Kabupaten Ogan Komering Ilir | Kabut asap kembali menyelimuti Palembang pada Minggu (18/10) pagi, setelah kondisi udara sempat tampak lebih baik dan lapisan asap menipis sehari sebelumnya. Sejak pagi, asap terlihat mengambang di sejumlah kawasan kota dan mengurangi jarak pandang. Perubahan ini membuat warga kembali merasakan dampak kebakaran lahan yang masih terjadi di wilayah Sumatera Selatan. Meski tingkat ketebalan dapat berbeda antarlokasi, kemunculan asap yang kembali jelas menunjukkan gangguan kualitas udara belum sepenuhnya berlalu. Kondisi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran warga yang berharap cuaca dan penanganan kebakaran segera membantu memulihkan keadaan. Di beberapa tempat, aktivitas luar ruang pun mulai terasa kurang nyaman, terutama saat pagi.
Bagi warga, kabut asap bukan sekadar perubahan pemandangan. Asap dapat mengganggu kenyamanan ketika bepergian, bekerja, bersekolah, atau menjalankan kegiatan harian di luar ruangan. Sebagian orang memilih mengurangi aktivitas di luar rumah, sementara pengguna jalan perlu lebih karena pandangan dapat terasa terbatas. Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan gangguan pernapasan, juga perlu memperhatikan paparan asap dan mengikuti anjuran kesehatan setempat. Dampak yang dirasakan tidak selalu sama di setiap kawasan, namun kemunculan asap membuat warga kembali menyesuaikan rutinitas. Situasi ini menegaskan bahwa pemantauan udara dan informasi resmi penting agar masyarakat dapat mengambil langkah pencegahan secara tepat dan tenang.
Salah satu perhatian tertuju pada Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, tempat terdeteksi sebanyak 473 titik panas. Jumlah tersebut menjadi petunjuk adanya aktivitas panas yang perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan lapangan dan pemantauan lebih lanjut. Titik panas merupakan indikasi yang dapat berkaitan dengan kebakaran, tetapi tidak dengan sendirinya memastikan seluruhnya merupakan api aktif atau menjadi sumber asap di Palembang. Meski demikian, kedekatan peristiwa kebakaran lahan di wilayah tersebut membuat OKI diduga menjadi sumber utama kabut asap yang menyelimuti kota. Dugaan ini masih memerlukan verifikasi, termasuk penelusuran arah sebaran asap dan kondisi kebakaran. Otoritas terkait diharapkan terus menyampaikan perkembangan agar warga memahami situasi.
Kepala Seksi Wilayah II Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Didik Suprijono, menyampaikan bahwa 473 titik panas terpantau di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Data tersebut disampaikan saat ia dikonfirmasi pada Minggu (18/10). Dari keseluruhan titik panas yang terdeteksi di wilayah itu, 16 masuk kategori high confidence atau tingkat kepercayaan tinggi. Angka tersebut menjadi bagian penting dari pemantauan kondisi kebakaran hutan dan lahan, terutama ketika kabut asap kembali menyelimuti Palembang. Jumlah titik panas yang terpantau menunjukkan adanya anomali suhu di permukaan, tetapi kategori kepercayaannya perlu diperhatikan sebelum menafsirkan data sebagai indikasi kebakaran aktif.
Didik menjelaskan bahwa kategori high confidence menunjukkan tingkat kepercayaan lebih dari 80 persen bahwa titik yang terpantau merupakan titik api aktif. Dengan demikian, klasifikasi tersebut berbeda dari sekadar anomali panas yang terdeteksi oleh sistem pemantauan. Tingkat keyakinan ini membantu membedakan temuan yang lebih kuat indikasinya dari pembacaan suhu yang belum tentu berkaitan dengan kebakaran. Meski demikian, data satelit tetap merupakan informasi pemantauan yang perlu menjadi dasar kewaspadaan dan tindak lanjut di lapangan. Sebanyak 16 titik dengan kategori tinggi di OKI menandakan lokasi-lokasi yang perlu mendapat perhatian, sementara 457 titik panas lainnya tercatat dalam kategori kepercayaan yang berbeda.
Data akumulatif untuk periode 1–16 Oktober 2026 mencatat 33.425 titik panas di seluruh Provinsi Sumatera Selatan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 20.367 titik berada di OKI. Artinya, lebih dari separuh titik panas yang tercatat di provinsi itu selama periode tersebut terkonsentrasi di kabupaten tersebut. Angka akumulasi ini memberi gambaran skala pemantauan selama lebih dari dua pekan, sedangkan catatan 473 titik merupakan hasil pantauan yang disampaikan untuk kondisi terkini pada Minggu (18/10). Kedua jenis data itu menggambarkan periode yang berbeda sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai angka yang sama. Informasi jumlah dan tingkat kepercayaan titik panas menjadi rujukan untuk memahami sebaran indikasi kebakaran serta menilai perkembangan situasi asap di wilayah Sumatera Selatan.
