Jakarta | Danantara menyelenggarakan Technology Innovation Investment Forum (TIIF) 2026 di Jakarta sebagai forum yang mempertemukan pelaku industri teknologi dengan para pemangku kepentingan terkait. Penyelenggaraan ini menempatkan investasi dan inovasi teknologi sebagai pokok perhatian, sejalan dengan kebutuhan untuk membangun pemahaman bersama mengenai perkembangan sektor tersebut. Informasi yang tersedia menyebut acara berlangsung selama tiga hari, tetapi tidak mencantumkan keterangan waktu mulai secara lengkap. Karena itu, tanggal maupun rentang pelaksanaan yang lebih terperinci tidak dapat dipastikan dari keterangan tersebut.
Kehadiran berbagai pelaku dan pemangku kepentingan memberi ruang bagi pihak-pihak di ekosistem teknologi untuk bertemu dalam satu kegiatan. Forum seperti TIIF dapat menjadi wadah untuk bertukar pandangan dan mempertemukan perspektif yang berbeda mengenai investasi serta inovasi, tanpa harus mengasumsikan bentuk agenda atau hasil tertentu. Informasi yang disampaikan mengenai acara ini menegaskan peran forum sebagai titik temu, tetapi tidak merinci susunan kegiatan, nama peserta, topik diskusi khusus, maupun keputusan yang dihasilkan. Dengan demikian, uraian tentang penyelenggaraan sebaiknya tetap berpegang pada keterangan yang telah dipublikasikan.
TIIF 2026 berlangsung di Jakarta dan diselenggarakan oleh Danantara. Penyelenggaraan forum tersebut menunjukkan adanya ruang pertemuan yang berfokus pada hubungan investasi dan inovasi di bidang teknologi Indonesia. Bagi pelaku industri, pertemuan lintas pemangku kepentingan dapat membuka kesempatan untuk mengenali beragam sudut pandang dan menjalin komunikasi, meskipun dampak atau tindak lanjutnya tidak dapat disimpulkan hanya dari informasi dasar mengenai acara. Keterangan yang ada juga belum menjelaskan secara lengkap waktu dimulainya kegiatan. Oleh sebab itu, informasi yang dapat dipastikan terbatas pada nama forum, penyelenggara, lokasi, durasi tiga hari, serta sifatnya sebagai kegiatan yang mempertemukan pelaku dan pemangku kepentingan teknologi.
Forum Danantara diikuti oleh pendaftar dari beragam latar belakang, mencerminkan luasnya perhatian terhadap arah inovasi industri teknologi Indonesia. Sumber menyebut sekitar 1.500 orang mendaftar untuk mengikuti kegiatan tersebut. Angka ini merujuk pada jumlah pendaftar, bukan jumlah peserta yang dipastikan hadir. Pembedaan tersebut penting agar cakupan partisipasi disampaikan secara akurat dan tidak menimbulkan kesan bahwa seluruh pendaftar hadir di lokasi atau mengikuti forum secara langsung. Selain pendaftar, acara juga melibatkan sejumlah undangan dari dalam maupun luar negeri, sehingga jangkauan forum tidak terbatas pada satu kelompok atau wilayah saja.
Kelompok yang disebut turut mengikuti forum mencakup unsur industri, pemerintah, dan lembaga. Kehadiran berbagai pihak tersebut memungkinkan isu teknologi dan inovasi dibahas dari sejumlah sudut pandang, termasuk kebutuhan dunia usaha, kebijakan publik, serta peran institusi dalam mendukung pengembangan ekosistem. Keterlibatan lintas sektor juga menunjukkan bahwa pembicaraan tentang inovasi industri tidak hanya berkaitan dengan perusahaan teknologi. Dukungan kebijakan, kapasitas kelembagaan, dan hubungan antarpelaku dapat menjadi bagian dari konteks yang lebih luas ketika membahas penguatan industri teknologi di Indonesia.
Sejumlah perguruan tinggi juga turut mengikuti acara, menambah ragam latar belakang peserta dan undangan. Partisipasi akademisi dapat mempertemukan pembahasan industri dengan pengetahuan, riset, serta pengembangan sumber daya manusia, tanpa mengesampingkan peran pemerintah maupun lembaga lainnya. Meski demikian, informasi yang tersedia tidak merinci jumlah peserta dari setiap kelompok ataupun jumlah undangan secara keseluruhan. Karena itu, cakupan forum paling tepat digambarkan berdasarkan kategori yang disebutkan, bukan dengan memperkirakan proporsi kehadiran. Dengan mencatat sekitar 1.500 pendaftar secara terpisah dari peserta yang hadir, gambaran partisipasi tetap jelas: forum menarik minat luas dan mempertemukan beragam kalangan dari dalam serta luar negeri.
