Dari Jejak Karbon hingga Penghijauan Sekolah: Pelajar Diajak Merawat Lingkungan

Dari Jejak Karbon hingga Penghijauan Sekolah: Pelajar Diajak Merawat Lingkungan

Jakarta | Forum Alumni Siswa Pecinta Alam (Fasta) menyelenggarakan sarasehan lingkungan di wilayah Jakarta pada Sabtu. Kegiatan bertajuk “Sarasehan Lingkungan; Learning from the Wild, Moving for the Earth” ini diikuti sekitar 400 pelajar dari kurang lebih 30 sekolah. Kehadiran peserta dalam jumlah besar mempertemukan siswa dari beragam sekolah untuk membicarakan kepedulian terhadap alam. Forum ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga mengajak generasi muda melihat hubungan pilihan sehari-hari dan kondisi lingkungan. Melalui dialog dan pemaparan, peserta diperkenalkan pada gagasan bahwa tanggung jawab ekologis dapat diterapkan dalam kehidupan pribadi maupun kegiatan bersama.

Ketua Dewan Pengarah Fasta, Rudi Nurcahyo, menjelaskan konsep carbon offset atau tebus karbon sebagai upaya mengimbangi emisi yang dihasilkan seseorang. Langkah awalnya adalah memperhitungkan jejak karbon dari aktivitas sehari-hari, termasuk penggunaan transportasi dan bahan bakar. Berbagai pilihan perjalanan serta pemakaian energi dapat menghasilkan karbon, sehingga dampaknya perlu disadari sebelum seseorang menentukan cara untuk mengimbanginya. Dalam konsep yang disampaikan, penanaman pohon menjadi salah satu cara untuk menebus atau mengimbangi karbon tersebut. Dengan demikian, tebus karbon bukan sekadar istilah, melainkan pendekatan yang menghubungkan pemahaman tentang emisi dengan tindakan nyata bagi lingkungan.

Pengenalan konsep ini memberi pelajar kerangka sederhana untuk memahami bahwa aktivitas manusia memiliki konsekuensi terhadap lingkungan. Penghitungan jejak karbon mendorong mereka memperhatikan kebiasaan yang mungkin selama ini dianggap biasa, sementara penanaman pohon memperlihatkan bentuk kontribusi yang dapat dilakukan. Sarasehan tersebut juga mengajak peserta memandang kepedulian lingkungan sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya urusan organisasi atau kelompok tertentu. Tema kegiatan menekankan pembelajaran dari alam sekaligus dorongan untuk bertindak demi bumi. Menurut Fasta, penyelenggaraan sarasehan merupakan penerapan kode etik lingkungan organisasi. Melalui kegiatan ini, nilai tersebut dibawa ke ruang pendidikan dan diperkenalkan kepada ratusan pelajar agar dapat dipahami serta menjadi pertimbangan dalam tindakan mereka sehari-hari.

Kebakaran hutan dan lahan merupakan persoalan lingkungan yang perlu mendapat perhatian pelajar, termasuk siswa yang aktif dalam kelompok pecinta alam. Rudi menilai karhutla bukan hanya ancaman bagi ekosistem, tetapi juga tantangan yang dapat mendorong siswa untuk memahami penyebab, dampak, dan upaya pencegahannya. Kepedulian dapat dimulai dengan mengikuti informasi yang tepercaya, mengenali risiko pembakaran lahan, serta menyampaikan pengetahuan tersebut kepada teman dan keluarga. Dengan cara ini, pelajar turut memperluas kesadaran tanpa harus mengambil peran di luar kemampuan atau kewenangan mereka. Kegiatan edukasi di sekolah, diskusi, dan kampanye sederhana dapat menjadi langkah awal yang terukur.

Bagi siswa pecinta alam, isu karhutla dapat menjadi motivasi untuk terlibat dalam perawatan lingkungan secara bertanggung jawab. Keterlibatan itu dapat berupa kegiatan menanam dan merawat pohon, menjaga kebersihan area hijau, atau mendukung program pencegahan yang dijalankan bersama sekolah dan masyarakat. Fasta menekankan bahwa alam bukan semata-mata sumber yang bisa dieksploitasi demi kepentingan manusia. Alam perlu dilestarikan dan dijaga agar keseimbangannya tetap terpelihara bagi generasi sekarang maupun mendatang. Prinsip tersebut mengajak pelajar untuk mempertimbangkan dampak tindakan sehari-hari, menggunakan sumber daya dengan bijak, serta menghormati kawasan alam. Upaya yang konsisten, meskipun sederhana, dapat membentuk kebiasaan peduli lingkungan.

Selain mendorong aksi ekologis, kegiatan kelompok juga dapat memperkuat solidaritas di siswa pecinta alam. Rudi berpandangan bahwa rasa kebersamaan, tanggung jawab, dan kerja sama memberi pelajar ruang untuk membangun hubungan yang positif. Nilai-nilai itu berpotensi membantu mereka menjauh dari kebiasaan negatif, seperti tawuran dan perundungan, karena anggota belajar menghargai perbedaan serta menyelesaikan persoalan secara bersama. Namun, kegiatan pecinta alam tidak otomatis menghilangkan perilaku tersebut; dukungan sekolah, keluarga, dan lingkungan pergaulan tetap diperlukan. Karena itu, pembinaan yang terbuka dan berkelanjutan penting agar solidaritas berkembang menjadi sikap saling menjaga. Dengan menggabungkan kepedulian sosial dan lingkungan, pelajar dapat berkontribusi pada komunitas sekaligus memperkuat budaya sekolah yang aman dan bertanggung jawab.

Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Selatan, Sarwoko, menilai bahwa kegiatan yang melibatkan siswa secara langsung dapat menumbuhkan kepedulian mereka terhadap lingkungan. Pengalaman ikut menjaga kebersihan dan memahami dampak sampah membantu peserta didik melihat bahwa tindakan sederhana di sekolah memiliki manfaat nyata. Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun kebiasaan pengelolaan sampah sejak dini, bukan hanya menyampaikan pengetahuan melalui materi pelajaran. Sekolah dapat menjadi ruang belajar sekaligus tempat praktik memilah sampah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, serta menjaga lingkungan bersama. Keterlibatan siswa juga membuka kesempatan bagi guru dan warga sekolah untuk bekerja sama menetapkan langkah yang dapat dilakukan secara konsisten.

Arah ini selaras dengan program Jaga Olah Sampah Sekolah (JOSS), yang disebut sebagai salah satu program Gubernur DKI Jakarta untuk mendorong pengelolaan sampah di lingkungan pendidikan. Program tersebut telah dilaksanakan di berbagai sekolah di Jakarta, sehingga pesan tentang tanggung jawab terhadap sampah dapat diterapkan dalam kegiatan sehari-hari. Melalui JOSS, sekolah didorong membangun kebiasaan yang teratur, mulai dari mengurangi sampah, memilah sesuai jenisnya, hingga mengolah bahan yang masih bisa dimanfaatkan. Kegiatan seperti ini dapat membuat pengelolaan sampah terasa dekat dengan kehidupan siswa dan memberi kesempatan untuk berperan aktif, bukan sekadar menjadi penerima informasi.

Puncak kegiatan JOSS direncanakan berlangsung di Lapangan Banteng pada 19 Desember mendatang dan diharapkan dibuka langsung oleh Gubernur DKI Jakarta. Sarwoko juga mendorong agar gerakan sekolah tidak berhenti pada pengelolaan sampah, tetapi mencakup penanaman serta perawatan pohon. Pohon yang ditanam perlu dijaga secara berkelanjutan agar tumbuh baik dan memberi manfaat bagi lingkungan sekolah. Upaya tersebut dapat menghadirkan kawasan belajar yang lebih hijau dan rindang, sekaligus membantu menciptakan sirkulasi udara yang lebih baik. Dengan menggabungkan pemilahan dan pengolahan sampah dengan penghijauan, sekolah dapat membentuk lingkungan yang nyaman sekaligus memperkuat kepedulian siswa secara bersama-sama. Kebiasaan ini dapat terus dibawa ke rumah.

Sarwoko berharap kegiatan siswa pecinta alam tidak berhenti setelah satu kali pelaksanaan, tetapi dapat berlanjut dan menjangkau lebih banyak sekolah. Menurutnya, keterlibatan pelajar penting karena mereka dapat membawa kepedulian terhadap lingkungan ke dalam kehidupan sehari-hari, terutama di ruang yang paling dekat dengan mereka, yaitu sekolah. Program yang berkesinambungan juga memberi kesempatan bagi siswa untuk memperdalam pengetahuan, mencoba praktik sederhana, dan melihat dampak dari kebiasaan yang dilakukan secara bersama-sama. Dengan demikian, kegiatan lingkungan tidak hanya menjadi acara sesaat, melainkan bagian dari budaya sekolah yang terus tumbuh.

Para siswa diharapkan menjadi penggerak sekaligus penyampai edukasi kepada teman-temannya. Mereka dapat mengajak warga sekolah menjaga kebersihan kelas dan halaman, memilah serta mengolah sampah, dan merawat tanaman di lingkungan sekolah. Ajakan dari sesama pelajar berpotensi lebih mudah diterima karena disampaikan melalui pengalaman sehari-hari dan hubungan yang dekat. Kebiasaan tersebut perlu diterapkan secara konsisten, bukan hanya ketika ada kegiatan khusus atau peringatan tertentu. Dukungan guru dan pihak sekolah dapat membantu menyediakan ruang, sarana, serta contoh yang mendorong siswa untuk terus terlibat. Jika dilakukan bersama, langkah sederhana dapat membentuk lingkungan belajar yang lebih bersih, hijau, dan nyaman.

Harapan itu sejalan dengan pengalaman Angelica Refalina Sitorus, siswi kelas XI SMA Negeri 54 Jakarta, yang mengikuti kegiatan tersebut. Ia mengatakan memperoleh wawasan mengenai pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan.

Baca juga: Jaga Kelestarian Lingkungan, Kodim 1710/Mimika Tanam Mangrove Sambut HUT ke-81 TNI | Revit Sekolah Nganjuk Tak Boleh Gelap-Gelapan: Potongan dan Mutu Proyek Disorot | Merawat Silaturahmi, Kas Kohanudnas Silaturahmi Dengan Mantan Panglima TNI