Jakarta | Prospek ekonomi dunia tahun ini dibayangi tekanan eksternal yang bersumber dari perkembangan geopolitik dan pasar energi. Ketegangan di Timur Tengah serta perang yang berlangsung berkepanjangan menambah ketidakpastian terhadap kondisi global. Situasi tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi aktivitas ekonomi dan perkembangan harga di berbagai negara. Dalam paparan mengenai daya tahan ekonomi Indonesia, Menteri Keuangan menyoroti tekanan global ini sebagai latar yang perlu dicermati, tanpa mengabaikan risiko yang dihadapi perekonomian dunia secara lebih luas.
Salah satu saluran yang menjadi perhatian adalah harga minyak mentah yang tinggi. Energi merupakan bagian penting dalam kegiatan ekonomi, sehingga perubahan harga minyak dapat berhubungan dengan tekanan biaya dan pergerakan harga secara umum. Ketika konflik dan ketegangan geopolitik terus berlangsung, ketidakpastian mengenai pasokan maupun arah harga energi dapat meningkat. Namun, besarnya pengaruh perkembangan tersebut bergantung pada kondisi dan respons masing-masing negara, sehingga tidak tepat untuk menarik kesimpulan khusus mengenai dampaknya terhadap Indonesia di luar keterangan yang tersedia.
Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan tekanan tersebut berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun ini. Pada saat yang sama, tekanan juga dapat mendorong inflasi lebih tinggi. Kombinasi pertumbuhan yang lebih lambat dan kenaikan harga dapat membuat lingkungan ekonomi global semakin menantang. Perkiraan lembaga-lembaga tersebut menggambarkan risiko yang bersifat luas, terutama ketika ketidakpastian geopolitik, perang yang berlarut-larut, dan harga minyak mentah yang tinggi terjadi bersamaan.
Inflasi yang meningkat juga berisiko menekan daya beli masyarakat. Jika harga barang dan jasa naik lebih cepat daripada kemampuan pendapatan untuk mengimbanginya, masyarakat dapat menghadapi ruang belanja yang semakin terbatas. Risiko ini menjadi perhatian karena daya beli berkaitan erat dengan kesejahteraan rumah tangga dan permintaan dalam perekonomian. Meski demikian, uraian mengenai risiko global tersebut tidak dengan sendirinya memastikan hasil yang sama di setiap negara. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada dinamika konflik, harga energi, dan kondisi ekonomi dunia. Karena itu, proyeksi Bank Dunia dan IMF perlu dipahami sebagai gambaran risiko, bukan kepastian bahwa seluruh tekanan tersebut akan terjadi dengan besaran yang seragam.Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan optimisme bahwa Indonesia memiliki modal untuk menghadapi tekanan global. Keyakinan tersebut bertumpu pada kondisi ekonomi makro yang, menurut penilaiannya, masih baik berdasarkan sejumlah indikator. Dalam pandangannya, fondasi domestik itu menjadi faktor penting ketika perekonomian dunia menghadapi ketidakpastian dan berbagai tantangan yang dapat memengaruhi kegiatan ekonomi nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Suahasil dalam rapat pimpinan nasional Kadin yang berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Jumat, 30 Oktober 2026. Di hadapan para peserta, ia menempatkan keadaan makroekonomi sebagai salah satu kekuatan Indonesia untuk merespons perkembangan eksternal. Pesan utamanya bukan bahwa tekanan global dapat diabaikan, melainkan bahwa Indonesia memiliki pijakan yang dapat mendukung upaya menghadapi dampaknya.
Penilaian mengenai indikator ekonomi makro memberi konteks bagi sikap optimistis pemerintah. Indikator-indikator tersebut menjadi bahan untuk melihat ketahanan ekonomi secara lebih menyeluruh, meskipun kondisi global tetap perlu dicermati. Dengan demikian, modal yang dimaksud Suahasil berkaitan dengan keadaan ekonomi yang dinilainya baik, bukan jaminan bahwa seluruh risiko telah hilang atau bahwa dampak tekanan internasional tidak akan dirasakan di dalam negeri.
Bagi dunia usaha, pandangan itu menegaskan pentingnya memperhatikan kondisi domestik di tengah perubahan eksternal. Fundamental makro yang dinilai terjaga dapat menjadi landasan bagi pemerintah dan pelaku ekonomi dalam menyusun respons, menjaga aktivitas usaha, serta mempertimbangkan keputusan ke depan. Namun, pembacaan terhadap kekuatan tersebut tetap perlu disertai pemantauan atas perkembangan global dan indikator ekonomi secara berkala.
