Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026. Hingga pukul 09.24 WIB, IHSG tercatat di level 5.858,52, turun 77,62 poin atau 1,31% dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level 5.936,15. Pelemahan tersebut menunjukkan tekanan jual yang cukup kuat sejak menit-menit pertama perdagangan.
Pada saat pasar dibuka, IHSG berada di level 5.914,98 atau melemah 0,36% dari penutupan sebelumnya. Setelah pembukaan, indeks sempat bergerak naik dan mencatat level tertinggi di 5.918,29. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama karena pelaku pasar kembali merespons tekanan eksternal dan ketidakpastian yang membayangi pasar saham.
Pergerakan IHSG kemudian berlangsung fluktuatif. Sekitar pukul 09.00 WIB, indeks turun ke area 5.890 sebelum memantul ke kisaran 5.913 pada sekitar pukul 09.03 WIB. Pemantulan itu hanya bersifat sementara. Menjelang pukul 09.10 WIB, IHSG kembali melemah menuju area 5.873, menandakan bahwa tekanan jual masih lebih dominan dibandingkan minat beli pada sesi awal.
Titik terendah harian sementara tercatat di level 5.848,50 sekitar pukul 09.12 WIB. Setelah menyentuh posisi tersebut, indeks bergerak terbatas di kisaran 5.870-5.880. Akan tetapi, menjelang pukul 09.24 WIB, IHSG kembali tertekan ke area 5.850 dan akhirnya berada di level 5.858,52. Pola pergerakan ini mencerminkan volatilitas tinggi serta kehati-hatian investor dalam mengambil posisi di tengah gejolak pasar global dan isu terkait MSCI.
Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia meningkat seiring dengan berlanjutnya pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal sesi. Pada pukul 09.24 WIB, volume transaksi tercatat mencapai 114,94 juta lot, dengan nilai transaksi sebesar Rp2,36 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa kegiatan jual beli saham telah berlangsung cukup aktif tidak lama setelah perdagangan dibuka.
Sebagai perbandingan, pada pukul 09.00 WIB volume transaksi masih berada di level 12,78 juta lot, sementara nilai transaksinya baru mencapai Rp264,6 miliar. Dalam rentang waktu sekitar 24 menit, baik volume maupun nilai transaksi mengalami peningkatan yang signifikan. Perkembangan ini berlangsung ketika IHSG tercatat melemah 1,31%, sehingga tekanan pada indeks berjalan bersamaan dengan bertambahnya aktivitas pasar.
Data tersebut menggambarkan perubahan intensitas perdagangan sejak awal sesi, tanpa secara langsung menunjukkan alasan spesifik di balik setiap transaksi yang terjadi. Peningkatan volume dan nilai transaksi dapat menjadi indikator bahwa partisipasi pelaku pasar semakin besar ketika pergerakan indeks berada di zona negatif. Namun, angka tersebut belum cukup untuk menyimpulkan arah keputusan seluruh investor atau komposisi transaksi pembelian dan penjualan.
Pergerakan ini juga menambah gambaran mengenai kondisi pasar keuangan Indonesia yang masih menghadapi tekanan setelah pelemahan pada perdagangan sebelumnya. Pelaku pasar mencermati perkembangan indeks dan aktivitas transaksi sejak menit-menit awal, terutama ketika penurunan IHSG berlangsung dalam kondisi likuiditas yang meningkat. Dengan demikian, pembukaan perdagangan tidak hanya ditandai oleh penurunan indeks, tetapi juga oleh kenaikan volume serta nilai transaksi secara bertahap sepanjang sesi awal.
Perkembangan konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor eksternal yang dicermati pelaku pasar setelah tekanan terhadap indeks harga saham gabungan pada awal perdagangan. Pada Senin, 12 Oktober 2026, kelompok Houthi di Yaman dilaporkan melancarkan serangan rudal dan drone ke arah Arab Saudi. Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas kawasan, terutama karena Arab Saudi memiliki peran penting dalam rantai pasokan energi global.
