Jakarta | Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai hilirisasi pertambangan memiliki peran penting dalam memperkuat industrialisasi Indonesia. Keberhasilan mengolah sumber daya mineral di dalam negeri dinilai dapat memperluas kapasitas produksi, menciptakan nilai tambah, serta mendorong tumbuhnya industri yang saling terhubung. Dengan demikian, kegiatan tambang tidak hanya menghasilkan bahan mentah untuk dipasarkan, tetapi juga dapat menjadi dasar bagi pengembangan produk dan barang bernilai lebih tinggi. Arah tersebut dipandang relevan untuk memperkuat struktur ekonomi nasional dan meningkatkan kontribusi sektor industri dalam pembangunan. Namun, pencapaian manfaat itu bergantung pada pelaksanaan hilirisasi yang konsisten, kesiapan investasi dan teknologi, serta dukungan infrastruktur dan tenaga kerja terampil.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Tri Winarno menyampaikan bahwa hilirisasi semestinya membantu Indonesia kembali mencapai kejayaan industrialisasi. Pernyataan ini menempatkan pengolahan mineral sebagai bagian dari agenda yang lebih luas, bukan sekadar pembangunan fasilitas pemrosesan di sekitar lokasi tambang. Keberhasilan perlu terlihat pada kemampuan industri domestik untuk menyerap hasil olahan, mengembangkan rantai pasok, dan meningkatkan kegiatan manufaktur. Dengan hubungan yang kuat sektor pertambangan dan industri pengguna, bahan baku lokal berpeluang menopang produksi dalam negeri sekaligus memperkuat daya saing. Karena itu, pengembangan hilirisasi perlu diselaraskan dengan kebutuhan pasar, kebijakan industri, dan kepastian pelaksanaan proyek agar hasilnya memberi dampak nyata bagi perekonomian.
Pandangan tersebut disampaikan Tri dalam acara coffee morning bertajuk “Hilirisasi Melaju, Industri Tambang Makin Kuat?” pada 29 Oktober 2026. Forum itu menjadi ruang untuk membahas hubungan kemajuan pengolahan hasil tambang dan penguatan industri nasional. Pesan yang disampaikan menekankan bahwa kekayaan mineral perlu diolah menjadi fondasi kegiatan ekonomi produktif di dalam negeri. Apabila proses hilirisasi berjalan seiring dengan tumbuhnya industri pengolahan dan manufaktur, Indonesia berpeluang memperoleh manfaat yang lebih luas dari sumber daya alamnya. Dorongan tersebut juga menegaskan pentingnya melihat kinerja sektor tambang melalui kontribusinya terhadap rantai industri, penciptaan nilai tambah, dan penguatan kapasitas produksi nasional.
Tri mengaitkan industrialisasi dengan kemampuan Indonesia memanfaatkan bonus demografi. Menurutnya, negara-negara maju tidak hanya memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar, tetapi juga mengembangkan industri yang dapat menyerap tenaga kerja dan menghasilkan nilai tambah. Keterkaitan tersebut penting: penduduk usia kerja menyediakan tenaga dan keterampilan bagi kegiatan produksi, sedangkan sektor industri membuka kesempatan kerja serta mendorong peningkatan kemampuan pekerja. Dengan dukungan itu, pertumbuhan jumlah tenaga kerja dapat menjadi kekuatan ekonomi, bukan sekadar perubahan komposisi penduduk.
Indonesia diperkirakan mengalami bonus demografi pada 2021–2040, dengan proporsi penduduk usia produktif yang tinggi. Pada 2030, kelompok usia produktif diperkirakan mencapai hampir 70 persen dari jumlah penduduk. Besarnya proporsi ini menawarkan peluang untuk memperluas basis tenaga kerja, meningkatkan produksi, dan memperkuat perekonomian. Namun, peluang tersebut tidak otomatis terwujud hanya karena jumlah penduduk usia kerja bertambah. Mereka perlu memperoleh akses terhadap pekerjaan yang layak, pendidikan dan pelatihan yang sesuai, serta ruang untuk mengembangkan keterampilan di sektor-sektor produktif.
Tri mengingatkan bahwa tanpa dukungan industri yang kuat, pertumbuhan angkatan kerja berisiko tidak diimbangi ketersediaan lapangan pekerjaan. Akibatnya, sebagian penduduk usia produktif dapat menganggur atau bekerja di kegiatan yang tidak mampu memanfaatkan kemampuan mereka secara optimal. Dalam keadaan demikian, bonus demografi justru dapat berubah menjadi beban: kebutuhan akan pekerjaan dan layanan sosial meningkat, sementara kontribusi tenaga kerja terhadap produksi dan pertumbuhan ekonomi tetap terbatas. Karena itu, penguatan industri dipandang sebagai salah satu prasyarat untuk mengubah potensi demografis menjadi manfaat nyata. Pengembangan sektor industri yang menyerap tenaga kerja sekaligus meningkatkan nilai tambah dapat membantu menciptakan pekerjaan, mendukung peningkatan keterampilan, dan memperluas basis ekonomi nasional. Persiapan tersebut juga perlu dilakukan seiring dengan periode bonus demografi, agar besarnya populasi usia kerja berpeluang menjadi modal bagi industrialisasi Indonesia, bukan sumber tekanan akibat kurangnya kesempatan kerja.
