Kemdiktisaintek Dorong Perguruan Tinggi Menghasilkan Riset yang Menjawab Kebutuhan Nyata

Kemdiktisaintek Dorong Perguruan Tinggi Menghasilkan Riset yang Menjawab Kebutuhan Nyata

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong perguruan tinggi mengubah cara merancang penelitian. Riset tidak lagi cukup disusun berdasarkan minat keilmuan atau bidang prioritas yang bersifat umum, tetapi perlu berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, dunia usaha, pemerintah, dan lingkungan. Arah kebijakan ini menempatkan relevansi sebagai unsur penting dalam seluruh proses penelitian, mulai dari perumusan pertanyaan, pemilihan metode, hingga pemanfaatan hasil.

Pendekatan tersebut merupakan bagian dari transformasi riset yang menekankan pathway to impact. Konsep ini menuntut adanya kejelasan jalur kegiatan penelitian dan dampak yang diharapkan, baik dalam bentuk kebijakan, inovasi, layanan publik, peningkatan produktivitas, maupun penguatan perekonomian. Dengan demikian, keberhasilan riset tidak hanya diukur melalui publikasi atau capaian akademik, melainkan juga melalui sejauh mana pengetahuan yang dihasilkan dapat diterapkan dan memberikan manfaat terukur.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menekankan pentingnya memahami sumber persoalan sebelum penelitian dimulai. Peneliti perlu mengetahui siapa yang mengalami masalah, faktor apa yang menyebabkannya, serta konteks yang memengaruhi munculnya persoalan tersebut. Pemahaman itu menjadi dasar untuk menentukan fokus riset dan mencegah penelitian menghasilkan solusi yang tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Pergeseran orientasi ini mendorong kampus membangun hubungan yang lebih erat dengan berbagai pemangku kepentingan. Identifikasi kebutuhan dapat dilakukan melalui dialog dengan masyarakat, industri, pemerintah daerah, maupun lembaga terkait. Dari proses tersebut, perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan penelitian yang memiliki peluang penerapan lebih besar, sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap penyelesaian masalah sosial dan ekonomi. Riset berbasis persoalan konkret juga membuka ruang kolaborasi lintas disiplin karena persoalan di lapangan umumnya tidak dapat diselesaikan oleh satu bidang ilmu saja.

Perguruan tinggi perlu membuka ruang yang lebih luas bagi industri, pemerintah daerah, dan investor untuk menyampaikan persoalan yang membutuhkan jawaban berbasis riset. Sumber masalah penelitian tidak semestinya hanya ditentukan dari perspektif internal kampus, karena kebutuhan nyata sering kali muncul dari pengalaman para pemangku kepentingan yang berhadapan langsung dengan tantangan di lapangan. Industri memahami tuntutan produksi dan pasar, pemerintah daerah mengenali persoalan pelayanan publik serta potensi wilayah, sedangkan investor dapat memberikan pandangan mengenai kelayakan usaha dan keberlanjutan pembiayaan.

Selama ini, sebagian hasil teknologi dan inovasi perguruan tinggi belum mudah masuk ke pasar. Salah satu penyebabnya adalah kualitas produk yang belum konsisten atau belum memenuhi standar pengguna. Di sisi lain, harga yang ditawarkan sering kali belum sebanding dengan kemampuan dan kebutuhan calon pengguna. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penelitian tidak cukup berhenti pada pembuktian konsep atau pengembangan prototipe di laboratorium. Sejak tahap awal, peneliti perlu memahami spesifikasi, kapasitas produksi, biaya, standar mutu, serta model pemanfaatan yang diperlukan oleh mitra.

Kolaborasi dengan pihak di luar kampus dapat membantu memastikan bahwa agenda riset memiliki tujuan yang relevan dan peluang penerapan yang lebih besar. Kerja sama tersebut juga perlu melibatkan berbagai disiplin ilmu, sebab persoalan pembangunan umumnya tidak dapat diselesaikan oleh satu bidang pengetahuan. Perancang teknologi, ahli sosial, ekonom, dan praktisi dapat bersama-sama menilai dampak, efisiensi, penerimaan pengguna, serta prospek pengembangan suatu inovasi.

Sebagai contoh, upaya meningkatkan produktivitas lahan pertanian dapat memadukan keahlian agronomi untuk menentukan kebutuhan tanaman, teknologi drone untuk memantau kondisi lahan, dan kecerdasan buatan untuk mengolah data secara cepat. Informasi itu dapat digunakan untuk mengatur irigasi, pemupukan, maupun pengendalian hama secara lebih tepat. Dengan melibatkan petani, pemerintah daerah, penyedia teknologi, dan calon investor sejak awal, solusi yang dihasilkan berpeluang lebih sesuai dengan kondisi lapangan, terjangkau, dan siap diadopsi.