Bandara Internasional Riyadh masih ditutup setelah serangan rudal pada Sabtu menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Koalisi pimpinan Arab Saudi juga melaporkan adanya ancaman serangan baru. Dalam laporan tersebut, fasilitas minyak dan infrastruktur penting Saudi disebut sebagai sasaran Houthi. Risiko terhadap aset energi dan jalur distribusi dapat memicu kenaikan harga minyak serta memperbesar volatilitas di pasar keuangan global.
Ketegangan itu berkaitan dengan perang Amerika Serikat dan Iran, sementara Arab Saudi telah terlibat dalam konflik Yaman yang berlangsung di sekitar Selat Bab el-Mandeb. Selat tersebut merupakan jalur strategis bagi pengiriman energi dan perdagangan internasional. Setiap gangguan terhadap keamanan pelayaran berpotensi meningkatkan biaya transportasi, memperpanjang waktu pengiriman, dan menambah tekanan inflasi di berbagai negara.
Iran menawarkan diri sebagai mediator untuk membantu meredakan ketegangan. Di sisi lain, Uni Emirat Arab menyerukan penguatan kerja sama keamanan dan pertahanan di negara-negara Teluk. Upaya diplomatik tersebut menjadi perhatian pasar karena keberhasilannya dapat memengaruhi persepsi risiko geopolitik dan arah harga komoditas energi.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington mempertimbangkan untuk bergabung dengan Arab Saudi dalam menyerang Houthi. Namun, hingga kini belum ada tanda bahwa operasi militer Amerika Serikat telah berlangsung. Ketidakpastian mengenai kemungkinan perluasan konflik membuat investor cenderung berhati-hati dan mengantisipasi dampaknya terhadap pasokan energi global, arus modal, serta kinerja aset berisiko, termasuk saham di pasar Indonesia.
Harga minyak dunia menjadi salah satu sentimen yang memengaruhi dinamika pasar pada awal pekan. Pada perdagangan Senin, 12 Oktober 2026, harga minyak naik hampir US$2 per barel setelah serangan terhadap Arab Saudi memicu kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan. Pergerakan tersebut mencerminkan meningkatnya premi risiko geopolitik di pasar energi, terutama karena Arab Saudi merupakan salah satu produsen minyak utama dunia.
Harga minyak Brent ditutup menguat US$1,93 atau 1,8% menjadi US$106,65 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) naik US$1,89 atau 2% menjadi US$93,74 per barel. Penguatan tersebut tetap terjadi meskipun pasar menerima informasi mengenai tambahan pasokan, termasuk pengumuman peningkatan ekspor diesel Rusia. Kesepakatan gencatan senjata Rusia-Ukraina untuk serangan terhadap infrastruktur energi juga sempat berpotensi meredakan kekhawatiran pasokan. Namun, sentimen yang muncul setelah serangan terhadap Arab Saudi lebih kuat sehingga menutupi pengaruh dari potensi tambahan pasokan tersebut.
Di pasar saham domestik, isu Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih menjadi perhatian. Analis Phintraco Sekuritas, Desy Erawati, menilai terdapat risiko penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market. Perubahan klasifikasi tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap pasar modal Indonesia serta menjadi faktor yang terus dicermati dalam perkembangan IHSG.
Selain risiko perubahan status, pelaku pasar juga memperhatikan prospek pencabutan pembekuan terhadap sejumlah perubahan indeks MSCI. Berdasarkan penilaian Desy Erawati, pencabutan pembekuan itu diproyeksikan berlangsung pada semester II 2027. Perkembangan terkait kebijakan MSCI dan kondisi pasar global menjadi bagian dari sentimen yang masih membayangi pasar saham Indonesia, bersamaan dengan perubahan harga komoditas energi dan dinamika geopolitik.

