Kabupaten Bogor | Ketua Umum PSSI Erick Thohir meminta klub dan operator kompetisi I.League bertindak tegas dalam mencegah kekerasan yang melibatkan suporter sepak bola Indonesia. Menurutnya, upaya menjaga keamanan tidak dapat ditunda atau hanya dilakukan setelah terjadi insiden. Klub dan penyelenggara pertandingan perlu memastikan bahwa setiap laga berlangsung dengan memperhatikan keselamatan seluruh orang yang hadir, baik penonton maupun pihak lain di sekitar stadion.
Erick menegaskan bahwa keselamatan penonton harus menjadi prioritas. Suporter seharusnya dapat datang ke stadion untuk menyaksikan pertandingan, mendukung tim, lalu kembali ke rumah dengan selamat. Karena itu, pencegahan kekerasan perlu menjadi bagian penting dari penyelenggaraan kompetisi, bukan sekadar pelengkap. Tanggung jawab tersebut membutuhkan perhatian bersama dari klub, operator liga, dan pihak terkait agar risiko dapat dikenali serta ditangani sebelum berkembang menjadi kejadian yang membahayakan.
Kekerasan suporter, kata Erick, tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele. Dampaknya dapat melampaui kelompok yang terlibat langsung, sebab kericuhan berisiko membahayakan banyak orang di dalam maupun di sekitar stadion. Selain mengancam keselamatan, insiden semacam itu juga dapat merusak suasana pertandingan dan mengurangi kepercayaan publik terhadap kompetisi. Sikap tegas diperlukan agar setiap pihak memahami bahwa tindakan kekerasan memiliki konsekuensi dan tidak dapat dinormalisasi sebagai bagian dari rivalitas sepak bola.
Pesan tersebut menempatkan keamanan sebagai syarat mendasar bagi pengalaman menonton yang aman dan nyaman. Klub dan operator kompetisi diharapkan tidak mengabaikan potensi gangguan, serta mengambil langkah pencegahan secara serius dalam pelaksanaan pertandingan. Dengan tanggung jawab yang dijalankan secara konsisten, stadion dapat menjadi tempat bagi suporter untuk mendukung klub tanpa rasa takut. Seruan Erick juga menegaskan bahwa keberhasilan kompetisi tidak hanya diukur dari jalannya pertandingan, tetapi turut bergantung pada kemampuan semua pihak melindungi keselamatan penonton.
Perhatian terhadap keselamatan suporter dan rombongan tim menguat setelah sejumlah insiden terjadi dalam rentang waktu singkat pada Oktober 2026. Kejadian-kejadian tersebut berlangsung di lokasi berbeda dan melibatkan bus pemain muda, kendaraan rombongan pendukung, serta seorang suporter yang menjadi korban kekerasan setelah pertandingan. Rentetan peristiwa ini menjadi konteks penting bagi PSSI dalam mendorong klub dan operator kompetisi mengambil langkah lebih tegas untuk mencegah kekerasan. Selain menimbulkan kerugian dan rasa takut, insiden di perjalanan maupun seusai laga menunjukkan bahwa risiko keamanan tidak hanya muncul di dalam stadion. Perhatian juga perlu mencakup perjalanan menuju dan dari pertandingan, termasuk pengamanan di jalan tol dan kawasan sekitar venue.
Pada 11 Oktober 2026, bus pemain Persib Bandung U-18 diserang ketika berada di rest area KM 360 Batang. Serangan terhadap kendaraan yang membawa pemain muda tersebut menjadi salah satu kejadian awal yang menyoroti kerentanan rombongan tim saat melakukan perjalanan. Sehari kemudian, bus rombongan suporter Persija Jakarta yang melintas dari Cikampek mengalami pelemparan benda keras di Tol Palikanci KM 200, Cirebon. Kedua insiden itu terjadi di jalur perjalanan dan menyasar bus yang membawa kelompok terkait sepak bola. Rentang waktu yang berdekatan membuat perhatian terhadap keamanan perjalanan semakin besar. Rombongan pemain maupun pendukung dapat berada di ruang publik jauh dari stadion, sehingga koordinasi pengamanan dan respons terhadap ancaman menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.
Insiden terbaru yang disebut dalam rangkaian kejadian tersebut terjadi pada 25 Oktober 2026. Seorang suporter Persib Bandung meninggal setelah dibacok seusai menyaksikan pertandingan melawan Garudayaksa FC di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor. Peristiwa ini menambah berat perhatian terhadap kekerasan yang berkaitan dengan kegiatan sepak bola, karena dampaknya berujung pada hilangnya nyawa. Berbeda dari dua kejadian sebelumnya yang berlangsung di perjalanan, kasus tersebut terjadi setelah pertandingan dan melibatkan seorang penonton yang baru meninggalkan laga. Tiga peristiwa ini memperlihatkan bentuk risiko yang beragam: serangan terhadap bus pemain, pelemparan terhadap bus suporter, serta kekerasan terhadap individu seusai pertandingan. Keseluruhan kejadian menjadi dasar bagi pembahasan mengenai tanggung jawab bersama dalam menjaga keamanan di sekitar sepak bola.
