Jakarta | Lelang Surat Utang Negara (SUN) yang diselenggarakan pada 27 Oktober 2026 mencatat total penawaran investor sebesar Rp31.093.600.000.000. Penawaran tersebut berasal dari sembilan seri SUN yang ditawarkan pemerintah dalam satu rangkaian lelang. Nilai yang masuk melampaui target indikatif penerbitan yang ditetapkan sebesar Rp30 triliun, dengan selisih sekitar Rp1,09 triliun.
Dari keseluruhan penawaran yang diterima, pemerintah menetapkan nilai yang dimenangkan sebesar Rp20.650.000.000.000. Dengan demikian, nilai tersebut berada di bawah total minat yang disampaikan investor maupun target indikatif lelang. Angka penawaran, target, dan hasil yang dimenangkan menjadi pokok data dalam pelaksanaan lelang SUN kali ini.
Sembilan seri yang ditawarkan memberikan pilihan instrumen kepada investor pada lelang tersebut. Secara agregat, minat yang tercermin dalam penawaran masuk mencapai lebih dari Rp31 triliun. Sementara itu, keputusan pemerintah menetapkan nilai dimenangkan sebesar Rp20,65 triliun menunjukkan jumlah SUN yang berhasil dialokasikan melalui lelang pada tanggal tersebut. Data ini menggambarkan perbedaan total permintaan yang diajukan peserta dan nilai penerbitan yang ditetapkan pemerintah.
Target indikatif Rp30 triliun berfungsi sebagai acuan jumlah penerbitan yang disampaikan sebelum lelang berlangsung. Realisasi nilai yang dimenangkan tidak sama dengan keseluruhan penawaran, karena keduanya mengukur hal yang berbeda: penawaran mencatat minat peserta, sedangkan nilai dimenangkan menunjukkan alokasi hasil lelang. Untuk lelang 27 Oktober 2026, selisih penawaran dan nilai yang dimenangkan mencapai Rp10.443.600.000.000. Nilai dimenangkan juga lebih rendah Rp9,35 triliun dibandingkan target indikatif.
Rangkaian angka tersebut merangkum hasil lelang sembilan seri SUN: penawaran sebesar Rp31.093.600.000.000, target indikatif Rp30 triliun, serta nilai yang dimenangkan Rp20.650.000.000.000. Penyajian angka secara terpisah membantu membedakan besarnya permintaan investor dari jumlah yang ditetapkan pemerintah sebagai hasil lelang. Informasi ini menjadi catatan utama mengenai aktivitas penerbitan SUN pada 27 Oktober 2026.
Lelang Surat Utang Negara (SUN) pada 27 Oktober mencakup sembilan seri yang ditawarkan melalui sistem lelang Bank Indonesia. Seri-seri tersebut terbagi dalam dua kelompok berdasarkan status penerbitannya, yaitu penerbitan baru dan penerbitan ulang. Rincian ini menunjukkan bahwa penawaran dalam lelang tidak hanya terdiri atas seri yang baru diterbitkan, tetapi juga seri yang kembali ditawarkan. Setiap kode seri perlu diperhatikan agar komposisi lelang dapat dibaca dengan tepat, terutama ketika membedakan dua seri penerbitan baru dari tujuh seri penerbitan ulang.
Dua seri yang ditawarkan sebagai penerbitan baru adalah SPN01261128 dan SPN03270127. Keduanya merupakan bagian dari sembilan seri dalam lelang, dengan status yang berbeda dari seri-seri lainnya. Sementara itu, tujuh seri berstatus penerbitan ulang, yaitu SPN12271014, FR0110, FR0111, FR0112, FR0107, FR0102, dan FR0105. Dengan demikian, pembagian seri pada lelang 27 Oktober mencakup dua penerbitan baru serta tujuh penerbitan ulang. Penyebutan kode secara lengkap membantu menghindari kekeliruan dalam mengidentifikasi surat utang yang ditawarkan.
Seluruh seri tersebut masuk dalam penawaran lelang SUN yang dilaksanakan melalui sistem lelang Bank Indonesia. Informasi mengenai jumlah seri dan status penerbitannya memberi gambaran mengenai cakupan instrumen yang tersedia dalam lelang, tanpa mengubah angka hasil penawaran maupun nilai yang dimenangkan pemerintah. Dalam pemberitaan lelang ini, SPN01261128 dan SPN03270127 harus dicatat sebagai penerbitan baru, sedangkan SPN12271014, FR0110, FR0111, FR0112, FR0107, FR0102, dan FR0105 dicatat sebagai penerbitan ulang. Pembedaan tersebut menyajikan struktur penawaran secara jelas dan konsisten dengan rincian seri yang diumumkan.
