Jakarta | Sungai Eufrat dan Tigris membentang di Asia Barat, berawal dari kawasan Pegunungan Anatolia dan mengalir ke arah tenggara. Dalam perjalanannya, kedua sungai melewati Turki, Suriah, dan Irak, sebelum menyatu di bagian hilir dan bermuara di Teluk Persia. Eufrat memiliki panjang sekitar 2.800 kilometer, menjadikannya sungai terpanjang di kawasan tersebut. Tigris lebih pendek, dengan panjang sekitar 1.900 kilometer, tetapi arusnya dikenal lebih deras. Keduanya membentuk jaringan air yang penting bagi bentang alam dan kehidupan penduduk di wilayah yang sebagian besar berciri kering.
Daerah yang terletak di Eufrat dan Tigris dikenal sebagai Mesopotamia. Nama ini berasal dari istilah Yunani yang bermakna “tanah di sungai-sungai”, menggambarkan posisi kawasan tersebut di dua aliran besar. Air sungai membawa endapan yang membantu memperkaya tanah di sekitarnya, sementara banjir musiman turut meninggalkan lapisan lumpur yang subur. Aliran ini menjadi bagian penting dari Fertile Crescent, atau Bulan Sabit Subur, kawasan melengkung di Asia Barat yang memiliki kondisi alam mendukung kehidupan dan kegiatan bercocok tanam. Meski kesuburan tidak tersebar merata, akses terhadap air membuat lembah sungai menonjol di tengah lingkungan yang kerap kekurangan hujan.
Sekitar 10.000 tahun lalu, ketersediaan air dan lahan yang dapat diolah membantu mendorong perubahan besar dalam cara manusia hidup. Masyarakat mulai mengembangkan pertanian, menetap lebih lama di satu tempat, dan membangun permukiman di sekitar sumber air. Untuk mengairi ladang, mereka memanfaatkan saluran dan bentuk awal sistem irigasi, yang memungkinkan air dialirkan menjauhi tepi sungai. Pengaturan air juga membantu menghadapi perubahan musim dan menopang hasil panen. Seiring waktu, pertanian dan permukiman yang berkembang di lembah Eufrat serta Tigris menjadi landasan bagi tumbuhnya masyarakat kompleks dan pusat-pusat peradaban awal. Karena itu, peran kedua sungai tidak terbatas pada pasokan air: keduanya turut membentuk pola kehidupan, pemanfaatan lahan, dan sejarah kawasan yang kemudian dikenal sebagai Mesopotamia.
Aliran sistem Eufrat dan Tigris telah menyusut dengan cepat, menandai tekanan yang semakin besar pada dua sungai penting di Asia Barat. Berdasarkan bahan yang dilaporkan, debit atau aliran sistem sungai tersebut berkurang hampir setengah dalam beberapa dekade. Angka ini menggambarkan perubahan besar pada skala jangka panjang, tetapi tidak berarti bahwa kedua sungai kehilangan air secara merata di setiap lokasi atau pada tingkat yang sama setiap tahun. Kondisi setempat dapat berbeda, sementara tren keseluruhan menunjukkan berkurangnya ketersediaan air tawar.
Citra satelit turut memperlihatkan besarnya kehilangan tersebut. Pengamatan untuk periode 2003–2013 mencatat sekitar 144 kilometer kubik air tawar hilang dari kawasan yang berkaitan dengan sistem Eufrat-Tigris. Angka itu merupakan hasil pemantauan dalam rentang waktu tertentu, bukan ukuran langsung mengenai kondisi sungai pada saat ini. Meski demikian, temuan tersebut memperkuat gambaran bahwa cadangan air di kawasan itu mengalami penurunan yang nyata. Berkurangnya air dapat memperbesar tekanan terhadap masyarakat dan kegiatan yang bergantung pada sungai, terutama ketika kondisi kering berlangsung berkepanjangan.
Peringatan yang lebih jauh muncul dalam laporan pemerintah kementerian sumber daya air pada 2021. Laporan tersebut memperkirakan bahwa sungai dapat mengering pada 2040 apabila tren penurunan berlanjut. Perkiraan itu harus dipahami sebagai proyeksi, bukan kepastian bahwa Eufrat dan Tigris pasti akan kering pada tahun tersebut. Laporan itu mengaitkan risiko dengan penurunan permukaan air serta kekeringan yang diperburuk oleh perubahan iklim. Faktor-faktor tersebut dapat mengurangi aliran dan memperburuk kelangkaan air, tetapi hasil akhirnya juga bergantung pada bagaimana keadaan berkembang. Karena itu, angka kehilangan historis dan peringatan tentang 2040 perlu dibaca secara berbeda: yang pertama merujuk pada pengamatan masa lalu, sedangkan yang kedua menggambarkan kemungkinan masa depan. Memantau perubahan aliran dan kondisi kekeringan tetap penting untuk menilai besarnya risiko secara berkala.
