Jakarta | Dalam pidato pada Sidang Tahunan MPR pada pertengahan Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pandangan bahwa desa merupakan salah satu sumber kekuatan ekonomi Indonesia. Pandangan ini menempatkan kehidupan ekonomi di kampung dan desa sebagai bagian penting dari gambaran ekonomi nasional, bukan sekadar kegiatan yang berada jauh dari pusat pertumbuhan. Potensi yang tumbuh di tingkat lokal, menurut kerangka tersebut, bertumpu pada orang-orang yang bekerja, berusaha, dan menjalankan kehidupan sehari-hari di komunitasnya. Dengan melihat desa sebagai basis kekuatan, kontribusi masyarakat setempat dapat dipahami sebagai bagian dari daya ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Pidato itu menggarisbawahi pentingnya mengenali beragam peran warga dalam menghidupkan kegiatan ekonomi di wilayah masing-masing.
Kelompok yang disebut sebagai penggerak ekonomi desa mencakup petani dan nelayan, yang bekerja dengan sumber daya dan kegiatan produksi setempat. Pedagang turut menghubungkan hasil usaha dengan kebutuhan masyarakat, sementara pengrajin menghasilkan barang melalui keterampilan yang berkembang di lingkungan mereka. Perempuan juga disebut sebagai bagian dari penggerak tersebut, bersama para kepala keluarga yang menopang kehidupan rumah tangga melalui kerja dan usaha. Penyebutan kelompok yang beragam ini menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi desa tidak bergantung pada satu jenis pekerjaan saja. Aktivitas produksi, perdagangan, keterampilan, dan upaya memenuhi kebutuhan keluarga hadir berdampingan dalam kehidupan kampung dan desa. Setiap peran memberi gambaran tentang kontribusi warga dalam mempertahankan dan mengembangkan kegiatan ekonomi lokal.
Perhatian juga diarahkan kepada anak muda yang membangun usaha di kampung atau desa mereka. Keputusan untuk merintis usaha di lingkungan sendiri memperlihatkan bahwa kegiatan ekonomi dapat tumbuh dari inisiatif warga setempat, termasuk generasi muda. Bersama petani, nelayan, pedagang, pengrajin, perempuan, dan kepala keluarga, mereka membentuk gambaran luas tentang masyarakat yang menjadi penggerak ekonomi desa. Dalam konteks pidato tersebut, desa dipandang memiliki kekuatan melalui kerja dan usaha nyata warganya. Penekanan ini menghubungkan potensi kampung dengan perekonomian Indonesia tanpa mengabaikan keragaman pekerjaan dan peran masyarakat. Gagasan utamanya adalah bahwa kontribusi ekonomi nasional juga bersumber dari aktivitas warga di desa, yang menjalankan usaha dan pekerjaan sesuai kehidupan serta potensi lingkungan mereka.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono berharap berbagai pihak terus memacu program yang bertujuan menemukan potensi ekonomi daerah secara objektif. Harapan tersebut menempatkan proses pengenalan potensi sebagai langkah penting dalam melihat peluang yang dimiliki setiap wilayah, termasuk desa. Dengan pendekatan yang objektif, upaya pemetaan diharapkan bertumpu pada kondisi dan sumber daya yang benar-benar ada, bukan semata-mata pada perkiraan atau anggapan. Karena karakter setiap daerah dapat berbeda, pengenalan yang cermat menjadi dasar untuk memahami peluang ekonomi secara lebih tepat.
Ajakan untuk terus mendorong program tersebut juga berkaitan dengan tujuan agar semakin banyak potensi ekonomi desa dapat dikenali. Potensi yang dimaksud tidak perlu diasumsikan seragam satu desa dan desa lainnya. Setiap wilayah memiliki keadaan dan sumber daya yang dapat menjadi bahan untuk mengidentifikasi peluang ekonomi setempat. Oleh sebab itu, proses pengenalan perlu memberi ruang bagi pemahaman atas kondisi masing-masing daerah. Penekanan pada objektivitas menjaga perhatian tetap pada tujuan awal, yakni menemukan potensi yang tersedia dan membuka kemungkinan untuk mengenalinya dengan lebih baik.
Harapan AHY pada akhirnya mengarah pada tumbuhnya perekonomian desa-desa di Indonesia. Pertumbuhan tersebut disebut sebagai tujuan yang ingin didorong melalui upaya menemukan dan mengenali potensi ekonomi daerah, bukan sebagai hasil yang telah dipastikan atau telah dicapai oleh program. Karena itu, dorongan kepada berbagai pihak untuk terus memacu kegiatan pemetaan dan pengenalan potensi tetap relevan. Semakin banyak potensi desa yang dapat dikenali secara objektif, semakin terbuka kesempatan untuk memahami peluang ekonomi lokal. Harapan ini menegaskan pentingnya perhatian berkelanjutan terhadap potensi desa, dengan tetap membedakan tujuan program dan dampak yang baru dapat dinilai berdasarkan perkembangan nyata di kemudian hari.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengunjungi Prafi, Manokwari, Papua Barat, untuk meninjau hasil pelatihan pengolahan hasil kebun menjadi camilan sehat bagi warga setempat. Kegiatan tersebut dijalankan oleh Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana pengetahuan dan keterampilan yang diberikan selama pelatihan diterapkan dalam pengembangan produk olahan berbahan hasil kebun.
