Kabut Asap Karhutla Merauke Menyelimuti Mimika, Pemerintah Pusat Diminta Bertindak

Kabut Asap Karhutla Merauke Menyelimuti Mimika, Pemerintah Pusat Diminta Bertindak

Kabupaten Merauke | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di sejumlah wilayah Papua, terutama Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Dampak dari kebakaran tersebut turut dirasakan oleh Kabupaten Mimika karena asap dari wilayah sumber kebakaran terbawa angin dan menyelimuti kawasan itu. Kondisi ini menimbulkan perhatian karena kabut asap tidak hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga mengganggu kenyamanan masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Bupati Mimika Johannes Rettob menyebut Mimika sebagai salah satu daerah yang paling merasakan dampak karhutla tersebut. Menurutnya, kabut asap kiriman telah menutupi sejumlah wilayah Mimika hampir sepekan. Situasi itu dilaporkan semakin parah, sehingga membutuhkan penanganan dan perhatian lebih serius dari pemerintah, terutama karena dampaknya dirasakan langsung oleh warga di daerah yang bukan merupakan lokasi utama kebakaran.

Penegasan penting dalam peristiwa ini adalah kebakaran hutan dan lahan tidak terjadi di Mimika. Titik kebakaran berada di wilayah lain, khususnya Merauke, sementara Mimika terdampak oleh asap yang terbawa dari daerah sumber. Dengan demikian, kondisi udara di Mimika berkaitan dengan karhutla di wilayah Papua Selatan, bukan karena adanya kebakaran besar di wilayah kabupaten tersebut.

Kabut asap yang menyelimuti Mimika hampir sepekan menunjukkan bahwa dampak karhutla dapat meluas melampaui batas administratif daerah asal kebakaran. Ketika asap terus bertahan dan kondisinya semakin memburuk, pemerintah pusat diminta mengambil tindakan untuk memastikan penanganan dilakukan secara terkoordinasi. Langkah tersebut diperlukan agar sumber kebakaran dapat dikendalikan dan dampak asap kiriman terhadap masyarakat Mimika segera dikurangi.

Bupati Mimika Johannes Rettob telah melaporkan kondisi kabut asap yang menyelimuti wilayah Mimika kepada pemerintah pusat di Jakarta. Laporan tersebut disampaikan untuk mendorong perhatian dan tindakan segera terhadap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang asapnya terbawa hingga ke wilayah Mimika. Situasi ini dinilai tidak dapat ditangani hanya melalui upaya lokal, karena sumber persoalan berada di luar wilayah administratif Mimika.

Rettob juga meminta keterlibatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam penanganan keadaan tersebut. Menurutnya, BNPB perlu turun tangan bersama pemerintah pusat agar respons terhadap kabut asap dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi, terutama untuk mengatasi kebakaran di wilayah sumbernya. Permintaan itu sekaligus menjadi penegasan bahwa penanganan dampak asap harus disertai langkah nyata untuk memadamkan api yang masih menjadi penyebab utama.

Dalam keterangannya, Johannes Rettob menyampaikan bahwa situasi tersebut telah dilaporkan kepada pemerintah pusat dan membutuhkan keterlibatan BNPB. Pernyataan itu menegaskan posisi Pemerintah Kabupaten Mimika yang mengharapkan dukungan nasional, mengingat kapasitas daerah memiliki keterbatasan untuk menangani sumber kebakaran yang berada di wilayah lain. Pemerintah daerah menilai langkah utama harus diarahkan ke lokasi kebakaran, bukan hanya mengurangi dampak kabut asap setelah mencapai Mimika.

Penanganan di wilayah sumber mencakup pemantauan titik api, pengerahan personel, penyediaan peralatan pemadaman, serta penguatan koordinasi antarlembaga. Upaya tersebut penting agar kebakaran tidak meluas dan asap tidak terus bergerak menuju permukiman maupun fasilitas publik di Mimika. Pada saat yang sama, pemerintah perlu memastikan perlindungan bagi warga yang terdampak, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan gangguan pernapasan.

Pemerintah pusat diminta mempercepat langkah penanganan karena kabut asap terus memengaruhi kehidupan warga Mimika. Gangguan terhadap kesehatan, aktivitas sehari-hari, pendidikan, dan mobilitas masyarakat berpotensi meningkat apabila kebakaran tidak segera dikendalikan. Karena itu, laporan Bupati Mimika diharapkan segera ditindaklanjuti melalui pengerahan BNPB dan dukungan lintas lembaga untuk memadamkan api serta memulihkan kondisi udara di wilayah terdampak.

