Jakarta | Parameter Politik Indonesia (PPI) mengumumkan hasil survei terbaru pada Minggu, 18 Oktober 2026, yang memotret penilaian publik terhadap menteri atau pejabat negara dengan kinerja terbaik dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dalam hasil tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menempati posisi pertama dengan perolehan 15,4 persen. Angka ini menjadikannya nama yang paling banyak dipilih responden di pejabat yang dinilai dalam pertanyaan survei tersebut.
Posisi kedua ditempati Teddy Indra Wijaya dengan 14,5 persen. Selisih perolehan Teddy dan Amran tercatat 0,9 poin persentase. Sementara itu, Erick Thohir berada di urutan ketiga dengan 6,0 persen. Ketiga nama tersebut membentuk kelompok peringkat teratas dalam hasil yang disampaikan PPI. Jarak perolehan Erick dengan dua pejabat di atasnya juga menunjukkan perbedaan angka pilihan responden yang cukup nyata dalam daftar tersebut, meski hasil ini hanya menggambarkan jawaban yang terkumpul dalam survei.
Penting untuk memahami angka-angka itu sebagai hasil penilaian responden, bukan sebagai ukuran objektif atas kinerja setiap pejabat yang dinyatakan secara terpisah. Survei merekam persepsi atau pilihan warga berdasarkan pertanyaan dan metode yang digunakan oleh lembaga penyelenggara. Karena itu, peringkat tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa satu pejabat bekerja lebih baik daripada pejabat lain pada seluruh indikator pemerintahan. Hasilnya juga tidak menjelaskan secara langsung faktor yang mendorong responden memilih masing-masing nama. Meski demikian, temuan PPI memberikan gambaran tentang bagaimana sejumlah tokoh pemerintahan dipersepsikan publik pada saat survei dilakukan. Angka 15,4 persen untuk Amran, 14,5 persen untuk Teddy, dan 6,0 persen untuk Erick menjadi data utama dalam pemberitaan hasil survei ini. Pembacaan lebih menyeluruh dapat mempertimbangkan informasi metodologi, cakupan responden, serta konteks pertanyaan survei yang disampaikan PPI.
Selain tiga nama yang menempati posisi teratas dalam survei PPI, sejumlah pejabat lain juga tercatat dalam penilaian responden. Menteri Sosial Saifullah Yusuf memperoleh 4,5 persen. Perolehan tersebut menjadi bagian dari gambaran lebih luas mengenai jawaban responden, di luar nama-nama yang berada di tiga besar. Angka ini dapat digunakan sebagai konteks perbandingan, tanpa mengubah posisi tiga pejabat teratas sebagaimana disebut dalam hasil survei. Persentase tersebut juga menunjukkan bahwa penilaian responden tersebar pada sejumlah nama, bukan hanya tertuju pada tiga tokoh dengan capaian tertinggi. Pembacaan angka ini sebaiknya terbatas pada informasi yang tersedia, tanpa menyimpulkan alasan di balik pilihan responden atau menambahkan penilaian atas kinerja masing-masing pejabat.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transmisi Energi Bahlil Lahadalia memperoleh 3,2 persen. Capaian ini berada di bawah perolehan Saifullah Yusuf, sekaligus menjadi angka lain yang dapat diperhatikan saat melihat sebaran penilaian responden. Dalam konteks survei yang menempatkan Amran, Teddy, dan Erick di tiga besar, hasil Bahlil memperlihatkan adanya pejabat lain yang turut disebut, meskipun persentasenya berbeda. Perbandingan ini hanya merujuk pada angka yang dicantumkan dan tidak memberikan dasar untuk menjelaskan faktor yang membentuk pilihan publik. Dengan demikian, 3,2 persen dapat dipahami sebagai bagian dari catatan hasil, bukan sebagai ukuran tunggal untuk menilai seluruh aspek kinerja seorang pejabat.
Sementara itu, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait mendapatkan 2,1 persen. Angka tersebut melengkapi daftar perolehan pejabat lain yang disebut dalam hasil survei, bersama Saifullah Yusuf dan Bahlil Lahadalia. Jika disandingkan sebagai konteks, ketiganya memperoleh persentase yang berbeda, sedangkan perhatian utama survei tetap tertuju pada Amran, Teddy, dan Erick sebagai tiga nama teratas. Penyajian angka secara berdampingan membantu pembaca mengenali rentang hasil yang dilaporkan tanpa menyamakan capaian setiap pejabat. Informasi yang tersedia tidak mencantumkan keterangan tambahan tentang alasan responden, sehingga persentase Maruarar sebaiknya dibaca apa adanya. Ketiga angka ini memberi konteks perbandingan, bukan daftar baru yang mengubah susunan tiga besar.