Di seri Surat Utang Negara (SUN) yang ditawarkan dalam lelang pada 27 Oktober, FR0110 menjadi seri dengan penawaran nominal tertinggi. Investor mengajukan penawaran sebesar Rp8,85 triliun untuk obligasi ini. FR0110 memiliki tanggal jatuh tempo pada 15 Mei 2032. Besarnya minat tersebut menempatkan seri ini di posisi teratas berdasarkan jumlah penawaran, bukan berdasarkan nilai yang akhirnya dimenangkan pemerintah. Perbedaan penawaran masuk dan hasil yang dimenangkan penting diperhatikan saat membaca hasil lelang, sebab keduanya menggambarkan sisi yang berbeda dari transaksi.
Di urutan berikutnya, SPN12271014 menerima penawaran sebesar Rp6,86 triliun. Seri surat perbendaharaan negara ini jatuh tempo pada 14 Oktober 2027. Sementara itu, FR0111 membukukan penawaran Rp6,15 triliun dan memiliki jatuh tempo pada 15 Maret 2037. Dengan demikian, nominal penawaran untuk ketiga seri tersebut secara berurutan adalah Rp8,85 triliun untuk FR0110, Rp6,86 triliun untuk SPN12271014, dan Rp6,15 triliun untuk FR0111. Masing-masing angka merujuk pada minat yang diajukan investor terhadap seri terkait.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa FR0110 menarik penawaran terbesar di tiga seri dengan nominal tertinggi yang disebutkan. Namun, nilai penawaran saja tidak menjelaskan seluruh hasil lelang. Pemerintah dalam lelang tersebut memenangkan total Rp20,65 triliun dari keseluruhan penawaran yang masuk sebesar Rp31,09 triliun. Angka total tersebut mencakup berbagai seri, sehingga tidak tepat menyamakan penawaran FR0110, SPN12271014, atau FR0111 dengan nilai yang dimenangkan pada masing-masing seri tanpa rincian tambahan. Tanggal jatuh tempo juga membedakan karakter waktu investasi: SPN12271014 jatuh tempo lebih awal pada 2027, diikuti FR0110 pada 2032, dan FR0111 pada 2037. Investor dapat membandingkan nominal minat, tenor, serta informasi imbal hasil yang tersedia untuk menilai respons pasar. Berdasarkan data penawaran nominal, posisi FR0110 tetap paling menonjol, sementara dua seri lainnya berada di bawahnya sesuai besaran yang tercatat.
Bid to cover ratio menunjukkan perbandingan nilai penawaran yang diajukan peserta lelang dan nilai yang dimenangkan pemerintah. Rasio ini dinyatakan dalam bentuk angka pengali: nilai penawaran dibagi nilai yang dimenangkan. Dengan demikian, ukuran tersebut menggambarkan berapa kali jumlah penawaran yang masuk dibandingkan dengan jumlah yang akhirnya ditetapkan pemerintah untuk dimenangkan pada seri surat utang terkait.
Dalam lelang Surat Utang Negara pada 27 Oktober, pemerintah menerima penawaran sebesar Rp31,09 triliun dan memenangkan Rp20,65 triliun. Angka total tersebut menjadi gambaran umum hasil lelang, sedangkan bid to cover ratio yang dilaporkan untuk masing-masing seri memperbandingkan penawaran dan nilai dimenangkan pada seri yang bersangkutan. Karena itu, rasio antarseri dapat berbeda, mengikuti nilai penawaran masuk dan nilai yang dimenangkan untuk tiap seri.
FR0107 mencatat bid to cover ratio tertinggi di seri yang disebutkan, yakni sebesar 5,95. Artinya, berdasarkan ukuran perbandingan tersebut, nilai penawaran yang masuk untuk FR0107 setara dengan 5,95 kali nilai yang dimenangkan pemerintah pada seri itu. Penyebutan rasio ini merujuk pada perbandingan nominal penawaran terhadap nominal yang dimenangkan, bukan pada perubahan harga atau tingkat imbal hasil surat utang. Angka rasio menyajikan ukuran numerik untuk membaca kedua nilai tersebut secara berdampingan.
Seri lain yang tercatat dalam perbandingan adalah SPN01261128 dengan bid to cover ratio sebesar 2,12. FR0105 berada pada angka 1,49. Ketiga nilai itu merupakan rasio per seri sebagaimana disampaikan dalam keterangan hasil lelang, dengan ukuran yang sama, yaitu nilai penawaran yang masuk dibandingkan dengan nilai yang dimenangkan pemerintah. Urutan angka yang dilaporkan adalah FR0107 sebesar 5,95, SPN01261128 sebesar 2,12, dan FR0105 sebesar 1,49.
Baca juga: TNI Bersama Pemerintah Perkuat Penanggulangan Karhutla





