Jakarta | Angga Putra Pratama, Wasekjen Bidang Hukum, Pertahanan dan Keamanan PB HMI, berpandangan bahwa konser Andrea Bocelli perlu dibicarakan secara terbuka. Menurutnya, pembahasan tidak seharusnya berhenti pada penyelenggaraan atau sisi hiburan semata, tetapi juga mencakup makna yang lebih luas bagi masyarakat dan kepentingan Indonesia. Ruang dialog yang terbuka dapat membantu publik memahami berbagai sudut pandang, termasuk peluang yang muncul serta hal-hal yang patut dipertimbangkan dalam menyikapi acara berskala internasional.
Ia melihat konser tersebut berpotensi menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat diplomasi budaya. Kehadiran seniman dengan jangkauan global dapat membuka perhatian terhadap keragaman budaya Indonesia dan memberi ruang bagi interaksi lintas negara. Dalam pandangan ini, pertunjukan musik bukan hanya pengalaman artistik, melainkan juga sarana membangun hubungan, memperkenalkan identitas, dan mendorong pertukaran gagasan secara lebih luas. Potensi itu, menurutnya, perlu dibicarakan dengan mempertimbangkan konteks sosial serta aspirasi masyarakat.
Selain aspek diplomasi, Angga menilai momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan industri kreatif di dalam negeri. Kegiatan pertunjukan dapat melibatkan berbagai pelaku, mulai dari pekerja seni hingga unsur produksi dan layanan pendukung. Jika dikelola dengan baik, kolaborasi semacam ini berpeluang memperluas pengalaman profesional, meningkatkan kapasitas, dan mempertemukan pelaku lokal dengan jejaring internasional. Karena itu, diskusi terbuka dapat membantu mengidentifikasi cara agar manfaat kegiatan tidak terbatas pada satu acara, tetapi turut mendukung ekosistem kreatif yang lebih luas.
Ia juga menyoroti kemungkinan terbukanya kolaborasi internasional sebagai salah satu nilai yang dapat dibahas. Kerja sama lintas negara dapat mempertemukan gagasan, keahlian, dan kesempatan baru, sekaligus memperkuat hubungan melalui jalur kebudayaan. Namun, peluang tersebut memerlukan perencanaan dan komunikasi yang cermat agar tujuan, pelaksanaan, serta dampaknya dipahami dengan jelas. Angga menyampaikan pandangan itu dalam keterangan di Jakarta pada Kamis. Pernyataan tersebut menekankan pentingnya menjadikan konser sebagai bahan dialog yang konstruktif, sehingga berbagai peluang budaya dan kreatif dapat ditelaah secara terbuka oleh para pihak terkait.
Angga menilai dukungan terhadap penyelenggaraan konser Andrea Bocelli tidak semestinya dibaca sebagai sikap yang mengabaikan penderitaan warga Palestina. Apresiasi terhadap sebuah pertunjukan dan kepedulian pada krisis kemanusiaan berada dalam ranah yang berbeda, sehingga keduanya dapat berjalan beriringan. Menurutnya, kehadiran konser tidak menghapus perhatian publik terhadap kekerasan, kehilangan, dan kebutuhan mendesak masyarakat sipil. Membingkai pilihan seolah-olah harus mendukung satu hal dengan menolak hal lain justru berisiko menyederhanakan persoalan dan mempersempit ruang diskusi yang diperlukan.
Angga juga menegaskan bahwa solidaritas Indonesia terhadap Palestina bukan sekadar ekspresi sesaat atau respons terhadap perdebatan mengenai suatu acara. Dukungan tersebut merupakan komitmen moral dan politik yang berakar pada prinsip kemerdekaan, keadilan, serta penolakan terhadap penjajahan sebagaimana tercermin dalam konstitusi. Karena itu, ia memandang solidaritas bagi rakyat Palestina sebagai harga mati. Komitmen tersebut perlu terus diwujudkan melalui sikap dan langkah yang konsisten, termasuk menyuarakan perlindungan warga sipil dan mendorong penyelesaian yang menghormati hak serta martabat manusia.
Di saat yang sama, Angga mengajak masyarakat dan pemangku kepentingan membahas isu kemanusiaan, diplomasi budaya, dan pengembangan industri kreatif secara jernih serta proporsional. Perdebatan publik akan lebih bermanfaat apabila bertumpu pada informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, tidak mencampuradukkan tujuan yang berbeda, dan memberi ruang bagi penilaian kritis. Pemerintah maupun penyelenggara perlu menjelaskan kebijakan secara terbuka, menetapkan batas dan tanggung jawab dengan jelas, serta memastikan pelaksanaan kegiatan berlangsung secara bertanggung jawab. Konser dapat menjadi bagian dari pertukaran budaya, sementara dukungan kemanusiaan tetap dijaga sebagai agenda tersendiri. Tidak satu pun kepentingan perlu dijadikan alasan untuk menutup ruang bagi kepentingan lainnya. Dengan pendekatan semacam itu, publik dapat mengkritisi keputusan terkait acara tanpa menanggalkan solidaritas, sekaligus mendukung kegiatan budaya tanpa menganggap bahwa kritik kemanusiaan telah selesai. Dialog yang terukur memungkinkan berbagai nilai hadir bersama, dengan perhatian pada dampak nyata bagi masyarakat, penghormatan terhadap prinsip konstitusional, dan tata kelola yang akuntabel.
