Jateng Perkuat Stabilitas Harga Pangan melalui Gerakan Pangan Murah

Jateng Perkuat Stabilitas Harga Pangan melalui Gerakan Pangan Murah

Kabupaten Semarang | Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkolaborasi dengan Bank Indonesia Perwakilan Jawa Tengah menggelar Gerakan Pangan Murah sebagai langkah konkret untuk memperkuat stabilitas harga bahan pokok. Kegiatan tersebut berlangsung pada Senin, 12 Oktober, di Kantor Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah. Selain menyediakan komoditas pangan dengan harga terjangkau, agenda ini juga diikuti penyaluran sejumlah bantuan bagi masyarakat dan kelompok yang terdampak oleh dinamika harga pangan.

Gerakan ini menyasar berbagai unsur dalam rantai pangan dan konsumen, termasuk pedagang warung, pelaku usaha katering, petani, serta masyarakat di Kabupaten Semarang dan Kota Semarang. Keterlibatan kelompok tersebut diharapkan dapat memperluas manfaat intervensi, baik bagi pelaku usaha yang membutuhkan pasokan dengan harga kompetitif maupun rumah tangga yang harus memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan mempertemukan penyedia dan pembeli dalam kegiatan yang terkoordinasi, pemerintah berupaya menjaga kelancaran distribusi sekaligus mengurangi tekanan harga di tingkat konsumen.

Kolaborasi Pemprov Jateng dan Bank Indonesia menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan ketersediaan pasokan dan daya beli masyarakat. Intervensi melalui pangan murah diarahkan untuk mengendalikan inflasi, khususnya ketika harga sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan akibat perubahan pasokan, permintaan, atau biaya distribusi. Pemerintah berharap kegiatan tersebut dapat memastikan kebutuhan pangan tetap tersedia dan terjangkau, sekaligus memberikan dukungan kepada petani serta pelaku usaha pangan. Sinergi lintas lembaga juga penting untuk memperkuat pemantauan harga, mempercepat respons terhadap gejolak pasar, dan menjaga stabilitas ekonomi daerah secara berkelanjutan.

Intervensi pangan dilakukan karena harga sejumlah bahan pokok penting mengalami kenaikan. Komoditas yang menjadi perhatian utama ialah cabai merah dan beras, yang pergerakan harganya berpengaruh terhadap kebutuhan masyarakat serta stabilitas harga pangan. Berdasarkan pemantauan, harga cabai merah berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp90 ribu. Kondisi tersebut mendorong pemerintah memperkuat pengendalian melalui Gerakan Pangan Murah sebagai salah satu upaya menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa pengendalian harga membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Pemerintah daerah bekerja bersama Bank Indonesia (BI), Bulog, petani, dan pihak lain dalam pola kolaboratif. Kerja sama tersebut diharapkan mampu menjaga inflasi di Jawa Tengah secara menyeluruh, bukan hanya di Semarang. Dengan demikian, perhatian terhadap harga pangan tidak berhenti pada satu wilayah, tetapi diarahkan pada kondisi di berbagai daerah di Jawa Tengah.

Pengendalian juga dilakukan dari sisi produksi hingga distribusi. Pemerintah menyesuaikan pola tanam petani melalui program Dinas Pertanian dan Peternakan. Penyesuaian ini menjadi respons terhadap kondisi El Nino sekaligus kebutuhan untuk mengendalikan ketersediaan pangan sejak dari hulu. Pola tanam yang disesuaikan diharapkan mendukung pengelolaan produksi sesuai kebutuhan, sementara koordinasi pada tahap distribusi diperlukan agar bahan pangan dapat bergerak secara terarah. Langkah tersebut menempatkan petani, pemerintah, lembaga terkait, dan pelaku distribusi dalam satu rangkaian pengendalian pangan. Melalui pola kolaboratif itu, kenaikan harga cabai merah dan beras ditangani dengan memperhatikan keterkaitan produksi, pasokan, distribusi, dan stabilitas harga.

Antisipasi terhadap dampak kekeringan dilakukan melalui dukungan langsung kepada kelompok tani di Jawa Tengah. Bantuan tersebut diarahkan untuk menjaga kelangsungan kegiatan produksi ketika ketersediaan air berpotensi menurun, sekaligus mempertahankan kemampuan petani dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketersediaan pasokan dan mendukung stabilitas harga pangan.

