Kebakaran Melanda Peternakan di Banyuwangi, Puluhan Ribu Ayam dan Peralatan Hangus

Kebakaran Melanda Peternakan di Banyuwangi, Puluhan Ribu Ayam dan Peralatan Hangus

Kabupaten Banyuwangi | Kebakaran hebat melanda peternakan ayam milik Wibi Yogasta, 33 tahun, di Dusun Jatirejo, Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, pada Minggu, 11 Oktober 2026. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 03.30 WIB, ketika suasana di kawasan itu masih gelap dan sebagian besar warga sedang beristirahat. Api dengan cepat membesar dan melalap bangunan utama peternakan.

Bangunan peternakan yang memiliki ukuran sekitar 45 x 25 meter itu tidak dapat diselamatkan. Kobaran api menghanguskan seluruh bagian bangunan hingga tersisa puing dan rata dengan tanah. Besarnya api membuat proses penanganan berlangsung dalam kondisi sulit, terutama karena kebakaran terjadi pada dini hari dan api telah menjalar ke berbagai bagian bangunan sebelum diketahui serta ditangani.

Kobaran tersebut juga merambat ke dua bangunan kandang ayam yang berada di sisi barat dan timur peternakan. Api yang menyebar di bangunan membuat kawasan sekitar dipenuhi kepulan asap tebal. Asap itu terlihat dari sejumlah titik di sekitar lokasi dan menjadi tanda bahwa kebakaran berlangsung cukup besar. Warga di sekitar peternakan turut dikejutkan oleh cahaya api serta kepulan asap yang membubung pada waktu kejadian.

Peternakan itu menjadi lokasi utama aktivitas pemeliharaan ayam milik Wibi Yogasta. Selain bangunan dan kandang, kebakaran juga mengancam berbagai perlengkapan yang digunakan untuk mendukung kegiatan peternakan. Kondisi lokasi setelah api melanda memperlihatkan besarnya dampak yang ditimbulkan, dengan bangunan utama terbakar habis dan bagian kandang di kedua sisi ikut terdampak. Peristiwa ini menjadi perhatian warga Dusun Jatirejo karena berlangsung cepat serta menimbulkan kerusakan luas di area peternakan.

Kebakaran di area peternakan tersebut pertama kali diketahui oleh tiga pekerja yang berada di lokasi saat api mulai membakar bagian bangunan kandang. Ketiganya melihat adanya kobaran api yang muncul di salah satu bagian bangunan, kemudian berusaha melakukan penanganan awal untuk mencegah api menjalar. Mereka mencoba mengendalikan sumber api dengan sarana yang tersedia di sekitar lokasi, sembari mengamati kondisi kandang dan memastikan keselamatan para pekerja.

Namun, upaya awal itu tidak berlangsung lama. Api dengan cepat membesar dan menghasilkan kobaran yang semakin sulit dikendalikan. Situasi tersebut membuat para pekerja panik sehingga mereka meminta bantuan untuk menghadapi kebakaran. Informasi mengenai kejadian itu kemudian disampaikan kepada pemilik kandang. Pemberitahuan tersebut dilakukan agar penanganan dapat segera diperluas dan bantuan tambahan bisa didatangkan ke lokasi.

Suara permintaan bantuan serta kepanikan di sekitar peternakan kemudian menarik perhatian warga. Sejumlah warga berdatangan untuk membantu pekerja menahan perambatan api. Mereka menggunakan peralatan seadanya yang tersedia di lingkungan sekitar, termasuk perlengkapan untuk menyiram dan memindahkan barang yang masih dapat diselamatkan. Selain berupaya memadamkan bagian yang terbakar, warga juga membantu menjaga area sekitar agar api tidak menjalar ke bangunan atau fasilitas lain.

Meski pekerja dan warga telah melakukan berbagai tindakan awal, usaha tersebut belum mampu menghentikan kobaran api. Api terus membakar dua bangunan kandang yang berada di area peternakan. Besarnya kobaran dan cepatnya perambatan api membuat penanganan secara manual tidak cukup untuk menguasai keadaan. Para pekerja dan warga tetap berusaha memberikan bantuan dari sisi yang memungkinkan, sambil menunggu penanganan lebih lanjut agar kebakaran tidak meluas ke kawasan di sekitarnya.

