Dari Rumah ke Kampus, Upaya Menghidupkan Bahasa Sasak

Dari Rumah ke Kampus, Upaya Menghidupkan Bahasa Sasak

Mataram | Dalam Kongres Internasional I Bahasa Sasak di Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada Rabu, Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri menyampaikan pesan penting tentang tanggung jawab bersama dalam menjaga keberlangsungan bahasa Sasak. Menurut dia, upaya pelestarian tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan atau kegiatan kelembagaan. Bahasa perlu tetap hidup dalam komunikasi sehari-hari, terutama di rumah, tempat pertama anak mengenal kata, makna, dan cara menyampaikan pikiran. Karena itu, keluarga mempunyai peran mendasar untuk memastikan bahasa daerah tersebut hadir secara wajar di lingkungan kehidupan generasi muda. Pesan tersebut menempatkan keluarga bukan sekadar pewaris tradisi, melainkan juga ruang tempat identitas budaya dibentuk dan dipahami sejak dini.

Indah menekankan bahwa membiasakan penggunaan bahasa Sasak di rumah merupakan langkah nyata yang dapat dilakukan keluarga. Ketika orang tua dan anggota keluarga menggunakannya dalam percakapan sehari-hari, anak memiliki kesempatan untuk mendengar, memahami, lalu menggunakan bahasa itu dalam kehidupan mereka. Kebiasaan tersebut membantu bahasa Sasak tidak hanya dikenal sebagai warisan masa lalu, tetapi juga menjadi sarana komunikasi yang relevan bagi generasi sekarang. Pewarisan bahasa berlangsung melalui praktik yang berulang dan dekat dengan keseharian, bukan semata-mata melalui pengetahuan tentang kosakata atau aturan. Dengan demikian, lingkungan keluarga dapat menjadi titik awal bagi anak untuk merasa akrab dengan bahasa Sasak serta memahami nilainya sebagai bagian dari kehidupan dan jati diri mereka.

Pesan itu juga mengaitkan pelestarian bahasa Sasak dengan tanggung jawab yang lebih luas. Menjaga bahasa daerah berarti turut merawat kekayaan budaya dunia, sebab setiap bahasa menyimpan cara pandang, pengetahuan, dan pengalaman yang khas. Jika bahasa tidak lagi digunakan dan diwariskan, sebagian dari kekayaan tersebut berisiko semakin jauh dari generasi berikutnya. Karena itu, langkah sederhana di rumah memiliki arti yang melampaui lingkungan keluarga: kebiasaan berbahasa dapat mendukung keberlanjutan warisan budaya. Pandangan Wakil Gubernur tersebut mengajak keluarga untuk mengambil bagian melalui penggunaan bahasa Sasak secara konsisten dan pewarisan kepada anak-anak. Dengan keterlibatan keluarga, bahasa ini berpeluang tetap hidup, berkembang, dan dikenal oleh generasi muda sebagai bagian penting dari kekayaan budaya bersama.

Pembelajaran bahasa Sasak melalui muatan lokal telah diterapkan di berbagai jenjang pendidikan. Kehadiran pelajaran ini memberi ruang bagi siswa untuk mengenal bahasa daerah secara terarah, mulai dari kosakata hingga penggunaannya dalam komunikasi. Sekolah dapat memperkenalkan bahasa Sasak sebagai bagian dari pengetahuan dan pengalaman belajar, sekaligus membantu anak memahami hubungan bahasa dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Dengan demikian, bahasa Sasak tidak hanya dipandang sebagai materi pelajaran, tetapi juga sebagai sarana untuk mengenali identitas dan budaya setempat.

Namun, menurut Indah, pembelajaran di sekolah perlu diperkuat dengan kebiasaan berbicara bahasa Sasak di lingkungan keluarga. Anak yang mempelajari bahasa tersebut di kelas akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk menggunakannya apabila bahasa Sasak juga hadir dalam percakapan sehari-hari di rumah. Orang tua dan anggota keluarga dapat berkomunikasi dengan anak menggunakan bahasa Sasak dalam situasi yang wajar, misalnya ketika berbincang atau menyampaikan cerita. Kebiasaan ini memberi pengalaman langsung, sehingga bahasa yang dipelajari tidak berhenti sebagai pengetahuan tertulis atau bahan untuk menjawab tugas.

