Di Tengah Asap Palembang, Bayi Aisya Berjuang Menghirup Udara

Di Tengah Asap Palembang, Bayi Aisya Berjuang Menghirup Udara

Palembang | Selama tiga bulan, asap pekat menyelimuti Palembang, Sumatra Selatan, dan terus menjadi bagian dari keseharian warga. Lapisan asap yang bertahan lama itu membuat udara terasa sulit dihirup bagi sebagian orang. Keluhan tentang kesulitan bernapas muncul di tengah keadaan tersebut, menggambarkan betapa beratnya menghadapi udara yang dipenuhi asap dalam waktu berkepanjangan. Bukan hanya sesaat, kondisi ini telah berlangsung selama berbulan-bulan, sehingga warga harus menjalani hari-hari dengan gangguan yang sama. Keluhan mereka menunjukkan bahwa asap bukan sekadar pemandangan yang menutupi kota, melainkan keadaan yang langsung dirasakan ketika mencoba bernapas. Di Palembang, udara yang seharusnya dapat dihirup tanpa kesulitan justru menjadi sumber keresahan bagi warga.

Kesulitan bernapas menjadi keluhan yang mudah disampaikan oleh orang dewasa, tetapi pengalaman menghadapi asap tidak hanya dialami mereka yang mampu mengungkapkan apa yang dirasakan. Balita juga berada di tengah kondisi udara tersebut, meskipun mereka belum dapat menjelaskan keluhan dengan kata-kata. Ketika asap pekat bertahan selama tiga bulan, perhatian terhadap kelompok usia ini menjadi penting. Mereka mungkin belum dapat menyebutkan bahwa napas terasa berat atau menyampaikan apa yang membuat mereka tidak nyaman. Karena itu, kondisi yang dirasakan balita dapat luput dari percakapan, meskipun mereka turut berada dalam lingkungan yang sama. Keadaan tersebut membuat asap di Palembang menjadi persoalan yang menyentuh warga dari berbagai usia, termasuk anak-anak yang belum bisa menyuarakan pengalaman mereka sendiri.

Bagi orang tua, melihat balita berada di tengah udara berasap tentu menghadirkan kekhawatiran tersendiri. Keluhan warga tentang sulit bernapas memberi gambaran mengenai beban yang dirasakan selama asap menyelimuti kota, sementara balita belum memiliki kemampuan untuk menyampaikan hal serupa secara langsung. Perbedaan itu tidak berarti dampaknya hanya dirasakan oleh orang dewasa; justru keterbatasan anak dalam mengungkapkan rasa tidak nyaman membuat perhatian terhadap mereka semakin diperlukan. Selama kondisi asap pekat masih menjadi kenyataan di Palembang, pengalaman warga dan anak-anak di dalamnya perlu dipahami sebagai bagian dari situasi yang sama. Kisah bayi Aisya memperlihatkan sisi yang lebih rentan dari keadaan tersebut: perjuangan menghirup udara di tengah asap, tanpa kemampuan untuk menjelaskan sendiri apa yang sedang dirasakan.

Aisya baru berusia empat bulan, tetapi sudah lebih dari dua minggu ia mengalami sesak napas, batuk, pilek, dan demam. Keluhan yang belum juga pulih membuat Ananda, ibunya, kembali membawanya untuk berobat. Kali ini merupakan kunjungan ketiga mereka ke puskesmas di Jalan Merdeka, Kecamatan Ilir Barat Dua, Palembang. Di tengah hari-hari yang diisi upaya mencari pertolongan, Ananda tetap mendampingi putrinya dari satu pemeriksaan ke pemeriksaan berikutnya.

Dalam gendongan ibunya, tubuh kecil Aisya tampak lelah. Napasnya terengah-engah, dan sesekali batuk terdengar di sela-sela waktu ia berada dalam pelukan Ananda. Ia belum tampak pulih dari keluhan yang berlangsung selama berminggu-minggu itu. Ananda menggendongnya dengan hati-hati saat membawa Aisya datang kembali ke puskesmas. Pemandangan sederhana tersebut memperlihatkan seorang ibu yang berusaha tetap dekat dengan bayinya, sementara kondisi Aisya masih membuatnya harus mencari pertolongan.