Kabut asap yang kembali menyelimuti Palembang dirasakan langsung oleh warga yang berolahraga di kawasan Stadion Jakabaring. Saat beraktivitas di luar ruangan, sejumlah warga mengeluhkan mata terasa perih dan napas menjadi sesak. Kondisi udara yang berkabut juga membuat jarak pandang terbatas, sehingga lingkungan sekitar terlihat kurang jelas. Situasi tersebut mengganggu kenyamanan warga yang datang untuk bergerak dan menjaga kebugaran, terutama ketika asap terasa semakin tebal.
Arinita mengatakan, kondisi asap sempat tampak membaik ketika cuaca terlihat cerah selama satu hingga dua hari. Namun, menurutnya, kabut asap kembali menebal setelah periode tersebut. Perubahan itu membuat warga kembali merasakan dampak saat berada di luar rumah. Keluhan seperti mata perih dan sesak napas menjadi perhatian, terlebih bagi orang yang melakukan aktivitas fisik di kawasan terbuka. Ia berharap situasi udara dapat segera membaik agar masyarakat bisa beraktivitas dengan lebih aman dan nyaman.
Arinita juga meminta agar penanganan kabut asap ditingkatkan. Ia menyampaikan kekhawatiran terhadap anak-anak yang menjalani pembelajaran daring di rumah, serta warga yang sedang sakit infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Menurutnya, asap yang kembali tebal dapat menambah kekhawatiran keluarga dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Anak-anak dan warga yang kondisi kesehatannya rentan perlu mendapat perhatian, sementara masyarakat berharap langkah penanganan dapat mengurangi paparan asap di lingkungan mereka.
Keluhan warga tersebut menggambarkan bagaimana kabut asap tidak hanya mengganggu aktivitas olahraga, tetapi juga memengaruhi rasa aman masyarakat dalam menjalani rutinitas. Medi turut menyampaikan pandangannya mengenai upaya penanganan. Ia menilai kegiatan penyemaian awan menggunakan dry ice perlu ditambah. Pernyataan itu merupakan pendapat Medi, bukan keterangan resmi mengenai pelaksanaan operasi ataupun jumlah kegiatan yang telah dilakukan. Warga berharap berbagai upaya penanganan dapat diperkuat seiring asap yang kembali dirasakan, sehingga kualitas udara dan jarak pandang dapat membaik serta aktivitas masyarakat tidak terus terganggu.
Kabut asap kembali menyelimuti sejumlah kawasan di Palembang, termasuk beberapa ruas jalan yang dilaporkan memiliki jarak pandang terbatas. Asap terasa menyengat dan mengganggu aktivitas warga, terutama pada pagi hari. Kondisi serupa terlihat di kawasan Perumahan Albarian, Kecamatan Gandus. Di wilayah tersebut, asap tampak cukup pekat dan membuat warga harus lebih berhati-hati saat beraktivitas di luar rumah maupun berkendara.
Yana, warga yang keluar rumah untuk berjualan, mengeluhkan tebalnya asap yang menyelimuti lingkungan tempat tinggalnya. Ia mengatakan asap terasa sangat pekat ketika dirinya mulai beraktivitas. Selain mengganggu pandangan, paparan asap juga membuat matanya terasa perih dan napasnya sesak. Keluhan itu menunjukkan bahwa kondisi udara tidak hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga dapat mengganggu kenyamanan warga yang beraktivitas di luar ruangan.
Yudi, warga lainnya, menyebut jarak pandang di wilayahnya sekitar 100 meter. Jarak yang terbatas tersebut membuat objek di depan terlihat kurang jelas, sehingga pengguna jalan perlu meningkatkan kewaspadaan. Pengendara sebaiknya mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, serta menggunakan lampu kendaraan sesuai kebutuhan. Warga yang merasakan gangguan akibat asap juga dapat membatasi kegiatan di luar ruangan dan mengurangi paparan langsung.
Pemantauan di kawasan Gandus pada Minggu dini hari hingga pagi mencatat indeks kualitas udara atau AQI sebesar 163, yang masuk kategori tidak sehat.
Baca juga: Ringankan Beban Warga Terdampak Kemarau, Kodim Bojonegoro Kembali Pasok 64.000 Liter Air Bersih ke 4 Kecamatan | Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Setetes Kepedulian Ditengah Kemarau, Lanud Sjamsudin Noor Kembali Hadir Salurkan Air Bersih Untuk Warga






