Jakarta | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menguji modifikasi atmosfer menggunakan sekitar 1,6 ton dry ice sebagai salah satu langkah untuk menangani asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. Uji coba ini dilakukan ketika asap dari kebakaran, termasuk di kawasan lahan gambut, mengganggu aktivitas masyarakat dan menurunkan jarak pandang. Upaya tersebut melengkapi penanganan di darat, seperti pemadaman titik api dan pemantauan wilayah terdampak.
Tujuan penggunaan dry ice adalah membantu mengurangi konsentrasi asap yang berada di atmosfer, terutama pada area yang terdampak kebakaran. Asap pekat dapat membatasi jarak pandang di jalan maupun kawasan permukiman, sekaligus menimbulkan gangguan bagi warga. Dengan mengarahkan penanganan pada lapisan asap, BNPB berupaya mengurangi dampak yang dirasakan masyarakat selagi sumber kebakaran terus ditangani.
Sumatera Selatan termasuk satu dari enam provinsi prioritas yang menghadapi dampak serius karhutla. Kondisi lahan gambut di sejumlah wilayah dapat membuat kebakaran sulit dikendalikan dan menghasilkan asap yang bertahan lama. Karena itu, langkah penanganan tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga pada pengurangan dampak asap di sekitar lokasi kebakaran. Uji coba ini menjadi bagian dari respons terhadap kondisi tersebut, dengan penerapan yang diarahkan pada area yang memerlukan penanganan.
Modifikasi atmosfer dengan dry ice dalam uji ini memiliki sasaran berbeda dari upaya yang mengandalkan hujan atau penyemaian awan. Pendekatan tersebut ditujukan langsung pada lapisan asap, sehingga pelaksanaannya tidak bergantung pada ketersediaan awan hujan. Hal ini menjadi penting ketika kondisi atmosfer tidak mendukung terbentuknya hujan, sementara asap masih mengganggu jarak pandang. Pengujian dilakukan untuk melihat penerapan metode tersebut dalam membantu mengurangi pekatnya asap di wilayah terdampak.
Meski demikian, penggunaan dry ice merupakan salah satu upaya pendukung, bukan pengganti pemadaman karhutla. Pengendalian sumber api tetap diperlukan agar asap tidak terus terbentuk. Hasil uji dan pemantauan kondisi setempat menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah berikutnya, termasuk penyesuaian sasaran operasi dengan persebaran asap dan kebutuhan masyarakat.
BNPB menjelaskan bahwa asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan dapat terperangkap ketika terbentuk lapisan inversi atmosfer. Dalam keadaan ini, susunan suhu udara berbeda dari kondisi yang lazim: udara yang lebih hangat berada di atas udara yang lebih dingin di dekat permukaan. Lapisan udara hangat tersebut bertindak seperti penghalang yang membatasi gerak udara dari bawah ke atas.
Biasanya, perbedaan suhu dan tekanan membantu udara bergerak secara vertikal, sehingga polutan dapat terangkat lalu terbawa angin ke wilayah lain atau terdilusi. Namun, saat inversi menguat, sirkulasi vertikal melemah. Partikel asap yang dilepaskan kebakaran pun tertahan di lapisan dekat permukaan atau pada ketinggian tertentu. Dampaknya, asap sulit menyebar dan menipis secara alami, terutama apabila angin lemah dan kondisi atmosfer stabil. Keadaan ini dapat membuat konsentrasi asap bertahan lebih lama di suatu kawasan dan memperburuk jarak pandang maupun kualitas udara.
Karena persoalannya berkaitan dengan asap yang terkumpul pada lapisan atmosfer tertentu, BNPB membedakan pendekatan dry ice dari modifikasi cuaca konvensional. Dalam operasi modifikasi cuaca yang umum, bahan semai disebarkan ke awan yang tersedia untuk membantu proses pembentukan hujan. Hujan kemudian diharapkan turun di lokasi yang dituju, misalnya untuk membasahi lahan atau mengurangi potensi kebakaran. Keberhasilan cara tersebut bergantung pada keberadaan awan dengan kondisi yang mendukung.
