Bisnis  

IHSG Tersungkur ke Titik Terendah Sejak 2020, Ini Jejak Tekanannya

IHSG Tersungkur ke Titik Terendah Sejak 2020, Ini Jejak Tekanannya

Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi tekanan tajam pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026. Dalam sesi tersebut, indeks sempat melemah lebih dari 10% dan menyentuh 5.193,22. Angka itu merupakan level yang dicapai IHSG dalam perdagangan hari itu, bukan keterangan mengenai posisi penutupan. Penurunan tersebut menempatkan indeks pada titik terendah sejak September 2020, sekaligus menandai besarnya tekanan jual yang terjadi di pasar saham domestik.

Sebelum menyentuh level tersebut, pelemahan IHSG telah melampaui 8%. Kondisi itu memicu penghentian perdagangan sementara melalui mekanisme trading halt, yang diterapkan untuk memberi jeda ketika penurunan pasar berlangsung sangat tajam. Setelah perdagangan dapat kembali berjalan, tekanan masih berlanjut dan indeks sempat turun lebih dalam. Rangkaian pergerakan ini memperlihatkan bahwa trading halt tidak serta-merta menghapus tekanan, meskipun mekanisme tersebut menyediakan jeda dalam aktivitas transaksi.

Berdasarkan data Refinitiv, level 5.193,22 itu mendekati posisi IHSG pada 5.188,61 yang tercatat pada 4 September 2020. Saat itu, pasar berada dalam periode pandemi Covid-19, ketika ketidakpastian besar turut membayangi aktivitas ekonomi dan pergerakan bursa. Perbandingan historis tersebut menunjukkan betapa rendahnya level yang sempat dicapai indeks pada perdagangan 16 Oktober 2026. Namun, kedua angka itu perlu dibedakan dengan cermat: 5.193,22 adalah level yang disentuh IHSG pada perdagangan hari tersebut, sedangkan 5.188,61 merupakan posisi yang tercatat pada tanggal pembanding pada 2020.

Dengan demikian, titik terendah yang tercapai pada Jumat itu memberi gambaran mengenai skala koreksi intrahari, bukan otomatis menjelaskan hasil akhir perdagangan. Pergerakan indeks dapat berubah sepanjang sesi, sehingga level terendah, tingkat penurunan pada suatu waktu, dan posisi penutupan merupakan ukuran yang berbeda. Catatan tersebut penting ketika membaca kabar bahwa IHSG jatuh ke level terendah sejak 2020: yang dimaksud adalah level terendah yang sempat dicapai dalam perdagangan hari itu. Pelemahan lebih dari 8% yang mendahului trading halt dan penurunan yang berlanjut hingga melampaui 10% memperjelas bahwa sesi tersebut berlangsung di tengah tekanan pasar yang luar biasa tajam.

Salah satu faktor yang membayangi tekanan terbaru di pasar saham Indonesia adalah kekhawatiran investor terhadap evaluasi MSCI. Penyedia indeks global tersebut disebut sedang meninjau klasifikasi pasar saham Indonesia, termasuk kemungkinan perubahan status dari emerging market menjadi standalone market. Kemungkinan ini masih berupa risiko yang diperhatikan pelaku pasar, bukan keputusan yang telah berlaku. Karena itu, pembahasan mengenai evaluasi MSCI perlu dipahami sebagai sumber ketidakpastian, bukan sebagai kepastian bahwa Indonesia akan diturunkan statusnya.

Perhatian investor tertuju pada arti klasifikasi tersebut bagi posisi Indonesia dalam indeks saham global. Sejumlah pengelola investasi menggunakan indeks sebagai salah satu acuan untuk menentukan komposisi portofolio dan mengukur kinerja. Jika status pasar berubah, bobot atau keterwakilan saham Indonesia dalam indeks yang menjadi rujukan dapat ikut terdampak, bergantung pada keputusan dan metodologi yang berlaku. Perubahan klasifikasi juga berpotensi memengaruhi pertimbangan investor asing ketika menilai akses, likuiditas, serta daya tarik pasar. Namun, dampak akhirnya belum dapat dipastikan sebelum evaluasi dan keputusan resmi diumumkan.

