Program AITF Kemkomdigi Dorong Mahasiswa Siap Menghadapi Dunia Kerja Berbasis AI

Program AITF Kemkomdigi Dorong Mahasiswa Siap Menghadapi Dunia Kerja Berbasis AI

KOTA MALANG, JAWA TIMUR — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menyebut program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) sebagai salah satu sarana penting untuk memperkuat daya saing mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja. Program ini dirancang untuk membantu peserta memahami perkembangan kecerdasan buatan sekaligus mengasah kemampuan yang relevan dengan kebutuhan industri. Di tengah percepatan transformasi digital, penguasaan teknologi AI dinilai semakin menentukan kesiapan lulusan dalam menghadapi perubahan jenis pekerjaan, pola kerja, dan tuntutan kompetensi.

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital BPSDM Kemkomdigi, Gunawan Hutagalung, saat menghadiri Workshop 1 AITF di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur. Kehadiran program ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pengembangan talenta digital yang lebih dekat dengan lingkungan perguruan tinggi. Melalui kegiatan pembelajaran dan praktik, mahasiswa diarahkan agar tidak hanya mengenal konsep kecerdasan buatan, tetapi juga mampu menerapkannya untuk menjawab persoalan nyata.

Perubahan kebutuhan dunia kerja membuat mahasiswa tidak lagi cukup mengandalkan transkrip nilai dan sertifikasi. Kedua hal tersebut tetap memiliki peran sebagai bukti capaian akademik dan kompetensi, tetapi perusahaan juga semakin mempertimbangkan kemampuan praktis, cara berpikir analitis, kreativitas, serta pengalaman menghasilkan solusi. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki portofolio yang menunjukkan proses dan hasil kerja secara konkret.

Dalam konteks tersebut, AITF mendorong mahasiswa untuk memahami sekaligus mengembangkan proyek berbasis AI. Proyek yang dikerjakan dapat menjadi ruang untuk menguji pengetahuan, berkolaborasi, mengidentifikasi masalah, dan menyusun solusi dengan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab. Pengalaman semacam ini diharapkan membentuk talenta yang lebih adaptif, mampu mengikuti perkembangan teknologi, dan memiliki kesiapan lebih baik ketika berkompetisi di dunia kerja yang semakin berbasis kecerdasan buatan.

Gunawan memandang perubahan teknologi telah menggeser tuntutan dunia kerja secara mendasar. Setiap pekerjaan membutuhkan kemampuan berpikir untuk menganalisis persoalan, mengambil keputusan, dan menghasilkan gagasan, sekaligus tenaga untuk menjalankan berbagai tugas secara konsisten. Namun, kedua aspek tersebut semakin berpotensi dibantu, bahkan digantikan, oleh kecerdasan artifisial (AI). Sistem AI kini dapat mengolah data, menyusun rekomendasi, mengotomatisasi proses, serta melaksanakan pekerjaan yang sebelumnya bergantung sepenuhnya pada manusia.

Kondisi itu tidak semestinya dipahami hanya sebagai ancaman bagi mahasiswa dan lulusan baru. Tantangan yang lebih penting adalah membangun kemampuan untuk mengadopsi teknologi secara tepat, kritis, dan bertanggung jawab. Mahasiswa perlu memahami cara kerja AI, mengenali batasannya, serta mampu menilai manfaat dan risikonya dalam konteks pekerjaan. Kemampuan beradaptasi tersebut mencakup keterampilan teknis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, lulusan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu merancang pemanfaatan AI yang relevan.

Dalam program AITF, peserta terus didorong untuk mengembangkan gagasan inovasi teknologi berbasis AI. Gagasan itu diharapkan tidak berhenti pada penciptaan produk, melainkan dapat mendukung pelaksanaan berbagai program pemerintah. Peserta ditantang mengidentifikasi persoalan nyata, merumuskan solusi berbasis data, dan mempertimbangkan dampaknya terhadap pelayanan publik. Proses tersebut membantu mahasiswa menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan pembangunan serta membentuk orientasi inovasi yang memiliki nilai sosial.