Optimisme Suahasil pada forum Kadin itu, pada akhirnya, menyoroti keyakinan bahwa Indonesia tidak menghadapi tekanan global tanpa bekal. Kondisi makro yang dinilainya baik merupakan modal yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat daya tahan ekonomi. Bagi pemerintah maupun sektor usaha, tantangannya adalah menjaga pijakan tersebut tetap kuat sambil menyesuaikan langkah terhadap perubahan situasi internasional.
Sejumlah indikator domestik yang disampaikan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menggambarkan aktivitas ekonomi Indonesia tetap berjalan di tengah tekanan global. Pada semester pertama, perekonomian tumbuh 5,45 persen secara tahunan. Capaian tersebut ditopang oleh permintaan domestik, investasi, serta kebijakan pemerintah. Kombinasi ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi di dalam negeri masih menjadi sumber penting bagi pertumbuhan, ketika kondisi eksternal menghadapi ketidakpastian.
Permintaan domestik berperan melalui aktivitas konsumsi dan kebutuhan masyarakat, sementara investasi mendukung kegiatan produksi dan pengembangan usaha. Kebijakan pemerintah juga disebut sebagai salah satu penopang. Suahasil mengaitkan ketiga unsur tersebut dengan pertumbuhan yang tercatat pada paruh pertama tahun ini. Angka pertumbuhan tahunan memberikan gambaran tentang perkembangan ekonomi dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya, tetapi indikator lain diperlukan untuk melihat kondisi harga dan aktivitas industri secara lebih luas.
Dari sisi harga, inflasi hingga September tercatat 3,28 persen secara tahunan. Angka itu masih berada dalam sasaran pemerintah, yaitu 1,5–3,5 persen. Posisi di dalam rentang sasaran menunjukkan bahwa laju kenaikan harga yang dilaporkan belum melampaui batas atas yang ditetapkan. Indikator inflasi tersebut menjadi bagian dari gambaran domestik yang disoroti Suahasil, berdampingan dengan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan sektor manufaktur.
Indeks PMI manufaktur pada September 2026 berada di level 52,4. Karena berada di atas ambang 50, angka itu menandakan sektor pengolahan berada dalam fase ekspansi, bukan kontraksi menurut pembacaan indeks tersebut. Suahasil juga menyebut pembelian input dan optimisme pelaku usaha sebagai cerminan harapan akan tambahan permintaan. Pembelian input menggambarkan kesiapan pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi, sedangkan optimisme menunjukkan pandangan mereka terhadap prospek permintaan. Keduanya dibaca sebatas sinyal harapan tersebut, tanpa menjadi kepastian bahwa permintaan akan meningkat. Secara bersama-sama, indikator pertumbuhan, inflasi, dan PMI memberi konteks mengenai aktivitas ekonomi domestik sebagaimana dijelaskan Suahasil. Masing-masing mengukur aspek yang berbeda: pertumbuhan mencatat perubahan output, inflasi menunjukkan perubahan harga, dan PMI mengindikasikan arah kegiatan manufaktur. Angka-angka ini menjadi modal domestik yang disoroti dalam pembahasan ketahanan ekonomi Indonesia menghadapi tekanan global.
Selain indikator pertumbuhan dan aktivitas ekonomi lainnya, neraca perdagangan menjadi salah satu data yang disoroti dalam gambaran daya tahan ekonomi Indonesia. Sepanjang Januari–Agustus 2026, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar US$7,25 miliar. Angka tersebut menggambarkan selisih nilai perdagangan barang selama periode delapan bulan itu, ketika nilai ekspor melampaui nilai impor. Penyebutan periode penting untuk membaca capaian secara tepat: surplus tersebut merupakan akumulasi Januari hingga Agustus, bukan angka bulanan ataupun hasil untuk keseluruhan tahun 2026. Indikator perdagangan ini disampaikan berdampingan dengan data lain mengenai pembiayaan dan arus modal.
Pada sisi pembiayaan, kredit tercatat tumbuh 13,26 persen pada September 2026. Pertumbuhan tersebut ditopang kuatnya kredit investasi, sebagaimana dipaparkan dalam rangkaian indikator ekonomi. Data ini merujuk pada perkembangan kredit pada bulan September, sehingga berbeda cakupan waktu dari surplus perdagangan yang dihitung untuk Januari–Agustus. Dengan demikian, kedua angka itu menggambarkan aspek dan periode yang berbeda: neraca perdagangan menunjukkan capaian perdagangan barang selama delapan bulan, sedangkan pertumbuhan kredit menunjukkan perubahan penyaluran kredit pada September. Keterangan mengenai dukungan kredit investasi juga menjadi bagian dari penjelasan atas pertumbuhan kredit tersebut, tanpa mengubah angka maupun periode acuannya.
Indikator.
Baca juga: Pesan Ketua Dewan Ekonomi Nasional : Berikan Keteladanan dan Loyalitas






