Enam Aktivis Greenpeace Pulang Usai Delapan Jam Pemeriksaan di Polda Metro Jaya

Enam Aktivis Greenpeace Pulang Usai Delapan Jam Pemeriksaan di Polda Metro Jaya

Jakarta | Enam aktivis Greenpeace Indonesia telah dibebaskan setelah menjalani pemeriksaan sekitar delapan jam di Polda Metro Jaya, Jakarta, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Perwakilan Tim Advokasi untuk Demokrasi, Daniel Winarta, menyampaikan bahwa para aktivis tersebut dilepas sekitar pukul 20.30 WIB. Dengan demikian, pemeriksaan yang berlangsung sejak siang hingga malam itu berakhir dengan kepulangan mereka dari kantor kepolisian.

Setelah dibebaskan, keenam aktivis kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Informasi mengenai kepulangan tersebut disampaikan setelah mereka menyelesaikan rangkaian pemeriksaan. Mereka meninggalkan Polda Metro Jaya pada Selasa malam, menyusul waktu pemeriksaan yang berlangsung selama kurang lebih delapan jam. Daniel menjadi pihak yang menyampaikan waktu pelepasan para aktivis kepada publik.

Peristiwa ini menjadi perkembangan utama setelah enam aktivis Greenpeace Indonesia menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya. Rentang waktu pemeriksaan yang cukup panjang membuat kabar tentang status mereka pada malam itu menjadi perhatian. Kepastian bahwa mereka telah dilepas kemudian disampaikan oleh perwakilan tim advokasi, sementara para aktivis memilih pulang untuk memulihkan tenaga setelah berada di kantor polisi selama beberapa jam.

Informasi yang disampaikan Daniel mencakup waktu pelepasan dan langkah para aktivis setelah meninggalkan Polda Metro Jaya. Tidak ada keterangan lebih lanjut dalam informasi tersebut mengenai alasan resmi pembebasan mereka, sehingga tidak dapat dipastikan dasar atau pertimbangan yang digunakan. Yang diketahui, keenamnya sudah tidak lagi berada di kantor polisi pada sekitar pukul 20.30 WIB dan kembali ke rumah masing-masing. Mereka dapat beristirahat setelah menjalani pemeriksaan pada hari itu. Perkembangan berikutnya, jika disampaikan oleh pihak terkait, dapat memberikan penjelasan tambahan mengenai proses yang telah mereka jalani. Untuk saat ini, keterangan yang tersedia terbatas pada durasi pemeriksaan, waktu pelepasan, serta kepulangan para aktivis pada Selasa malam.

Daniel menjelaskan bahwa pemeriksaan terhadap enam aktivis Greenpeace di Polda Metro Jaya mencakup pendataan dan permintaan keterangan mengenai kronologi aksi. Dengan demikian, keterangan yang disampaikan tentang proses tersebut berpusat pada dua hal: pencatatan identitas para aktivis dan penjelasan mengenai urutan kejadian dalam aksi yang menjadi konteks pemeriksaan. Informasi ini menggambarkan ruang lingkup yang disebutkan Daniel, tanpa menambahkan rincian yang tidak disampaikan dalam keterangannya.

Pendataan identitas merupakan bagian dari proses yang dijalani para aktivis. Selain itu, mereka diminta menerangkan kronologi aksi, yakni rangkaian peristiwa yang berlangsung dalam kegiatan tersebut. Keduanya menjadi pokok keterangan yang dinyatakan terkait pemeriksaan. Penjelasan itu memberi gambaran umum mengenai hal-hal yang dimintakan kepada mereka selama berada di Polda Metro Jaya, tetapi tidak merinci daftar pertanyaan, urutan pemeriksaan, ataupun isi jawaban masing-masing aktivis.

Dalam pemberitaan mengenai pemeriksaan itu, penting membedakan keterangan yang benar-benar disampaikan dan informasi yang tidak disebutkan. Daniel menerangkan adanya pendataan serta permintaan keterangan tentang kronologi aksi. Sumber yang tersedia tidak menyebut adanya pokok pertanyaan lain di luar dua hal tersebut. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa pemeriksa membahas perkara atau materi tertentu yang tidak diterangkan dalam keterangan Daniel.

Sumber tersebut juga tidak menyebutkan adanya tuduhan tertentu yang disampaikan kepada para aktivis selama pemeriksaan. Tidak ada rincian yang dapat digunakan untuk menyatakan bahwa mereka diberi status, dituduh melakukan pelanggaran tertentu, atau diminta menjawab dugaan khusus. Begitu pula, tidak terdapat keterangan mengenai hasil pemeriksaan lebih lanjut, keputusan aparat setelah pemeriksaan, maupun langkah hukum berikutnya. Batas informasi ini perlu diperhatikan agar uraian tentang proses pemeriksaan tetap akurat dan tidak melampaui fakta yang dilaporkan.

