Tangerang | Untuk pertama kalinya, Goldsboro Books menghadirkan koleksi buku bertanda tangan dan edisi khusus bagi masyarakat Indonesia. Pilihannya mencakup signed first edition, edisi eksklusif, koleksi collectible limited, serta berbagai edisi terbatas yang umumnya diburu para pembaca dan kolektor. Kehadiran koleksi ini menjadi salah satu penawaran istimewa dalam perayaan satu dekade Big Bad Wolf Books di Indonesia. Dengan demikian, pengunjung tidak hanya dapat menemukan buku untuk dibaca, tetapi juga memperoleh edisi bernilai koleksi yang memiliki karakter dan keistimewaan tersendiri.
Country Director Big Bad Wolf Books Indonesia, Marthius Wandi Budianto, menyampaikan bahwa Goldsboro Books merupakan toko buku independen asal London yang dikenal luas karena koleksi buku edisi pertama dan buku bertanda tangan. Menurut Marthius, buku-buku yang ditempatkan di bagian Goldsboro Books dicetak secara khusus, termasuk dengan detail sprayed edges atau sisi halaman yang diberi warna dan desain tertentu. Sejumlah buku dalam koleksi tersebut juga ditandatangani langsung oleh penulisnya. Perpaduan proses produksi khusus dan tanda tangan penulis membuat setiap edisi terasa berbeda dari cetakan reguler yang tersedia di pasaran.
Marthius menjelaskan bahwa koleksi seperti ini biasanya perlu dibeli langsung di London. Kini, pengunjung Big Bad Wolf Books dapat menjumpai pilihan edisi kolektor tersebut di Indonesia, tanpa harus bepergian ke luar negeri untuk mencarinya. Ia juga menyebut harga yang ditawarkan masih terjangkau, meskipun koleksinya memiliki unsur eksklusif dan jumlah terbatas. Kehadiran Goldsboro Books membuka kesempatan bagi pembaca lokal untuk melihat lebih dekat buku-buku yang biasanya dikenal melalui pasar koleksi internasional. Bagi penggemar sastra, pencinta buku bertanda tangan, maupun kolektor edisi khusus, bagian ini menjadi salah satu daya tarik penting dalam perayaan Big Bad Wolf Books tahun ini.
Di area Goldsboro Books, sejumlah edisi Harry Potter bertanda tangan menjadi bagian dari koleksi yang dipamerkan dan ditawarkan kepada pengunjung. Beberapa judul dari rangkaian karya J.K. Rowling tercantum dengan harga yang berbeda, termasuk satu edisi yang nilainya mencapai Rp497 juta. Informasi pada koleksi tersebut menyebutkan judul, tahun terbit, tanda tangan, serta harga penawaran. Rincian ini memperlihatkan bahwa pengunjung dapat menjumpai beberapa buku Harry Potter dalam format koleksi, bukan hanya edisi yang biasa dijumpai di toko buku.
Harga tertinggi di judul yang disebutkan adalah untuk Harry Potter and the Cursed Child Parts One and Two. Buku terbitan 2016 tersebut ditawarkan dengan harga Rp497 juta. Edisi ini ditandatangani J.K. Rowling dan para produsernya. Judul tersebut merupakan naskah drama yang melanjutkan kisah dunia Harry Potter, dan versi yang dipamerkan tercatat memiliki tanda tangan dari sejumlah pihak yang terlibat. Harga serta keterangan tanda tangannya menjadi informasi utama yang menyertai penawaran buku ini di area Goldsboro Books.
Judul lain yang tersedia adalah Harry Potter and the Goblet of Fire, dengan tanda tangan J.K. Rowling. Buku ini ditawarkan seharga Rp266 juta. Sementara itu, Harry Potter and the Chamber of Secrets tercantum dengan harga Rp150 juta. Ketiga judul tersebut menunjukkan variasi harga pada koleksi yang dipamerkan, tetapi informasi yang tersedia tidak menjelaskan alasan di balik perbedaan nilai penawarannya. Karena itu, angka-angka tersebut dapat disampaikan sebagai harga yang tercantum, tanpa mengaitkannya dengan faktor tertentu. Bagi penggemar dan kolektor, daftar ini memberikan gambaran konkret tentang beberapa buku Harry Potter bertanda tangan yang hadir di Indonesia melalui area Goldsboro Books. Setiap keterangan judul dan harga merujuk pada penawaran masing-masing edisi di lokasi pameran, sehingga dapat menjadi acuan untuk mengenali koleksi yang tersedia selama acara berlangsung.Selain koleksi Harry Potter yang menjadi perhatian karena harganya mencapai Rp497 juta, daftar buku bertanda tangan yang dibicarakan juga mencakup karya dari penulis lain. Dua judul yang disebutkan ialah The Kite Runner karya Khaled Hosseini dan Go Set a Watchman karya Harper Lee. Keduanya ditawarkan dengan harga berbeda, sehingga memperlihatkan variasi nilai yang tercantum dalam koleksi tersebut. Informasi yang tersedia menyebutkan judul, nama penulis, harga, serta satu keterangan khusus mengenai buku Harper Lee.
Novel The Kite Runner karya Khaled Hosseini dibanderol Rp21 juta. Harga tersebut menempatkannya sebagai salah satu buku kolektor yang tercantum dalam daftar, dengan nominal yang jauh di bawah angka untuk koleksi Harry Potter. Penyebutan judul dan penulisnya memberi gambaran bahwa daftar ini tidak hanya berisi satu seri atau satu jenis karya. Namun, keterangan yang dicantumkan tentang buku Hosseini terbatas pada harga dan identitas karyanya. Karena itu, tidak ada informasi tambahan mengenai kondisi buku, jumlah yang tersedia, ataupun pertimbangan yang mendasari penetapan harga tersebut.
Judul lain dalam daftar adalah Go Set a Watchman karya Harper Lee, yang ditawarkan seharga Rp84 juta. Buku tersebut disebut telah ditandatangani oleh penulisnya. Ada pula keterangan bahwa pinggiran kertas buku Harper Lee itu berasal dari emas, sebuah detail yang secara khusus membedakannya dari informasi yang disebutkan untuk The Kite Runner. Harga Rp84 juta menjadikan buku ini memiliki nilai penawaran lebih tinggi daripada novel Hosseini dalam daftar yang sama. Uraian mengenai karya Lee tetap dapat dibatasi pada fakta-fakta tersebut: judul dan penulis, tanda tangan Harper Lee, harga yang ditawarkan, serta material emas pada pinggiran kertasnya. Tidak ada keterangan lain yang perlu diasumsikan untuk menjelaskan nilai koleksi itu.
Perjalanan Goldsboro Books berangkat dari kecintaan terhadap buku, terutama edisi pertama bertanda tangan dan karya penerbitan istimewa. David Headley, co-founder sekaligus managing director Goldsboro Books, menjelaskan bahwa selama 27 tahun, pihaknya mengembangkan koleksi dengan fokus tersebut. Pernyataan itu menggambarkan bagaimana minat pada buku-buku pilihan menjadi dasar bagi identitas toko dan koleksi yang ditawarkannya.
Dalam keterangannya, Headley mengaitkan perjalanan Goldsboro dengan toko yang berada di Cecil Court. Dari sana, Goldsboro Books dikenal melalui perhatian pada edisi pertama yang ditandatangani penulis serta terbitan khusus. Koleksi semacam ini memiliki daya tarik bagi pembaca yang ingin memiliki buku dengan karakter berbeda dari edisi biasa, termasuk bagi mereka yang melihat buku sebagai barang bernilai koleksi. Setiap judul dapat membawa aspek cerita, penerbitan, maupun tanda tangan yang membuatnya istimewa.
Kini, bagian Goldsboro Books hadir di ajang Big Bad Wolf Books di ICE BSD City, Tangerang. Kehadiran tersebut mempertemukan koleksi yang dikembangkan Goldsboro dengan pengunjung pameran buku di Indonesia. Bagi pembaca lokal, kesempatan ini membuka akses untuk melihat pilihan edisi koleksi secara langsung, sekaligus mengenal pendekatan Goldsboro terhadap buku bertanda tangan dan penerbitan istimewa. Kehadiran itu juga membawa kisah perjalanan toko dari Cecil Court ke ruang pameran yang dikunjungi pembaca dengan beragam minat.
Meski konteksnya berbeda, gagasan yang disampaikan Headley tetap menjadi benang merah: koleksi tumbuh dari kecintaan pada buku. Pengembangan selama 27 tahun menunjukkan bahwa Goldsboro Books membangun perhatian pada edisi pertama bertanda tangan dan karya pilihan secara berkelanjutan. Hal tersebut memberi latar bagi keberadaan bagian Goldsboro di Big Bad Wolf Books, bukan sekadar sebagai tempat menampilkan judul-judul koleksi, melainkan juga sebagai pengenalan terhadap tradisi dan minat yang membentuknya.
Marthius menyampaikan keterangannya saat diwawancarai di lokasi Big Bad Wolf Books, ICE BSD City, Tangerang, pada Rabu, 28 Oktober 2026.






