Kabupaten Lumajang | Gunung Semeru, yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengalami dua kali erupsi pada Rabu (4/11/2026) siang. Erupsi pertama tercatat pada pukul 12.49 WIB dan disertai awan panas. Peristiwa ini menjadi kejadian awal dalam rangkaian aktivitas gunung tersebut pada hari itu. Berdasarkan catatan pengamatan, erupsi pertama berlangsung selama 2 menit 55 detik, dengan amplitudo maksimum sebesar 20 milimeter. Data waktu, durasi, dan amplitudo tersebut menggambarkan parameter yang berhasil dicatat selama kejadian, sementara tinggi kolom abu tidak dapat dipastikan melalui pengamatan visual karena kondisi puncak gunung tertutup kabut.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Agastya Rajendra, menyampaikan bahwa kabut menutupi puncak saat erupsi pertama berlangsung. Karena itu, tinggi kolom abu pada kejadian pukul 12.49 WIB tidak dapat diamati. Keterangan tersebut membatasi informasi visual yang dapat disampaikan mengenai bentuk maupun ketinggian kolom abu. Meski begitu, waktu kejadian dan parameter erupsi tetap tercatat, termasuk adanya awan panas, amplitudo maksimum 20 milimeter, serta durasi hampir tiga menit. Dengan demikian, laporan mengenai erupsi pertama bertumpu pada data pengamatan yang tersedia dan keterangan petugas, bukan perkiraan mengenai tinggi abu yang tidak terlihat.
Peristiwa ini berlangsung di tengah rangkaian dua erupsi Semeru yang terjadi dalam rentang dua jam pada siang hari. Informasi awal mengenai kejadian pertama penting untuk membedakan waktu dan karakter setiap erupsi dalam rangkaian tersebut. Pada pukul 12.49 WIB, unsur yang dilaporkan adalah awan panas, sedangkan tinggi kolom abu belum dapat diketahui akibat kabut di sekitar puncak. Angka amplitudo dan durasi memberikan rincian tambahan tentang catatan kejadian, tetapi tidak menggantikan keterbatasan pengamatan visual. Untuk informasi lanjutan mengenai erupsi berikutnya, waktu serta ciri kejadian perlu dirujuk pada catatan terpisah. Rincian yang tersedia sejauh ini menegaskan bahwa aktivitas pertama berlangsung singkat, namun tetap terpantau oleh petugas di Pos Pengamatan Gunung Semeru.
Aktivitas Gunung Semeru kembali terjadi pada pukul 14.41 WIB, menandai erupsi kedua dalam rangkaian kejadian yang berlangsung pada hari tersebut. Pada erupsi ini, kolom abu teramati mencapai ketinggian sekitar 1.000 meter di atas puncak. Dengan demikian, puncak kolom tercatat berada pada ketinggian sekitar 4.676 meter di atas permukaan laut. Pengamatan ketinggian tersebut menggambarkan sebaran material yang terlihat saat erupsi berlangsung, sementara arah geraknya turut menjadi perhatian dalam pemantauan aktivitas gunung.
Abu yang teramati memiliki warna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal. Kolom tersebut bergerak ke arah barat daya, sehingga arah sebarannya berbeda dari sekadar naik tegak di atas puncak. Ciri warna dan ketebalan abu merupakan bagian dari gambaran visual erupsi kedua, sedangkan pergerakan ke barat daya menunjukkan arah yang teramati pada saat itu. Informasi ini menjelaskan kondisi kolom abu dalam pengamatan kejadian, bukan perkiraan tentang sebaran pada waktu berikutnya.
Catatan seismograf juga merekam karakter erupsi tersebut. Amplitudo maksimum tercatat sebesar 25 milimeter, dengan durasi kejadian mencapai 136 detik. Data ini melengkapi pengamatan visual berupa tinggi, warna, intensitas, dan arah gerak kolom abu. Secara bersamaan, catatan visual dan seismik memberikan gambaran mengenai kejadian pukul 14.41 WIB dari dua sisi: apa yang tampak di atas puncak serta sinyal yang terekam oleh instrumen. Angka-angka tersebut merujuk pada erupsi kedua yang sedang dibahas.
Informasi mengenai waktu kejadian, kondisi kolom abu, serta hasil rekaman seismograf tersebut disampaikan oleh Agastya Rajendra. Dalam pemberitaan aktivitas Semeru, rincian seperti ketinggian kolom dan arah sebaran membantu pembaca memahami perkembangan yang teramati, sementara amplitudo dan durasi memberikan ukuran dari catatan instrumen. Penyampaian data secara terpisah juga penting agar ketinggian kolom tidak tertukar dengan ketinggian puncak di atas permukaan laut. Pada kejadian ini, sekitar 1.000 meter merujuk pada jarak kolom abu di atas puncak, sedangkan 4.676 meter merupakan ketinggian kolom terhadap permukaan laut.