Bentuk dukungan yang disalurkan mencakup bantuan beras, sarana perpipaan air, serta rumah burung hantu. Bantuan sarana perpipaan air dapat mendukung pengelolaan kebutuhan air di lahan pertanian, khususnya ketika musim kering memengaruhi kegiatan budidaya. Sementara itu, rumah burung hantu diberikan sebagai bagian dari dukungan pengendalian organisme pengganggu tanaman secara alami. Bantuan beras juga menjadi dukungan bagi kelompok tani dalam menghadapi tekanan yang dapat muncul selama periode kekeringan.

Data produksi periode Januari-Oktober 2026 menunjukkan bahwa kapasitas pangan Jawa Tengah tetap perlu dijaga melalui dukungan yang berkelanjutan. Produksi padi diperkirakan mencapai 8,4 juta ton gabah kering giling atau setara dengan 4,9 juta ton beras. Pada komoditas hortikultura, produksi cabai diperkirakan sekitar 404,91 ribu ton, sedangkan produksi bawang merah mencapai 408,76 ribu ton.

Capaian tersebut menjadi gambaran penting bagi ketersediaan pangan di daerah, terutama karena padi, cabai, dan bawang merah merupakan komoditas yang berpengaruh terhadap kebutuhan konsumsi masyarakat. Dukungan kepada kelompok tani melalui beras, perpipaan air, dan rumah burung hantu diarahkan untuk membantu mempertahankan produktivitas serta kesinambungan pasokan. Dengan pasokan yang terjaga, langkah ini turut mendukung pengendalian harga pangan, terutama dalam menghadapi risiko penurunan produksi akibat kekeringan.

Manfaat Gerakan Pangan Murah dirasakan langsung oleh masyarakat yang bergantung pada ketersediaan bahan pokok untuk menjalankan usaha sehari-hari. Salah satunya Joko, pedagang nasi goreng, yang menyatakan bahwa kegiatan tersebut membantu menjaga keberlangsungan usahanya. Menurutnya, kenaikan harga bahan pokok dapat memengaruhi omzet karena biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku menjadi lebih besar, sementara harga jual kepada pelanggan tidak selalu dapat segera dinaikkan.

Joko secara khusus menyebut harga cabai yang tinggi selama dua minggu terakhir. Bahan tersebut menjadi kebutuhan penting untuk membuat sambal yang disajikan bersama nasi goreng. Melalui Gerakan Pangan Murah, ia membeli 3 kilogram cabai dengan harga Rp45 ribu. Harga itu lebih rendah dibandingkan harga pasar terakhir yang mencapai Rp65 ribu. Dalam satu minggu, kebutuhan cabai untuk usahanya sekitar 5 kilogram, sehingga selisih harga pembelian menjadi pertimbangan penting dalam mengatur pengeluaran.

Selain pedagang nasi goreng, pengusaha katering bernama Dari juga memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Ia mendapatkan beras mulai harga Rp11 ribu. Bagi Dari, harga beras dan ayam sangat berpengaruh terhadap biaya operasional usaha katering. Kedua bahan tersebut digunakan dalam jumlah yang cukup besar untuk memenuhi pesanan pelanggan, sehingga perubahan harga dapat memengaruhi perhitungan biaya produksi setiap hari.

Dari mengatakan bahwa ketersediaan bahan pokok dengan harga yang lebih terjangkau membantunya dalam memenuhi kebutuhan usaha. Ia juga merasa khawatir apabila harus menaikkan harga jual makanan karena pelanggan dapat beralih. Oleh karena itu, harga bahan baku menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan harga menu katering. Dengan membeli beras melalui Gerakan Pangan Murah, ia dapat memperoleh bahan pokok untuk kebutuhan usaha dengan harga yang lebih rendah daripada harga pasar yang berlaku.

Baca juga: STAFFEX SGS 2026 Perkuat Kesiapan Operasi Gabungan Melalui AAR | TNI Perkuat Penanganan Karhutla di Kawasan IKN Melalui Darat dan Udara | Tak Hanya Padamkan Api, TNI Perkuat Penanganan Karhutla Melalui Penyuluhan