Pemerintah melalui Kemdiktisaintek mendorong transformasi penelitian perguruan tinggi dengan menyediakan dua jalur pendanaan yang memiliki sasaran berbeda. Kedua skema tersebut dirancang untuk memperluas kesempatan menghasilkan riset bermutu, sekaligus memastikan hasil penelitian mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat, dunia usaha, dan pembangunan nasional. Pendekatan ini penting agar penguatan ekosistem riset tidak hanya berpusat pada perguruan tinggi yang telah memiliki kapasitas besar.

Jalur pertama merupakan program riset prioritas yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Skema ini ditujukan untuk membantu pemerataan mutu penelitian di berbagai perguruan tinggi, termasuk institusi yang sedang mengembangkan fasilitas, kompetensi peneliti, dan tata kelola risetnya. Besaran dukungan diperkirakan berada pada kisaran Rp50 juta hingga Rp500 juta per tahun, bergantung pada rancangan, kebutuhan, serta tingkat kesiapan penelitian. Secara keseluruhan, alokasi anggaran riset kampus melalui APBN berada pada kisaran Rp3 triliun hingga Rp3,5 triliun.

Dengan dukungan tersebut, perguruan tinggi diharapkan dapat mengembangkan penelitian prioritas secara lebih terarah dan berkelanjutan. Pendanaan tidak hanya berfungsi sebagai bantuan operasional, tetapi juga sebagai instrumen untuk memperkuat kolaborasi, meningkatkan kualitas metodologi, serta menghasilkan luaran yang dapat dimanfaatkan. Pemerataan akses terhadap sumber dana menjadi bagian penting dalam mengurangi kesenjangan kapasitas penelitian antarperguruan tinggi di berbagai daerah.

Jalur kedua adalah program riset strategis yang didukung pendanaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Program ini diperuntukkan bagi perguruan tinggi yang memiliki fasilitas, rekam jejak, serta pengalaman penelitian yang lebih matang. Dukungan pendanaannya dapat mencapai sekitar Rp2 miliar per tahun, sehingga memungkinkan pelaksanaan riset berskala lebih besar dan kompleks. Penerima skema strategis diharapkan tidak berhenti pada pencapaian akademik, melainkan turut menyelesaikan persoalan prioritas dan mendukung visi strategis nasional. Melalui pembagian skema tersebut, pemerintah berupaya menyesuaikan dukungan dengan kapasitas institusi tanpa mengurangi orientasi pada dampak penelitian.

Pembagian skema pendanaan mencerminkan upaya Kemdiktisaintek untuk menyesuaikan dukungan dengan perbedaan kapasitas penelitian antarperguruan tinggi. Setiap institusi memiliki tingkat kesiapan, pengalaman, sumber daya, dan kemampuan pengelolaan riset yang tidak selalu sama. Karena itu, dukungan pendanaan diarahkan agar dapat menjangkau kebutuhan yang beragam, sekaligus memberi ruang bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan kekuatan masing-masing secara bertahap. Pendekatan ini diharapkan membuat pelaksanaan penelitian menjadi lebih terarah dan membuka peluang bagi lebih banyak institusi untuk meningkatkan kapasitasnya.

Perubahan arah kebijakan tersebut juga menegaskan pentingnya riset yang memiliki keterkaitan dengan kebutuhan nyata. Publikasi ilmiah tetap menjadi bagian dari pengembangan pengetahuan, tetapi keberhasilan penelitian tidak berhenti pada jumlah karya yang diterbitkan. Hasil riset perlu memiliki relevansi bagi industri dan pembangunan nasional, serta dapat membantu menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian, penelitian didorong untuk menghasilkan pengetahuan sekaligus solusi yang dapat diterapkan, dikembangkan, dan memberi manfaat dalam konteks yang lebih luas.

Melalui penyesuaian pendanaan dan orientasi yang lebih kuat pada dampak, Kemdiktisaintek berharap perguruan tinggi semakin mampu menghubungkan kegiatan akademik dengan kebutuhan industri, masyarakat, dan pembangunan nasional. Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya berperan sebagai penghasil publikasi ilmiah, tetapi juga sebagai pusat pengembangan inovasi yang melahirkan solusi relevan. Penguatan peran tersebut dapat mendukung terbentuknya simpul pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia, dengan riset sebagai dasar bagi pengembangan gagasan, teknologi, dan pemecahan masalah yang dapat diterapkan.