Hubungan sekolah dan rumah menjadi penting karena keduanya merupakan jalur yang disebut untuk meneruskan bahasa Sasak kepada generasi berikutnya. Di sekolah, siswa memperoleh pengenalan dan pembelajaran yang terstruktur melalui muatan lokal; di rumah, mereka berlatih memakai bahasa itu dalam interaksi antargenerasi. Kedua ruang tersebut saling melengkapi, bukan menggantikan satu sama lain. Penguatan penggunaan bahasa Sasak tidak harus dimaknai sebagai pengadaan kebijakan atau program baru, melainkan sebagai perhatian terhadap pembelajaran yang sudah berlangsung dan praktik berbahasa dalam keluarga. Ketika bahasa daerah dipelajari sekaligus digunakan, anak memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami dan membawanya ke dalam kehidupan sehari-hari. Seruan Indah mengingatkan bahwa keberlanjutan bahasa tidak hanya bergantung pada apa yang diajarkan di kelas, tetapi juga pada bahasa yang didengar dan dipakai anak di rumah. Konsistensi sederhana di kedua lingkungan itu dapat membantu menjaga hubungan generasi muda dengan bahasa Sasak.

Bagi Indah, upaya melestarikan bahasa Sasak tidak dapat dipisahkan dari usaha menjaga identitas dan kekayaan budaya masyarakat. Bahasa menyimpan cara suatu komunitas memahami dunia, membangun hubungan, dan mengenali asal-usulnya. Ketika bahasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan diwariskan kepada generasi muda, masyarakat turut mempertahankan ikatan dengan sejarah serta pengalaman bersama. Sebaliknya, jika penggunaannya semakin terbatas, sebagian pengetahuan dan makna yang melekat pada bahasa berisiko tidak lagi dipahami. Karena itu, pelestarian bahasa bukan semata-mata soal mempertahankan kosakata, melainkan juga merawat jati diri masyarakat Sasak.

Bahasa, menurut pandangan tersebut, memiliki fungsi yang lebih luas daripada alat untuk berkomunikasi. Melalui bahasa, nilai-nilai kehidupan, adat istiadat, cerita, serta pengetahuan lokal dapat diteruskan dari orang tua kepada anak, kemudian dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ungkapan dan istilah dalam bahasa setempat kerap memuat pemahaman tentang hubungan sosial, lingkungan, dan kebiasaan masyarakat. Penggunaan bahasa Sasak dalam keluarga maupun ruang pendidikan dapat membuka kesempatan bagi anak muda untuk mengenal warisan itu secara langsung. Dengan demikian, bahasa menjadi sarana pembelajaran budaya sekaligus jembatan yang menghubungkan pengalaman masa lalu dengan kehidupan masa kini.

Indah juga menekankan bahwa penghargaan terhadap budaya merupakan salah satu ciri bangsa yang besar. Sikap tersebut tidak berarti menolak perubahan, tetapi menunjukkan kesediaan untuk menghormati warisan yang membentuk keberagaman Indonesia. Penguatan bahasa dan budaya, karena itu, perlu berjalan beriringan dengan kemajuan masyarakat. Keduanya dapat tumbuh berdampingan ketika pembangunan memberi ruang bagi identitas lokal, sementara masyarakat memperoleh akses terhadap pendidikan, teknologi, dan kesempatan yang lebih luas. Masyarakat Sasak sendiri telah melahirkan tokoh-tokoh yang berkontribusi pada pembangunan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Pengakuan atas kontribusi tersebut memperlihatkan bahwa identitas budaya dapat menjadi bagian dari kemajuan, bukan penghalangnya. Menjaga bahasa Sasak berarti merawat sumber pengetahuan dan kebanggaan bersama, sekaligus memastikan generasi berikutnya memiliki bekal untuk memahami akar budaya mereka dan berperan dalam masyarakat yang terus berkembang.

Dalam pandangan Majelis Adat Sasak, pelestarian bahasa Sasak tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial atau kampanye sesaat. Ketua Majelis Adat Sasak, Lalu Sajim Sastrawan, menekankan perlunya perubahan mendasar dalam tata kehidupan masyarakat agar bahasa daerah itu kembali hadir secara alami dalam keseharian. Bahasa perlu digunakan di rumah, lingkungan sosial, serta ruang pendidikan, bukan hanya muncul ketika ada acara adat. Kebiasaan berbahasa dibentuk oleh pilihan sehari-hari: orang tua berbicara kepada anak, warga berinteraksi dengan tetangga, dan generasi muda merasa nyaman menggunakannya. Jika ruang pemakaian makin sempit, upaya pelestarian akan sulit bertahan dan bahasa berisiko terpisah dari kehidupan nyata penuturnya.

Salah satu hal yang dikhawatirkan Lalu Sajim ialah berkurangnya penggunaan bahasa Sasak dalam percakapan sehari-hari. Ketika masyarakat semakin jarang memakainya, kosakata yang hidup dalam berbagai konteks dan diwariskan lintas generasi dapat ikut menghilang. Kehilangan itu bukan sekadar berkurangnya sejumlah kata, melainkan juga menyusutnya cara masyarakat menamai pengalaman, lingkungan, hubungan sosial, dan pengetahuan lokal. Padahal, bahasa Sasak masih dituturkan oleh sekitar 2,2 juta jiwa, sebagaimana tercantum dalam bahan yang menjadi rujukan.