Teknik menggunakan dry ice, atau es kering, memiliki sasaran dan mekanisme berbeda. Bahan tersebut dimanfaatkan untuk memengaruhi kondisi lapisan asap, bukan terutama untuk memicu hujan dari awan. Pendinginan lokal yang dihasilkan diharapkan mendorong perubahan gerak udara dan membantu mengganggu kestabilan lapisan yang menahan asap. Dengan demikian, partikel dapat terbawa atau tersebar dari lapisan tempatnya terkumpul. Pendekatan ini tidak berarti asap langsung hilang, dan hasilnya bergantung pada keadaan atmosfer serta pelaksanaan operasi. Penjelasan tentang inversi menjadi penting agar upaya penanganan disesuaikan dengan penyebab asap bertahan, sembari tetap mengendalikan sumber kebakaran di darat.Uji coba penanganan asap karhutla di Sumatera Selatan dilakukan dengan menyebarkan butiran es kering atau dry ice dari udara. Material yang digunakan berbentuk butiran berukuran sekitar 3 milimeter dan memiliki suhu minus 75 derajat Celsius. Tim menebarkannya ke atmosfer bagian bawah, pada lapisan yang menjadi sasaran dalam upaya mengubah kondisi pergerakan udara. Pelaksanaan ini merupakan bagian dari operasi yang diarahkan untuk membantu mengurangi dampak asap, terutama ketika lapisan atmosfer tertentu dinilai membatasi penyebarannya.
Menurut rincian operasi, penyebaran dry ice dimaksudkan untuk memecah lapisan pembatas atmosfer. Dengan lapisan tersebut terurai, asap diharapkan dapat bergerak ke atas dan menyebar lebih luas, sehingga tidak terus terkonsentrasi di area tertentu. Proses ini dilakukan melalui pelepasan butiran dari pesawat, bukan dengan menaburkannya langsung dari permukaan. Pemilihan ukuran dan suhu material menjadi bagian dari skema uji coba, sementara hasilnya bergantung pada kondisi atmosfer saat penerbangan berlangsung. Karena itu, kegiatan ini dipaparkan sebagai upaya penanganan yang diuji melalui penerbangan terukur.
Operasi menggunakan pesawat Cessna Caravan yang berangkat dari Bandara Raden Inten II, Lampung. Pada Kamis, pesawat tersebut menjalankan dua sorti penerbangan pada ketinggian 4.500 kaki. Dalam rangkaian penerbangan itu, sebanyak 1.600 kilogram atau 1,6 ton dry ice dilepaskan di atas Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang. Lokasi pelepasan dan ketinggian penerbangan menjadi rincian penting dalam pelaksanaan uji coba tersebut. Dengan penyebaran dari udara, tim berupaya menjangkau atmosfer di atas wilayah Palembang dan sekitarnya. Informasi operasi ini menjelaskan cara material dilepaskan serta tujuan yang hendak dicapai, yakni membantu asap bergerak naik dan menyebar lebih luas. Pelaksanaan dua sorti pada hari yang sama juga memungkinkan total material tersebut disebarkan dalam beberapa penerbangan, sesuai rincian kegiatan yang tersedia.
Kondisi jarak pandang di sekitar Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II menjadi salah satu latar penting dalam pelaksanaan uji coba penanganan asap karhutla di Sumatera Selatan. Sebelumnya, jarak pandang yang buruk di kawasan bandara tersebut telah mengganggu kondisi operasional penerbangan. Situasi ini menunjukkan bahwa asap pekat bukan hanya menjadi persoalan di wilayah yang terdampak kebakaran, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap kegiatan transportasi udara ketika mengurangi keterlihatan di sekitar bandara.
Gangguan tersebut menjadi konteks bagi upaya mencari metode yang dapat membantu menangani polusi dan asap. Dalam kegiatan ini, BNPB menggunakan penyemaian es kering sebagai salah satu pendekatan yang diuji. Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S.P. Panjaitan, menjelaskan bahwa metode penyemaian es kering dikembangkan untuk membantu mengurangi konsentrasi polusi dan asap pekat. Menurut penjelasan tersebut, pendekatan ini tidak memerlukan keberadaan awan hujan.
Penjelasan mengenai tujuan metode perlu dibedakan dari penilaian atas hasil uji coba. Keterangan Berton menerangkan alasan penyemaian es kering dikembangkan, yakni sebagai upaya untuk membantu mengurangi konsentrasi asap dan polusi dalam kondisi yang menjadi perhatian. Keterangan itu tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa gangguan jarak pandang di sekitar bandara telah teratasi atau bahwa metode tersebut mencapai tingkat keberhasilan tertentu. Karena itu, konteks bandara menjelaskan urgensi perhatian terhadap asap, sementara dampak pengujian tetap perlu merujuk pada hasil yang dinyatakan secara resmi.
Baca juga: Panglima TNI Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Penanganan Karhutla di Riau dan Sumatera Selatan | Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas





