Pasang Laut Maksimum Berpotensi Picu Rob di Pesisir NTB hingga 2 November

Pasang Laut Maksimum Berpotensi Picu Rob di Pesisir NTB hingga 2 November

Mataram | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan adanya potensi banjir rob di sejumlah wilayah pesisir Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 24 Oktober hingga 2 November 2026. Warga yang tinggal atau beraktivitas di kawasan pantai Lombok, Sumbawa, dan Bima diminta mewaspadai kemungkinan naiknya air laut selama periode tersebut.

Peringatan itu disampaikan Tri Widiarto, Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), di Mataram pada Jumat. Ia menjelaskan, potensi rob dipicu oleh pasang maksimum air laut yang dapat mencapai ketinggian dua meter. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan air laut menggenangi area pesisir, terutama ketika pasang mencapai puncaknya.

Rob merupakan genangan yang terjadi ketika air laut meluap ke daratan di wilayah pantai. Dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di kawasan rendah maupun mereka yang melakukan kegiatan di sekitar garis pantai. Karena itu, masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak perlu memperhatikan perubahan kondisi air laut dan mengikuti informasi resmi dari BMKG serta pemerintah setempat.

Rentang waktu yang disebutkan BMKG mencakup beberapa hari menjelang akhir Oktober hingga awal November. Meski ketinggian pasang maksimum diperkirakan dapat mencapai dua meter, dampak di setiap lokasi dapat berbeda. Kondisi pesisir, waktu pasang, serta aktivitas masyarakat setempat menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam mengantisipasi genangan.

BMKG mengimbau warga agar tidak mengabaikan peringatan tersebut dan tetap berhati-hati saat beraktivitas di kawasan pantai selama periode potensi rob. Masyarakat juga dapat menyiapkan langkah antisipasi sederhana, seperti menjaga barang penting agar tidak mudah terkena genangan dan memperhatikan akses keluar-masuk di sekitar tempat tinggal. Informasi cuaca dan kondisi laut terbaru sebaiknya dipantau melalui kanal resmi, sehingga warga memperoleh pembaruan apabila situasi berubah. Peringatan ini menjadi perhatian bagi masyarakat pesisir NTB, terutama di Lombok, Sumbawa, dan Bima, seiring potensi pasang maksimum yang dapat meningkatkan risiko banjir rob hingga 2 November 2026.

Wilayah pesisir yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak pasang maksimum di Nusa Tenggara Barat tersebar di beberapa pulau. Daftar berikut menunjukkan kawasan yang berpotensi terdampak hingga 2 November, bukan laporan bahwa banjir rob telah terjadi. Kondisi di setiap lokasi dapat berbeda, sehingga warga sebaiknya mengikuti informasi cuaca dan peringatan resmi setempat.

Di Pulau Lombok, kawasan yang perlu diperhatikan meliputi Ampenan dan Sekarbela di Kota Mataram, serta Gerung dan Lembar di Kabupaten Lombok Barat. Potensi dampak juga perlu diwaspadai di Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, dan Jerowaru di Kabupaten Lombok Timur. Labuhan Lombok, yang berada di wilayah Lombok Timur, termasuk pula dalam daftar lokasi pesisir yang perlu mencermati perkembangan pasang.

Di Pulau Sumbawa, perhatian diarahkan pada wilayah Sumbawa, Rhee, dan Labuhan Badas. Ketiga kawasan tersebut memiliki wilayah pesisir yang dapat terpengaruh ketika pasang laut mencapai ketinggian maksimum. Masyarakat yang tinggal atau beraktivitas dekat pantai, pelabuhan, maupun dataran rendah pesisir dapat memantau perubahan kondisi dan menyiapkan langkah antisipasi apabila diperlukan.

Untuk Pulau Sumbawa bagian barat dan timur, wilayah berpotensi terdampak di Kabupaten Bima mencakup Palibelo, Belo, Woha, Bolo, Lambu, Langgudu, Soromandi, dan Sape. Daftar ini juga meliputi Rasanae Barat dan Asakota di Kota Bima, serta Hu’u di Kabupaten Dompu. Warga di lokasi-lokasi tersebut disarankan memperhatikan informasi pasang laut, terutama bila beraktivitas di sekitar garis pantai.