Dengan demikian, keterangan Daniel hanya memastikan bahwa enam aktivis menjalani pendataan identitas dan dimintai penjelasan mengenai kronologi aksi. Penjelasan itu tidak dengan sendirinya menjelaskan keseluruhan proses atau kesimpulan aparat. Rincian tambahan mengenai materi pemeriksaan, tuduhan, ataupun hasilnya tidak tercantum dalam sumber yang dirujuk. Pembaca dapat memahami pemeriksaan berdasarkan informasi yang tersedia, sembari membedakan fakta yang disebutkan dari hal-hal yang belum dijelaskan.

Sebelum menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, enam aktivis Greenpeace lebih dahulu menggelar aksi dengan membentangkan spanduk di Patung Selamat Datang, kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Aksi tersebut berlangsung pada Selasa pagi dan menjadi latar belakang para aktivis dibawa ke kantor kepolisian. Lokasi itu merupakan salah satu titik yang ramai dilalui warga dan kendaraan, sehingga kegiatan di sekitar monumen menarik perhatian petugas serta masyarakat yang berada di kawasan tersebut.

Dalam aksi itu, dua spanduk berukuran besar dipasang di bagian monumen. Petugas kemudian menurunkannya secara bertahap. Spanduk pertama mulai diturunkan sekitar pukul 08.50 WIB, disusul spanduk kedua pada sekitar pukul 09.20 WIB. Proses penurunan dilakukan dengan memperhatikan posisi para aktivis yang berada di atas struktur monumen. Petugas di lokasi mengatur jalannya kegiatan dan meminta agar proses berlangsung dengan mengutamakan keselamatan.

Melalui pengeras suara, petugas meminta para aktivis melepaskan perlengkapan yang digunakan sebelum turun. Imbauan tersebut juga menekankan pentingnya menjaga keselamatan selama proses berlangsung. Para aktivis kemudian turun satu per satu dengan bantuan petugas dan menggunakan tangga yang telah disediakan. Di bawah monumen, sejumlah petugas berjaga untuk membantu serta memastikan area tetap terkendali. Penurunan dilakukan secara bertahap, bukan sekaligus, sehingga setiap orang memperoleh bantuan saat berpindah dari posisi di atas menuju permukaan tanah.

Setelah seluruh aktivis turun, keenamnya dibawa ke Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan. Peristiwa di Bundaran HI itu menjadi rangkaian awal sebelum pemeriksaan yang berlangsung selama delapan jam dan kemudian berakhir dengan kepulangan mereka. Informasi mengenai waktu penurunan spanduk dan cara para aktivis turun menggambarkan tahapan yang terjadi di lokasi pada pagi hari. Dalam penanganan aksi tersebut, petugas menyampaikan arahan secara langsung, menyediakan tangga, serta berjaga di sekitar monumen ketika para aktivis turun dengan bantuan mereka.

Dua spanduk yang dibentangkan dalam aksi tersebut menyampaikan pesan berbeda, tetapi saling berkaitan. Spanduk pertama menghadap ke utara, atau ke arah Istana , dengan tulisan “tangani krisis iklim, turunkan biaya hidup”. Kalimat itu menghubungkan penanganan perubahan iklim dengan persoalan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Greenpeace menempatkan tuntutan agar krisis iklim ditangani berdampingan dengan desakan untuk menurunkan beban biaya hidup, tanpa memisahkan persoalan lingkungan dari kebutuhan sehari-hari warga.

Spanduk kedua menghadap ke selatan Bundaran HI dan memuat tulisan “bencana makin parah, hidup makin susah, apa kerja pemerintah?”. Pesan tersebut menyoroti hubungan bencana yang semakin berat dan kesulitan hidup, sekaligus mengajukan pertanyaan mengenai peran pemerintah. Susunan kalimatnya menggambarkan kekhawatiran bahwa dampak bencana dapat memperburuk kondisi masyarakat. Pertanyaan di bagian akhir diarahkan kepada pemerintah sebagai pihak yang dinilai memiliki tanggung jawab untuk merespons keadaan tersebut.

Melalui kedua pesan itu, Greenpeace mengangkat krisis iklim beserta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Isu tersebut tidak hanya disampaikan sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai persoalan yang berpengaruh pada keselamatan dan kesejahteraan warga. Bencana yang kian parah dan tekanan biaya hidup menjadi bagian dari gambaran dampak yang ingin disorot. Karena itu, Greenpeace mendesak pemerintah agar menangani krisis iklim dengan lebih serius. Desakan tersebut berangkat dari penilaian bahwa krisis iklim mengancam keselamatan serta kesejahteraan masyarakat. Arah tuntutannya menekankan perlunya perhatian pemerintah terhadap risiko yang dihadapi warga, sekaligus terhadap konsekuensi sosial dan ekonomi yang menyertai bencana.

Baca juga: Tingkatkan Literasi Kesehatan, Koramil Trucuk Bojonegoro dan Puskesmas Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis | Kodim 0906/Kkr Hadir Untuk Masyarakat, Gelar Donor Darah Serta Pengobatan Dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis Menyambut HUT TNI | Kodim 1710/Mimika Rampungkan Jembatan Beton di Kelurahan Kamoro Jaya dan Wonosari Jaya