Kunjungan ketiga itu menjadi bagian dari ikhtiar Ananda menghadapi keluhan yang belum reda. Aisya masih bayi, belum genap setengah tahun, dan sepanjang perjalanan ke puskesmas ia berada dalam gendongan ibunya. Sesekali batuknya muncul, sementara napasnya tetap terlihat terengah-engah. Di tempat pelayanan kesehatan di Jalan Merdeka itu, Ananda kembali mendampingi putrinya untuk berobat. Tidak ada banyak yang dapat dilakukan Aisya selain bersandar pada ibunya; tubuhnya tampak lelah setelah lebih dari dua minggu mengalami sesak napas, batuk, pilek, dan demam. Bagi Ananda, membawa Aisya kembali ke puskesmas merupakan langkah yang ia tempuh ketika putrinya belum pulih. Hari itu, keduanya datang lagi dengan harapan memperoleh pertolongan atas keluhan yang masih berlangsung. Aisya tetap berada dalam pelukan ibunya, sementara Ananda berusaha memastikan bayinya mendapatkan perhatian. Napas yang terengah-engah dan batuk yang sesekali terdengar menjadi tanda bahwa keadaan Aisya belum kembali seperti sediakala. Pada usia empat bulan, ia masih sepenuhnya bergantung pada ibunya untuk dibawa berobat dan ditemani. Kunjungan ketiga mereka berlangsung di tengah perjuangan sehari-hari untuk menghadapi kondisi yang belum membaik.

Menurut cerita Ananda, malam hari menjadi waktu yang berat bagi Aisya. Batuk yang terus mengganggu membuat bayi itu terjaga semalaman, sehingga ia sulit beristirahat dengan tenang. Bagi ibunya, menyaksikan anak kecil batuk berulang kali tentu menimbulkan kecemasan, terlebih ketika udara di sekitar rumah sedang dipenuhi asap. Malam yang seharusnya memberi kesempatan bagi Aisya untuk tidur justru berlalu dengan kekhawatiran dan upaya menjaga kenyamanannya.

Ananda berusaha melindungi putrinya dengan menutup rapat pintu dan jendela rumah. Ia melakukan itu agar Aisya tidak terpapar asap secara langsung, terutama saat kualitas udara di luar terasa mengganggu. Pintu dan jendela yang tertutup menjadi langkah yang dapat ia lakukan di rumah, sembari berharap udara di dalam tetap lebih aman bagi anaknya. Namun, upaya tersebut tidak sepenuhnya membuat asap tertahan di luar.

Ananda menuturkan bahwa asap tetap masuk melalui celah-celah kecil. Meski pintu dan jendela sudah ditutup, udara dari luar masih merembes ke dalam rumah. Kondisi ini membuat perlindungan yang diupayakan terasa terbatas: asap tidak selalu tampak datang dalam jumlah besar, tetapi keberadaannya tetap membuat Ananda khawatir. Ia melihat batuk Aisya dan keadaan udara di sekitar rumah sebagai hal yang berkaitan, terutama karena keluhan itu terjadi ketika asap menyelimuti lingkungan.

Penting untuk membedakan kekhawatiran keluarga dari kesimpulan medis. Kaitan asap dan batuk Aisya merupakan penilaian Ananda berdasarkan apa yang ia alami dan amati, bukan diagnosis yang dinyatakan tenaga medis. Informasi yang tersedia tidak menyebutkan adanya pemeriksaan atau penetapan penyebab batuk oleh dokter. Meski begitu, pengalaman ibu yang berusaha menutup rumah sementara anaknya terjaga semalaman menggambarkan tekanan yang dirasakan keluarga ketika asap sulit dihindari.

Bagi Ananda, malam itu bukan sekadar soal udara yang kurang nyaman. Ia juga harus menghadapi batuk Aisya yang mengganggu tidur dan mencari cara agar paparan asap dapat dikurangi. Celah kecil yang tetap membiarkan asap masuk memperlihatkan betapa sulitnya menjaga rumah sepenuhnya terpisah dari kondisi udara di luar. Dalam situasi tersebut, kekhawatiran seorang ibu tumbuh dari apa yang ia saksikan sendiri, tanpa menggantikan penilaian tenaga kesehatan mengenai kondisi Aisya.

Ananda mengatakan Aisya sudah tiga kali dibawa berobat karena keluhan yang dialaminya belum juga berubah. Meski telah mendapat pemeriksaan dan obat, kondisi yang membuat keluarga khawatir masih terasa sama. Bagi Ananda, kunjungan berulang ke fasilitas kesehatan itu menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi Aisya belum selesai. Ia berharap keluhan putrinya dapat memperoleh perhatian dan penanganan lanjutan, terutama selama asap masih menyelimuti lingkungan tempat mereka tinggal.

Dampak asap juga dirasakan langsung oleh Ananda. Ia menyebut matanya terasa pedih ketika terpapar asap, sehingga keadaan tersebut bukan hanya mengganggu Aisya, tetapi turut dirasakan oleh orang di sekitarnya. Ananda mengkhawatirkan anak-anak kecil lain yang berada dalam kondisi serupa. Menurutnya, banyak anak menjadi korban akibat paparan asap, sementara mereka belum mampu melindungi diri sendiri.

Baca juga: Pemadaman dan Pembasahan Lahan Gambut Diperkuat, Satgas Darat Lanud Sjamsudin Noor Berjibaku di Tengah Asap Tekan Dampak Karhutla di Kalsel