Penyebutan suatu daerah dalam daftar potensi bukan berarti seluruh kawasan pasti mengalami rob. Risiko dipengaruhi kondisi pasang, bentuk pantai, cuaca, dan situasi setempat. Karena itu, warga di Lombok, Sumbawa, dan Bima dapat memeriksa pembaruan dari instansi berwenang, mengamankan barang di area rendah, serta menghindari pantai apabila kondisi dinilai tidak aman. Tetap tanpa menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Perkiraan waktu pasang yang disampaikan Tri menunjukkan bahwa jam terjadinya pasang berbeda di tiap lokasi. Di Lembar, pasang diperkirakan berlangsung mulai pukul 21.00 hingga 02.00 WITA. Sementara itu, di Sape, waktunya diperkirakan mulai pukul 22.00 hingga 05.00 WITA. Rentang waktu tersebut menjadi informasi penting bagi masyarakat pesisir dan pihak yang beraktivitas di sekitar perairan, terutama untuk memperhatikan perubahan kondisi laut pada malam hingga dini hari.

Perbedaan jadwal Lembar dan Sape perlu dicermati sesuai lokasi masing-masing. Perkiraan di Lembar mencakup waktu malam sampai lewat tengah malam, sedangkan di Sape berlangsung dari malam hingga pagi. Informasi ini tidak berarti pasang terjadi serentak dengan waktu yang sama di seluruh pesisir NTB. Karena itu, warga sebaiknya merujuk pada keterangan untuk daerah yang relevan dan tetap memperhatikan perkembangan kondisi setempat.

Selain waktu pasang, kondisi perairan NTB dalam prakiraan tersebut memiliki tinggi gelombang berkisar 0,5 hingga empat meter. Kisaran ini menggambarkan kondisi gelombang yang dapat berbeda-beda, sehingga kewaspadaan tetap diperlukan bagi masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di kawasan pesisir. Nelayan, pengguna perahu, dan warga yang berada dekat pantai dapat mempertimbangkan informasi ini saat merencanakan kegiatan, tanpa mengabaikan pembaruan cuaca dan imbauan dari pihak berwenang.

Cuaca diperkirakan berada dalam kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Perkiraan cuaca tersebut disampaikan bersama informasi tinggi gelombang dan waktu pasang untuk memberikan gambaran kondisi perairan NTB. Namun, keadaan cuaca maupun laut dapat berubah, dan keterangan yang tersedia tidak merinci perbedaan prakiraan untuk lokasi lain atau periode tambahan. Dengan demikian, waktu pasang di Lembar dan Sape, kisaran gelombang, serta perkiraan cuaca perlu dipahami sesuai batas informasi yang disampaikan. Masyarakat tetap dapat memantau pengumuman resmi untuk memperoleh perkembangan terbaru sebelum melakukan kegiatan di pesisir atau laut.

Potensi peningkatan pasang laut di pesisir NTB berkaitan dengan dua fenomena astronomi pada akhir Oktober 2026, yakni fase Bulan purnama dan perigee. Fase purnama berlangsung pada 26 Oktober, sekitar pukul 17.53 WIB, dengan posisi tertinggi Bulan tercatat pada pukul 23.58 WIB. Pada fase ini, posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada segaris. Susunan tersebut dapat menghasilkan rentang pasang surut yang lebih besar dibandingkan kondisi biasa, sehingga pasang laut berpotensi mencapai tingkat maksimum di sejumlah wilayah pesisir.

Fenomena berikutnya adalah perigee yang terjadi pada 29 Oktober 2026. Perigee merupakan keadaan ketika Bulan berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi dalam lintasan orbit. Saat itu, jarak Bulan dengan Bumi mencapai sekitar 364.407 kilometer. Kedekatan tersebut dapat memperkuat pengaruh gravitasi Bulan terhadap air laut. Jika pengaruh perigee bertepatan dalam periode yang sama dengan fase purnama, kondisi pasang maksimum perlu dicermati karena dapat meningkatkan risiko genangan di kawasan pantai dan wilayah rendah. Dampaknya tetap dipengaruhi keadaan setempat, termasuk kondisi pesisir dan lingkungan di sekitar permukiman.

Tri mengimbau warga yang tinggal di kawasan pesisir, bantaran sungai, serta dataran rendah agar tetap siaga menghadapi kemungkinan dampak pasang maksimum. Masyarakat sebaiknya memperhatikan perkembangan kondisi air di sekitar tempat tinggal dan mengikuti informasi maupun arahan dari pihak berwenang. Kewaspadaan perlu ditingkatkan terutama ketika air laut mulai naik atau ketika genangan terlihat memasuki kawasan yang biasanya aman. Warga juga dapat menyiapkan langkah antisipasi untuk melindungi anggota keluarga dan barang penting, serta menghindari aktivitas di area yang berpotensi terdampak. Pasang maksimum dapat memicu banjir rob, sehingga pemantauan dan kesiapsiagaan menjadi penting selama periode yang diperkirakan berlangsung hingga 2 November.