Tri menilai hilirisasi penting karena kegiatan pertambangan berlangsung dalam batas waktu tertentu. Usia tambang relatif pendek, sementara cadangan mineral dan bahan tambang yang tersedia jumlahnya terbatas. Ketika cadangan telah habis atau tidak lagi ekonomis untuk ditambang, kegiatan produksi di lokasi tersebut akan berhenti. Karena itu, pengelolaan sumber daya tidak cukup hanya berfokus pada pengambilan dan penjualan bahan mentah. Pemanfaatannya perlu direncanakan agar nilai yang dihasilkan dapat memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat Indonesia.
Melalui hilirisasi, hasil tambang dapat diolah lebih lanjut sebelum dipasarkan. Proses tersebut berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas, memperkuat keterkaitan sektor pertambangan dan industri pengolahan, serta mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi di dalam negeri. Dengan demikian, sumber daya yang sama dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih besar dibandingkan apabila langsung dijual dalam bentuk bahan mentah. Hilirisasi juga dinilai membuka ruang bagi berkembangnya kemampuan industri nasional, termasuk kegiatan produksi dan rantai pasok yang terkait.
Pandangan tersebut bukan berarti sumber daya tambang perlu dieksploitasi tanpa pertimbangan. Justru karena cadangannya terbatas dan masa operasi tambang tidak berlangsung selamanya, pemanfaatan yang tersedia perlu dilakukan secara optimal dan bertanggung jawab. Hilirisasi dipandang sebagai salah satu cara untuk memperoleh hasil yang lebih baik dari industri pertambangan, bukan sebagai upaya menyia-nyiakan kekayaan alam. Manfaatnya diharapkan dapat menjangkau masyarakat melalui penguatan kegiatan ekonomi serta terciptanya nilai tambah di dalam negeri. Dengan pengelolaan yang terencana, hasil tambang dapat mendukung industrialisasi sekaligus memberikan kontribusi yang lebih berarti bagi kemakmuran Indonesia.
Hilirisasi nikel dinilai telah memperlihatkan kemajuan nyata dalam mendorong pengolahan sumber daya alam di dalam negeri. Perkembangan tersebut menjadi bukti bahwa kebijakan yang menghubungkan kegiatan pertambangan dengan pembangunan industri dapat membuka peluang nilai tambah, memperluas kegiatan produksi, dan menciptakan kebutuhan tenaga kerja. Namun, capaian pada nikel belum sepenuhnya tercermin pada komoditas tambang lainnya. Menurut Tri, pengembangan rantai industri untuk sejumlah bahan mineral masih memerlukan pekerjaan lanjutan, mulai dari penyediaan fasilitas pengolahan hingga penguatan industri yang mampu menyerap hasil produksi. Hilirisasi sendiri merupakan salah satu program andalan Presiden Prabowo Subianto, dengan cakupan yang meliputi sektor pertambangan, pertanian, perkebunan, perikanan, dan kelautan. Karena itu, pelaksanaannya dipandang sebagai agenda lintas sektor, bukan semata-mata upaya mengolah hasil tambang.
Bauksit menjadi salah satu contoh tantangan dalam membangun rantai nilai yang lebih lengkap. Rantai pengolahannya belum seluruhnya berkembang sampai menghasilkan alumina, aluminium, dan kemudian produk akhir yang digunakan oleh industri maupun konsumen. Kesenjangan pada setiap tahap dapat membatasi nilai tambah yang tinggal di dalam negeri, sehingga diperlukan investasi, teknologi, kepastian pasokan, serta pasar yang mendukung. Situasi serupa terlihat pada timah. Tri menyebut sekitar 95 persen industri timah masih berorientasi pada ekspor, sedangkan hanya 5 persen yang digunakan untuk konsumsi dalam negeri. Angka tersebut menunjukkan bahwa kapasitas produksi belum diimbangi oleh pemanfaatan domestik yang luas. Penguatan industri pengguna timah menjadi penting agar bahan baku dapat diolah lebih jauh menjadi barang dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Menurut pandangan Tri, pengembangan industri tidak seharusnya berhenti pada pengolahan bahan mentah atau produk . Ketika proses diperluas sampai produk akhir beserta produk turunannya, manfaat ekonomi berpotensi tersebar melalui aktivitas usaha, penciptaan lapangan kerja, peningkatan keterampilan, dan tumbuhnya pemasok lokal.
Baca juga: Diduga Beroperasi Tanpa Hambatan, Tambang Batu Bara Ngepon Tuban Kembali Dipertanyakan






