Kisah di Balik Kepedulian dan Pengabdian Prabowo yang Dibagikan Dirgาชuza

Kisah di Balik Kepedulian dan Pengabdian Prabowo yang Dibagikan Dirgาชuza

Jakarta | Bertepatan dengan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto yang ke-75 pada 17 Oktober 2026, Dirgayuza Setiawan membagikan catatan tentang sisi pribadi dan pengabdian sang presiden. Dalam unggahan di media sosial pribadinya, ia menuturkan pengamatan mengenai Prabowo, termasuk sikap diam, tangis, dan perhatian yang menurutnya memperlihatkan kepedulian di balik sosok pemimpin tersebut.

Dirgayuza saat ini menjabat sebagai asisten khusus presiden bidang komunikasi dan analisis kebijakan. Ia mengatakan telah mengenal Prabowo sejak ulang tahun ke-55 presiden. Rentang waktu itu memberinya kesempatan untuk mengamati bagaimana pribadi seseorang tampak tidak hanya dari pernyataan yang disampaikan di hadapan publik, tetapi juga dari hal-hal yang diperhatikan dan pengalaman yang meninggalkan kesan.

Dalam catatannya, Dirgayuza mengajak pembaca memahami seseorang melalui beberapa petunjuk: apa yang membuatnya memberi perhatian, kisah apa yang mengubah nada suaranya, serta tulisan yang ia tinggalkan mengenai pemikiran dan perjuangan. Cara pandang tersebut menjadi landasan bagi kisah yang dibagikannya tentang Prabowo. Bagi Dirgayuza, detail-detail itu dapat membantu menggambarkan kepedulian dan nilai yang melekat pada seseorang, melampaui citra yang terlihat dalam kegiatan resmi.

Ia juga menyinggung momen ketika Prabowo terdiam atau menangis. Sikap semacam itu disampaikan sebagai bagian dari kisah tentang manusia di balik jabatan presiden, bukan sekadar potongan peristiwa yang berdiri sendiri. Unggahan tersebut menempatkan emosi, perhatian, dan pengabdian sebagai unsur yang saling berkaitan dalam memahami perjalanan Prabowo.

Pada usia 75 tahun, catatan Dirgayuza menghadirkan refleksi personal tentang sosok yang telah lama ia kenal. Melalui kisah tersebut, ia membagikan cara mengamati Prabowo dari hal-hal yang dianggap penting baginya, cerita yang menyentuh perasaannya, serta tulisan tentang gagasan dan perjuangan. Unggahan itu menjadi kesempatan bagi pembaca untuk melihat bagaimana seorang rekan kerja menggambarkan sisi kepedulian dan pengabdian presiden berdasarkan pengamatannya sendiri.

Dalam cerita yang disampaikan Dirgayuza, sosok Naila menjadi gambaran nyata tentang anak-anak yang belum memperoleh akses pendidikan memadai. Naila berasal dari Palembang dan tinggal di sebuah gubuk di tepi sungai. Kisahnya sampai kepada Prabowo melalui foto yang ditampilkan Menteri Sosial dalam sebuah paparan. Setelah melihat foto tersebut, Prabowo terdiam. Momen itu, menurut Dirgayuza, menunjukkan bahwa persoalan pendidikan bukan sekadar angka atau rencana, melainkan menyangkut kehidupan anak-anak yang membutuhkan kesempatan untuk belajar.

Dari pertemuan dengan kisah Naila, Prabowo menyampaikan gagasan agar anak seperti dirinya dapat memperoleh tempat di sekolah berasrama. Dirgayuza menuturkan bahwa wajah Naila kemudian terus dibawa Prabowo ke berbagai rapat. Tujuannya agar para peserta rapat tidak melupakan siapa yang hendak dijangkau oleh pembangunan sekolah. Dengan mengingat wajah dan keadaan Naila, pembahasan mengenai fasilitas, kebijakan, dan pelaksanaan program tetap terhubung dengan kebutuhan anak yang menjadi sasaran.

Kisah tersebut memberi konteks bagi pembukaan serentak 182 Sekolah Rakyat di berbagai daerah yang dijadwalkan pada 17 Oktober 2026. Peresmian dan gelar griya sekolah-sekolah itu menandai perluasan upaya menyediakan pendidikan berasrama. Pada waktu yang sama, kegiatan serupa juga berlangsung melalui Sekolah Garuda dan Sekolah Garuda Transformasi. Ketiga program tersebut ditempatkan sebagai prioritas pemerintah di bidang pendidikan, dengan pendekatan dan kelompok sasaran yang berbeda.

Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga pada desil 1, yakni kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah dalam pengelompokan yang digunakan pemerintah. Sementara itu, Sekolah Garuda berfokus pada anak-anak berprestasi. Perbedaan sasaran ini mencerminkan upaya memperluas kesempatan melalui jalur yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Cerita Naila mengingatkan bahwa akses pendidikan berasrama dapat menjadi dukungan penting bagi anak yang menghadapi keterbatasan, sedangkan pengembangan sekolah unggulan juga membuka ruang bagi potensi dan prestasi. Keduanya menjadi bagian dari agenda pendidikan yang hendak menjangkau lebih banyak anak di berbagai daerah.Dalam kisah yang dibagikan Dirgayuza, sisi emosional Prabowo terlihat ketika ia mendengar pengalaman seorang mahasiswi Universitas Pertahanan. Mahasiswi itu bercerita bahwa keluarganya dahulu bahkan tidak berani membayangkan dirinya dapat menjadi dokter. Keadaan ekonomi dan terbatasnya kesempatan membuat cita-cita tersebut terasa jauh, seolah bukan sesuatu yang mungkin diraih. Namun, beasiswa membuka jalan baginya untuk melanjutkan pendidikan dan mendekati impiannya. Menurut Dirgayuza, cerita seperti itu menyentuh hati Prabowo karena menunjukkan bagaimana dukungan dapat mengubah arah hidup seseorang. Air mata Prabowo, dalam penuturannya, mencerminkan kepekaan terhadap perjuangan yang sering tidak terlihat oleh orang lain. Baginya, keberhasilan mahasiswi itu bukan hanya pencapaian pribadi, melainkan juga bukti bahwa kesempatan yang tepat dapat membantu seseorang melampaui keadaan yang semula membatasi masa depannya.

Dirgayuza menggambarkan bahwa Prabowo tergerak ketika mendengar kisah orang yang nyaris kehilangan kesempatan, lalu akhirnya memperoleh jalan untuk berkembang. Perhatian itu, menurutnya, tidak berhenti pada cerita pendidikan. Ia juga menyinggung kebiasaan Prabowo memeriksa makanan yang disediakan bagi para prajurit. Tindakan tersebut dipandang sebagai bentuk kepedulian yang praktis: memastikan orang-orang yang bertugas mendapat perhatian terhadap kebutuhan sehari-hari mereka. Dalam cerita itu, perhatian kecil memiliki arti karena menunjukkan bahwa kesejahteraan prajurit tidak semestinya dianggap hal sepele. Sikap tersebut juga memperlihatkan cara Prabowo menempatkan hubungan antarmanusia sebagai bagian dari pengabdian. Kepedulian, sebagaimana diceritakan Dirgayuza, tampak melalui tindakan langsung, bukan hanya melalui ucapan atau janji.

Contoh lain yang disampaikan Dirgayuza adalah pengiriman tunjangan hari raya kepada mantan staf serta keluarga prajurit yang gugur. Bantuan itu mengingatkan bahwa hubungan dengan orang-orang yang pernah bekerja dan berjuang bersama tidak berakhir ketika tugas mereka selesai, atau ketika mereka telah tiada. Bagi keluarga yang ditinggalkan, perhatian semacam itu dapat menjadi pengakuan atas pengorbanan sekaligus dukungan di tengah kehilangan. Dirgayuza menekankan makna untuk tidak melupakan mereka yang pernah berjuang bersama. Pesan tersebut menghubungkan kisah mahasiswi, perhatian kepada prajurit, dan bantuan kepada keluarga: kepedulian berarti mengenali perjuangan orang lain dan tetap hadir ketika mereka membutuhkan dukungan. Melalui rangkaian cerita itu, ia menunjukkan sisi emosional Prabowo sebagai pribadi yang, menurutnya, mudah tersentuh oleh keteguhan, kesempatan, dan pengabdian sesama.

Dirgayuza juga mengungkap alasan yang mendorong Prabowo menggunakan sisa hidupnya untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Dalam cerita yang dibagikannya, Prabowo pernah menyampaikan bahwa ia telah 14 kali berpapasan dengan maut. Pengalaman itu, menurut kisah tersebut, membentuk cara Prabowo memandang keselamatan yang diterimanya. Ia memaknai setiap kesempatan untuk tetap hidup sebagai pemberian sekaligus kesempatan dari Tuhan. Kesempatan itu kemudian dikaitkan dengan pilihan untuk terus berbakti kepada Indonesia, bukan semata-mata menjalani kehidupan untuk kepentingan pribadi. Cerita Dirgayuza menempatkan pengalaman tersebut sebagai bagian dari alasan di balik tekad pengabdian Prabowo.

Makna keselamatan itu juga dapat dibaca bersama perjalanan hidup Prabowo yang tercatat dalam biografinya. Prabowo lahir di Jakarta pada 17 Oktober 1951. Ia merupakan anak ketiga dari pasangan Soemitro Djojohadikusumo dan Dora Marie Sigar. Dalam perjalanan berikutnya, ia mengawali pengabdian kepada negara sebagai prajurit. Latar belakang dan pengalaman tersebut menjadi bagian dari kisah hidup yang menyertai pengabdiannya di ruang publik. Paparan Dirgayuza mengenai pengalaman berpapasan dengan maut menghadirkan sisi personal dari perjalanan itu, sementara riwayat biografinya memberikan konteks mengenai awal pengabdian Prabowo kepada negara. Kedua hal tersebut disampaikan sebagai bagian dari cerita tentang alasan dan perjalanan pengabdian.

Perjalanan Prabowo di pemerintahan berlanjut hingga ia.

Baca juga: Setetes Kepedulian Ditengah Kemarau, Lanud Sjamsudin Noor Kembali Hadir Salurkan Air Bersih Untuk Warga | Tanamkan Kepedulian Sejak Dini, Pelajar Antusias Terima Materi Karhutla dari Tim Penyuluh | Dankodiklat TNI Resmikan Renovasi SDN 12 Martapura, Wujud Nyata Kepedulian Lewat Super Garuda Shield 2026