Pelatihan tersebut memperkenalkan cara mengolah bahan yang tersedia di lingkungan warga menjadi camilan dengan nilai tambah. Selain memperhatikan pemanfaatan hasil kebun, kegiatan ini juga mendorong peserta untuk memahami proses pengolahan secara lebih terarah. Produk yang dihasilkan berpotensi menjadi pilihan pangan yang menarik sekaligus membuka ruang bagi pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat. Namun, potensi itu memerlukan proses lanjutan, termasuk peningkatan mutu, konsistensi produksi, dan pengenalan produk kepada calon konsumen.
Iftitah berpandangan bahwa riset yang dilakukan perguruan tinggi perlu menghasilkan produk turunan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Menurutnya, penelitian tidak seharusnya berhenti pada kajian akademik, melainkan perlu diarahkan agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat melalui penerapan yang sesuai kebutuhan. Pengolahan hasil kebun menjadi camilan sehat merupakan salah satu contoh bagaimana pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi produk yang berpotensi mendukung penghidupan warga. Meski demikian, pengembangan tersebut tetap membutuhkan kajian dan penelitian berkelanjutan, sehingga kualitas produk dan peluang pemanfaatannya dapat dipahami dengan lebih baik. Pelatihan di Prafi memperlihatkan hubungan pendampingan, riset kampus, dan pemanfaatan potensi lokal. Peninjauan oleh Menteri memberi perhatian pada hasil kegiatan yang berlangsung di wilayah tersebut, sekaligus menekankan pentingnya kesinambungan proses penelitian dan manfaat ekonomi. Dengan dukungan kajian yang terus berjalan, keterampilan pengolahan dapat dikembangkan secara bertahap, tanpa mengabaikan kondisi serta kebutuhan warga Prafi.
Di Distrik Prafi, kader posyandu selama ini menjalankan peran penting dalam mendukung kesehatan masyarakat, tetapi pekerjaan tersebut umumnya dilakukan secara sukarela dan tidak disertai gaji tetap. Dalam kegiatan membantu program Makan Bergizi Gratis, kader dapat menerima honor sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000. Nilai itu berkaitan dengan kegiatan tertentu, bukan penghasilan rutin yang menjamin kebutuhan ekonomi mereka. Kondisi tersebut menjadi salah satu latar perhatian terhadap kesejahteraan kader yang setiap hari turut melayani warga.
Ketua Tim 3 Ekspedisi Patriot Unair, dr. Muthmainnah, menyampaikan bahwa program pelatihan berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi ekonomi banyak kader. Pelatihan diarahkan untuk membuka peluang usaha tambahan, sekaligus memperkuat kemampuan peserta mengolah potensi yang tersedia di lingkungan mereka. Bagi Lailatul Khoriyah, perubahan itu terasa nyata. Sebelum mengikuti pelatihan, ia dan sejumlah peserta lain belum memiliki usaha. Setelahnya, mereka mulai mempunyai usaha dan memperoleh pemasukan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keterampilan baru dapat menjadi langkah awal untuk menambah pilihan sumber penghasilan, terutama bagi warga yang selama ini belum menjalankan kegiatan ekonomi mandiri.
Di sekitar kampung, bahan pangan lokal dari pekarangan, kebun, atau sawah sebenarnya tersedia. Namun, hasil tersebut biasanya dijual mentah ke pasar, sehingga nilai tambah dari proses pengolahan belum banyak dinikmati oleh warga yang menanam atau mengumpulkannya. Pelatihan membantu peserta melihat bahan lokal bukan hanya sebagai hasil panen untuk dijual langsung, tetapi juga sebagai bahan yang dapat diolah menjadi produk bernilai jual. Dengan pengetahuan dan praktik yang diperoleh, kader dapat mencoba mengembangkan usaha sesuai ketersediaan bahan serta kemampuan mereka.
Baca juga: Kodim 1714/Puncak Jaya Gandeng Masyarakat Binaan Membangun Jembatan Merah Putih di Kampung Kulok Enggame | Babinsa 1714-01/Mulia Ulia Pererat Kemanunggalan TNI–Rakyat Melalui Anjangsana dan Bantuan Sembako di Kampung Kulon Enggame, Distrik Pagaleme | Sinergi Bersama Hadapi Potensi Bencana, Personel Kodim Bojonegoro Segarkan Kemampuan Jinakkan Api






