Jakarta | Perseteruan Ruben Onsu dan Sarwendah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Persoalan yang semula berkaitan dengan hak asuh kedua putri mereka kini berkembang ke sejumlah isu lain. Perkembangan tersebut membuat konflik keduanya kembali menjadi perhatian dan terus diperbincangkan di ruang publik.
Selain menyangkut hak asuh, muncul pula tudingan mengenai buzzer yang ikut dikaitkan dengan perseteruan mereka. Tudingan itu menambah lapisan baru dalam persoalan yang sebelumnya berpusat pada urusan keluarga. Meski demikian, isu tersebut telah membuat perhatian publik tidak hanya tertuju pada pokok konflik, tetapi juga pada berbagai pernyataan dan dugaan yang beredar.
Sorotan semakin meluas setelah beredarnya rekaman video call Ruben yang diunggah Sarwendah ke media sosial. Unggahan tersebut kemudian menjadi bagian dari perkembangan terbaru dalam perselisihan keduanya. Rekaman itu turut memicu pembicaraan karena muncul di tengah konflik yang belum selesai dan masih menjadi perhatian banyak pihak.
Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan Ruben Onsu dan Sarwendah telah melebar dari isu hak asuh ke perkara lain yang ikut menyeret komunikasi serta aktivitas mereka di media sosial. Tudingan mengenai buzzer dan beredarnya rekaman video call membuat persoalan pribadi keduanya semakin ramai dibicarakan. Setiap perkembangan baru pun kembali menarik perhatian publik terhadap konflik yang hingga kini belum memperlihatkan tanda mereda.
Nanda Persada menyoroti perkembangan perseteruan Ruben Onsu dan Sarwendah dari posisi yang cukup dekat dengan kedua pihak. Ia dikenal sebagai sahabat Ruben sekaligus pernah menjadi manajer Sarwendah. Kedekatan tersebut membuat pandangannya turut diperhatikan ketika konflik keduanya kembali menjadi sorotan publik. Menurut Nanda, aksi saling tuding serta penyebaran berbagai konten melalui media sosial justru menempatkan Ruben dan Sarwendah dalam posisi yang serba salah.
Nanda menilai, situasi tersebut juga membuat upaya untuk melakukan cooling down menjadi semakin sulit. Ketika persoalan pribadi terus dibawa ke ruang publik, perhatian masyarakat berpotensi bergeser dari inti masalah ke rangkaian pernyataan dan respons yang saling berbalasan. Kondisi itu dinilai tidak membantu kedua pihak untuk meredakan ketegangan. Sebaliknya, setiap unggahan atau pernyataan baru dapat memperpanjang konflik dan membuka persoalan lain yang sebelumnya tidak menjadi fokus utama.
Dalam pandangannya, Ruben dan Sarwendah seharusnya memusatkan perhatian pada proses hukum terkait hak asuh anak. Nanda menyampaikan bahwa kedua pihak perlu menunggu putusan pengadilan dan mengikuti proses yang sedang berjalan, alih-alih memperluas konflik ke persoalan lain. Dengan demikian, perkara tersebut dapat diarahkan pada jalur yang semestinya tanpa terus berkembang melalui perdebatan di media sosial. Penilaian Nanda itu disampaikan pada Senin, 12 Oktober 2026, sebagaimana dikutip dari tayangan YouTube Cumicumi. Pernyataan tersebut menekankan pentingnya menahan diri dan membatasi polemik pada pokok perkara yang sedang diproses secara hukum.
Polemik terbaru Ruben Onsu dan Sarwendah bermula dari beredarnya sebuah video kamera pengawas atau CCTV. Rekaman itu memperlihatkan seorang asisten yang disebut bernama Manda menyerahkan uang kepada seseorang. Video tersebut kemudian menjadi bahan pembicaraan di ruang publik dan dikaitkan dengan dugaan pembayaran buzzer. Dalam perkembangan isu itu, Ruben disebut menuding Sarwendah memiliki kaitan dengan dugaan tersebut. Namun, tudingan yang beredar masih menjadi bagian dari polemik dan belum dapat diperlakukan sebagai fakta yang telah terbukti.
