Kabupaten Aceh Tenggara | Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Tenggara mengambil langkah penanganan terhadap tanggul penahan Sungai Lawe Bulan yang jebol di Kecamatan Bambel. Pada Minggu (11/10), BPBD mengerahkan satu unit alat berat untuk memperbaiki bagian tanggul yang mengalami kerusakan tersebut.
Perbaikan tanggul dilakukan sebagai respons langsung terhadap luapan Sungai Lawe Bulan yang menggenangi sejumlah wilayah. Air yang melimpas dari sungai berdampak pada area di sekitarnya, termasuk jalan nasional dan lahan persawahan. Kondisi itu mendorong BPBD melakukan penanganan di lokasi tanggul agar dampak genangan dapat ditangani.
Pengerahan alat berat menjadi bagian dari upaya BPBD Kabupaten Aceh Tenggara untuk memperbaiki tanggul dan mengurangi risiko meluasnya genangan. Peralatan tersebut digunakan dalam proses penanganan di titik tanggul yang jebol di Kecamatan Bambel. Langkah ini menunjukkan respons pemerintah daerah terhadap kondisi yang muncul setelah air Sungai Lawe Bulan meluap.
Peristiwa jebolnya tanggul dan luapan sungai menyebabkan air menggenangi sejumlah kawasan, sehingga aktivitas masyarakat di sekitar lokasi turut terdampak. Jalan nasional yang terendam dapat mengganggu kelancaran perjalanan, sementara sawah yang tergenang berpotensi memengaruhi lahan pertanian warga. Karena itu, perbaikan tanggul menjadi tindakan penting dalam penanganan awal bencana banjir di wilayah tersebut.
BPBD terus melakukan penanganan di lokasi dengan memanfaatkan satu unit alat berat yang telah diturunkan pada Minggu (11/10). Upaya tersebut diarahkan untuk memperbaiki tanggul penahan Sungai Lawe Bulan yang jebol sekaligus merespons genangan air di sejumlah wilayah Kabupaten Aceh Tenggara.
Jebolnya tanggul Sungai Lawe Bulan berdampak langsung terhadap wilayah di sekitarnya. Air meluap dan menggenangi jalan nasional Kutacane–Medan, salah satu jalur penting yang menghubungkan kawasan di Aceh Tenggara dengan daerah lain. Berdasarkan pemantauan di lokasi, genangan masih terlihat di sejumlah titik badan jalan. Kondisi tersebut membuat perjalanan pengguna jalan terganggu, terutama ketika kendaraan harus melewati bagian jalan yang tertutup air.
Selain merendam jalan nasional, banjir juga berdampak pada permukiman warga. Puluhan rumah berada di wilayah yang ikut terdampak luapan air, sementara area persawahan dengan luas mencapai ratusan hektare turut terendam. Genangan masih terlihat di sekitar rumah penduduk dan lahan pertanian, sehingga aktivitas warga serta kegiatan di sawah menjadi terbatas. Air yang menggenangi persawahan berpotensi menghambat pekerjaan petani, khususnya pada lahan yang sedang digunakan atau memasuki masa pengelolaan.
Situasi lalu lintas di ruas Kutacane–Medan perlu mendapat perhatian. Pengendara sepeda motor maupun mobil harus meningkatkan kewaspadaan saat melintas karena badan jalan masih tergenang air. Ketinggian genangan dilaporkan mencapai sekitar sebetis orang dewasa, sehingga kendaraan perlu melaju secara hati-hati dan menyesuaikan kondisi di lapangan. Pengendara juga perlu memperhatikan kendaraan dari arah berlawanan, sebab cipratan air dan permukaan jalan yang tertutup genangan dapat mengurangi jarak pandang serta menyulitkan pengemudi memperkirakan kondisi jalan. Pemantauan terhadap jalan nasional, permukiman, dan area persawahan masih diperlukan selama air belum sepenuhnya surut.