Hingga laporan ini disusun, aktivitas Gunung Semeru masih berada pada Status Siaga atau Level III. Status tersebut menjadi informasi penting bagi masyarakat di sekitar gunung dan pihak-pihak yang berkegiatan di wilayah terdampak, terutama setelah dua erupsi terjadi dalam rentang waktu sekitar dua jam dan abu vulkanik meluncur ke arah barat daya. Informasi mengenai status gunung api perlu dibaca bersama rekomendasi resmi, bukan ditafsirkan secara terpisah dari arahan keselamatan yang berlaku.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan rekomendasi mitigasi sebagai panduan untuk mengurangi risiko dari aktivitas Semeru. Dalam situasi berstatus Level III, masyarakat dan pihak terkait diminta memperhatikan batas kegiatan serta kawasan yang dinyatakan perlu dihindari. Rekomendasi itu merupakan rujukan operasional bagi warga, pengunjung, dan pelaku aktivitas di sekitar gunung. Karena itu, perubahan status maupun arahan resmi perlu dipantau melalui kanal informasi berwenang, sehingga langkah yang diambil mengacu pada keterangan terbaru.
Status Siaga tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh tindakan yang perlu dilakukan di setiap lokasi. Rincian mitigasi bergantung pada ketentuan yang disampaikan PVMBG, termasuk pembatasan aktivitas dan area yang menjadi perhatian. Masyarakat sebaiknya tidak mendekati atau memasuki kawasan yang masuk dalam rekomendasi untuk dihindari, serta mengikuti informasi dari otoritas setempat. Bagian berikut menguraikan pembatasan kegiatan dan kawasan yang diminta untuk dihindari berdasarkan arahan tersebut. Penjelasan ini dibatasi pada informasi status dan rekomendasi yang tersedia hingga waktu laporan, tanpa menambahkan perkiraan mengenai perkembangan aktivitas Semeru.
Masyarakat di sekitar Gunung Semeru diminta mematuhi rekomendasi keselamatan dan menghindari zona yang berisiko terdampak aktivitas vulkanik. Larangan utama berlaku di sektor tenggara, khususnya sepanjang aliran Besuk Kobokan, hingga jarak 13 kilometer dari puncak. Warga maupun pengunjung tidak boleh beraktivitas di kawasan tersebut, termasuk mendekati alur sungai, memasuki lembah, atau melakukan kegiatan lain yang dapat menempatkan mereka dalam jalur ancaman. Pembatasan ini penting karena bahaya dapat terjadi dengan cepat dan menjangkau area di luar kawasan yang terlihat terdampak. Mengikuti batas aman yang ditetapkan membantu mengurangi risiko ketika kondisi gunung berubah.
Di luar radius 13 kilometer, masyarakat tetap diminta menjaga jarak sekurang-kurangnya 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Area sempadan sungai berpotensi terkena perluasan awan panas maupun aliran lahar yang dapat meluncur hingga 17 kilometer dari puncak. Karena itu, jarak dari tepi sungai perlu dipertahankan, terutama saat hujan atau ketika terjadi peningkatan aktivitas. Warga sebaiknya tidak berkemah, mencari pasir, bekerja, atau berkumpul di bantaran dan dasar sungai. Aliran lahar dapat membawa material vulkanik dalam jumlah besar, sementara awan panas bergerak dengan suhu tinggi dan berbahaya. Kondisi permukaan yang tampak tenang tidak menjamin kawasan tersebut aman untuk dimasuki.
Selain zona tenggara dan aliran sungai, masyarakat dilarang melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak. Kawasan dekat puncak memiliki ancaman lontaran batu pijar, sehingga jarak aman ini perlu dipatuhi tanpa pengecualian. Warga juga harus terus mewaspadai awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai serta lembah yang berhulu di puncak Semeru. Jalur yang perlu diperhatikan mencakup Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk anak-anak sungai kecil yang bermuara ke Besuk Kobokan.
Baca juga: Transkripsi ini berisi percakapan awak di lokomotif KA Anggrek dengan PPKP timur sebelum dan setelah tabrakan terjadi | Kenaikan inflasi yang terjadi turut direspons oleh Menteri Keuangan Suahassil Nazara
40 kunjungan