Direktur Eksekutif Pusat Polling Indonesia (PPI), Adi Prayitno, menjelaskan bahwa survei tersebut dirancang untuk menangkap persepsi masyarakat mengenai kinerja menteri dan pejabat negara. Dengan demikian, hasilnya menggambarkan penilaian responden berdasarkan pandangan mereka sendiri, bukan hasil audit atas pelaksanaan program pemerintah atau evaluasi teknis terhadap seluruh kebijakan. Pembedaan ini penting agar daftar pejabat yang muncul tidak ditafsirkan melampaui tujuan pengukuran survei.
Dalam proses pengumpulan jawaban, responden diminta menyebutkan secara langsung nama pejabat yang menurut mereka menunjukkan kinerja terbaik. Pertanyaan terbuka semacam ini memberi ruang kepada peserta untuk menentukan pilihan tanpa harus memilih dari daftar nama yang telah disediakan. Jawaban mereka kemudian dihimpun untuk melihat pejabat mana yang paling sering disebut. Berdasarkan hasil tersebut, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dan Menteri BUMN Erick Thohir menjadi tiga nama yang memperoleh penyebutan terbanyak.
Ketiganya menjalankan tanggung jawab di bidang yang berbeda. Amran memimpin urusan pertanian, Teddy menjalankan tugas sebagai Sekretaris Kabinet, sedangkan Erick bertanggung jawab atas bidang badan usaha milik negara. Perbedaan peran itu berarti responden dapat membentuk persepsi dari konteks kerja dan paparan publik yang tidak sama. Karena itu, urutan nama dalam hasil survei lebih tepat dibaca sebagai gambaran popularitas penilaian responden terhadap kinerja pejabat, bukan perbandingan langsung atas capaian mereka dalam satu bidang yang seragam.
Adi Prayitno menekankan bahwa pendekatan tersebut mengukur kesan masyarakat tentang siapa yang dianggap bekerja dengan baik. Survei ini tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa responden telah menelaah seluruh kebijakan, program, ataupun dampak keputusan masing-masing pejabat secara mendalam. Hasilnya juga tidak menjelaskan alasan setiap orang memilih nama tertentu, kecuali bila survei menyediakan pertanyaan lanjutan untuk menggali dasar penilaian. Oleh sebab itu, temuan mengenai Amran, Teddy, dan Erick sebaiknya dipahami sesuai ruang lingkupnya: sebagai tiga nama yang paling banyak disebut ketika masyarakat diminta mengidentifikasi pejabat berkinerja terbaik, bukan sebagai kesimpulan menyeluruh mengenai kualitas semua kebijakan mereka.
Di sektor pertanian, tugas Amran berkaitan langsung dengan upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. Fokus tersebut mencakup peningkatan produksi pertanian sekaligus mendorong swasembada pangan, yang menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo. Karena itu, kinerja di bidang ini tidak hanya diukur dari kebijakan atau target produksi, tetapi juga dari kemampuan menjaga ketersediaan pangan secara berkelanjutan dan menjangkau masyarakat. Upaya memperkuat produksi dalam negeri juga penting untuk mendukung pasokan yang lebih stabil serta mengurangi kerentanan terhadap gangguan distribusi maupun perubahan keadaan.
Pertanian memiliki hubungan erat dengan kebutuhan dasar masyarakat: pangan. Perkembangan sektor ini berdampak pada petani, yang menggantungkan penghidupan pada kegiatan produksi, dan konsumen, yang membutuhkan bahan pangan dengan pasokan serta harga yang terjangkau. Dengan demikian, peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan membawa konsekuensi luas, mulai dari kondisi usaha tani hingga kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tugas pemerintah di bidang pertanian sekaligus menuntut koordinasi agar program dapat diterapkan dan manfaatnya dirasakan di lapangan.
Adapun responden yang menilai Teddy berkinerja baik menyebut sejumlah alasan terkait cara kerja dan perannya. Ia dipandang sebagai sosok yang sedikit berbicara, tetapi banyak bekerja. Responden juga menilai Teddy mampu mengomunikasikan program pemerintah sehingga informasi mengenai agenda dan kebijakan dapat disampaikan kepada publik. Hasil kerjanya dianggap terlihat, sementara sikap rajin dan profesional turut membentuk penilaian positif.
Baca juga: Ukir Prestasi Tingkat Nasional, Dandim Bojonegoro Raih Juara III Dansatgas Terbaik TMMD 129 | Lompatan Ranking FIFA Timnas Indonesia di Era Erick Thohir: Tiga Pelatih, Naik 31 Peringkat