Menurut Gunawan, pengalaman selama mengikuti AITF diharapkan menjadi bekal ketika peserta kelak terlibat dalam perumusan strategi, kebijakan, kegiatan berpikir, dan penelitian. Mereka akan terbiasa menghadapi persoalan kompleks, menguji gagasan, bekerja lintas bidang, serta mempertanggungjawabkan pilihan teknologi yang digunakan. Pengalaman ini dapat memperkuat kesiapan peserta untuk memasuki dunia kerja yang terus berubah, sekaligus mendorong mereka berperan sebagai perancang dan penggerak transformasi digital berbasis AI.

Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya menjalankan Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) dalam rangkaian batch kedua. Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya, Ir Tri Astoto Kurniawan, menyampaikan bahwa pelaksanaan AITF tersebut merupakan kelanjutan dari program serupa pada 2026. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi bagian dari kesinambungan program yang mempertemukan lingkungan perguruan tinggi dengan kebutuhan pengembangan solusi berbasis kecerdasan artifisial.

Dalam pelaksanaan batch kedua itu, tim Universitas Brawijaya memperoleh studi kasus yang berfokus pada pengembangan sistem monitoring berbasis AI untuk Sekolah Rakyat. Sistem tersebut ditujukan bagi jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Studi kasus ini memberikan ruang bagi tim untuk mengembangkan solusi teknologi sesuai kebutuhan pemantauan pada lingkungan pendidikan, dengan memanfaatkan kecerdasan artifisial sebagai unsur utama dalam sistem yang dirancang.

Studi kasus pengembangan sistem monitoring berbasis AI tersebut berkaitan dengan kebutuhan pengawasan yang disampaikan oleh Kementerian Sosial. Kebutuhan itu menjadi dasar penting dalam penentuan permasalahan yang harus dijawab melalui solusi teknologi. Karena itu, keterlibatan tim Universitas Brawijaya dalam AITF tidak hanya berfokus pada pengembangan kemampuan teknis, tetapi juga pada pengerjaan studi kasus yang berhubungan dengan kebutuhan pengawasan Sekolah Rakyat pada jenjang SD dan SMP. Melalui penugasan tersebut, tim mengerjakan pengembangan sistem monitoring berbasis AI dengan mengacu pada kebutuhan yang telah disampaikan Kementerian Sosial.

Tim merancang sebuah sistem yang berfungsi membantu wali asrama memantau aktivitas pelajar dalam keseharian di lingkungan Sekolah Rakyat. Sistem ini ditujukan untuk memberikan gambaran mengenai kegiatan pelajar, baik selama berada di area asrama maupun ketika menjalani aktivitas di lingkungan sekolah. Dengan dukungan teknologi pemantauan, wali asrama diharapkan dapat memperoleh informasi secara lebih teratur mengenai kondisi dan perilaku pelajar tanpa harus mengandalkan pengamatan manual sepanjang waktu.

Rancangan tersebut juga terintegrasi dengan kamera CCTV yang telah atau akan digunakan di lingkungan Sekolah Rakyat. Rekaman dan informasi dari kamera menjadi salah satu sumber data yang dapat diproses oleh sistem untuk membantu mengidentifikasi aktivitas tertentu. Apabila terdapat kegiatan pelajar yang dinilai tidak sesuai dengan ketentuan, sistem diharapkan mampu mendeteksi indikasi tersebut dan menyampaikan informasinya kepada wali asrama. Pemberitahuan itu dapat menjadi dasar bagi wali asrama untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, memberikan pendampingan, atau mengambil langkah sesuai aturan yang berlaku. Sistem ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran wali asrama, melainkan mendukung proses pengawasan dan penyampaian informasi agar lebih terarah.

Tri Astoto menjelaskan bahwa pengembangan sistem tersebut tidak hanya membahas aspek teknis, seperti pengolahan data dan integrasi dengan CCTV. Aspek psikologis turut menjadi perhatian karena pihak yang dipantau merupakan pelajar tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Karakteristik, usia, serta kebutuhan perkembangan anak perlu dipertimbangkan agar rancangan pemantauan tetap memperhatikan pendekatan yang sesuai bagi pelajar. Pembahasan tersebut mencakup cara menyampaikan informasi kepada wali asrama dan bagaimana sistem digunakan dengan mempertimbangkan kenyamanan, perlindungan, serta kondisi psikologis pelajar yang berada dalam pengawasan.