 2026. Komitmen tersebut tetap dijalankan meskipun target penyerapan yang telah ditetapkan sebelumnya sudah terlampaui. Dengan demikian, kegiatan pembelian hasil panen tidak berhenti ketika capaian target tercatat, tetapi terus berlangsung sampai batas waktu yang telah disebutkan. Langkah ini menempatkan petani Jawa Barat sebagai bagian penting dalam pelaksanaan penyerapan pangan oleh Bulog di wilayah tersebut.
Penyerapan gabah dan beras dari petani lokal bertujuan menjaga stabilitas harga di tingkat produsen. Pembelian yang berlanjut diharapkan dapat mendukung petani saat memasarkan hasil panen, sekaligus membantu menjaga harga agar tetap stabil di tingkat mereka. Tujuan yang disampaikan berfokus pada perlindungan kondisi harga produsen, sehingga hasil pertanian lokal dapat terus terserap melalui kegiatan Bulog. Komitmen penyerapan hingga akhir tahun ini juga menunjukkan bahwa pencapaian target tidak mengakhiri dukungan terhadap petani dalam periode tersebut.
Nurman menyatakan bahwa komitmen Bulog untuk mendukung petani Jawa Barat akan terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa dukungan kepada petani tidak hanya terkait dengan kegiatan penyerapan hingga Desember 2026, tetapi juga menjadi komitmen yang diteruskan pada masa mendatang. Fokus dukungan yang disampaikan mencakup keberlanjutan penyerapan gabah dan beras petani setempat serta upaya menjaga stabilitas harga di tingkat produsen. Hingga akhir Desember 2026, Bulog Jawa Barat tetap akan menyerap gabah dan beras dari petani setempat meskipun target penyerapan telah terlampaui, dan Nurman menyebut komitmen mendukung petani Jawa Barat akan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.
Baca juga: Panglima TNI Tinjau Bakti Sosial dan Open Tournament Off Road di Ciwidey Jawa Barat | Tarif Resmi Rp100 Ribu, Jasa Calo SIM di Tulungagung Disebut Rp800 Ribu






