IPAL Losari Makassar Olah Limbah, Kapasitas Besar Masih Belum Terpakai Penuh

IPAL Losari Makassar Olah Limbah, Kapasitas Besar Masih Belum Terpakai Penuh

Makassar | Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Losari di Makassar merupakan fasilitas sanitasi terbesar di kawasan timur Indonesia. Namun, volume air limbah yang diolah saat ini masih jauh di bawah kapasitas rancangannya. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan teknis fasilitas belum sepenuhnya dimanfaatkan, meskipun jaringan layanan telah dibangun untuk menyalurkan limbah rumah tangga ke instalasi.

Proyek IPAL Losari bernilai sekitar Rp1,2 triliun. Pembangunannya dimulai pada 2019 dan fasilitas tersebut diresmikan pada 2024. Infrastruktur ini dirancang untuk mendukung pengelolaan air limbah perkotaan secara terpusat, sehingga limbah dapat diolah sebelum airnya dilepas kembali ke lingkungan. Sistem itu juga menjadi bagian dari upaya memperluas layanan sanitasi dan mengurangi pencemaran yang dapat berasal dari pembuangan limbah tanpa pengolahan.

Sejauh ini, IPAL Losari telah terhubung dengan sekitar 14.000 jaringan sanitasi. Jaringan tersebut berperan mengalirkan air limbah dari kawasan layanan menuju instalasi. Fasilitas ini dirancang melayani empat kecamatan dan mampu mengolah hingga 16.000 meter kubik air limbah per hari. Angka kapasitas itu menggambarkan batas kemampuan pengolahan harian berdasarkan rancangan, bukan jumlah yang saat ini benar-benar diproses.

Volume pengolahan yang berlangsung sekarang tercatat sekitar 1.200 meter kubik per hari. Dengan demikian, pemanfaatan fasilitas masih berada di bawah kapasitas maksimum 16.000 meter kubik per hari. Selisih kapasitas dan volume aktual menjadi gambaran penting untuk memahami kondisi layanan IPAL Losari. Keberadaan instalasi berskala besar saja belum otomatis membuat seluruh kapasitasnya terpakai; jumlah sambungan aktif, cakupan jaringan, dan aliran limbah yang masuk turut menentukan volume pengolahan.

Angka-angka tersebut perlu dibaca secara terpisah: 14.000 jaringan sanitasi menunjukkan konektivitas yang telah tersedia, 16.000 meter kubik per hari adalah kapasitas rancangan, sedangkan 1.200 meter kubik per hari merupakan volume yang diolah saat ini. Perbedaan ini menjelaskan bahwa IPAL Losari telah beroperasi, tetapi masih memiliki ruang kapasitas yang belum digunakan secara penuh. Informasi mengenai kapasitas dan pemakaian aktual memberi konteks untuk menilai perkembangan sistem sanitasi Makassar tanpa menyamakan potensi fasilitas dengan capaian pengolahan harian.Direktur Asian Development Bank (ADB) untuk Indonesia, Bobur Alimov, meninjau kelangsungan proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Losari di Makassar pada 21 Oktober 2026. Peninjauan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat perkembangan fasilitas sekaligus membahas peluang pengembangan layanan pengolahan air limbah di kota itu. Dalam pandangannya, IPAL Losari belum beroperasi pada kapasitas penuh. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa fasilitas yang telah dibangun masih memiliki ruang untuk dimanfaatkan lebih luas, seiring bertambahnya sambungan dari warga dan pengguna layanan.

Alimov menyampaikan bahwa penambahan sambungan dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan pemanfaatan kapasitas IPAL Losari. Dengan lebih banyak sambungan yang terhubung, limbah dari kawasan layanan dapat dialirkan untuk diolah melalui fasilitas tersebut. Pernyataan itu menekankan adanya potensi ekspansi, bukan kepastian mengenai jumlah sambungan baru, cakupan wilayah yang akan ditambahkan, ataupun waktu pelaksanaannya. Tidak ada target maupun jadwal perluasan yang disampaikan dalam informasi mengenai peninjauan ini. Karena itu, peluang pengembangan perlu dipahami sebagai ruang yang masih tersedia dan dapat dipertimbangkan, tanpa menganggap bahwa peningkatan layanan telah ditetapkan dalam tahapan atau tenggat tertentu.

Proyek IPAL Losari memperoleh pendanaan khusus dari ADB untuk Makassar sekitar Rp672 miliar dalam bentuk pinjaman. Dukungan pembiayaan tersebut menjadi bagian penting dari pelaksanaan proyek, sementara pemanfaatan fasilitas secara lebih optimal bergantung pula pada tersedianya sambungan ke layanan. Pandangan Alimov menggarisbawahi hubungan kapasitas pengolahan yang tersedia dan perluasan akses warga: kapasitas yang belum terpakai penuh membuka peluang agar lebih banyak sambungan dapat dilayani. Namun, potensi itu tidak berarti kapasitas akan langsung tercapai, sebab perluasan sambungan tetap merupakan aspek pengembangan yang perlu ditindaklanjuti. Peninjauan pada 21 Oktober memberi konteks bagi pembahasan keberlanjutan proyek, dengan fokus pada peluang untuk memperluas pemanfaatan IPAL Losari tanpa menetapkan rincian target atau jadwal yang belum tersedia.