Kekhawatiran tersebut dapat mendorong sikap lebih berhati-hati, terutama ketika investor memperhitungkan kemungkinan perubahan aliran dana asing. Apabila posisi Indonesia dalam indeks global berubah, sebagian strategi investasi yang mengikuti indeks berpotensi menyesuaikan eksposur. Meski demikian, hal itu tidak serta-merta berarti arus dana pasti keluar atau bahwa seluruh investor akan mengambil langkah yang sama. Tekanan yang berkaitan dengan evaluasi MSCI ini juga perlu dibedakan dari faktor-faktor yang menekan pasar pada periode sebelumnya. Pemicu yang kini disorot adalah ketidakpastian mengenai klasifikasi dan konsekuensinya, sementara penurunan indeks pada masa lalu dapat berkaitan dengan kondisi dan sentimen berbeda. Dengan demikian, evaluasi MSCI menjadi salah satu unsur yang perlu dicermati dalam membaca pelemahan terbaru, tanpa menganggapnya sebagai satu-satunya penyebab atau menyimpulkan perubahan status telah terjadi.

Pada 24 Maret 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh angka 3.911,72. Level tersebut menjadi titik terendah IHSG pada tahun itu, ketika pasar berada dalam kepanikan akibat pandemi Covid-19. Peristiwa ini menandai salah satu tekanan besar yang dialami pasar saham Indonesia dalam rentang waktu yang dibahas. Angka 3.911,72 menjadi patokan penting dalam melihat perjalanan indeks, karena memperlihatkan posisi terendahnya pada 2020 di tengah situasi pandemi yang menimbulkan kepanikan di pasar.

Sesudah mencapai titik tersebut, IHSG menjalani pemulihan secara bertahap. Perjalanan pasar setelah Maret 2020 tidak berlangsung terpisah dari perubahan kondisi global. Pemulihan itu menjadi bagian dari rangkaian waktu sebelum pasar kembali berhadapan dengan ketidakpastian pada 2022. Dengan demikian, pergerakan IHSG dalam periode ini dapat ditelusuri melalui tiga momen utama: titik terendah pada 2020, ketidakpastian global pada 2022, dan tekanan yang kembali tercermin pada 2025.

Pada 2022, pasar kembali menghadapi ketidakpastian seiring perang Rusia-Ukraina dan kenaikan suku bunga global. Kenaikan suku bunga tersebut dilakukan untuk meredam inflasi. Kedua perkembangan itu menjadi latar ketidakpastian pasar pada tahun tersebut. Setelah fase ini, tekanan pasar kembali menjadi perhatian dalam peristiwa yang terjadi beberapa tahun kemudian. Urutan ini menunjukkan bahwa kondisi yang menekan IHSG muncul pada waktu berbeda, dengan latar yang disebutkan untuk masing-masing periode.

Berikutnya, pada 8 April 2025, IHSG mencapai 5.882,61. Pada saat itu, pasar global bergejolak akibat kebijakan tarif impor Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Angka tersebut menjadi titik penting dalam kilas balik tekanan IHSG setelah pandemi dan ketidakpastian pada 2022. Dari 24 Maret 2020 hingga 8 April 2025, rangkaian peristiwa itu memperlihatkan beberapa episode tekanan yang terjadi dalam urutan waktu berbeda: kepanikan pandemi, ketidakpastian seiring perang dan kenaikan suku bunga global, lalu gejolak pasar global terkait kebijakan tarif impor. Setiap tanggal dan angka menggambarkan momen tersendiri dalam perjalanan indeks.

Tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut sepanjang 2026 dan menghasilkan titik terendah baru dalam rentang data yang dibahas. Pada 8 Juni, indeks tercatat menyentuh 5.317,91. Beberapa bulan kemudian, pada 16 Oktober, IHSG kembali melemah hingga mencapai 5.193,22. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa level terendah yang terbentuk pada Juni tidak bertahan sebagai batas bawah pergerakan indeks selama tahun berjalan.

Jika kedua level itu dibandingkan, titik terendah pada Oktober berada 124,69 poin di bawah capaian 8 Juni. Penurunan dari satu titik rendah ke titik rendah berikutnya memberi gambaran bahwa tekanan pasar belum sepenuhnya mereda. Namun, dua catatan tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan pergerakan harian IHSG di tanggal-tanggal itu, ataupun penyebab khusus dari perubahan levelnya. Informasi yang tersedia menekankan pencapaian titik rendah, sehingga penjelasan mengenai faktor lain perlu merujuk pada data dan sumber tambahan.

Berdasarkan data Refinitiv, level 5.193,22 pada 16 Oktober menjadi titik terendah IHSG dalam rentang 2022 hingga Oktober 2026. Dengan demikian, capaian tersebut bukan hanya lebih rendah daripada titik yang tercatat pada Juni 2026, tetapi juga menjadi level terendah pada periode pembanding beberapa tahun tersebut.