Jakarta | Rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada pekan terakhir Oktober 2026, meskipun arah pergerakannya tetap bergantung pada perkembangan pasar dan respons pelaku ekonomi. Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan proyeksi bahwa nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga Rp18.200 per dolar AS dalam sepekan. Angka tersebut merupakan perkiraan, bukan kepastian bahwa rupiah akan mencapai level itu atau telah mengalami pelemahan sebesar itu. Pergerakan aktual dapat berubah seiring masuknya informasi baru dan perubahan sentimen di pasar keuangan.
Salah satu faktor yang dapat menambah tekanan terhadap rupiah adalah penguatan indeks dolar AS. Ketika dolar menguat terhadap sejumlah mata uang utama, aset berdenominasi dolar dapat menjadi relatif lebih menarik bagi investor. Perubahan minat tersebut berpotensi memengaruhi permintaan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Namun, penguatan indeks dolar tidak dengan sendirinya memastikan rupiah akan melemah; dampaknya juga dipengaruhi kondisi domestik, arus modal, serta keputusan pelaku pasar. Karena itu, perkembangan indeks dolar perlu dicermati bersama faktor lain yang relevan.
Proyeksi menuju Rp18.200 per dolar AS memberi gambaran mengenai besarnya risiko yang dinilai mungkin muncul dalam horizon sepekan, bukan target yang pasti tercapai. Pelaku pasar dan masyarakat dapat memantau pergerakan kurs secara berkala, terutama ketika terdapat perubahan pada sentimen global yang mendukung penguatan dolar. Dalam membaca perkiraan tersebut, penting pula membedakan tekanan potensial dari pergerakan yang telah terkonfirmasi. Selama pekan terakhir Oktober, rupiah masih dapat bergerak naik maupun turun mengikuti keseimbangan permintaan dan penawaran. Dengan demikian, tekanan dolar AS menjadi salah satu perhatian utama, sementara tingkat pelemahan akhirnya tetap ditentukan oleh dinamika pasar yang berkembang sepanjang periode tersebut.
Ibrahim memperkirakan indeks dolar AS bergerak dalam kisaran 100,90–103,10 pada pekan terakhir Oktober 2026. Rentang tersebut menjadi salah satu acuan penting untuk membaca arah tekanan eksternal terhadap rupiah. Indeks dolar mengukur kekuatan mata uang AS terhadap sejumlah mata uang utama, sehingga perubahannya dapat mencerminkan pergeseran minat investor terhadap aset berdenominasi dolar. Jika indeks bertahan di area bawah rentang, tekanan dari sisi ini berpotensi lebih terkendali. Namun, pergerakan menuju batas atas kisaran dapat mengubah sentimen pasar dan membuat pelaku pasar lebih berhati-hati terhadap mata uang negara berkembang.
Apabila indeks dolar menguat mendekati 103,10, tekanan terhadap rupiah diperkirakan membesar. Penguatan tersebut dapat menandakan bahwa dolar semakin diminati, sementara mata uang lain menghadapi tantangan untuk mempertahankan nilainya. Dalam kondisi pasar yang sensitif terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat, ekspektasi kenaikan suku bunga AS dapat menjadi salah satu pemicu perubahan arus modal. Imbal hasil yang lebih menarik pada aset berbasis dolar berpotensi mendorong investor mengalihkan sebagian dana dari pasar berkembang ke instrumen yang dianggap lebih menguntungkan atau lebih aman. Perubahan aliran dana ini dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar dan menekan kurs rupiah.
Dampaknya tidak hanya bergantung pada angka indeks, tetapi juga pada alasan di balik pergerakannya serta respons investor terhadap sinyal kebijakan. Jika ekspektasi suku bunga AS meningkat, daya tarik dolar dapat bertambah, terutama ketika pelaku pasar menilai selisih imbal hasil akan melebar. Mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, umumnya lebih rentan terhadap perubahan sentimen global karena arus investasi lintas negara dapat bergerak cepat. Meski demikian, kisaran 100,90–103,10 merupakan proyeksi, bukan kepastian arah pasar. Perkembangan data ekonomi, komunikasi bank sentral, dan kondisi domestik tetap dapat memengaruhi hasil akhirnya. Karena itu, penguatan indeks mendekati 103,10 sebaiknya dipahami sebagai risiko tekanan yang perlu dicermati, bukan jaminan bahwa rupiah pasti melemah sepanjang pekan.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berpeluang melanjutkan tren penguatan pada pekan terakhir Oktober 2026, meskipun arah pergerakannya tetap bergantung pada perkembangan pasokan dan sentimen pasar. Dalam pemantauan teknikal, level support berada di sekitar US$96,90 per barel, sedangkan resistance terdekat tercatat di US$108,30 per barel. Jika tekanan beli bertahan dan harga mampu menembus resistance, ruang kenaikan dapat terbuka. Sebaliknya, penurunan di bawah support dapat mengubah prospek jangka pendek dan mendorong pelaku pasar menilai kembali risiko pasokan.