Perhatian publik kemudian beralih setelah Sarwendah mengunggah empat rekaman panggilan video. Dalam rekaman tersebut, terlihat Ruben sedang berbincang dengan seorang pria. Sarwendah menyertakan keterangan tertentu dalam unggahannya, termasuk mengenai klaim seseorang bernama Artos. Materi itu turut memancing pembahasan baru karena muncul setelah isu tentang video CCTV dan dugaan pembayaran buzzer menjadi sorotan. Unggahan tersebut dipandang sebagai respons dalam rangkaian pernyataan yang saling berkaitan di tengah konflik keduanya.
Dengan demikian, urutan peristiwa yang tampak di ruang publik memperlihatkan adanya pertukaran tudingan melalui materi visual dan keterangan di media sosial. Video CCTV digunakan sebagai dasar munculnya dugaan terhadap pihak tertentu, sementara rekaman panggilan video diunggah setelah isu tersebut ramai diperbincangkan. Kedua materi itu menjadi bagian dari saling tuding yang berlangsung terbuka. Meski demikian, beredarnya rekaman dan pernyataan terkait tidak dengan sendirinya membuktikan kebenaran masing-masing tudingan. Informasi yang tersedia hanya menunjukkan adanya unggahan, klaim, serta respons dari pihak-pihak yang terlibat, tanpa memastikan makna di balik rekaman maupun validitas tuduhan yang menyertainya.
Nanda menyayangkan adanya tindakan yang dinilai dapat menjatuhkan reputasi atau nama baik seseorang di ruang publik. Menurutnya, persoalan Ruben Onsu dan Sarwendah seharusnya tidak berkembang menjadi saling serang, terutama melalui pernyataan atau unggahan yang mudah menyebar di media sosial. Ketika informasi pribadi disampaikan kepada publik, dampaknya dapat meluas dan membentuk persepsi yang sulit dikendalikan oleh kedua pihak.
Ia menilai, konflik yang terus bergulir bukan hanya membuat hubungan Ruben dan Sarwendah semakin sulit membaik, tetapi juga berpotensi memberikan tekanan bagi keluarga. Perhatian publik yang besar dapat membuat setiap pernyataan, tindakan, dan respons baru kembali menjadi bahan pembicaraan. Situasi tersebut dikhawatirkan memengaruhi anak-anak mereka, baik secara emosional maupun dalam kehidupan sehari-hari, karena anak dapat ikut merasakan dampak dari ketegangan yang terjadi di orang tua.
Kekhawatiran Nanda terutama tertuju pada konsekuensi konflik di media sosial bagi anak-anak Ruben dan Sarwendah. Menurutnya, anak membutuhkan lingkungan yang aman, tenang, dan tidak dibebani persoalan orang dewasa. Ketika perseteruan terus muncul di ruang publik, batas masalah pribadi dan konsumsi masyarakat menjadi semakin kabur. Kondisi itu dapat menempatkan anak dalam posisi yang tidak mudah, terlebih ketika mereka berhadapan dengan komentar, pertanyaan, atau penilaian dari lingkungan sekitar.
Nanda berharap Ruben dan Sarwendah dapat mengendalikan situasi serta mempertimbangkan dampak setiap tindakan sebelum disampaikan kepada publik. Ia juga berharap perseteruan tersebut tidak dibiarkan meluas, sehingga reputasi kedua pihak tetap terlindungi dan anak-anak mereka tidak semakin terbebani oleh konflik yang berkembang.
Baca juga: Prajurit Korem 161/Wira Sakti Hadirkan Keceriaan bagi Anak-Anak Terdampak Gempa NTT | Puspsi TNI Berikan Trauma Healing bagi Anak Penyintas Gempa Bumi NTT | Semangat Kemerdekaan Dimulai dari Anak-anak, Siti Nurlaela Dorong Budaya Bermain dan Berkarya