Kebakaran yang melanda area peternakan di Banyuwangi dilaporkan kepada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Banyuwangi sekitar pukul 04.15 WIB. Laporan tersebut menjadi dasar bagi petugas untuk segera menuju lokasi dan melakukan penanganan terhadap kobaran api yang masih membakar sejumlah bagian bangunan peternakan, kandang, serta peralatan di dalamnya.

Setibanya di lokasi, petugas Damkarmat Banyuwangi langsung melakukan pemadaman dengan menyemprotkan air secara bertahap dan terarah. Penyemprotan difokuskan pada titik-titik yang masih terbakar agar api tidak meluas ke bagian lain dan proses penanganan dapat berlangsung lebih efektif. Petugas juga menyesuaikan arah semprotan dengan kondisi bangunan serta area terdampak, mengingat terdapat material dan perlengkapan peternakan yang berpotensi menyimpan panas.

Upaya tersebut dilakukan secara berkelanjutan hingga kobaran api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 06.30 WIB. Setelah api dinyatakan padam, petugas tidak langsung meninggalkan lokasi. Mereka melanjutkan proses pendinginan dengan menyiram bagian-bagian yang masih mengeluarkan asap atau diduga menyimpan panas. Tahap ini penting untuk menurunkan suhu material yang terbakar dan mengurangi risiko munculnya kembali api.

Selain pendinginan, petugas melakukan penyisiran di seluruh area terdampak. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan tidak ada bara, titik panas, maupun sumber api lain yang masih tersisa di dalam kandang, bangunan, dan area sekitar peternakan. Kasi Evakuasi dan Penyelamatan Damkarmat Banyuwangi, Salam Bikwanto, mengatakan pemeriksaan mendalam dilakukan sebagai langkah antisipasi agar api tidak menyala kembali setelah proses pemadaman selesai. Dengan penyisiran tersebut, petugas dapat memastikan kondisi lokasi benar-benar aman sebelum penanganan dinyatakan tuntas dan area diserahkan untuk proses pemeriksaan lebih lanjut.

Hasil asesmen awal menunjukkan kebakaran diduga bermula dari gangguan pada mesin pemanas DOC (day old chick) yang sedang beroperasi di dalam kandang. Peralatan tersebut digunakan untuk menjaga suhu anak ayam berusia sekitar satu hingga dua hari agar tetap sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan mereka. Gangguan itu diduga berkaitan dengan korsleting listrik pada mesin oven atau pemanas, sehingga memicu munculnya api di sekitar perangkat.

Api yang berasal dari area mesin pemanas kemudian diduga menyambar material yang berada di sekitarnya. Proses perambatan berlangsung cepat karena dinding kandang terbuat dari bambu, bahan yang mudah terbakar dan mempercepat penyebaran api. Kondisi tersebut diperparah oleh keberadaan bangunan gudang serta rumah singgah di sekitar kandang yang juga menggunakan material kayu dan bambu. Dalam waktu singkat, kobaran api meluas ke sejumlah bagian bangunan dan menghanguskan berbagai perlengkapan peternakan.

Petugas masih melakukan pendataan serta pemeriksaan untuk memastikan penyebab kebakaran secara lebih menyeluruh. Namun, dugaan sementara mengarah pada gangguan kelistrikan di mesin pemanas yang digunakan untuk anak ayam. Peristiwa ini menimbulkan kerugian besar bagi pengelola peternakan. Sebanyak 28 ribu ekor ayam dilaporkan mati terpanggang dalam kejadian tersebut. Selain itu, sejumlah peralatan penting, seperti jenset, mesin DOC, dan blower, ikut terbakar. Persediaan pakan ayam sebanyak 10 ton juga tidak dapat diselamatkan. Berdasarkan pendataan awal, nilai kerugian akibat kebakaran ditaksir mencapai sekitar Rp2,5 miliar. Besarnya dampak tersebut mencakup kehilangan ternak, kerusakan bangunan, peralatan operasional, serta persediaan pakan yang terbakar.