Kota Paris | Lebih dari 1.800 orang ditangkap di Prancis selama dan setelah unjuk rasa yang disertai kekerasan pada Sabtu. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan angka yang sebelumnya diumumkan, yakni sekitar 1.200 orang. Perkembangan itu menunjukkan bahwa penindakan terhadap kerusuhan masih berlangsung setelah aksi massa berakhir, sementara aparat berupaya menelusuri kejadian dan pihak-pihak yang terlibat.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez menyampaikan jumlah penangkapan terbaru tersebut. Ia mengatakan penyelidikan sedang dilakukan untuk mengidentifikasi para pelaku, sehingga mereka dapat dimintai pertanggungjawaban dan diadili. Proses penyelidikan menjadi bagian penting dari penanganan insiden, terutama untuk menentukan peran masing-masing orang dalam rangkaian kekerasan. Dengan demikian, angka penangkapan itu mencakup langkah awal penegakan hukum, bukan semata-mata akhir dari proses pemeriksaan.
Penangkapan berkaitan dengan bentrokan polisi dan massa, serta tindak penjarahan dan pembakaran yang terjadi di tengah unjuk rasa. Insiden tersebut mengubah aksi demonstrasi menjadi kerusuhan di sejumlah lokasi dan menambah tantangan bagi petugas yang berusaha mengendalikan situasi. Aparat perlu menangani gangguan keamanan sekaligus mengumpulkan bukti untuk mendukung penyelidikan. Nunez menegaskan bahwa upaya mengidentifikasi pelaku terus berjalan, dengan tujuan membawa mereka ke hadapan hukum. Kenaikan jumlah dari 1.200 menjadi lebih dari 1.800 orang juga menggambarkan perluasan operasi penangkapan setelah data awal diperbarui. Namun, jumlah tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan berapa orang yang akan didakwa atau dinyatakan bersalah. Keputusan mengenai pertanggungjawaban setiap individu akan bergantung pada hasil penyelidikan dan proses peradilan. Karena itu, otoritas masih harus memilah keterlibatan dalam bentrokan, penjarahan, maupun pembakaran, serta memastikan tindakan hukum didasarkan pada bukti. Perkembangan lebih lanjut dapat memperjelas skala kerusuhan dan langkah yang akan ditempuh pemerintah untuk menjaga ketertiban setelah aksi tersebut.
Situasi di Paris menjadi salah satu pusat perhatian setelah unjuk rasa berujung rusuh dan diikuti penangkapan dalam jumlah besar. Polisi setempat menyatakan telah menangkap 855 orang di ibu kota. Angka tersebut disebut sebagai rekor penangkapan yang berkaitan dengan kekerasan dalam unjuk rasa di Paris, sekaligus menunjukkan skala penindakan aparat setelah kerusuhan terjadi. Namun, jumlah orang yang ditangkap tidak sama dengan jumlah yang langsung ditempatkan dalam tahanan, karena sebagian dapat menjalani pemeriksaan atau diproses dengan status berbeda.
Kantor kejaksaan Paris menyebut lebih dari 500 orang berada dalam tahanan. Dalam rincian sementara, tercatat 517 orang masih ditahan, terdiri atas 346 orang dewasa dan 171 anak di bawah umur. Perbedaan angka total penangkapan dan jumlah tahanan mencerminkan tahapan penanganan perkara yang sedang berlangsung. Kejaksaan juga menegaskan bahwa data tersebut belum final dan masih dapat berubah seiring proses pemeriksaan, pembaruan catatan, serta keputusan terkait status masing-masing orang.
Penangkapan berlangsung sepanjang malam dan berlanjut hingga pukul 06.00 waktu setempat, atau 04.00 GMT. Menurut keterangan yang disampaikan, sebagian besar penindakan dilakukan atas dugaan penadahan barang curian, persekongkolan untuk melakukan kekerasan, serta perusakan fasilitas umum. Dugaan tersebut menjadi dasar pemeriksaan awal, bukan penetapan kesalahan secara otomatis. Para tersangka tetap melalui proses hukum, termasuk pemeriksaan oleh aparat dan penilaian kejaksaan sebelum langkah lanjutan ditentukan.
Dampak kerusuhan juga dirasakan oleh petugas yang bertugas mengamankan situasi. Perdana Menteri Sébastien Lecornu menyatakan bahwa 150 petugas kepolisian terluka. Pernyataan itu menambah gambaran mengenai risiko yang dihadapi aparat selama berlangsungnya kekacauan, meskipun rincian mengenai tingkat cedera tidak dijelaskan dalam informasi yang tersedia. Jumlah korban di kalangan polisi dan besarnya penangkapan memperlihatkan tekanan besar pada layanan keamanan serta sistem peradilan Paris. Aparat masih perlu menuntaskan pendataan dan penyelidikan untuk memastikan kronologi, dugaan tindak pidana, serta tanggung jawab setiap pihak yang terlibat dalam insiden tersebut.