Angga menilai manfaat konser internasional seperti pertunjukan Andrea Bocelli tidak semestinya diukur hanya dari jumlah tiket yang terjual atau aktivitas yang berlangsung di atas panggung. Sebuah acara berskala besar dapat menggerakkan rantai usaha yang lebih luas, sejak persiapan hingga para penonton meninggalkan kota penyelenggara. Kebutuhan akomodasi, mobilitas, konsumsi, produksi, dan layanan pendukung membuka peluang bagi berbagai sektor untuk terlibat. Karena itu, konser dapat menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sekaligus memperkenalkan potensi destinasi kepada pengunjung dari luar daerah maupun mancanegara.
Perhotelan, transportasi, restoran, penyedia kuliner lokal, dan pelaku pariwisata dapat memperoleh permintaan tambahan ketika kru, penampil, serta penonton datang. Di sisi produksi, penyelenggaraan membutuhkan jasa tata panggung, pencahayaan, tata suara, peralatan, logistik, dan tenaga teknis. Pekerja kreatif juga berkontribusi melalui desain, dokumentasi, komunikasi, hingga pengelolaan acara. Sementara itu, UMKM dapat menawarkan makanan, produk, kerajinan, atau layanan lain yang relevan bagi pengunjung. Keterlibatan beragam pelaku tersebut menunjukkan bahwa dampak ekonomi potensial konser melampaui transaksi di lokasi pertunjukan.
Namun, peluang itu tidak muncul secara otomatis hanya karena acara menghadirkan nama internasional. Angga menekankan pentingnya pengelolaan yang baik, perencanaan matang, dan koordinasi promotor, pemerintah, penyedia jasa, serta komunitas usaha setempat. Informasi peluang kerja dan pengadaan perlu disampaikan secara terbuka agar pelaku lokal dapat mempersiapkan diri dan bersaing secara wajar. Akses terhadap lokasi usaha, standar layanan, pembayaran yang jelas, serta kemitraan yang setara juga menentukan apakah manfaat dapat tersebar, bukan terkonsentrasi pada sejumlah pihak.
Ekosistem pendukung yang inklusif membantu menghubungkan kebutuhan produksi dengan kapasitas usaha lokal. Pelatihan, pendampingan, dan komunikasi sejak awal dapat meningkatkan kesiapan penyedia jasa, termasuk UMKM yang belum terbiasa melayani acara berskala besar. Setelah konser, evaluasi mengenai keterlibatan tenaga kerja, belanja lokal, dan pengalaman pengunjung dapat menjadi dasar perbaikan. Dengan demikian, konser internasional berpotensi meninggalkan manfaat yang lebih nyata bagi rantai usaha kreatif dan pariwisata, selama peluangnya dikelola secara terencana dan dapat diakses oleh masyarakat setempat.
Shoemaker Live menyatakan konser Andrea Bocelli dalam rangkaian Romanza 30th Anniversary World Tour Indonesia tetap direncanakan berlangsung sesuai jadwal. Promotor menyebut dua lokasi penyelenggaraan, yakni kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, pada 31 Oktober 2026, serta JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 3 November 2026. Informasi jadwal tersebut disampaikan sebagai bagian dari rencana tur yang akan menghadirkan penyanyi tenor asal Italia itu di Indonesia.
Menurut Shoemaker Live, keputusan untuk meneruskan persiapan konser diambil setelah pihaknya mendengarkan, berdialog, dan menerima masukan dari berbagai pihak. Pernyataan promotor itu menempatkan komunikasi sebagai bagian dari proses yang mendahului konfirmasi bahwa acara tetap berjalan. Namun, keterangan yang disampaikan tidak merinci pihak-pihak yang terlibat dalam dialog, isi setiap masukan, maupun tanggapan khusus atas pandangan yang diterima. Karena itu, informasi mengenai proses tersebut perlu dipahami sesuai batas keterangan yang diberikan promotor.
Dalam mempertimbangkan penyelenggaraan, Shoemaker Live juga menyebut aspek strategis nasional, terutama pariwisata, kebudayaan, dan ekonomi kreatif. Ketiga bidang tersebut menjadi pertimbangan yang dinyatakan promotor dalam menjelaskan rencana konser. Lokasi Borobudur dan Jakarta disebut dalam jadwal acara, tetapi tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai dampak yang diperkirakan terhadap masing-masing sektor. Promotor juga tidak menguraikan ukuran atau bentuk pertimbangan yang digunakan dalam menetapkan bahwa persiapan tetap berjalan.
Dengan demikian informasi yang tersedia dari Shoemaker.