Sistem sungai Eufrat dan Tigris menjadi sumber air penting bagi sekitar 60 juta orang, menurut perkiraan yang kerap dikutip. Ketergantungan ini paling terasa di Turki dan Irak, dua negara yang berada di kawasan aliran sungai tersebut. Bagi masyarakat di wilayah yang dilalui atau terhubung dengan sistem sungai, keberadaan air bukan sekadar unsur alam, melainkan bagian mendasar dari kehidupan sehari-hari. Pasokan yang tersedia membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga dan menopang kegiatan yang berlangsung di sekitar lembah sungai.
Air dari Eufrat dan Tigris dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, termasuk kebutuhan domestik dan pengairan lahan. Sungai-sungai ini juga mendukung kegiatan masyarakat yang bergantung pada ketersediaan air, sehingga perubahan pada aliran atau jumlah pasokannya dapat menjadi perhatian langsung bagi penduduk dan pengelola sumber daya. Di kawasan yang kering, akses terhadap air tawar memiliki arti khusus: air digunakan untuk minum, memasak, membersihkan, serta menjaga keberlangsungan kegiatan pertanian. Dengan demikian, fungsi sungai melampaui batas geografis dan menghubungkan kebutuhan banyak komunitas.
Ketergantungan yang luas tersebut membuat kondisi Eufrat dan Tigris relevan bagi kehidupan jutaan orang, bukan hanya bagi lingkungan alam di sekitarnya. Ketika sungai menyusut, perhatian tertuju pada kemampuan sistem itu untuk terus menyediakan air bagi pengguna di sepanjang alirannya. Namun, tingkat ketergantungan dan kebutuhan setiap wilayah tidak selalu sama; keduanya dipengaruhi oleh lokasi, pola penggunaan, dan cara pasokan dikelola. Memahami peran sungai dalam keseharian masyarakat karena itu penting untuk melihat arti penyusutan secara proporsional. Gambaran sekitar 60 juta orang yang mengandalkan sistem ini menegaskan luasnya hubungan sungai dan kehidupan di Asia Barat, sekaligus menunjukkan mengapa pemantauan serta pengelolaan air menjadi perhatian bagi negara dan komunitas yang berbagi sumber tersebut.
Kawasan yang dibentuk oleh Sungai Eufrat dan Tigris kerap disebut Mesopotamia, istilah yang berarti “di sungai-sungai”. Letaknya di Asia Barat, terutama di wilayah yang kini mencakup Irak dan sekitarnya. Tanah aluvial dan aliran airnya membantu mendukung pertanian serta permukiman, meskipun kehidupan di kawasan itu juga bergantung pada pengelolaan air dan menghadapi banjir maupun kekeringan. Dalam rentang panjang sejarah, lingkungan sungai menjadi salah satu latar penting bagi tumbuhnya masyarakat perkotaan dan pemerintahan awal.
Di kawasan ini berkembang peradaban Sumeria, Babilonia, dan Asyur. Kota-kota seperti Uruk, Babilon, dan Niniwe dikenal sebagai pusat kehidupan politik, perdagangan, keagamaan, dan budaya pada masa berbeda. Sejumlah sumber menghubungkan warisan Mesopotamia dengan kemunculan tulisan, sistem hitungan, kalender, serta kode hukum tertulis awal. Catatan tertulis memungkinkan manusia menyimpan informasi mengenai hasil panen, perdagangan, keputusan penguasa, dan aturan masyarakat. Perkembangan tersebut bukan hasil satu kota atau satu masa saja, melainkan bagian dari perubahan panjang yang berlangsung melalui interaksi berbagai komunitas.
Nilai Eufrat dan Tigris tidak hanya tercermin dalam sejarah pemerintahan dan pengetahuan, tetapi juga dalam ingatan budaya dan keagamaan. Kedua sungai hadir dalam naskah-naskah kuno dan tradisi kitab suci, sehingga tetap memiliki arti simbolis bagi masyarakat di berbagai zaman. Bahan sumber juga mencantumkan hadis tentang Eufrat yang mengering dan menyingkapkan gunung emas, dengan redaksi: “Hari Kiamat tidak akan terjadi sebelum Sungai Eufrat mengering dan menyingkapkan gunung emas.” Kutipan tersebut disajikan sebagai isi hadis sebagaimana dicantumkan dalam sumber, bukan sebagai penjelasan ilmiah mengenai penyebab atau waktu perubahan debit sungai. Pembedaan ini penting ketika warisan teks dibahas bersamaan dengan kondisi sungai masa kini.
Baca juga: Padamkan Bara di Balik Gambut, Satgas Darat Lanud Sjamsudin Noor Jaga Permukiman Dari Ancaman Karhutla | Kamera Bukan Hakim Jalanan: Dedy Luqman Hakim Soroti Ancaman Pidana di Balik Rekam dan Sebar Video Orang