Ratusan ribu orang turun ke jalan di berbagai kota di Prancis pada Sabtu untuk menyampaikan aspirasi mereka. Sebagian besar unjuk rasa berlangsung damai, dengan peserta berkumpul dan bergerak melalui pusat kota. Namun, suasana berubah di sejumlah lokasi ketika kelompok massa garis keras terlibat dalam aksi kekerasan. Bentrokan pecah di Paris maupun kota-kota lain, memicu kerusakan dan membuat warga serta pelaku usaha menghadapi situasi yang tidak aman.
Dalam beberapa insiden, massa menyasar gedung publik, menjarah butik mewah dan supermarket, serta menyerang kendaraan dan petugas. Aksi tersebut terjadi di tengah demonstrasi yang diikuti banyak orang, tetapi tidak mencerminkan perilaku seluruh peserta. Kehadiran kelompok yang bertindak agresif mengubah jalannya unjuk rasa di titik-titik tertentu dan menimbulkan kerusakan pada fasilitas maupun properti komersial. Petugas juga menjadi sasaran serangan saat berupaya menangani kerumunan dan bentrokan.
Kerusakan dilaporkan di sejumlah kota. Di Limoges, balai kota dibakar, sementara di Marseille, demonstran berpakaian hitam menerobos masuk ke balai kota dan mencoreti bangunan itu dengan grafiti bernuansa anarkis. Di Lyon, kantor pariwisata kota turut dibakar. Insiden-insiden tersebut memperlihatkan bahwa kekerasan tidak terbatas pada ibu kota, melainkan menjalar ke berbagai wilayah dan menyasar tempat-tempat yang menjadi bagian dari layanan serta kehidupan publik.
Di Paris, Wakil Wali Kota Lamia El Aaraje menggambarkan tingkat kekerasan yang terjadi sebagai sesuatu yang, menurutnya, belum pernah mereka lihat sebelumnya. Pernyataan itu mencerminkan besarnya kekhawatiran pemerintah kota terhadap skala kerusakan dan serangan yang berlangsung. Meski ratusan ribu orang menyampaikan tuntutan secara damai, tindakan kelompok garis keras mendominasi sebagian kejadian dan memperburuk keadaan di jalanan. Perbedaan aksi damai dan kekerasan menjadi penting dalam memahami perkembangan demonstrasi tersebut: mayoritas peserta berkumpul tanpa kekerasan, sementara insiden serius muncul di beberapa titik dan berdampak luas pada warga, fasilitas umum, serta aktivitas usaha setempat.
Di sejumlah titik, aksi unjuk rasa disertai perusakan dan penjarahan terhadap berbagai usaha. Sekelompok perusuh berusaha menerobos masuk ke Galeries Lafayette, salah satu department store ternama di Paris. Di lokasi lain, sebuah bank mengalami kerusakan, sementara toko Lacoste dan sejumlah butik menjadi sasaran penjarahan. Gerai operator telepon seluler SFR juga dirampok. Rangkaian insiden tersebut menambah kerugian yang dialami pelaku usaha dan memperlihatkan bagaimana demonstrasi berubah menjadi kekacauan di ruang publik. Sejumlah benda dibakar, termasuk beberapa mobil, sehingga api dan asap tampak di beberapa area. Perusakan itu terjadi bersamaan dengan bentrokan demonstran dan aparat keamanan.
Polisi berupaya membubarkan massa dengan menggunakan gas air mata dan meriam air. Tindakan tersebut dilakukan ketika demonstran melemparkan berbagai benda ke arah petugas dan menembakkan kembang api. Situasi ini meningkatkan risiko cedera bagi kedua pihak serta orang-orang yang berada di sekitar lokasi. Aparat menghadapi massa di tengah kerusakan fasilitas dan kebakaran, sementara sejumlah kawasan terdampak oleh aksi yang berlangsung tidak terkendali. Penggunaan perlengkapan pengendali massa menjadi bagian dari respons polisi untuk menjaga jarak dan mengendalikan bentrokan. Namun, insiden-insiden itu menunjukkan bahwa upaya memulihkan ketertiban berlangsung dalam kondisi yang berbahaya, dengan benda-benda yang dilempar dan api yang menyebar menjadi ancaman nyata di jalanan.
Salah satu dampak paling serius dilaporkan terjadi di Saint-Étienne, wilayah selatan Prancis. Seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun kehilangan tangan kanannya setelah sebuah granat pengendali massa meledak. Insiden tersebut menyoroti risiko berat yang dapat timbul ketika perangkat semacam itu digunakan dalam situasi bentrokan.
Baca juga: Polresta Tuban Pantau Pergerakan Pengedar, 3 Target Operasi Berujung Penangkapan






