Ochi Rosdiana Mengenang Pengalaman Tak Biasa Sejak Masa Kecil

Ochi Rosdiana Mengenang Pengalaman Tak Biasa Sejak Masa Kecil

Jakarta | Ochi Rosdiana mengatakan bahwa kepekaannya terhadap makhluk halus telah ia rasakan sejak masih kecil. Pengakuan tersebut menjadi inti cerita tentang pengalaman yang menurut dirinya sudah ada sejak masa kanak-kanak. Namun, Ochi tidak dapat memastikan kapan tepatnya pengalaman itu mulai dirasakan. Ia mengaku tidak ingat pasti mengenai awal mula kepekaan tersebut, sehingga tidak menyebut satu waktu atau peristiwa tertentu sebagai titik awal. Keterangan yang ia sampaikan berpusat pada dua hal: perasaan peka itu telah ia rasakan sejak kecil, sementara ingatan tentang kapan pertama kali mengalaminya tidak lagi jelas. Ochi menyampaikan hal tersebut saat ditemui di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, pada Rabu, 14 Oktober 2026.

Dalam keterangannya, Ochi juga menyebut bahwa ibunya mungkin lebih mengetahui kisah dari masa awal tersebut. Pernyataan itu disampaikan seiring pengakuannya bahwa ia sendiri tidak mengingat secara pasti kapan pengalaman tersebut bermula. Dengan demikian, bagian awal cerita itu tidak dijelaskan melalui ingatan Ochi tentang suatu kejadian khusus, melainkan melalui kemungkinan bahwa sang ibu mengetahui lebih banyak mengenai masa kecilnya. Ochi tidak merinci apa yang mungkin diingat ibunya, dan keterangan yang tersedia juga tidak menetapkan waktu tertentu sebagai awal kepekaan tersebut. Ia hanya menyampaikan bahwa pengalaman itu telah dirasakan sejak kecil serta bahwa ibunya mungkin lebih mengetahui kisah awalnya.

Pengalaman yang dibicarakan Ochi tetap berada dalam batas pengakuan pribadi mengenai kepekaannya terhadap makhluk halus. Ia tidak mengingat kapan hal itu pertama kali terjadi, sedangkan ibunya disebut mungkin mengetahui lebih banyak tentang masa tersebut. Saat ditemui di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, pada Rabu, 14 Oktober 2026, Ochi menyampaikan kedua hal itu sebagai bagian dari kisah yang ia ingat tentang masa kecil. Keterangan tersebut tidak memuat rincian tambahan mengenai kejadian, waktu, atau alasan di balik pengalaman itu. Karena itu, inti yang dapat disampaikan dari ceritanya adalah bahwa kepekaan tersebut ia rasakan sejak kecil, tetapi waktu awalnya tidak ia ingat dengan pasti.

Dalam mengenang masa kecilnya, Ochi Rosdiana pernah menerima cerita dari ibunya tentang kebiasaan yang muncul setelah ia mulai bekerja di dunia hiburan. Ochi sudah menjalani kegiatan syuting sejak duduk di bangku sekolah dasar. Di tengah kesibukan yang biasanya dijalani oleh orang dewasa, ia masih merupakan anak kecil yang harus membagi waktu pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Salah satu hal yang terus diingat sang ibu adalah tangisan Ochi ketika pulang dari lokasi syuting.

Menurut cerita ibunya, tangisan itu kerap terjadi setelah Ochi pulang pada malam atau petang hari. Ia tidak selalu menjelaskan apa yang membuatnya menangis. Dalam ingatan yang disampaikan kembali tersebut, ibunya hanya melihat bahwa putrinya pulang dalam keadaan sedih atau ketakutan, tanpa memperoleh uraian terperinci mengenai penyebabnya. Karena Ochi masih kecil, mungkin tidak mudah baginya untuk menyampaikan apa yang dirasakan dengan kata-kata. Namun, hal itu tidak dapat dipastikan dari cerita singkat yang tersedia.

Penting untuk memahami bahwa bagian ini merupakan kenangan yang diceritakan oleh ibu Ochi kepada Ochi, lalu dikenang kembali olehnya. Ini bukan penjelasan terperinci dari Ochi tentang sesuatu yang ia lihat, dan tidak ada keterangan yang cukup untuk memastikan apa yang terjadi pada setiap kesempatan. Dengan demikian, cerita tersebut sebaiknya disampaikan sebagaimana adanya: sang ibu mengingat putrinya kerap menangis sepulang syuting, sementara Ochi saat itu tidak menjelaskan apa yang ia lihat atau rasakan.