Memburuknya kabut asap yang menyelimuti Mimika mendorong Pemerintah Kabupaten Mimika mengambil langkah pencegahan untuk melindungi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok yang beraktivitas di lingkungan sekolah. Salah satu kebijakan yang diterbitkan ialah surat edaran mengenai penghentian sementara kegiatan belajar mengajar pada jenjang pendidikan anak usia dini hingga sekolah dasar.

Kebijakan tersebut menjadi bentuk kehati-hatian pemerintah daerah dalam menghadapi kualitas udara yang menurun akibat sebaran asap karhutla dari wilayah Merauke. Anak usia dini dan siswa sekolah dasar dinilai perlu memperoleh perlindungan melalui pengurangan aktivitas di luar rumah maupun perjalanan menuju sekolah. Peliburan kegiatan pendidikan pada jenjang tersebut juga memberi ruang bagi keluarga untuk membatasi paparan asap selama kondisi belum membaik.

Sementara itu, kegiatan pembelajaran pada jenjang sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan sekolah menengah kejuruan tetap dilaksanakan. Namun, siswa serta tenaga pendidik diwajibkan menggunakan masker selama berada di lingkungan sekolah. Ketentuan ini ditujukan untuk mengurangi paparan partikel asap, sekaligus menjaga agar proses pendidikan tetap berjalan dengan memperhatikan aspek kesehatan.

Selain mengatur kegiatan sekolah, Dinas Kesehatan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mimika turut membagikan masker kepada masyarakat. Pembagian tersebut menjadi bagian dari respons pemerintah daerah untuk membantu warga menghadapi kondisi udara yang tercemar asap. Masyarakat diharapkan menggunakan perlindungan tersebut secara tepat, khususnya ketika harus beraktivitas di luar ruangan.

Di sisi lain, pelayanan di rumah sakit juga ditingkatkan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kabut asap. Penguatan layanan kesehatan menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada pencegahan, tetapi juga menyiapkan dukungan bagi warga yang membutuhkan pemeriksaan atau penanganan medis. Rangkaian kebijakan di sektor pendidikan dan kesehatan itu memperlihatkan upaya terpadu Pemerintah Kabupaten Mimika dalam mengurangi risiko kesehatan masyarakat selama kabut asap masih menyelimuti wilayah tersebut.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Merauke mulai memberi dampak nyata terhadap kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat di Mimika. Menurut Bupati Mimika, kualitas udara di wilayah tersebut semakin memburuk seiring meluasnya paparan asap. Kondisi ini dikhawatirkan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki riwayat penyakit saluran pernapasan.

Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) juga dilaporkan meningkat, dengan anak-anak menjadi kelompok yang paling banyak terdampak. Paparan partikel asap dalam waktu lama dapat menyebabkan batuk, sesak napas, iritasi mata, dan memperburuk kondisi kesehatan tertentu. Situasi tersebut mendorong perlunya pemantauan kualitas udara secara berkala, penyediaan layanan kesehatan yang memadai, serta imbauan agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika konsentrasi asap meningkat.

Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan di sektor kesehatan, tetapi juga mengganggu aktivitas transportasi udara. Operasional penerbangan di Bandara Mozes Kilangin Timika turut terdampak karena jarak pandang menurun. Sejumlah maskapai tidak dapat mendarat, sementara salah satu penerbangan dilaporkan dialihkan ke Jayapura. Pesawat-pesawat berukuran kecil yang biasanya melayani rute menuju dan dari Timika juga mengalami kendala karena ketebalan asap.

Keterangan mengenai kondisi tersebut disampaikan dalam laporan bertanggal Selasa, 13 Oktober 2026. Pada saat yang sama, kutipan narasumber memuat penanda waktu “hari ini Senin”, sehingga informasi waktu tersebut perlu dipahami sesuai konteks sumber dan tidak ditafsirkan lebih jauh. Gangguan penerbangan dapat memengaruhi mobilitas warga, distribusi kebutuhan pokok, serta akses layanan penting, terutama apabila jarak pandang tetap rendah dan kabut asap belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | TNI Bersama Pemerintah Perkuat Penanggulangan Karhutla | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla