Banyuwangi | Dwi Putri Wulandari adalah siswi kelas 11 IPS 4 SMAN 1 Genteng yang berusia 17 tahun. Di tengah kesibukan sekolah dan aktivitas remaja, ia menemukan ruang yang membuatnya dapat mengenali, mengolah, serta menyampaikan perasaan melalui gerak. Bagi Dwi, tari bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Tari menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya sekaligus cara untuk merawat warisan budaya Banyuwangi agar tetap dikenal dan dicintai oleh generasi muda.
Ketertarikan Dwi terhadap seni gerak mulai tumbuh sejak usianya masih enam tahun. Pada masa itu, ia mulai tertarik mengamati irama musik, mengikuti gerakan, dan merasakan keindahan yang muncul dari perpaduan tubuh, bunyi, serta ekspresi. Pengalaman awal tersebut perlahan membentuk kedekatan emosionalnya dengan dunia tari. Ia tidak hanya mempelajari rangkaian gerakan, tetapi juga belajar memahami pesan dan suasana yang hendak disampaikan melalui sebuah pertunjukan.
Perjalanan Dwi sempat terhenti ketika ia harus pindah kota. Keadaan itu membuatnya tidak lagi aktif menari untuk sementara waktu. Meskipun demikian, kecintaannya terhadap musik tradisional tidak pernah benar-benar hilang. Alunan musik daerah tetap menyimpan kenangan dan daya tarik tersendiri baginya. Ketika memasuki kelas 1 SMP, Dwi kembali menekuni tari. Keputusan tersebut menjadi titik penting yang menghidupkan kembali minat masa kecilnya sekaligus memperkuat tekad untuk belajar dengan lebih sungguh-sungguh.
Tari tradisional Banyuwangi memiliki tempat istimewa bagi Dwi karena memuat nilai budaya dan filosofi yang mendalam. Setiap gerakan tidak hadir tanpa makna, melainkan berkaitan dengan identitas, sikap, dan pandangan hidup masyarakat setempat. Selain itu, karakter geraknya yang khas, dinamis, ekspresif, dan kuat membuat tarian Banyuwangi memiliki daya pikat tersendiri. Melalui tari, Dwi dapat mengekspresikan perasaan sekaligus menjaga agar nilai-nilai budaya daerahnya terus hidup.
Menjadi penari muda tidak membuat Dwi Putri Wulandari mengabaikan tanggung jawabnya sebagai pelajar. Ia berusaha membagi waktu secara disiplin kegiatan sekolah, mengerjakan tugas, dan latihan tari. Dwi rutin berlatih di Sanggar Gandrung Arum setiap Selasa, Kamis, dan Minggu. Jadwal tersebut menuntut pengaturan waktu yang cermat, terutama ketika tugas sekolah menumpuk atau terdapat persiapan ujian. Sebelum berangkat latihan, ia perlu memastikan kewajiban akademiknya telah diselesaikan agar dapat berlatih dengan pikiran yang lebih tenang.
Tantangan terbesar muncul ketika Dwi mempelajari tarian bertempo cepat dengan karakter gerak yang tegas. Rangkaian gerakan harus dilakukan secara lincah, tetapi tetap terkendali dan sesuai dengan pola koreografi. Kesalahan kecil dalam mengikuti perubahan tempo dapat memengaruhi keseluruhan penampilan. Karena itu, latihan tidak hanya berfokus pada hafalan urutan gerak, melainkan juga pada kekuatan, ketahanan tubuh, dan kemampuan mempertahankan konsentrasi. Pengulangan secara teratur membantunya membangun kepercayaan diri sekaligus memperbaiki bagian-bagian yang masih kurang tepat.
Dalam setiap sesi, Dwi memperhatikan tuntutan teknis secara terperinci. Posisi kaki harus tepat agar tubuh tetap seimbang ketika berpindah arah atau melakukan gerakan cepat. Jemari dituntut lentur sehingga mampu membentuk gestur yang hidup, sementara gerakan kepala harus selaras dengan sikap tubuh, arah pandangan, dan irama musik. Ketelitian tersebut menjadi dasar penting untuk menghadirkan tarian yang rapi, kuat, dan memiliki karakter.
Selain teknik, Dwi mendalami tiga unsur utama dalam seni tari Jawa. Wiraga berkaitan dengan kemampuan fisik untuk menguasai gerakan. Wirasa menekankan penghayatan agar setiap gerak menyampaikan ekspresi dan makna. Adapun wirama merupakan keselarasan gerakan, tempo, dan irama pengiring. Ketiganya dipelajari secara bersamaan dalam latihan di sanggar. Bagi Dwi, kedisiplinan berlatih bukan sekadar cara meningkatkan keterampilan, melainkan juga proses membentuk tanggung jawab dan ketekunan sebagai pelajar yang menjaga tradisi.
Menjalani latihan tari secara rutin bukan perkara mudah bagi Dwi Putri Wulandari. Di balik penampilannya yang luwes, terdapat proses panjang yang menuntut ketekunan, kesabaran, dan kesiapan untuk terus belajar. Rasa lelah kerap muncul setelah berlatih berulang kali, terlebih ketika tubuh harus mengikuti gerakan yang sulit dalam waktu yang cukup lama. Kejenuhan juga menjadi tantangan tersendiri karena latihan yang sama perlu dilakukan sampai setiap gerakan terlihat tepat dan selaras.
Tantangan tersebut terasa lebih berat ketika Dwi mempelajari tarian baru. Ia tidak hanya dituntut menghafal rangkaian gerak, tetapi juga memahami ruh cerita yang hendak disampaikan melalui tarian. Pada beberapa kesempatan, Dwi belum mampu menangkap makna dan suasana yang terkandung di dalamnya. Kondisi itu sempat membuatnya merasa putus asa. Ia khawatir penampilannya hanya akan terlihat sebagai rangkaian gerakan tanpa penghayatan, sehingga pesan budaya yang dibawa tidak tersampaikan kepada penonton.
Meski demikian, Dwi berusaha mengingat bahwa keberhasilan tidak pernah hadir melalui proses yang mudah. Pemahaman tersebut menjadi pengingat ketika semangatnya mulai menurun. Ia kemudian kembali berlatih dengan tekad yang lebih kuat, memperhatikan arahan pelatih, mengulang bagian-bagian yang belum dikuasai, serta berusaha menempatkan diri dalam cerita yang dibawakan. Perlahan, gerakan yang semula terasa berat mulai dipahami, sementara rasa percaya dirinya tumbuh seiring bertambahnya pengalaman.
Tantangan lain muncul ketika Dwi dan kelompok tarinya mengikuti kompetisi yang dihadiri ratusan peserta dari berbagai daerah. Melihat banyak penari dengan kemampuan dan pengalaman yang beragam sempat membuatnya pesimis. Rasa takut akan kegagalan muncul sebelum ia memasuki panggung. Namun, perasaan itu perlahan hilang ketika musik mulai dimainkan. Dwi memusatkan perhatian kepada juri, mengendalikan kegugupan, lalu membawakan tarian dengan penuh percaya diri. Ia berusaha menghadirkan gerak, ekspresi, dan cerita secara utuh. Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil. Kelompok tari Dwi diumumkan sebagai pemenang utama, sebuah pencapaian yang memperkuat keyakinannya bahwa ketekunan mampu mengatasi kejenuhan dan rasa ragu.
Perjalanan Dwi Putri Wulandari dalam dunia tari menunjukkan rangkaian prestasi yang diraih melalui ketekunan dan kecintaan terhadap budaya. Bersama Sanggar Gandrung Arum, ia berhasil menjadi juara 1 tingkat kabupaten. Prestasi tersebut kemudian berlanjut dengan meraih juara 3 se-Jawa-Bali dalam ajang yang diselenggarakan di Gesibu Blambangan. Tidak berhenti di tingkat regional, Dwi kembali membuktikan kemampuannya sebagai juara 1 tingkat Provinsi Jawa Timur, sebelum akhirnya meraih juara 1 tingkat nasional di Gedung Pemuda Surabaya.
Berbagai penghargaan itu bukan sekadar catatan kemenangan, melainkan hasil dari latihan yang disiplin, keberanian tampil, serta kesungguhan dalam memahami setiap gerak dan karakter tari. Ketekunan Dwi turut mengharumkan nama sekolah, sanggar, keluarga, dan daerah asalnya. Melalui penampilannya, kekayaan seni Banyuwangi dapat diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas. Ia menunjukkan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga tradisi agar tetap hidup, relevan, dan dihargai di tengah perubahan zaman.
Meski telah memperoleh banyak penghargaan, Dwi tidak menganggap pencapaiannya sebagai akhir dari proses belajar. Ia masih ingin mempelajari berbagai tarian baru dan memperdalam karakter tari yang lebih kompleks. Cita-cita tertingginya adalah melanjutkan pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Di sana, ia berharap dapat memperluas wawasan kebudayaan, mengembangkan kemampuan hingga tingkat profesional, serta memahami seni tari secara lebih mendalam. Pada akhirnya, Dwi ingin mendedikasikan hidupnya untuk menjaga agar tari tradisional Banyuwangi tetap dikenal, diapresiasi, dan tampil berdaya saing di panggung nasional maupun internasional.