Sejumlah faktor geopolitik masih membayangi pasar energi. Ketegangan di Timur Tengah berpotensi memicu kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak, sementara konflik Rusia-Ukraina mempertahankan risiko gangguan pasokan dan perdagangan energi. Di luar kedua perkembangan tersebut, gangguan produksi minyak di Libya juga dapat memperketat ketersediaan minyak di pasar. Kombinasi risiko ini membuat harga rentan bergerak tajam ketika muncul kabar baru, sekalipun data permintaan atau persediaan memberikan sinyal yang berbeda. Karena itu, pelaku pasar akan mencermati perkembangan geopolitik bersama indikator fundamental sebelum mengubah ekspektasi.
Kenaikan harga minyak dapat menambah biaya bahan bakar, transportasi, dan logistik. Jika berlangsung cukup lama, peningkatan biaya tersebut berpotensi diteruskan ke harga barang dan jasa, sehingga memperkuat tekanan inflasi global. Dampaknya tidak selalu muncul serentak: besarnya pengaruh bergantung pada durasi kenaikan, struktur biaya, serta kemampuan perusahaan menyerap atau meneruskan biaya kepada konsumen. Bagi negara pengimpor energi, tagihan impor yang lebih tinggi juga dapat memperberat tekanan terhadap kondisi ekonomi dan mata uang.
Perubahan prospek inflasi kemudian dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral. Inflasi yang dinilai lebih persisten mungkin membuat pelaku pasar memperkirakan suku bunga bertahan tinggi lebih lama, sedangkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dapat membatasi ruang pengetatan. Perubahan ekspektasi tersebut berpotensi memengaruhi imbal hasil aset dan arus modal lintas negara, termasuk sentimen terhadap rupiah. Dengan demikian, pergerakan WTI menjadi salah satu risiko eksternal yang perlu dipantau, bukan penentu tunggal arah nilai tukar.Ibrahim menilai kemungkinan kenaikan suku bunga Amerika Serikat pada November–Desember perlu terus dicermati, terutama apabila tekanan inflasi kembali meningkat akibat lonjakan harga energi. Perkembangan harga energi dapat memengaruhi biaya produksi dan transportasi, lalu berimbas pada harga barang dan jasa. Jika dampak tersebut membuat inflasi bertahan tinggi, pelaku pasar dapat memperkirakan bahwa Federal Reserve atau The Fed akan mempertahankan kebijakan ketat lebih lama, bahkan mempertimbangkan kenaikan suku bunga. Namun, kemungkinan itu tetap bergantung pada data ekonomi dan arah inflasi, sehingga belum dapat dipastikan hanya dari perubahan harga energi.
Ekspektasi terhadap suku bunga berpengaruh pada keputusan investasi lintas negara. Ketika pasar memperkirakan imbal hasil aset berdenominasi dolar akan meningkat, aset tersebut berpotensi menjadi lebih menarik bagi investor. Permintaan terhadap dolar AS pun dapat menguat, sementara sebagian aliran dana mungkin menjauh dari pasar negara berkembang. Dalam kondisi demikian, rupiah berhadapan dengan tekanan tambahan, khususnya apabila penguatan dolar berlangsung bersamaan dengan sentimen global yang kurang mendukung. Perubahan ekspektasi pasar dapat memengaruhi nilai tukar bahkan sebelum keputusan resmi The Fed diumumkan, karena investor menyesuaikan posisi berdasarkan perkiraan kebijakan mendatang.
Untuk membaca arah rupiah pada pekan terakhir Oktober 2026, Ibrahim menyoroti tiga faktor yang saling berkaitan: pergerakan indeks dolar AS, harga minyak mentah dunia, dan dinamika geopolitik. Indeks dolar menggambarkan kekuatan mata uang AS terhadap sejumlah mata uang utama dan dapat mencerminkan perubahan minat investor pada aset dolar.