Bobur menekankan bahwa kebutuhan terhadap fasilitas pengolahan air limbah meningkat seiring pertumbuhan kota dan bertambahnya jumlah penduduk. Semakin banyak warga yang tinggal dan beraktivitas di kawasan perkotaan, semakin besar pula volume air limbah yang perlu dikelola dengan baik. Tanpa sarana sanitasi yang memadai, limbah berisiko mencemari lingkungan sekitar dan menimbulkan dampak bagi kesehatan masyarakat. Karena itu, pengolahan air limbah bukan sekadar kebutuhan teknis, melainkan bagian penting dari upaya menjaga kualitas hidup warga.

Menurut Bobur, investasi di bidang sanitasi tidak sepatutnya dipandang hanya sebagai pembangunan infrastruktur. Fasilitas pengolahan limbah juga berhubungan langsung dengan kesehatan masyarakat, perlindungan lingkungan, serta kelayakan huni sebuah kota. Sistem yang dirancang dan dioperasikan dengan baik dapat membantu mengurangi pembuangan limbah yang tidak terkendali, sekaligus mendukung terciptanya lingkungan perkotaan yang lebih bersih. Manfaat tersebut semakin penting ketika tekanan terhadap layanan dasar bertambah akibat urbanisasi dan perkembangan kawasan.

Dalam pandangan tersebut, pembangunan fasilitas sanitasi merupakan investasi jangka panjang bagi kota dan penduduknya. Keberadaan instalasi saja tidak cukup; pengelolaan yang berkelanjutan juga diperlukan agar manfaatnya dapat dirasakan secara konsisten. Perencanaan, operasi, dan pemeliharaan perlu berjalan seiring sehingga kapasitas fasilitas dapat dimanfaatkan secara efektif. Dengan demikian, pengembangan infrastruktur perlu disertai perhatian pada kebutuhan masyarakat dan kondisi lingkungan setempat.

Bobur juga menyampaikan bahwa Asian Development Bank (ADB), sebagai mitra pembangunan, berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan fasilitas pengolahan limbah. Dukungan tersebut mencerminkan pentingnya kerja sama dalam memperkuat layanan sanitasi perkotaan. Ia berharap kota-kota lain di Indonesia dapat memiliki fasilitas serupa, sehingga pengelolaan air limbah semakin baik dan pencemaran dapat dikurangi. Harapan itu menggambarkan manfaat yang diinginkan dari pengembangan sanitasi, bukan pengumuman mengenai program atau target resmi tertentu. Bagi Bobur, perluasan akses terhadap fasilitas yang memadai akan membantu kota merespons pertumbuhan penduduk sekaligus menjaga kesehatan warga dan lingkungan untuk jangka panjang.

IPAL Losari di Makassar merupakan bagian dari Metropolitan Sanitation Management Investment Program (MSMIP), program pengelolaan sanitasi yang didukung Asian Development Bank (ADB). Cakupannya tidak hanya Makassar, tetapi juga meliputi fasilitas sanitasi di Jambi dan Pekanbaru. Pendanaan keseluruhan proyek setara US$301,81 juta. Dari jumlah tersebut, US$79,36 juta berasal dari ADB, US$35,45 juta merupakan pembiayaan bersama ASEAN Infrastructure Fund, dan US$47,65 juta berupa hibah pemerintah Australia. Pemerintah Indonesia memberikan kontribusi sebesar US$139,35 juta. Rincian ini menunjukkan bahwa pembangunan sistem sanitasi terpadu melibatkan pendanaan dari berbagai mitra dan pemerintah.

Ketiga fasilitas pengolahan air limbah yang dibangun di Jambi, Makassar, dan Pekanbaru dirancang dengan kapasitas gabungan 31,7 megaliter per hari. Untuk mendukung pengaliran air limbah menuju fasilitas tersebut, jaringan saluran limbah sepanjang 159,4 kilometer telah terpasang. Namun, kapasitas terpasang dan jaringan yang tersedia belum dengan sendirinya menunjukkan tingkat pemanfaatan penuh. Jumlah sambungan yang tercatat saat ini adalah 1.475 rumah tangga dan 147 properti komersial. Seiring bertambahnya sambungan ke jaringan, sistem ini diperkirakan dapat melayani lebih dari 34.000 rumah tangga serta 10.400 properti komersial. Perluasan sambungan menjadi penting agar investasi infrastruktur dapat menjangkau lebih banyak pengguna.

MSMIP bertujuan memperluas akses masyarakat terhadap pengumpulan dan pengolahan air limbah yang aman sekaligus memperkuat kapasitas kelembagaan untuk memastikan operasi serta.