Hujan deras yang mengguyur wilayah Aceh Tenggara menjadi pemicu utama meluapnya aliran Sungai Lawe Bulan. Debit air yang meningkat membuat tanggul tidak mampu menahan tekanan, hingga akhirnya jebol dan air mengalir ke sejumlah kawasan di sekitarnya. Genangan merendam jalan nasional serta area persawahan warga, sehingga aktivitas masyarakat dan arus kendaraan turut terdampak.
Kondisi di lapangan masih menunjukkan situasi yang perlu diwaspadai. Ketika proses perbaikan tanggul berlangsung, cuaca di wilayah tersebut masih mendung. Keadaan itu menimbulkan kekhawatiran karena hujan berpotensi kembali turun dan menambah volume air di sungai. Petugas serta warga masih memantau perkembangan genangan sambil melakukan penanganan pada bagian tanggul yang rusak.
Tidak hanya jalan dan sawah, kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara juga ikut terendam banjir. Air menggenangi area kantor ketika petugas tetap berupaya menjalankan koordinasi dan penanganan terhadap dampak bencana di sejumlah lokasi. Situasi tersebut menggambarkan luasnya dampak banjir setelah tanggul Sungai Lawe Bulan mengalami kerusakan.
Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tenggara, Mohd. Asbi, mengimbau masyarakat agar bersabar selama proses penanganan berlangsung. Ia juga meminta warga meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan banjir susulan, terutama ketika hujan kembali mengguyur wilayah hulu maupun kawasan sekitar sungai. Menurutnya, banjir diharapkan surut setelah perbaikan tanggul selesai dilakukan.
Imbauan tersebut ditujukan agar warga tetap berhati-hati, mengikuti informasi dari petugas, dan mengutamakan keselamatan selama kondisi belum sepenuhnya pulih. Masyarakat yang berada di dekat aliran sungai maupun kawasan terdampak diharapkan memperhatikan perubahan ketinggian air serta segera melapor apabila muncul keadaan yang membahayakan.
Di tengah genangan yang merendam jalan nasional dan area persawahan, situasi kemanusiaan di sekitar tanggul Sungai Lawe Bulan tetap menjadi perhatian. Hingga informasi tersebut disampaikan, tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun warga yang mengalami luka-luka akibat jebolnya tanggul dan banjir yang terjadi di Aceh Tenggara. Warga masih berupaya menjalani aktivitas dengan menyesuaikan kondisi di lapangan, sementara akses dan kegiatan pertanian terdampak oleh air yang menggenangi sejumlah lokasi.
Sebelumnya, warga mendatangi kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk menanyakan penanganan tanggul yang jebol. Kedatangan tersebut mencerminkan kebutuhan masyarakat akan informasi yang jelas mengenai langkah darurat dan perbaikan infrastruktur. Warga berharap pemerintah daerah segera mengambil tindakan untuk memperbaiki tanggul, sehingga aliran air dapat dikendalikan dan genangan di jalan maupun sawah cepat surut.
Perbaikan tanggul dinilai penting bukan hanya untuk mengurangi dampak banjir saat ini, tetapi juga untuk mencegah kerusakan yang lebih luas apabila debit sungai kembali meningkat. Masyarakat menantikan koordinasi pemerintah daerah, BPBD, serta pihak terkait dalam menangani titik tanggul yang rusak dan memastikan keselamatan warga di sekitar aliran sungai. Pemantauan terhadap kondisi jalan nasional dan lahan pertanian juga diperlukan selama proses penanganan berlangsung.
Penanganan di lokasi masih berjalan melalui pengerahan alat berat. Peralatan tersebut digunakan untuk mendukung upaya perbaikan tanggul dan pengendalian dampak banjir. Petugas bersama pihak terkait terus bekerja di lapangan, sementara warga menunggu perkembangan penanganan serta informasi lanjutan dari pemerintah daerah mengenai langkah yang dilakukan di kawasan terdampak.