Kenangan itu memperlihatkan sisi masa kecil Ochi yang berbeda dari kesan seorang anak yang tampil di layar. Jadwal syuting dan perjalanan pulang pada waktu yang larut dapat menjadi pengalaman yang melelahkan bagi anak, tetapi cerita ibunya tidak menyebutkan bahwa hal tersebut pasti menjadi penyebab tangisan. Yang dapat ditegaskan hanyalah bahwa kebiasaan itu membekas dalam ingatan sang ibu. Cerita tersebut juga mengingatkan bahwa pengalaman masa kecil sering dikenang melalui sudut pandang keluarga, terutama ketika anak belum mampu atau belum bersedia menjelaskan perasaannya secara rinci. Karena itu, kisah ini menjadi potongan kenangan keluarga, bukan uraian lengkap tentang suatu kejadian tertentu.

Pengalaman tak biasa yang pernah dialami Ochi Rosdiana tidak hanya terjadi ketika ia masih kecil. Saat berusia sekitar 20-an, ia kembali mengalami peristiwa yang serupa dalam perjalanan menuju lokasi syuting di Pelabuhan Ratu. Kisah tersebut berawal ketika Ochi dan rombongan berangkat pada malam hari. Waktu keberangkatan itu dipilih dengan niat menghindari kemacetan, sehingga perjalanan dilakukan saat suasana sudah malam.

Di dalam mobil, Ochi tertidur selama perjalanan. Namun, ketika terbangun, ia mendapati dirinya sedang menangis. Momen tersebut menjadi bagian yang paling menonjol dari pengalaman yang ia ceritakan. Ia tidak menyampaikan penyebab tangis itu, sehingga peristiwa tersebut dapat dipaparkan sebatas apa yang dialaminya: tertidur di mobil dalam perjalanan malam, lalu terbangun dalam keadaan menangis.

Perjalanan menuju Pelabuhan Ratu itu memperlihatkan bahwa pengalaman serupa masih terjadi ketika Ochi telah beranjak dewasa. Meski jarak waktu dari masa kecil cukup panjang, kejadian di dalam mobil tersebut kembali meninggalkan kesan baginya. Cerita ini juga menunjukkan bahwa peristiwa itu berlangsung dalam situasi yang berbeda dari pengalaman masa kecilnya, yakni saat ia sedang bepergian menuju lokasi syuting.

Ochi tidak memberikan keterangan lebih jauh mengenai apa yang terjadi sebelum dirinya tertidur ataupun alasan ia menangis setelah bangun. Karena itu, tidak ada dasar untuk mengaitkan tangis tersebut dengan hal tertentu atau menambahkan detail lain di luar ceritanya. Yang dapat dipastikan dari penuturannya adalah bahwa perjalanan berlangsung pada malam hari, keberangkatan dilakukan untuk menghindari kemacetan, dan ia sempat tertidur di mobil sebelum terbangun sambil menangis.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu kisah yang ia kenang dari masa dewasa. Ceritanya sederhana dalam urutan kejadian, tetapi terasa tidak biasa bagi Ochi karena tangis itu hadir saat ia terbangun di tengah perjalanan. Tanpa penjelasan tambahan tentang penyebabnya, kisah perjalanan malam ke Pelabuhan Ratu ini tetap menjadi bagian dari pengalaman personal yang pernah ia bagikan kepada publik.

Pengalaman paling menyeramkan yang masih diingat Ochi Rosdiana berkaitan dengan asistennya saat mereka berada di lokasi syuting film Lingsir Wengi: Motel Malioboro. Cerita itu berbeda dari pengalaman pribadi Ochi sebagai pemeran Putik, karakter yang mengalami kerasukan dalam film. Ochi menegaskan bahwa dirinya sendiri tidak pernah mengalami kerasukan. Ia juga mengaku belum pernah melihat seseorang kerasukan secara langsung sebelum peristiwa yang melibatkan asistennya tersebut. Karena itu, kejadian di lokasi syuting menjadi pengalaman yang sulit dilupakan, sekaligus membuat suasana malam itu terasa jauh berbeda dari proses produksi biasa.

Menurut cerita Ochi, asistennya mengalami kerasukan pada dini hari, sekitar pukul 02.00 hingga 05.00. Dalam rentang waktu itu, sosok yang disebut hadir bergantian. Ochi menyebut ada sosok anak kecil dan seorang ibu-ibu, sehingga kejadian tersebut berlangsung cukup lama dan tidak hanya dikaitkan dengan satu sosok. Pengalaman itu terjadi ketika mereka sedang menjalani kegiatan syuting, bukan sebagai bagian dari adegan yang diperankan Putik. Ochi mengingat kejadian tersebut sebagai pengalaman paling menyeramkan yang berkaitan dengan film itu, terutama karena ia menyaksikan dampaknya pada orang yang bekerja mendampinginya. Ia tidak menyatakan bahwa dirinya sendiri mengalami kejadian serupa.

Meski kisah itu terasa menakutkan Ochi menyampaikan sikap.