Chief Technology Officer Danantara, Sigit Puji Santosa, menjelaskan bahwa forum ini menjadi ruang untuk membangun kerja sama yang mendukung kebutuhan industri teknologi Indonesia. Sejumlah nota kesepahaman dan kesepakatan direncanakan untuk ditandatangani bersama berbagai pihak, termasuk perusahaan dalam negeri, perusahaan luar negeri, serta perguruan tinggi. Rencana tersebut menunjukkan bahwa penguatan industri tidak hanya bertumpu pada satu jenis mitra, melainkan memerlukan kontribusi dari pelaku usaha dan lingkungan akademik. Kerja sama diharapkan membuka jalur kolaborasi yang lebih terarah, sehingga kompetensi, pengalaman, dan sumber daya yang tersedia dapat dihubungkan dengan tantangan yang dihadapi industri.
Penandatanganan nota kesepahaman dan kesepakatan merupakan langkah awal, bukan akhir dari proses kolaborasi. Tahap berikutnya, menurut Sigit, mencakup pemetaan kebutuhan industri dan pencocokan kebutuhan tersebut dengan kemampuan calon mitra perguruan tinggi. Dengan pendekatan ini, pembahasan kerja sama dapat berangkat dari persoalan nyata yang perlu ditangani, bukan sekadar dari daftar program atau keahlian yang tersedia. Pemetaan juga diperlukan untuk memahami bidang dukungan yang dibutuhkan oleh industri BUMN di bawah Danantara. Setelah kebutuhan tersebut teridentifikasi, pihak terkait dapat menilai kompetensi perguruan tinggi yang relevan dan merancang bentuk dukungan yang sesuai.
Aspek lokasi turut menjadi pertimbangan dalam proses pencocokan. Danantara ingin agar industri BUMN memperoleh dukungan dari perguruan tinggi yang memiliki keahlian sesuai sekaligus berada di lokasi industri tersebut. Kedekatan ini dapat membantu membangun hubungan kerja yang lebih kontekstual dan memudahkan pihak industri serta akademisi memahami kebutuhan satu sama lain. Namun, kecocokan tetap perlu didasarkan pada kapasitas dan keahlian yang relevan, bukan semata-mata jarak. Karena itu, pemetaan diharapkan membantu menghubungkan kebutuhan tiap industri dengan kompetensi perguruan tinggi yang tepat. Langkah lanjutan ini menjadi bagian penting untuk mengubah rencana kerja sama menjadi kolaborasi yang terarah, sesuai kebutuhan, dan berpotensi memberikan dukungan nyata bagi pengembangan industri BUMN.Menurut Sigit, pengembangan industri nasional perlu memiliki arah yang lebih luas daripada sekadar memperbesar sektor padat karya. Sektor tersebut tetap penting bagi penciptaan lapangan kerja dan kegiatan ekonomi, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya pusat perhatian. Forum Danantara menjadi ruang untuk menegaskan perlunya keseimbangan dalam menentukan prioritas pembangunan industri. Di samping industri yang menyerap banyak tenaga kerja, Indonesia juga perlu memberi perhatian terencana kepada industri berbasis teknologi dan inovasi. Penekanan ini menunjukkan bahwa kemajuan industri tidak hanya diukur dari jumlah tenaga kerja yang terlibat, tetapi juga dari kemampuan menghasilkan nilai, pengetahuan, dan daya saing dalam jangka panjang.
Fokus pada teknologi dan inovasi dinilai strategis karena dapat mendorong perubahan struktur industri. Dengan mengembangkan kapasitas untuk menciptakan dan menerapkan gagasan baru, pelaku industri berpeluang meningkatkan produktivitas serta memperkuat posisi produk dan layanan Indonesia. Arah ini juga penting agar pembangunan tidak berhenti pada perluasan kegiatan yang telah berjalan, melainkan membuka ruang bagi pembentukan kemampuan industri yang lebih maju. Karena itu, forum tersebut menempatkan pembahasan prioritas sebagai bagian penting dari upaya membangun ekosistem industri. Perhatian pada riset, pengembangan kemampuan, dan penerapan teknologi dapat menjadi unsur pendukung, tanpa mengabaikan kebutuhan sektor padat karya yang tetap berkontribusi terhadap perekonomian.
Penegasan Sigit bukan berarti meminggirkan industri padat karya, melainkan mendorong pendekatan yang lebih berimbang dalam strategi nasional. Konsentrasi dan prioritas pada industri berbasis teknologi perlu hadir sebagai bagian dari agenda pembangunan, sehingga keputusan investasi dan pengembangan kapasitas dapat mempertimbangkan potensi inovasi. Forum Danantara dapat membantu menyelaraskan pandangan mengenai arah tersebut serta mendorong diskusi yang berorientasi pada kebutuhan industri ke depan. Dengan menempatkan teknologi dan inovasi sebagai perhatian strategis, Indonesia memiliki kesempatan untuk memperkuat fondasi industrinya dan meningkatkan kesiapan menghadapi perubahan.
Baca juga: Asap Masih Mengepul, Satgas Darat Lanud Sjamsudin Noor Perkuat Pembasahan Lahan Gambut | Silaturahmi Lintas Generasi, TNI Perkuat Semangat Pengabdian | Komandan Lanud Sjamsudin Noor Perkuat Sinergi Penanganan Karhutla Kalsel dalam Rapat Evaluasi