Erick Thohir meminta operator kompetisi dan klub tidak berhenti pada imbauan ketika terjadi pelanggaran yang berpotensi memicu kekerasan suporter. Menurutnya, perangkat aturan yang sudah tersedia perlu dijalankan secara konsisten agar setiap pihak memahami konsekuensi tindakannya. Penegakan tersebut menjadi tanggung jawab bersama, terutama liga sebagai pengelola kompetisi dan klub yang berhubungan langsung dengan pendukungnya. Langkah tegas dinilai penting untuk menjaga pertandingan tetap aman, sekaligus memastikan aturan tidak sekadar tertulis tanpa penerapan yang jelas.
Erick juga menyebut pembatasan suporter tandang telah diterapkan dalam sejumlah pertandingan tertentu. Kebijakan ini merupakan salah satu langkah untuk mengantisipasi potensi keributan, terutama dalam situasi ketika pertemuan pendukung kedua tim dinilai dapat meningkatkan risiko gangguan keamanan. Penerapannya dilakukan pada laga-laga tertentu, sehingga tidak berarti seluruh pertandingan tandang secara otomatis terkena pembatasan yang sama. Pertimbangan kondisi dan perkembangan di lapangan menjadi bagian dari upaya mencegah persoalan sebelum meluas.
Ia menyatakan kebijakan terkait pertandingan tandang telah diambil oleh liga dan klub ketika muncul hal-hal yang tidak baik. Dengan demikian, pembatasan tersebut diposisikan sebagai respons terhadap situasi yang berkembang, bukan sebagai pengganti penegakan aturan terhadap pelanggaran. Liga dan klub tetap perlu menjalankan langkah pencegahan serta penindakan secara sejalan, termasuk menyampaikan dasar keputusan kepada pihak terkait. Kejelasan penerapan dapat membantu suporter memahami alasan suatu kebijakan, sekaligus mendorong tanggung jawab kolektif agar dukungan di stadion berlangsung tertib. Pesan Erick mengarahkan perhatian pada penggunaan aturan yang sudah tersedia dan keputusan yang konsisten, sehingga keselamatan penonton tetap menjadi pertimbangan utama dalam penyelenggaraan kompetisi.
Perhatian terhadap kekerasan dalam sepak bola tidak berhenti pada peristiwa yang terjadi di stadion atau selama pertandingan berlangsung. Insiden di luar lapangan juga perlu mendapat perhatian serius, sebab tindakan kriminal yang berkaitan dengan sepak bola dapat menimbulkan korban dan memperluas dampak perselisihan. Erick Thohir menekankan bahwa penanganan persoalan tersebut memerlukan komitmen bersama, termasuk tindakan tegas terhadap siapa pun yang melakukan kejahatan.
Dalam upaya mengusut sejumlah insiden terkait sepak bola, Erick menyampaikan apresiasi terhadap langkah kepolisian. Ia menilai proses pengungkapan kasus penting agar pelaku dapat dimintai pertanggungjawaban sesuai aturan. Penegakan hukum menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan, terutama ketika kekerasan terjadi di luar pertandingan dan tidak lagi dapat dipandang sebagai bagian dari dinamika persaingan di lapangan.
Erick juga mengungkapkan bahwa dirinya telah mengadakan pertemuan tertutup dengan Kapolri Suyudi Ario Seto. Pertemuan tersebut membahas komitmen untuk menindak pelaku kejahatan yang terjadi di luar pertandingan. Pembicaraan itu menjadi ruang untuk menegaskan perlunya koordinasi dan keseriusan dalam merespons insiden, sekaligus memastikan bahwa tindakan kekerasan tidak dibiarkan tanpa penanganan.
Pesan mengenai pencegahan kekerasan tetap membutuhkan kesadaran bersama dari berbagai pihak. Klub, operator kompetisi, aparat, suporter, dan masyarakat perlu memahami bahwa dukungan terhadap tim tidak membenarkan tindakan yang membahayakan orang lain. Upaya menjaga keselamatan juga perlu membedakan konteks kekerasan di dalam lapangan dan kejahatan di luar lapangan: keduanya perlu ditangani dengan serius, tetapi bentuk dan situasi penanganannya tidak selalu sama. Di luar pertandingan, tindakan kriminal harus diserahkan kepada proses hukum dan ditindak sesuai ketentuan. Erick mengingatkan pentingnya kesadaran kolektif agar tidak ada lagi suporter yang menjadi korban.
Baca juga: Panglima TNI Kunjungi Kompetisi Primarox 2026 Piala Panglima TNI di BSD | Ketika Luka Menjadi Barang Bukti: Dedy Luqman Hakim Bongkar Titik Kritis Visum dalam Perkara Kekerasan | Kekerasan OPM Tewaskan Sopir Angkutan Masyarakat, TNI Perkuat Pengamanan Dan Kejar Pelaku




